NovelToon NovelToon
Sistem Dewi Rubah

Sistem Dewi Rubah

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Sistem / Epik Petualangan
Popularitas:1.9k
Nilai: 5
Nama Author: cloudia

terjadi kesalahan cerita, cerita akan di mulai dengan cerita baru. cerita ini tiba-tiba terjadi kesalahan yang tidak terduga.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon cloudia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

"Cinta untuk Nona Muda"

Satu jam kemudian, aula sudah mulai sepi. Pengunjung berangsur pulang, stand-stand mulai dibongkar, dan lampu-lampu panggung dimatikan satu per satu.

Lucy berdiri di dekat gerbang sekolah bersama Nao, Rina, dan Mika. Dia sudah berganti kembali ke gaun biru mudanya yang lebih sederhana, tapi pita biru dan jepitan ekor rubah masih bertengger di rambutnya. Kacamatanya belum dipasang lagi—biarkan saja untuk malam ini.

"Kamu tadi LUAR BIASA!" Rina masih belum berhenti memuji. "Aku nggak nyangka kamu bisa sebagus itu!"

"Suara kamu tuh... kayak bidadari!" tambah Mika.

"Kenapa kamu nggak pernah tunjukkin sebelumnya sih?" Nao mencubit pipi Lucy pelan. "Kita tadi nangis, tahu!"

Lucy tertawa kecil. "Aku... gugup kalau banyak orang..."

"Gugup?! Kamu di panggung tadi kayak putri! Anggun banget!"

Saat itulah, ketiga temannya tiba-tiba membeku. Mata mereka menatap ke sesuatu di belakang Lucy.

"Eh... itu..." Mika menelan ludah.

Lucy berbalik.

Ren Arisugawa berdiri di sana. Seragam OSIS-nya masih rapi, tapi ada sesuatu yang berbeda dari sikapnya malam ini. Tangannya tidak di saku—mereka tergantung di samping tubuhnya, sedikit mengepal. Matanya, yang biasanya datar dan dingin, menatap Lucy dengan intensitas yang tidak biasa.

"Ketua OSIS?!" Nao hampir melompat mundur.

"A-ada apa, Ketua?" Rina ikut gugup.

Ren tidak menjawab mereka. Matanya tetap pada Lucy. "Bisa bicara sebentar?"

Ketiga teman Lucy saling pandang dengan ekspresi panik. Lalu, tanpa sepatah kata pun, mereka kompak melambaikan tangan.

"K-kita duluan ya, Lucy!"

"Besok kita cerita-cerita!"

"Hati-hati pulang!"

Dan dalam hitungan detik, mereka sudah setengah berlari menjauh, meninggalkan Lucy sendirian bersama ketua OSIS yang paling ditakuti di sekolah.

Lucy menatap Ren dengan ekspresi bingung yang dibuat-buat—kepala sedikit dimiringkan, alis terangkat. Tanpa kacamata, gerakan itu terlihat jauh lebih menggemaskan. "Ada apa, Ketua OSIS?"

"Ren."

"Eh?"

"Ren." Dia menegaskan lagi, kali ini dengan nada yang sedikit lebih pelan. "Panggil Ren."

"O-oh... Ren..." Lucy memainkan ujung pitanya dengan jari, pura-pura malu. "Ada apa?"

Ren membuka mulut, lalu menutupnya lagi. Di dalam hatinya, ada perang yang sedang berkecamuk. Tanya saja. Tanya apakah dia mau pulang bareng. Itu pertanyaan normal. Teman juga bisa pulang bareng.

Tapi dia tidak pernah melakukan ini sebelumnya. Dia tidak pernah menawarkan pulang bareng pada siapa pun.

"Pertunjukanmu tadi," katanya akhirnya. "Bagus."

"Ah... terima kasih..."

Keheningan. Canggung.

"Aku..." Ren mengepalkan tangannya di saku. "Aku mau pulang. Apa kau... mau bareng?"

Mata Lucy membulat—akting yang hampir sempurna, meskipun di dalam hatinya dia tersenyum puas. "Ba-bareng? Pulang bareng?"

"Rumahmu satu jalan."

"I-iya... tapi..."

"Kalau tidak mau, tidak apa-apa." Ren sudah setengah berbalik.

"Tunggu!" Lucy melangkah setengah berlari, tangannya nyaris menyentuh lengan Ren sebelum dia menariknya lagi. "A-aku... aku mau. Pulang bareng."

Ren menatapnya. Di bawah cahaya lampu gerbang, dengan pita biru di rambutnya dan pipi yang sedikit memerah, Lucy terlihat... lucu. Sangat lucu. Terlalu lucu.

Ada apa denganku?

"Baiklah," katanya, suaranya tetap datar meskipun jantungnya berdetak lebih cepat dari biasanya. "Ayo."

---

Jalanan malam itu sepi. Acara ulang tahun sekolah sudah usai, dan sebagian besar murid sudah sampai rumah. Hanya ada suara jangkrik dan langkah kaki mereka berdua di trotoar—seperti malam-malam sebelumnya, tapi entah kenapa terasa berbeda.

Mungkin karena kali ini Lucy tidak digendong. Mereka berjalan berdampingan, dengan jarak yang cukup dekat.

"Lagu tadi," kata Ren tiba-tiba. "Siapa yang menulisnya?"

Lucy terdiam sejenak. Dia tidak bisa bilang bahwa dia menulisnya sendiri—itu akan terlalu mencurigakan. Tapi dia juga tidak bisa bilang itu lagu terkenal, karena Lili sudah memastikan lagu itu tidak ada di dunia ini.

"Aku... menemukannya di buku lama," jawabnya. "Di perpustakaan. Liriknya... berbicara padaku."

"Begitu." Ren mengangguk. "Liriknya bagus."

Berbicara padaku juga, tambahnya dalam hati.

Mereka berjalan lagi dalam keheningan. Tapi kali ini, keheningannya tidak canggung. Lebih seperti... nyaman.

---

Sementara itu, di gerbang sekolah yang mulai gelap, Kaito Fujiwara berdiri dengan tangan di saku. Dia baru saja keluar dari aula, berniat mencari udara segar setelah penampilan yang... mengganggu pikirannya.

Lalu dia melihat mereka.

Ren Arisugawa dan gadis itu—Lucy—berjalan berdampingan di ujung jalan. Siluet mereka diterangi lampu jalan, menciptakan bayangan panjang di trotoar. Mereka tidak berpegangan tangan. Mereka tidak melakukan apa pun yang romantis. Tapi cara mereka berjalan—bersama—cukup untuk membuat rahang Kaito mengeras.

Ren Arisugawa.

Dan gadis itu.

Dia tidak tahu kenapa pemandangan itu mengganggunya. Dia bahkan tidak mengenal gadis itu—hanya tahu namanya, hanya tahu dia sekelas, hanya tahu dia bernyanyi seperti malaikat malam ini. Tapi ada sesuatu di dadanya yang terasa... tidak enak.

Kaito berbalik dan berjalan ke arah yang berlawanan. Tapi di kepalanya, suara itu masih terngiang.

Kesenanganku adalah milikku sendiri...

Siapa dia sebenarnya?

---

Di apartemen Lucy, malam semakin larut. Lucy baru saja selesai melepas gaun biru mudanya dan sekarang berbaring di kasur, menatap langit-langit dengan senyum kecil di bibirnya. Lili meringkuk di atas bantal seperti biasa.

"Aku punya kabar," kata Lili.

"Presentase?"

"Ren Arisugawa: ♡♡♡ | 30%."

"Hanya 30%?" Lucy mengerucutkan bibirnya. "Aku sudah bernyanyi seindah itu, dan dia hanya naik 10%? Pria itu benar-benar pelit dengan perasaannya."

"Itu lebih dari cukup untuk seseorang yang tidak pernah tertarik pada siapa pun."

"Ya, ya..." Lucy melambaikan tangannya. "Ada lagi?"

Lili terdiam sejenak. "Kaito Fujiwara: ♡ | 10%."

Lucy berhenti menggerakkan tangannya. "Kaito?"

"Dia melihatmu dan Ren pulang bersama. Dan entah kenapa, presentasenya muncul."

Lucy terkekeh. "Jadi antagonis pria kita mulai tertarik?" Dia berguling ke samping, menopang kepalanya dengan tangan. "Padahal aku bahkan belum memulai apa pun untuknya."

"Kau sudah memulai. Saat kau duduk sendirian di tribune. Saat kau bernyanyi di panggung. Dan saat kau pergi tanpa menoleh padanya."

"Manusia memang aneh. Semakin kau mengabaikan mereka, semakin mereka penasaran."

"Itu bukan filosofi dewi. Itu psikologi dasar."

Lucy tertawa kecil, lalu merebahkan dirinya kembali. Matanya menatap langit-langit yang retak.

"30% dari Ren. 10% dari Kaito." Dia menyeringai. "Rencana berjalan lancar."

"Terlalu lancar?"

"Tidak ada yang namanya terlalu lancar, Lili. Ini baru permulaan."

Dia menutup matanya. Di kepalanya, rencana untuk minggu-minggu berikutnya sudah mulai terbentuk. Hana Himura akan segera masuk sekolah. Akane akan kembali dari luar negeri. Dan di tengah semua kekacauan yang akan terjadi, dia—Lucy, Dewi Rubah—akan berdiri di pusatnya, menarik semua benang, menari di antara dua pria yang tidak sadar bahwa mereka sedang dimainkan.

"Ini akan menyenangkan," bisiknya pada malam.

Dan Lili, yang sudah setengah tertidur, hanya mendengkur setuju.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!