Nikah muda? ✅
Nikah online? ✅
Satu kelas sama suami sendiri yang ternyata idola sekolah? Nah, yang ini di luar prediksi BMKG!
Satu tahun lalu, sebuah ijab kabul via video call mengikat takdir Ellea dengan seorang pria di kota. Tanpa cinta, tanpa tatap muka langsung.
Kini, Ellea harus menyusul sang suami ke kota setelah kepergian neneknya. Namun, saat tiba di sana, justru pria itu kabur dari rumah dan takdir membawa mereka untuk bertemu kembali di koridor sekolah.
Pria itu bernama Albiru, pria yang paling dielu-elukan, sang kapten tim basket yang dingin dan tak tersentuh, ternyata adalah pemilik cincin yang sama dengan yang melingkar di jari Ellea.
Bagaimana cara Ellea menyembunyikan rahasia besar ini di depan teman-teman barunya? Dan mampukah sang kapten basket mengenali istrinya sendiri yang bercadar?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aqilazahra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Cinta Tidak bisa dipaksakan
"Kak, maksudnya apa?" tanya Ellea, suaranya bergetar halus. Ia menatap lurus ke dalam sepasang netra tajam suaminya, berharap bahwa pendengarannya beberapa detik lalu hanyalah kesalahan fatal akibat rasa panik yang telanjur menumpuk.
Albiru tidak segera menjawab. Pria itu menegakkan tubuhnya, berjalan mendekati meja belajar lalu menyandarkan pinggulnya di sana sembari bersedekap dada. Ekspresi wajahnya mengeras, kembali pada setelan dingin yang biasa ia pasang di hadapan orang asing.
"Ellea, gue tahu elo pasti paham dengan perkataan gue," ujar Albiru datar, tanpa ada riak ragu sedikit pun di dalam nadanya.
Mendengar kalimat demi kalimat yang meluncur begitu lancar dari bibir suaminya, dada Ellea seketika bergemuruh hebat. Rasanya seperti ditusuk jarum tak kasat mata tepat di ulu hati. Belum sempat ia mencerna seluruh rasa sesak itu, Albiru kembali melanjutkan ucapannya dengan begitu tenang, seolah setiap kata yang ia lontarkan tidak berpotensi meremukkan perasaan seorang wanita.
"Dan soal Sandra ... lo nggak perlu mikirin dia. Jujur, di hati gue, cuma ada Sandra wanita yang gue sayang, jadi apapun kesalahan Sandra gue akan membelanya," tambah Albiru dengan ekspresi wajah yang sangat meyakinkan.
Mendengar pengakuan jujur yang meluncur begitu mutlak itu, napas Ellea seketika tercekat. Rongga dadanya mendadak terasa begitu sempit hingga pasokan oksigen laksana menguap dari sekelilingnya. Ellea mengepalkan kedua jemarinya kuat-kuat di balik manset hitam yang ia kenakan, menahan luapan emosi yang nyaris membuatnya kehilangan kendali untuk berteriak tepat di depan wajah pria egois itu.
"Jadi ... kamu anggap pernikahan suci ini semuanya hanya dusta demi untuk menyenangkan kedua orang tuamu, Al? Kenapa kamu tidak mencoba memikirkan masa depanku juga?" batin Ellea dirundung rasa nyeri yang teramat hebat.
"Gue minta waktu satu tahun lagi," lanjut Albiru. "Jika nanti satu tahun berlalu dan orang tua kita sudah mulai bisa mengerti situasi di antara kita, kita akan berpisah secara baik-baik. Lo bebas pergi dari pernikahan ini."
Hening sejenak mencekam ruangan itu. Hanya terdengar deru napas keduanya yang saling berkejaran. Ellea buru-buru membuang muka, melemparkan pandangannya ke arah lantai. Ia mencoba sekuat tenaga mengumpulkan sisa-sisa harga diri yang berserakan untuk tegak kembali di hadapan Albiru. Namun, di balik ketegaran yang coba ia tunjukkan, ada rasa takut yang perlahan merayap dan mencengkeram hatinya saat membayangkan kata perpisahan itu benar-benar menjadi nyata suatu saat nanti.
Dengan sisa keberanian yang ia miliki, Ellea kembali menatap suaminya. "Kak, kenapa kita tidak mencoba untuk saling mencintai?" tanya Ellea, suaranya lirih namun sarat akan permohonan yang mendalam.
Albiru mendengus pendek, sebuah senyuman pahit terukir di sudut bibirnya. "Gue sudah mencobanya satu tahun ini, Ellea. Gue coba untuk memahami elo, mencintai elo."
Mendengar pembelaan diri dari Albiru, tawa getir spontan lolos dari balik cadar Ellea. Matanya yang mulai berkaca-kaca menatap Albiru dengan pandangan menuntut keadilan.
"Memahami aku?" tanya Ellea balik, nadanya meninggi satu oktav. "Kapan Kakak berkomunikasi denganku? Tidak, Kakak tidak pernah mencobanya sama sekali! Pesanku, teleponku, tidak pernah Kakak balas satu pun selama ini sampai aku kehilangan nomor ponsel Kakak. Apakah itu yang Kakak sebut dengan mencoba?"
Albiru memalingkan wajah ke arah jendela, enggan berlama-lama menatap binar terluka di sepasang mata abu-abu istrinya. Ia mengusap tengkuknya dengan kasar, merasa tersudut oleh fakta yang baru saja dibongkar oleh Ellea.
"Ellea. Please, jangan membuat hubungan kita jadi lebih rumit.” Seloroh Albiru, suaranya memberat, mencoba mengembalikan dominasi dalam percakapan ini. "Cinta itu nggak bisa kita paksakan. Elo juga nggak mau, kan, seumur hidup terjebak dan menikah dengan orang yang enggak elo cintai?"
"Tapi aku cinta sama kamu, Al! Sejak pertama kita menikah dan mengucap janji di depan saksi, aku sudah menyerahkan seluruh hidup dan hatiku padamu," jerit Ellea di dalam hatinya, sebuah pengakuan jujur yang hanya mampu tertahan di tenggorokan, tersaring oleh rasa tahu diri yang teramat besar.
"Gue harap elo ngerti, El. Cinta nggak bisa dipaksakan," jelas Albiru sekali lagi, menegaskan batasan tak kasat mata di antara mereka.
"Kak Albiru jahat!" ucap Ellea, air matanya kini benar-benar lolos membasahi kain cadarnya.
"Ya, gue emang jahat," timpal Albiru cepat, tanpa bantahan. Ia menatap Ellea dengan sorot mata yang sulit diartikan. "Maka dari itu, elo nggak pantes bersanding sama pria kayak gue. Ayolah, Ellea ... masa depan elo dan gue masih panjang. Mempertahankan pernikahan tanpa dasar ini nggak akan pernah bikin kita bahagia."
Ellea menarik napas panjang, mencoba menghentikan getaran di pundaknya. Ia menghapus air matanya dengan gerakan cepat di balik khimarnya. "Ok, baik. Aku setuju. Satu tahun, kita akan menjalaninya sesuai kemauan Kakak."
Mendengar persetujuan itu, rasa lega sekaligus ada denyut asing yang tak nyaman menjalar di dada Albiru. Secara refleks, tangannya terangkat, hendak mengusap puncak kepala Ellea untuk menenangkannya. Namun, belum sempat jemarinya menyentuh helai jilbab gadis itu, Ellea sudah melangkah mundur dengan cepat, menjaga jarak sejauh mungkin dari jangkauan suaminya. Tangannya yang menggantung di udara akhirnya ditarik kembali oleh Albiru dengan canggung.
Albiru mengembuskan napas panjang, setidaknya badai besar tentang status pernikahan mereka sudah menemukan titik kesepakatan, meski ada bagian dari dirinya yang merasa tidak puas. Namun, sebelum pembicaraan darurat ini benar-benar disudahi, bayangan insiden di lapangan basket tadi mendadak melintas kembali di kepalanya, memantik api cemburu yang enggak ia akui sejak pagi ia tekan kuat-kuat.
Albiru kembali menatap Ellea dengan sorot mata yang mendadak menuntut dan tajam. "Satu hal lagi. Ini masalah Andra," imbuh Albiru, nadanya kembali meninggi dan terdengar tidak bersahabat.
Ellea yang baru saja hendak memungut tas ranselnya di lantai, menghentikan gerakannya. Ia menatap Albiru dengan kening berkerut dalam. "Memangnya kenapa dengan Kak Andra? Dia selalu baik sama Ellea."
"Karena gue nggak suka!" gertak Albiru ketus, rahangnya mengetat seketika saat nama pria itu disebut oleh istrinya sendiri. "Kalau nanti di luar sana ada pria lain yang mendekati lo dan dia terbukti baik, gue nggak akan pernah melarang lo. Terserah lo mau dekat sama siapa pun untuk masa depan lo nanti setelah kita pisah. Tapi ingat ... siapa pun prianya, asal jangan Andra!"
Ellea merasa larangan Albiru benar-benar kekanak-kanakan dan sama sekali tidak memiliki dasar yang logis. "Alasan Kakak apa? Kak Andra tidak pernah berbuat macam-macam. Dia peduli karena aku murid baru yang selalu dipandang rendah karena pakaianku seperti ini, di sekolah hanya Dania dan Kak Andra yang menghormatiku."
"Gue bilang jangan, ya jangan!" sentak Albiru, langkahnya maju satu kali, mengikis jarak di antara mereka hingga Ellea bisa merasakan aura dominasi suaminya yang begitu pekat. "Gue nggak suka melihat dia sok pahlawan di depan istri gue—"
Albiru menghentikan kalimatnya secara mendadak. Matanya membelalak kecil, menyadari kata sensitif yang baru saja lolos dari bibirnya tanpa kendali otak.
"—maksud gue, di depan lo!" Ralat Albiru cepat dengan nada ketus, buru-buru mengalihkan pandangannya ke arah dinding kamar untuk menyembunyikan rasa salah tingkah yang menyerangnya. "Keputusan gue udah bulat. Jangan pernah berurusan atau bicara lagi sama dia."
Tanpa menunggu tanggapan, pembelaan, atau bantahan lebih lanjut dari Ellea yang masih terpaku mematung, Albiru menyambar handuknya di gantungan pintu dengan gerakan kasar. Ia melangkah lebar menuju kamar mandi di dalam kamarnya dan menutup pintunya dengan dentuman yang cukup keras.
Brak.
Suara pintu kamar mandi yang tertutup itu laksana palu hakim yang mengesahkan akhir dari pembicaraan mereka. Ellea masih berdiri tegak di dekat meja belajar, menatap nanar ke arah pintu kayu di hadapannya.
“Dasar egois! Kamu bisa dekat-dekat dengan Sandra, sedangkan aku dekat dengan Kak Andra gak boleh? Menyebalkan!” pekik Ellea kesal.