Di sebuah kota yang dikuasai geng-geng jalanan dan kekuasaan gelap, sekelompok pemuda memilih bertahan hidup sambil melindungi warga lemah. Di markas tua mereka, tersembunyi sebuah rahasia berusia puluhan tahun — sebuah benda yang bisa mengubah nasib banyak orang, sekaligus menjadi sumber malapetaka kalau jatuh ke tangan yang salah.
Ketika kelompok berbahaya bernama Elang Darah mulai memburunya, identitas tersembunyi dan masa lalu kelam setiap tokoh perlahan terungkap. Arda yang terlihat malas ternyata menyimpan kekuatan dan tanggung jawab besar, sementara Kael dan kawan-kawannya harus memilih: ikut berebut kekuasaan, atau tetap memegang prinsip di tengah pertarungan yang melibatkan banyak pihak rahasia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ArdaKings, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 29: Langkah Menuju Pertarungan
Siang itu terasa lebih terik dari biasanya, tapi panasnya seolah bukan datang dari matahari saja — melainkan juga dari tekanan energi gelap yang semakin merayap mendekat. Di langit sebelah timur, awan berwarna keabu-abuan perlahan menutupi cahaya matahari, membuat suasana menjadi redup dan suram seolah sore hari tiba lebih cepat.
Di dalam dan sekitar pabrik tua, semua orang sudah berada di posisi masing-masing. Tidak ada lagi obrolan santai, hanya suara langkah kaki yang teratur, bunyi peralatan yang disiapkan, dan napas yang ditarik dalam-dalam untuk menenangkan hati. Semua tahu, dalam hitungan jam saja, segala sesuatunya akan ditentukan.
Menjelang senja, saat langit berubah menjadi warna merah darah dan kegelapan mulai merayap dari ujung cakrawala, Arda tiba-tiba berdiri tegak di ambang pintu. Matanya terpejam sebentar, lalu terbuka lebar dengan pandangan tajam menatap ke arah timur.
“Mereka sudah bergerak,” ucapnya dengan suara rendah namun jelas terdengar oleh semua orang. “Energi mereka semakin kuat dan bergerak mendekat. Ritualnya selesai, dan sekarang mereka membawa kekuatan itu langsung ke sini.”
Kata-kata itu menjadi tanda dimulainya semua rencana yang sudah disusun matang. Tanpa perlu perintah panjang lebar, setiap kelompok segera bergerak menuju posisi yang sudah ditentukan. Bastian memimpin pasukan pengalih keluar lebih dulu, bergerak ke jalur timur yang sudah disiapkan. Alden dan pasukannya bergerak ke titik-titik penyekatan jalan utama. Mikhael dan Lio tetap berada di dalam pabrik, memastikan keamanan ruang belakang dan persediaan pertolongan.
Sementara itu, Kael, Arda, dan Niko beserta tim inti bergerak lebih lambat, mengikuti jalur tersembunyi agar bisa mengamati pergerakan musuh dari jarak yang cukup aman.
Tidak lama kemudian, dari kejauhan terdengar suara langkah kaki yang banyak dan teratur, bercampur dengan dentingan logam dan suara angin yang terasa berubah menjadi dingin menusuk tulang. Dari balik pepohonan, muncul barisan pasukan Tangan Kekal — puluhan orang mengenakan jubah hitam, wajah tertutup, dan di sekeliling tubuh mereka terlihat kabut tipis berwarna ungu yang mengikuti gerakan mereka.
Di bagian paling depan berjalan pemimpin mereka, sosok tinggi yang mengenakan jubah lebih tebal dengan hiasan perak. Energi yang menyelimuti dirinya terasa paling kental, bahkan dari jarak jauh pun sudah terasa seperti beban yang menekan dada siapa saja yang berada di jalurnya.
“Mereka terlihat kuat,” bisik Niko dari balik semak-semak, matanya mengamati setiap gerakan dengan cermat. “Tapi lihatlah — rumput dan dedaunan yang mereka pijak langsung layu dan berubah cokelat. Kekuatan itu memang memberi mereka tenaga, tapi ia juga terus memakan apa saja yang ada di sekitarnya.”
Arda mengangguk setuju, matanya tetap terfokus pada sosok pemimpin itu. “Itu kelemahan utamanya. Energi itu tidak bisa hidup sendiri — ia harus terus menyerap. Semakin lama mereka menggunakannya, semakin besar kebutuhannya, dan semakin tidak stabil ia menjadi. Kita hanya perlu membuat mereka mengeluarkan kekuatan itu terlalu banyak, terlalu cepat.”
Saat pasukan musuh mendekati persimpangan jalan yang sudah disiapkan, tiba-tiba dari sisi kiri terdengar suara teriakan dan dentingan senjata. Bastian dan kelompok pengalih mulai bergerak, menampakkan diri dalam jumlah yang cukup untuk menarik perhatian, namun tidak terlalu banyak sehingga terlihat mengancam.
“Siapa yang berani menghalangi jalan kami?” seru salah satu komandan musuh, suaranya terdengar berat dan bergema.
“Kami adalah penjaga wilayah ini!” jawab Bastian dengan suara lantang, meski jantungnya berdebar kencang. “Lewat sini hanya untuk orang yang berniat baik. Kalau membawa niat buruk, kalian tidak akan melangkah lebih jauh!”
Mendengar tantangan itu, pemimpin Tangan Kekal hanya tertawa pelan, suara yang terdengar seperti gesekan batu yang kasar. “Anak-anak kecil yang berani menantang kekuatan yang tidak mereka mengerti. Bunuh mereka, dan lanjutkan perjalanan — jangan buang waktu terlalu lama.”
Beberapa pasukan musuh segera bergerak maju menyerang. Bastian dan anak buahnya segera mundur perlahan, memancing mereka masuk ke jalur yang sempit dan berkelok, persis seperti yang sudah direncanakan. Saat musuh mulai terjebak di jalur itu, tiba-tiba dari kedua sisi tebing dan semak-semak, pasukan yang dipimpin Alden dan Kaelin muncul secara bersamaan, menutup jalan masuk dan keluar sekaligus.
“Kalian sudah terjebak!” teriak Alden sambil mengangkat pedangnya. “Tidak ada jalan mundur, dan tidak ada jalan maju selain melalui kami!”
Pertarungan pun meletus dengan cepat. Suara benturan senjata, teriakan, dan desisan energi mulai memenuhi udara. Pasukan Tangan Kekal memang memiliki tenaga yang luar biasa — setiap serangan mereka terasa lebih berat dan lebih cepat dari orang biasa, dan kabut ungu yang menyelimuti mereka bisa membuat siapa saja yang terkena rasakan pusing dan lemas.
Namun mereka tidak menyadari bahwa jalur tempat mereka bertarung justru dirancang untuk mempersempit gerakan mereka. Kekuatan besar yang mereka miliki tidak bisa digunakan secara luas, sedangkan pasukan yang menjaga tahu setiap tikungan dan celah tempat berlindung.
Di tengah pertarungan yang berkecamuk itu, sosok pemimpin musuh tetap berdiri diam di tempat yang lebih tinggi, mengamati sambil tersenyum miring. Ia tidak terburu-buru ikut bertarung, seolah yakin bahwa pasukannya saja sudah cukup untuk mengatasi hambatan ini.
“Mereka memang pandai menyusun siasat,” gumamnya pelan, “tapi semua itu hanya akan menjadi sia-sia saat kekuatan sesungguhnya dikeluarkan.”
Saat ia mengangkat tangannya untuk memberi perintah, tiba-tiba dari kegelapan di sisi lain, Kael, Arda, dan Niko muncul bersamaan, berdiri di hadapannya dengan tenang namun penuh kewaspadaan.
“Jangan terlalu cepat merasa menang,” kata Arda dengan suara yang tenang namun terdengar jelas menembus hiruk-pikuk pertarungan di sekitarnya. “Kekuatan yang kau pakai itu bukan milikmu, dan ia tidak akan selamanya menuruti kemauanmu.”
Pemimpin itu menoleh, matanya bersinar dengan cahaya ungu yang terang. Ia menatap ketiganya dari atas ke bawah, seolah melihat mereka hanya sebagai serangga kecil yang berani mengganggu.
“Jadi kalianlah yang menjadi inti dari semua ini,” katanya dengan nada merendahkan. “Orang-orang yang mengira bisa menjaga kekuatan yang jauh melebihi kemampuan kalian. Lihatlah kekuatan yang kumiliki ini — ia bisa menghancurkan tembok, membelah tanah, dan mengubah segala sesuatu sesuai keinginanku. Apa yang bisa kalian lakukan melawannya?”
Ia mengayunkan tangannya dengan gerakan cepat, dan seketika itu pula gelombang energi ungu meledak keluar, menyapu ke arah mereka dengan kecepatan kilat. Energi itu terasa seperti air yang mendidih dan angin yang mematikan, menghancurkan semak-semak dan memecahkan batu-batu kecil di jalurnya.
Namun sebelum gelombang itu sampai ke tubuh mereka, Arda dan Kael secara bersamaan mengangkat tangan mereka. Dari arah dalam dada mereka, mengalir cahaya keemasan yang lembut namun padat, membentuk lapisan pelindung yang menahan serangan itu. Kedua energi itu bertabrakan, menciptakan ledakan udara yang membuat tanah bergetar dan debu beterbangan ke segala arah.
Saat debu mulai mereda, terlihat ketiganya masih berdiri tegak, meski napas mereka sedikit memburu dan keringat mulai membasahi dahi.
“Kau lihat sendiri?” kata Arda sambil menatap lurus ke mata lawannya. “Kekuatanmu memang besar, tapi ia terasa tidak wajar — ia mendesak, tidak seimbang, dan selalu ingin meledak. Sedangkan kekuatan yang kita miliki mengalir secara alami, tidak memaksa, dan tidak akan pernah berbalik menyakiti pemiliknya.”
Pemimpin Tangan Kekal terkejut sesaat melihat serangannya berhasil ditahan, lalu amarahnya meluap. Cahaya ungu di sekeliling tubuhnya semakin terang, dan kabut yang menyertainya semakin tebal hingga hampir menutupi wujudnya.
“Omong kosong!” teriaknya dengan suara yang melengking dan berubah menjadi dua nada sekaligus. “Kalian hanya mempertahankan diri sebentar saja! Lihatlah, semakin banyak energi yang kugunakan, semakin kuat aku menjadi — dan kalian akan kehabisan tenaga jauh sebelum aku!”
Ia kembali mengumpulkan energi, kali ini dalam jumlah yang lebih besar, membentuk bola cahaya ungu yang berputar dengan cepat di telapak tangannya. Suara mendengung yang keras terdengar, dan udara di sekitarnya terasa semakin berat dan sulit untuk dihirup.
Namun saat ia bersiap melemparkan serangan itu, tiba-tiba ia terbatuk, dan seulas darah segar keluar dari sudut bibirnya. Matanya melebar terkejut, merasakan rasa sakit yang menusuk dari dalam tubuhnya sendiri.
“Kenapa… kenapa ini terjadi?” gumamnya bingung, merasakan energi yang seharusnya memperkuat dirinya justru mulai menekan organ dalamnya sendiri.
Arda menggeleng perlahan, dengan nada yang tidak penuh kemenangan melainkan penuh penjelasan. “Sudah kubilang — energi yang dipaksa dan diambil dari kehidupan makhluk lain tidak akan pernah bisa bersatu sempurna dengan tubuh pemakainya. Semakin banyak kau gunakan, semakin besar tekanan yang diberikan pada dirimu sendiri. Saat batasnya terlewati, ia akan meledak — dan menghancurkan dirimu sendiri sebelum sempat menghancurkan apa pun di sekitarmu.”
Kael melangkah maju sedikit, suaranya tegas namun tenang. “Kau ingin menguasai kekuatan untuk mengubah segalanya sesuai keinginanmu, tapi kau justru melupakan hal paling dasar: kekuatan sejati tidak ditentukan oleh seberapa besar energi yang kau miliki, tapi oleh seberapa bijak kau menggunakannya, dan seberapa seimbang hatimu untuk menahannya.”
Di belakang mereka, pertarungan di jalur sempit itu juga mulai berubah arah. Pasukan musuh yang mengandalkan kekuatan besar itu mulai merasa lelah lebih cepat dari perkiraan. Setiap serangan yang mereka keluarkan terasa memakan tenaga mereka sendiri, sedangkan pasukan yang menjaga terus bertahan dengan gerakan yang lebih hemat dan terukur. Mereka mulai menyadari bahwa meski pukulan lawan terasa berat, ia tidak memiliki ketahanan yang cukup untuk bertahan lama.
Pemimpin Tangan Kekal menyadari situasinya mulai memburuk, dan amarahnya semakin menguasai akal sehatnya. Ia memutuskan untuk mengeluarkan seluruh energi yang ia miliki sekaligus, meski ia merasakan tubuhnya sendiri mulai bergetar menahan beban itu.
“Kalau aku harus hancur, maka kalian semua akan ikut hancur bersamaku!” teriaknya histeris, bola energi di tangannya membesar hingga menutupi seluruh tubuhnya, dan cahayanya menyilaukan mata siapa saja yang melihatnya.
Namun di saat yang sama, dari arah pabrik tua yang jaraknya masih cukup jauh, terlihat cahaya keemasan yang lembut mulai menyala perlahan, menembus kegelapan dan kabut ungu itu. Cahaya itu menyebar perlahan, menenangkan udara yang bergejolak, dan menciptakan keseimbangan di tengah kekacauan yang terjadi.
Arda dan Kael saling pandang, lalu mengangguk mantap — benda yang mereka jaga itu telah merespons, dan kini mulai bekerja sama dengan mereka tanpa perlu dipaksa.
Pertarungan ini belum berakhir, tapi arahnya sudah mulai terlihat jelas. Kekuatan yang salah arah dan dipenuhi ambisi mulai memperlihatkan kelemahannya, sementara kekuatan yang didasari keseimbangan dan tujuan benar mulai bangkit menegaskan posisinya.
Bersambung...