Ketika langit malam berkedip dan suara mekanis yang dingin bergema di benak miliaran manusia, Bumi tidak lagi sama. Kiamat tidak datang membawa api dari neraka atau wabah mematikan, melainkan sebuah layar biru transparan yang melayang di udara.
Era damai telah dihancurkan oleh "Sistem". Manusia secara paksa ditarik ke dalam arena kelangsungan hidup semesta, di mana monster bermunculan dari bayang-bayang dan hukum rimba menjadi satu-satunya aturan. Beradaptasi, berevolusi, atau mati.
Yudha, seorang mekanik penyendiri yang lebih nyaman berbicara dengan mesin daripada manusia, secara tidak sengaja meretas anomali sesaat sebelum kiamat dimulai. Berkat sebuah kubus hitam misterius yang ia temukan di pasar loak, Sistem salah mengidentifikasinya dan memberikannya kelas yang belum pernah tercatat dalam sejarah integrasi: Mekanik Kosmik.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bodattt, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 6: Pembersihan Tubuh dan Tatanan Besi Hitam
Angin malam berhembus membawa bau amis darah, namun suasana di halaman pabrik peleburan baja itu terasa sunyi dan tegang. Sekitar belasan penyintas yang bersembunyi di balik tumpukan drum kini melongok dengan wajah pucat pasi. Pandangan mereka terpaku pada sosok Yudha yang berdiri dengan punggung tegap, menatap Lin Tian dan Lin Chen.
"Lakukan sekarang," perintah Yudha singkat.
Lin Tian mengangguk. Dengan sebilah pisau pendek yang ia bawa, ia membelah dada bangkai Serigala Tulang Darah. Tangannya gemetar saat menyentuh kristal seukuran kelereng yang berpendar redup di antara gumpalan daging. Ia mengambil satu untuk dirinya, dan melempar satu lagi kepada adiknya, Lin Chen.
Tanpa perlu diajari, insting bela diri kuno yang tertanam dalam diri mereka mengambil alih. Keduanya duduk bersila di atas aspal yang dingin, memejamkan mata, dan menggenggam kristal itu erat-erat.
Yudha mengamati dari dekat. Ia menyilangkan lengan di dada, sembari membuka layar antar-muka Sistem di benaknya. Ia masih memiliki lima Poin Atribut Bebas dari kenaikan Tingkat 3 sebelumnya.
Kecerdasanku adalah inti dari kelas Mekanik Anomali. Semakin tinggi kecerdasanku, semakin besar daya ciptaku, batin Yudha.
Tanpa ragu, ia mengalihkan seluruh poin tersebut.
[Distribusi poin dikonfirmasi.]
[Kecerdasan: 18 -> 23]
[Batas Daya Komputasi Meningkat: 100 -> 150]
[Pikiran menjadi lebih jernih. Kapasitas memori visual dan analisis taktis meningkat.]
Sensasi sejuk mengalir ke dalam otaknya. Tiba-tiba, segala sesuatu di sekitarnya terasa bergerak sedikit lebih lambat. Ia bisa melihat pola retakan di aspal, memperkirakan berat drum besi hanya dari bentuk penyoknya, dan menghitung jarak optimal untuk bertahan jika ada serangan mendadak. Otaknya bekerja layaknya superkomputer yang baru saja dihidupkan.
Perhatiannya kembali pada dua bersaudara Lin.
Kristal di tangan mereka telah melebur menjadi cahaya yang meresap ke pori-pori kulit. Wajah Lin Tian dan Lin Chen langsung memerah. Otot-otot mereka mengejang keras, dan urat-urat menonjol di leher dan dahi mereka seolah akan meledak.
"Tahan rasa sakitnya!" suara Yudha memecah keheningan, dingin namun membawa wibawa yang memaksa mereka untuk tetap sadar. "Energi murni itu sedang membersihkan jalur saraf dan tulang kalian. Jika kalian pingsan sekarang, energi itu akan terbuang sia-sia, dan kalian akan selamanya menjadi manusia rendahan!"
Mendengar kata-kata itu, Lin Chen yang nyaris berteriak menahan nyeri langsung mengatupkan rahangnya rapat-rapat hingga berdarah. Lin Tian mengatur napasnya yang putus-putus, menuntun energi liar itu mengalir menyusuri seluruh anggota tubuhnya.
Proses itu memakan waktu sepuluh menit. Keringat hitam pekat bercampur kotoran dari dalam tubuh merembes keluar dari pori-pori mereka, menyebarkan bau yang sangat menyengat.
Akhirnya, hembusan napas panjang keluar dari mulut Lin Tian, disusul oleh Lin Chen. Keduanya membuka mata. Ada kilatan cahaya samar di manik mata mereka. Meski tubuh mereka dipenuhi kotoran berbau busuk, otot mereka tampak lebih padat, dan luka-luka pertempuran sebelumnya telah menutup sepenuhnya.
Lin Tian bangkit berdiri, merasakan tubuhnya yang seringan kapas namun dipenuhi tenaga ledak yang mengerikan. Ia memandang tangannya sendiri dengan tidak percaya, lalu menatap Yudha dengan sorot mata penuh fanatisme dan rasa hormat yang mutlak.
Kedua bersaudara itu serentak menangkupkan kepalan tangan di depan dada dan membungkuk dalam-dalam.
"Lin Tian dan Lin Chen berterima kasih atas anugerah Ketua!" seru mereka bersamaan.
Yudha mengangguk pelan, menerima gelar tersebut tanpa bantahan. Ia lalu memutar tubuhnya, menatap belasan penyintas yang sedari tadi meringkuk ketakutan. Ada pria paruh baya, wanita, dan beberapa pemuda tanggung. Mereka tampak kelaparan dan gemetar.
"Dengarkan baik-baik," suara Yudha menggema di seluruh halaman pabrik, didukung oleh wibawanya yang baru. "Mulai detik ini, pabrik ini adalah markas utama kita. Kita akan menyebutnya Tatanan Besi Hitam."
Beberapa penyintas saling berpandangan, bingung sekaligus takut.
"Di dalam Tatanan ini, tidak ada belas kasihan gratis. Tidak ada makanan yang turun dari langit," lanjut Yudha dengan tatapan tajam bak sebilah pedang. "Hierarki di sini mutlak. Lin Tian dan Lin Chen mulai hari ini menjabat sebagai Murid Luar sekaligus Penegak Aturan. Kalian semua yang ada di sini adalah Pekerja Kasar."
Seorang pria paruh baya bertubuh gemuk memberanikan diri untuk protes. "T-tapi... kami tidak tahu cara bertarung! Kami orang sipil! Kau tidak bisa memaksa kami—"
SWUUSHH!
Sebuah batu kerikil melesat dengan kecepatan peluru, menembus udara dan menghantam tiang besi tepat di sebelah kepala pria gemuk itu hingga penyok. Pria itu langsung jatuh terduduk, mengompol karena ketakutan.
Lin Chen berdiri dengan posisi tangan baru saja melempar kerikil, matanya menatap tajam ke arah kerumunan. Kecepatan dan kekuatannya kini jauh melampaui manusia biasa.
"Ketua sedang bicara. Tutup mulut kalian," desis Lin Chen.
Yudha mengabaikan kekacauan kecil itu dan melanjutkan, "Sebagai Pekerja Kasar, tugas kalian adalah membersihkan pabrik ini, memilah besi tua, membongkar mesin yang rusak, dan memasak dari sisa perbekalan yang ada. Jika kalian bekerja dengan baik, kalian akan mendapat makanan dan perlindungan penuh di dalam tembok ini. Jika kalian menolak, pintu gerbang terbuka lebar. Silakan keluar dan jadilah makanan para monster."
Tidak ada satu pun yang berani membantah. Kebrutalan dunia di luar sana sudah cukup menjadi alasan bagi mereka untuk patuh. Di era baru ini, dilindungi oleh sosok yang bisa membunuh monster dalam kedipan mata adalah sebuah kemewahan.
"Lin Tian, bawa mereka ke gedung penyimpanan. Atur pembagian tugas. Aku ingin laporan inventaris material logam dan pasokan air bersih dalam satu jam," perintah Yudha.
"Baik, Ketua!" jawab Lin Tian sigap, lalu mulai menggiring para penyintas ke dalam bangunan.
Setelah halaman kosong, Yudha melangkah sendirian menuju bangunan bengkel utama pabrik. Pintu besinya besar dan berat, namun dengan sedikit dorongan bahu, pintu itu berderit terbuka.
Di dalamnya, di bawah cahaya bulan yang menembus atap kaca yang pecah, terhampar surga bagi seorang mekanik. Gunungan pipa baja, mesin bubut industri, generator tua, dan puluhan drum berisi cairan pendingin.
Yudha berjalan ke tengah ruangan. Ia memungut sebuah kristal energi ketiga yang ia simpan dari serigala terakhir. Ia tidak menyerapnya. Ia menyimpannya sebagai sumber tenaga.
Dengan 150 Daya Komputasi di otaknya sekarang, Yudha membuka menu Cetak Biru di dalam layarnya. Ia tidak butuh senjata jarak dekat lagi untuk saat ini. Ia butuh sesuatu untuk menjaga tembok pabrik selagi mereka beristirahat. Sesuatu yang mematikan dan tidak kenal lelah.
"Mari kita lihat," gumam Yudha, senyum dingin tersungging di bibirnya. "Monster-monster itu butuh sambutan hangat jika mereka berani mendekati wilayahku."
Ia menatap tumpukan pipa baja dan suku cadang motor industri di sudut ruangan. Cahaya biru perlahan memancar dari kedua telapak tangannya.