NovelToon NovelToon
Perjalanan Sang Ronin

Perjalanan Sang Ronin

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Mengubah Takdir / Perperangan
Popularitas:346
Nilai: 5
Nama Author: Mr.Mounyenk

Di Benua Aldabaron yang dipenuhi sihir, monster, dan teknologi Rune, seorang ronin muda bernama Ryosuke Tagawa kehilangan seluruh keluarganya akibat perang yang dipicu ambisi tersembunyi Empire Krusador. Dalam pengembaraannya, ia menemukan Tenkū Matō, pedang legendaris yang ditempa dari pecahan meteor dan menguasai sihir kegelapan. Bersama katana warisannya, Nichirin-gatana, yang memiliki sihir cahaya, Ryosuke menguasai gaya pedang Hyoho Niten Ichi-ryū. Ketika pasukan Krusador menginvasi Kepulauan Great Sea dengan senjata mengerikan Beast Crust Rune Cannon, Ryosuke harus menentukan pilihan: tetap menjadi pengembara yang menghindari perang, atau bangkit melindungi mereka yang tidak mampu melawan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mr.Mounyenk, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 3 — Abu dan Dendam

Kesadaran Ryosuke kembali perlahan bersama rasa nyeri yang menjalar ke seluruh tubuhnya. Gemuruh air sungai masih terdengar samar di telinganya ketika ia membuka mata dan mendapati dirinya terbaring di tepian sungai berbatu, beberapa kilometer dari Desa Tagawa. Pakaian yang dikenakannya telah basah kuyup dan robek di beberapa bagian akibat terbawa arus deras, sementara tangan kanannya masih menggenggam erat Nichirin-gatana seolah-olah pedang itu merupakan satu-satunya hal yang tidak boleh ia lepaskan, bahkan ketika kesadarannya telah menghilang.

Untuk beberapa saat ia hanya menatap langit yang mulai diselimuti warna keabu-abuan menjelang pagi. Napasnya terasa berat, kepalanya berdenyut, dan setiap kali ia mencoba mengingat apa yang terjadi semalam, bayangan ledakan merah, kobaran api, suara ayahnya yang memerintahkan agar ia melarikan diri, serta teriakan Hana yang memanggil namanya kembali memenuhi pikirannya seperti mimpi buruk yang tidak kunjung berakhir.

"Hana..."

Nama itu keluar begitu pelan hingga hampir tenggelam oleh suara aliran sungai.

Dalam sekejap Ryosuke bangkit berdiri. Rasa sakit di tubuhnya tidak lagi ia pedulikan. Yang ada di dalam benaknya hanyalah satu keinginan, yaitu kembali ke desa secepat mungkin. Selama ia belum melihat sendiri keadaan keluarganya, ia masih ingin percaya bahwa ayahnya berhasil menyelamatkan ibu dan Hana, bahwa mereka mungkin sedang menunggunya di suatu tempat sambil berharap ia kembali.

Dengan langkah tertatih ia mulai mendaki kembali menuju jalur hutan. Matahari perlahan muncul dari balik pegunungan, namun sinarnya tidak lagi membawa kehangatan seperti kemarin. Semakin dekat ia menuju Desa Tagawa, udara semakin dipenuhi aroma kayu terbakar dan sisa mana yang belum sepenuhnya menghilang dari ledakan Beast Crust Rune Cannon. Bahkan burung-burung yang biasanya memenuhi pepohonan tidak lagi terdengar berkicau. Seluruh hutan menjadi sunyi, seolah alam sendiri sedang berkabung.

Setelah berjalan cukup lama, Ryosuke akhirnya tiba di sebuah bukit kecil yang menghadap langsung ke arah desa.

Langkahnya terhenti.

Desa yang selama delapan belas tahun menjadi rumahnya telah lenyap.

Tidak ada lagi rumah-rumah kayu yang berjajar rapi. Tidak ada lagi ladang gandum yang bergoyang tertiup angin. Tidak ada lagi asap dari tungku masak yang setiap pagi memenuhi udara. Yang tersisa hanyalah puing-puing bangunan, tanah yang menghitam akibat ledakan, pohon-pohon yang tumbang, dan kepulan asap tipis yang masih membubung ke langit.

Ryosuke berdiri membisu cukup lama.

Ia tidak menangis.

Ia bahkan tidak mampu mengeluarkan suara.

Perlahan ia menuruni bukit, melangkah melewati jalan desa yang kini hampir tidak dapat dikenali. Setiap beberapa langkah ia menemukan benda-benda yang masih dikenalnya, roda gerobak milik tetangga, papan nama kedai yang telah patah, mainan kayu milik anak-anak desa, serta pecahan kendi yang kemarin masih digunakan ibunya untuk mengambil air.

Semua kenangan itu kini berubah menjadi sisa-sisa kehidupan yang tidak akan pernah kembali.

Di dekat alun-alun desa, Ryosuke melihat beberapa tubuh warga yang telah diselimuti debu dan abu. Ia mengenali wajah-wajah yang selama ini selalu menyapanya dengan senyuman hangat. Kepala desa, pandai besi, pedagang sayur, hingga kakek tua yang setiap sore mengajari anak-anak memainkan seruling bambu. Mereka semua kini terbaring dalam keheningan yang menyakitkan.

Ryosuke memejamkan mata sejenak.

"Aku terlambat..."

Dengan langkah yang semakin berat, ia terus berjalan menuju rumahnya.

Bangunan itu telah runtuh hampir seluruhnya. Tiang-tiang kayunya hangus, atapnya ambruk, dan halaman yang kemarin dipenuhi bunga kesukaan ibunya kini tertutup abu.

Di depan reruntuhan rumah itulah Ryosuke akhirnya menemukan ayahnya.

Haruto Tagawa masih menggenggam pedangnya.

Tubuhnya bersandar pada sisa dinding rumah yang telah roboh, seolah hingga saat-saat terakhir ia tetap berdiri menjaga tempat tinggal keluarganya. Di sekelilingnya tergeletak beberapa prajurit yang tidak lagi mampu melanjutkan pengejaran malam itu, menjadi bukti bahwa Haruto bertarung sampai akhir demi memberi kesempatan kepada kedua anaknya untuk melarikan diri.

Ryosuke berlutut perlahan di hadapan ayahnya.

Tangannya gemetar ketika menyentuh gagang pedang yang masih berada dalam genggaman Haruto.

"Maafkan aku, Ayah..."

Suara itu nyaris tidak terdengar.

"Aku tidak cukup kuat..."

Air mata yang sejak tadi tertahan akhirnya jatuh tanpa bisa dihentikan. Untuk pertama kalinya sejak tragedi semalam, Ryosuke membiarkan dirinya menangis. Bukan karena rasa takut, melainkan karena ia menyadari bahwa semua yang dimilikinya telah benar-benar direnggut.

Setelah beberapa saat, ia kembali mencari ke seluruh reruntuhan desa.

Di dekat sumur tua, ia menemukan ibunya, Airi Tagawa. Perempuan yang selalu menyambutnya dengan senyum hangat itu kini berbaring dalam keheningan. Ryosuke memeluk tubuh ibunya untuk terakhir kali sebelum perlahan membaringkannya di tempat yang lebih layak.

Namun, ketika ia mencari Hana, hasilnya berbeda.

Ia mengelilingi hampir seluruh desa.

Ia memanggil nama adiknya berkali-kali.

Ia memeriksa setiap rumah yang masih dapat dimasuki.

Tetapi Hana tidak ditemukan.

Tidak ada jejak yang dapat memastikan apakah gadis itu berhasil melarikan diri atau mengalami nasib lain setelah mereka terpisah di tepi jurang.

Harapan kecil mulai tumbuh di dalam hati Ryosuke.

Selama ia tidak menemukan jasad Hana, ia memilih untuk percaya bahwa adiknya mungkin masih hidup di suatu tempat.

Hari itu Ryosuke menghabiskan waktu mengumpulkan jasad para penduduk desa yang masih dapat dikenali. Seorang diri ia menggali tanah di sebuah bukit yang menghadap Desa Tagawa, menggunakan cangkul yang berhasil ditemukan di antara reruntuhan gudang. Tangannya berkali-kali terluka karena bekerja tanpa henti, tetapi ia terus melanjutkan pekerjaannya hingga matahari mulai condong ke barat.

Sebelum matahari terbenam, sebuah pemakaman sederhana akhirnya berdiri.

Tidak ada pendeta.

Tidak ada upacara.

Tidak ada suara doa yang dipimpin siapa pun.

Hanya seorang pemuda yang berdiri sendirian di hadapan deretan makam, ditemani angin sore yang berembus pelan melewati rerumputan.

Ryosuke menancapkan Nichirin-gatana ke tanah di depan makam keluarganya, lalu menundukkan kepala dalam diam.

"Ayah... Ibu... jika Hana masih hidup, aku akan menemukannya."

Ia mengangkat wajahnya perlahan.

"Dan siapa pun yang melakukan semua ini..."

Kalimat itu terhenti.

Ia teringat wajah para prajurit berzirah hitam yang menyerang desa. Ia teringat senjata mengerikan yang menghancurkan rumah-rumah dalam satu ledakan. Namun ia juga teringat bahwa tidak semua lambang pada zirah mereka terlihat jelas, seolah sengaja disembunyikan.

Ia belum mengetahui siapa dalang sebenarnya.

Ia belum mengetahui mengapa desa kecil mereka dijadikan sasaran.

Yang ia tahu hanyalah satu kenyataan.

Perdamaian yang selama ini dipercaya ternyata dapat dihancurkan hanya dalam satu malam.

Ryosuke mencabut kembali Nichirin-gatana, memandang desa yang kini tinggal hamparan abu, lalu membungkukkan badan untuk terakhir kalinya di hadapan makam keluarganya.

Saat matahari tenggelam di ufuk barat, ia melangkah meninggalkan Desa Tagawa tanpa mengetahui ke mana tujuan berikutnya. Di belakangnya hanya tersisa makam, reruntuhan, dan kenangan yang tidak akan pernah bisa kembali, sementara di dalam hatinya mulai tumbuh tekad yang kelak akan membawanya menempuh jalan panjang sebagai seorang ronin, mencari kebenaran di balik tragedi yang telah menghancurkan seluruh hidupnya.

..._BERSAMBUNG _...

1
Alia Chans
Hadir Thor
cerita nya seru, like + bunga🌹 , semangat😉
Protocetus
jika berkenan mampir ya ke novelku Remontada
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!