Bagus , seorang pemuda yang di tolak cintanya dengan cara menyakitkan, mengambil jalan pintas untuk mendapatkan cintanya. apa yg terjadi ? jika ternyata semua yang dia dapatkan hanya kenikmatan semu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sang Alifas Yang Merumput, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 21 : Niat Suci Menuju Pelaminan
Matahari sore memancarkan semburat cahaya keemasan di atas langit kota Jakarta, menemani perjalanan motor Beat karbu milik Bagus yang sedang melaju santai membelah jalanan pinggiran kota. Di jok belakang, Sri duduk dengan sangat anggun. Kain hijab segi empat berwarna mocca yang dikenakannya melambai lembut ditiup angin sore. Sejak pulang dari merantau satu tahun di tanah Wetan dan melewati pendekatan murni selama enam bulan di kota, batin Sri bener-bener telah menjelma menjadi telaga yang tenang. Aura keangkuhan masa lalunya sebagai wanita karier elite Sudirman telah luntur total, digantikan oleh kesadaran hati yang murni untuk mencintai Bagus apa adanya.
Saat motor berhenti di sebuah lampu merah yang cukup lama, Sri perlahan memajukan tubuhnya. Jantungnya berdebar sedikit lebih cepat, namun ada seulas senyum tulus yang merekah di bibir manisnya.
"Mas Bagus beneran nanti Minggu depan mau melamar Sri?" tanya Sri lembut, memecah deru suara mesin motor yang bersuara halus. "Kalau Sri... sudah siap menunggu kedatangan Mas dan keluarga Mas untuk melamar aku. Kalau Mas Bagus sudah yakin dan mantap, nanti Sri mau bilang sama Bapak dan Ibu, kalau keluarga Mas Bagus akan datang Minggu depan untuk melamar Sri."
Mendengar ucapan tulus yang keluar langsung dari mulut Sri, Bagus tertegun di atas kemudi motornya. Ada rasa haru yang teramat mendalam membuncah di dalam ulu hatinya, membuat matanya mendadak berkaca-kaca. Ia mengingat kembali masa-masa kelam setahun lalu ketika ia dibutakan oleh dendam materi sampai nekat memakai mantra hitam Jaran Goyang hanya agar gadis ini berlutut di kakinya. Kini, tanpa pelet, tanpa khodam iblis, Allah justru membalikkan hati Sri dengan cara yang begitu indah dan terhormat.
Bagus menarik napas dalam-dalam, mengunci keteguhan jiwanya yang sudah ditempa oleh Ilmu Tawakalan Ahadi. "Mas sudah yakin dan mantap untuk melamar mu, Sri. Sampaikan salam kepada Bapak dan Ibu, kalau keluarga Mas Bagus akan datang melamar Minggu depan," jawab Bagus dengan nada suara yang sangat mantap, penuh wibawa, dan meneduhkan batin Sri.
Lampu hijau menyala, dan motor matic tua itu kembali melaju membelah sisa kemacetan sore hingga akhirnya berhenti tepat di depan pagar rumah mewah keluarga Sri. Setelah Sri turun dan menyerahkan helm cadangannya dengan senyuman ramah, Bagus berpamitan untuk langsung kembali ke kontrakan demi mempersiapkan segala keperluan.
Malam harinya, dengan dada yang berdebar kencang namun penuh keberanian, Sri melangkah menuju ruang tengah rumahnya. Di sana, sang ayah, Aryo Sukoco, sedang membaca koran, sementara ibunya, Susilawati, duduk santai sambil menikmati teh hangat. Sri menarik napas dalam-dalam, lalu duduk di hadapan mereka untuk menyampaikan niat suci Bagus bahwa keluarga pemuda itu akan datang berkunjung secara resmi pada hari Minggu depan untuk melamar dirinya.
Mendengar pengakuan jujur dari Sri, Aryo Sukoco dan Susilawati sempat terkejut dan terdiam lama, memicu ketegangan kecil di dalam rumah sebelum hari yang dinanti itu bener-bener tiba.
Hari Minggu yang dijanjikan akhirnya mendarat juga. Langkah suci menuju pelaminan itu tidak ditempuh Bagus seorang diri. Karena statusnya yang sudah yatim piatu sejak kecil, Bagus didampingi oleh dua sosok pengganti orang tuanya yang paling berharga, yaitu Mas Broto dan Mba Yuni, kakak kandungnya yang selama ini ikut merawatnya dengan penuh kesabaran. Dengan mengenakan pakaian batik sederhana yang rapi, rombongan keluarga kecil Bagus itu melangkah masuk menembus pagar rumah mewah milik keluarga Sri.
Di dalam ruang tamu yang berlantai marmer berkilau, Aryo Sukoco dan Susilawati sudah duduk menunggu dengan pembawaan yang kaku, disiplin, dan formal.
Mas Broto sebagai perwakilan keluarga Bagus, langsung membuka obrolan dengan nada suara yang santun namun tegap. "Bapak Aryo dan Ibu Susi yang kami hormati, kedatangan kami sekeluarga siang ini, tidak lain adalah untuk mengantarkan adik kami, Bagus Sanjaya, yang bermaksud mengutarakan niat sucinya untuk meminang putri Bapak, Sri Rahayu."
Susilawati langsung mengernyitkan dahi. Ia menatap pakaian batik sederhana milik Mas Broto dan Mba Yuni dengan pandangan ragu. "Melamar? Maaf ya, tapi kami harus realistis sebagai orang tua. Anak kami, Sri, ini wanita karir berpendidikan tinggi. Sedangkan pekerjaan Bagus murni cuma kurir ojol, dan dia juga sudah yatim piatu sejak kecil. Pakai apa Bagus mau menjamin masa depan dan memberi makan anak saya? Status sosial kalian itu beda jauh."
Mendengar kalimat sentimen yang merendahkan status yatim piatu dan pekerjaannya tersebut, Bagus yang duduk bersila di lantai bawah sama sekali tidak terusik oleh hawa nafsu amarah. Di dalam aliran darahnya, esensi Ilmu Benteng Neroko Jasad yang bersumber dari pilar Iman, Islam, dan Ihsan bekerja mengunci emosinya agar tetap berkepala dingin. Getaran hawa murni dari jalur langit yang memancar dari ketenangan Bagus mendadak membuat atmosfer ruangan yang tadinya tegang berubah menjadi sangat adem.
Bagus mendongakkan kepalanya, menatap lurus ke arah orang tua Sri dengan pandangan mata yang jujur tanpa ada rasa minder sedikit pun. "Saya tahu diri, Ibu Susilawati, Bapak Aryo Sukoco," ucap Bagus, suaranya bergaung mantap mengunci perhatian seisi ruangan. "Saya memang cuma anak yatim piatu dan kurir ojol saat ini. Tapi saya datang ke sini bukan membawa janji materi yang menipu, melainkan sebuah tanggung jawab lahir dan batin di hadapan Tuhan untuk menjaga, memuliakan, dan membimbing Sri. Saya bekerja mencari nafkah yang halal, dan saya pasrah penuh kepada rezeki Allah setelah saya berikhtiar setiap hari."
Aryo Sukoco tertegun mendengar kalimat bertenaga tersebut. Pria paruh baya yang terkenal keras kepala itu menatap dalam-dalam ke arah sepasang mata Bagus, mencari celah kebohongan di sana. Namun, Aryo Sukoco justru mendapati sebuah pancaran wibawa spiritual yang sangat kokoh dan meneduhkan, seolah-olah seluruh dinding keangkuhan materinya runtuh seketika berbenturan dengan energi murni dari Bagus.
Setelah keheningan yang panjang, Aryo Sukoco menarik napas dalam-dalam lalu menoleh ke arah istrinya, kemudian ke arah Sri yang diam dengan raut wajah yang harap-harap cemas di pojok sofa.
"Dulu... kami sebagai orang tua mungkin terlalu silau oleh harta duniawi hingga buta melihat ketulusan," ujar Aryo Sukoco, suaranya agak serak dan melunak total. "Tapi siang ini, melihat keteguhan iman, kejujuran, dan bagaimana caramu bertanggung jawab sebagai laki-laki sejati meskipun yatim piatu, ego materi saya bener-bener runtuh, Bagus. Saya tidak butuh menantu kaya raya yang pamer kemewahan jika jiwanya kosong dari agama. Dengan mengucapkan bismillahirrahmanirrahim, lamaran dari keluargamu resmi saya terima."
Senyum lega dan tawa kecil penuh kehangatan seketika pecah memenuhi ruangan, mencairkan seluruh sisa ketegangan yang sempat menghimpit dada mereka sejak awal pertemuan. Sri menatap Bagus dengan seulas senyuman paling manis yang memancarkan sinar kebahagiaan sejati, sementara Mbak Yuni dan Mas Broto berulang kali mengangguk lega sambil menjabat erat tangan Aryo Sukoco sebagai tanda ikatan keluarga yang baru. Susilawati pun akhirnya ikut tersenyum bersahaja, menyadari bahwa ketulusan batin jauh lebih berharga daripada kilau materi yang menipu. Manusia boleh saja nekat melompat mendahului garis takdir menggunakan cara maksiat, namun pada akhirnya, skenario terbaik milik Sang Pemilik Hati adalah yang paling sempurna bagi mereka yang mau bersabar menempuh jalan yang halal. Hari itu, di tengah ruang tamu yang kini dipenuhi aura kedamaian, lamaran murni tanpa pelet resmi diterima dengan penuh keberkahan langit.
“Ketika kau memilih untuk bersabar menahan pedihnya hinaan materi dan berjalan di atas jalur pertobatan yang suci, takdir langit akan membukakan pintu keajaiban yang tak pernah kau duga. Jodoh adalah hak prerogatif Allah yang membolak balikkan Hati; ia tidak butuh paksaan mantra kegelapan untuk menyatu, melainkan mekar dengan sempurna melalui ketulusan cinta yang murni diridhoi oleh-Nya.”
— Sang Alifas Yang Merumput