Lima tahun lalu, Adeline Wijaya dijebak oleh adik tirinya sendiri hingga keguguran dan diusir oleh suaminya, Bramantara, dalam kondisi sekarat. Semua orang mengira Adeline telah tewas di dasar jurang.Lima tahun kemudian, ia kembali ke Kota Jakarta dengan identitas baru sebagai Elena Vance, seorang desainer perhiasan kelas dunia yang genius dan kejam. Tujuannya hanya satu: menghancurkan mereka yang telah merebut kebahagiaannya.Demi melancarkan aksinya, Elena mendekati Nicholas Syailendra, CEO tertinggi di balik konglomerat nomor satu sekaligus musuh bebuyutan mantan suaminya.
Nicholas menawarkan kesepakatan: "Jadilah istriku, dan aku akan memberikan dunia untukmu membalas dendam." Namun, Elena tidak tahu bahwa di balik pernikahan kontrak itu, ada rahasia masa lalu yang jauh lebih besar yang siap menguji hatinya sekali lagi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Finus Ina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 32
------------------------------
## BAB 32: Operasi Siber Kamar Medis
Hawa dingin dari cairan gel di atas perut Elena Vance mendadak terasa laksana kepingan es yang membekukan seluruh aliran darahnya. Di hadapannya, dr. Edward memegang sebuah tabung suntik panjang dengan jarum bersensor digital yang berkilat tajam di bawah temaram lampu paviliun. Tuntutan untuk melakukan pengambilan cairan ketuban secara fisik demi verifikasi DNA prenatal internasional adalah kapak algojo yang siap memotong leher sandiwara mereka.
Krek.
Suara retakan halus terdengar dari arah kepalan tangan Nicholas Syailendra. Pria itu melangkah maju satu tapak, memotong jalur pandang dr. Edward. Aura membunuh yang sangat pekat menguar hebat dari tubuh tegapnya, sanggup membuat asisten medis di belakang dokter tua itu gemetar ketakutan.
"dr. Edward, sepertinya Anda sudah terlalu lama mengabdi di luar negeri sampai lupa siapa pemimpin tertinggi Syailendra Group saat ini," desis Nicholas rendah, suaranya sedingin es kutub utara namun sarat akan ancaman mutlak. "Tindakan invasif seperti amniocentesis pada usia kandungan awal memiliki risiko keguguran hingga delapan puluh persen. Apakah Kakek Agung siap bertanggung jawab jika calon penerus takhta ini gugur hanya karena ego komisaris tua?"
Wajah dr. Edward sedikit menegang, namun ia tetap mencoba mempertahankan keangkuhan formalnya. "Tuan Besar Nicholas, ini adalah draf perintah resmi dari Kakek Agung. Jika Nyonya Muda Elena menolak, dewan keluarga berhak membekukan—"
"Aku tidak menolak, Dokter," Elena Vance mendadak memotong kalimat dr. Edward dengan suara renyahnya yang tenang namun menusuk.
Elena perlahan bangkit dari sofa medis, berdiri tegak dengan keanggunan seorang ratu yang absolut. Sepasang mata indahnya berkilat tajam memancarkan keangkuhan dingin, menutupi kepanikan masif yang sempat mencekik dadanya semenit lalu. "Namun, sebagai perwakilan dari Vance Jewelry Prancis yang memegang lisensi hukum internasional, saya berhak menuntut draf protokol sterilisasi bersertifikat Uni Eropa sebelum jarum kotor itu menyentuh kulit saya."
Elena melirik Nicholas lewat sudut matanya, memberikan sebuah isyarat kode mata tersembunyi yang langsung ditangkap dengan sangat cerdas oleh suaminya. "Yan, bawa dr. Edward dan asistennya ke laboratorium steril paviliun sebelah untuk melakukan kalibrasi draf alat sensor digital mereka selama lima belas menit. Jika draf sertifikasi sterilisasi itu belum siap, tidak ada yang boleh memulai pemeriksaan fisik ini."
Nicholas menyunggingkan sebuah senyuman miring penuh pesona kemenangan yang kejam. "Dengar itu, Dokter? Lakukan kalibrasi sekarang juga sebelum aku kehilangan kesabaranku dan melempar seluruh kotak hitam Anda ke jalanan."
"Baik, Tuan Besar, Nyonya Muda. Kami akan melakukan kalibrasi lima belas menit," jawab dr. Edward dengan napas tertahan, terpaksa melangkah mundur membuntut Yan menuju koridor paviliun sebelah.
------------------------------
Begitu pintu mahogani kamar tertutup rapat dan terkunci otomatis, Elena langsung mencengkeram lengan kekar Nicholas dengan sangat erat. Napasnya memburu penuh amarah bercampur panik. "Nicholas! Lima belas menit! Bagaimana cara kita memalsukan cairan ketuban dari rahim yang kosong?! Taktik IT siber milik Bobi tidak akan bisa memanipulasi sampel fisik yang akan dimasukkan ke dalam tabung suntik itu!"
Nicholas tidak panik. Pria penguasa kota itu justru langsung menarik tubuh ramping Elena masuk ke dalam dekapan dada bidangnya yang hangat, mengunci pinggangnya dengan posesif. "Tenanglah, Elena. Ingat siapa suamimu. Di dalam areaku, tidak ada jebakan Kakek yang tidak memiliki celah untuk dihancurkan."
Nicholas merogoh gawai pintar khusus miliknya, menekan nomor enkripsi internal darurat. "Bobi, aktifkan draf protokol operasi siber 'Ghost Matrix' pada seluruh perangkat laboratorium digital yang dibawa dr. Edward sekarang juga."
Di bawah tanah paviliun, jemari Bobi menari liar di atas papan tik komputer server utama. "Sistem terhubung, Tuan Besar! Alat suntik digital milik dr. Edward menggunakan sensor nirkabel Bluetooth Low Energy untuk mengirimkan draf verifikasi DNA langsung ke server database kementerian kesehatan. Saya baru saja berhasil mem-bypass enkripsi alat tersebut!"
Nicholas menatap Elena dengan sepasang mata elang yang memancarkan kegilaan kelicikan berkelas. "Jarum suntik itu memang akan menembus kulit perutmu secara fisik, Elena. Tapi jarum itu tidak akan pernah masuk ke dalam rahimmu. Alat itu memiliki sensor pembaca mikro-fluida digital di bagian ujungnya. Bobi sudah meretas draf firmware alat tersebut; begitu jarum menyentuh lapisan kulit pertamamu, alat itu akan otomatis menyuntikkan draf data DNA buatan yang sudah dimodifikasi 100% cocok dengan silsilah darah murni Syailendra ke dalam database digital mereka, sementara tabung fisiknya akan membaca bahwa cairan ketuban telah terserap secara virtual."
Elena Vance tertegun mematung di dalam pelukan Nicholas. Kecerdasan taktik kontra-intelijen suaminya yang begitu rapi laksana jaringan labirin mutlak seketika mengirimkan getaran debaran asmara asli yang berdesir hebat di dalam dadanya. Pria ini benar-benar seekor singa penguasa yang sanggup meruntuhkan seluruh logika dunia demi melindunginya.
------------------------------
Lima belas menit berlalu laksana kedipan mata. dr. Edward kembali melangkah masuk ke dalam kamar tidur utama dengan tabung suntik yang sudah terkalibrasi. Suasana ruangan kembali diselimuti oleh kesunyian yang mencekam.
Elena kembali berbaring dengan ketegasan baja yang mengunci sepasang mata indahnya. Nicholas berdiri di sampingnya, menggenggam erat telapak tangan Elena yang mungil ke dalam genggaman tangannya yang besar dan hangat.
Sret.
dr. Edward mengarahkan ujung jarum suntik panjang itu tepat di atas permukaan kulit perut datar Elena. Detik berikutnya, jarum bersensor digital itu menusuk masuk secara perlahan. Elena meremas tangan Nicholas, menahan perih fisik yang menusuk kulitnya, sementara matanya terus menatap lurus ke arah indikator lampu digital di gagang suntikan yang mulai berkedip hijau cepat—menandakan draf operasi siber Ghost Matrix milik Bobi sedang menyuntikkan data DNA palsu menembus sistem nirkabel laboratorium.
"Pengambilan sampel selesai," ucap dr. Edward setelah beberapa detik yang terasa berjalan sangat lambat, menarik jarumnya kembali dengan pandangan mata yang dipenuhi oleh kepuasan palsu. Ia menatap tabung suntik yang kini menampilkan draf notifikasi: 'Data Terverifikasi – Sinkronisasi Sistem 100%'.
Dokter tua itu merapikan peralatannya, lalu membungkuk hormat sebelum melangkah keluar menuju rumah utama untuk melaporkan draf keberhasilan tugasnya kepada Kakek Agung.
Elena mengembuskan napas panjang yang sejak tadi tertahan, sebuah senyuman miring penuh kepuasan dendam yang kejam terukir jelas di bibirnya. Babak penyisihan medis dari penguasa lama berhasil mereka bantai dengan mutlak.
Namun, ketenangan pasca kemenangan siber itu mendadak hancur berantakan ketika malam semakin larut melintasi jam dua dini hari. Pintu gerbang besi luar paviliun utama mendadak didobrak paksa dari luar oleh konvoi lima mobil sedan hitam berlambang diplomatik internasional.
Brak!
Yan berlari masuk ke dalam kamar pengantin dengan wajah yang mendadak berubah dari tegang menjadi seputih kertas semen. "Tuan Besar! Nyonya Muda! Kita dalam bahaya besar! Kakek Agung baru saja mendaratkan helikopter pribadi di pelataran depan, membawa pulang Albert Syailendra—Paman kandung Anda yang selama sepuluh tahun mengelola seluruh aset gelap Syailendra di Swiss!"
Yan gemetar hebat sembari menyerahkan sebuah draf dokumen interogasi baru yang dikirim langsung dari bandara internasional. "Albert tidak datang untuk memeriksa draf kandungan Nyonya Muda. Dia datang membawa seorang saksi hidup dari Prancis... saksi yang memegang dokumen silsilah asli yang membuktikan bahwa Elena Vance yang asli sudah tewas dalam kecelakaan ski di Pegunungan Alpen tiga tahun lalu!"
Boom!
Plot twist ekstrem itu laksana petir di siang bolong yang meruntuhkan seluruh dinding pertahanan aliansi maut Nicholas dan Elena dalam sekejap.
Elena Vance seketika menahan napasnya yang mendadak sesak, seluruh tubuh ringkihnya membeku mematung diserang oleh horor ketakutan yang teramat sangat. Paman Albert yang jauh lebih kejam, tenang, dan genius daripada Ardi kini telah resmi kembali ke Jakarta dengan membawa kartu mati asli yang siap melenyapkan nama Elena Vance dan Nicholas dari silsilah dinasti Syailendra selama-lamanya. Babak baru dari kepunahan total pernikahan kontrak di atas kertas emas kini telah resmi meledak di tengah kegelapan malam, mengunci sepasang penguasa takhta dalam sebuah sangkar jebakan maut yang jauh lebih berdarah dan mematikan.
------------------------------