"Bagaimana jika kau tahu rahasia kehancuran dunia, tapi kau tidak boleh memberitahu siapa pun?"
Di masa depan, Wei Changqing adalah legenda tertinggi dunia persilatan—sang Mata Pedang Hijau yang ditakuti sekaligus dihormati. Namun gelar itu tak ada artinya ketika ia berdiri di atas puing-puing dunia yang hancur oleh perang agung, memeluk jasad wanita yang setia menantinya hingga akhir hayat.
Mengorbankan seluruh tingkat latihannya, Changqing memutar balik roda waktu dan terbangun di dalam tubuh mudanya yang berusia 19 tahun. Kembali menjadi pendekar mentah yang belum memiliki reputasi apa pun.
Kali ini, tujuannya hanya satu: Mencegah perang berdarah itu terjadi dan menyelamatkan wanita yang ia cintai.
Namun, merubah takdir memiliki harga mahal. Setiap peristiwa yang ia cegah melahirkan musuh baru yang lebih mengerikan. Lebih buruk lagi, demi menyatukan sekte-sekte yang egois agar tidak saling berperang, Changqing mungkin harus menelan fitnah terbesar dalam sejarah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nugraha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 15 : Pembuktian di Arena
Lima hari sebelum hari keberangkatan menuju Turnamen Konferensi Lembah Anggrek, pelataran utama Sekte Lembah Bambu Biru dipenuhi oleh seluruh murid yang berkumpul mengelilingi gelanggang batu.
Hari ini adalah penentuan resmi daftar rombongan yang akan mewakili sekte.
Ketua Sekte Zhao Wuji duduk di kursi utama bersama Paman Guru Lin. Di tengah arena, Kakak Senior Pertama, Chen Wu, berdiri dengan bangga. Jubah putihnya rapi, pedang panjang di tangannya memancarkan aura Pendekar Menengah Tahap 4 yang cukup padat hasil latihannya yang keras selama satu bulan terakhir.
"Murid-murid sekalian!" suara Paman Guru Lin menggema di kursi atas. "Sesuai keputusan Ketua Sekte, Chen Wu akan menjadi perwakilan pertama kita di Konferensi Lembah Anggrek. Namun, untuk perwakilan kedua yang akan mendampinginya, Ketua Sekte menunjuk Wei Changqing!"
Seketika, terdengar gumaman tidak puas dari barisan murid halaman utama.
Sun Meng yang pernah dikalahkan Baii Ling dan diusir Changqing dua minggu lalu, berseru dari barisan belakang dengan wajah iri. "Paman Guru, Changqing menghabiskan waktu satu bulan ini hanya untuk merawat kebun herbal dan mengasuh anak kecil di lereng barat, Bagaimana mungkin dia pantas mewakili kehormatan sekte mendampingi Kakak Pertama Chen Wu?!"
Chen Wu yang berdiri di tengah arena ikut menoleh ke arah suara itu. Ia membungkuk hormat pada Guru Zhao Wuji, namun wajahnya menyiratkan keberatan yang sama.
"Ketua Sekte," ucap Chen Wu tegas. "Murid tidak keberatan berdampingan dengan siapa pun, tetapi di arena Lembah Anggrek nanti, kita akan berhadapan dengan jenius dari Sekte Pedang Langit dan Klan Teratai Darah. Jika Changqing tidak memiliki kemajuan nyata dan hanya mengandalkan keberuntungan, dia hanya akan mempermalukan nama Lembah Bambu Biru."
Guru Zhao Wuji mengusap jenggot putihnya dengan tenang, lalu menatap ke arah jalan setapak bukit barat. "Kalau kau ragu pada kemampuan adik seperguruanmu, Chen Wu... mengapa kau tidak mengujinya sendiri langsung di arena ini?"
Tepat saat Guru Zhao menyelesaikan kalimatnya, dua sosok berjalan santai memasuki area utama dari arah bukit barat.
Itu adalah Wei Changqing yang berjalan tenang dengan pedang besi hitam kusam di pinggangnya, didampingi oleh Baii Ling kecil yang membawa wadah air minum untuk gurunya.
Melihat kehadiran Changqing, Zhou Hao langsung bersorak dari pinggir lapangan. "Maju, Changqing, Tunjukkan hasil meditasi daun bambumu!"
Changqing menepuk pundak Baii Ling ringan, menyuruhnya menunggu di pinggir lapangan bersama Zhou Hao, lalu melangkah naik ke atas arena batu menghadap Chen Wu.
Meskipun Changqing sengaja menekan pancaran auranya agar terlihat berada di tingkat yang sama dengan Chen Wu, Pendekar Menengah Tahap 4, ketenangan postur tubuhnya berbeda jauh dari satu bulan yang lalu. Ia berdiri begitu santai seolah-olah menyatu dengan embusan angin arena.
"Kakak Senior Chen," Changqing membungkuk sopan sambil mencabut pedang besi hitamnya dari sarung. "Mohon bimbinganmu."
Chen Wu menatap pedang hitam kusam Changqing dengan sikap meremehkan. "Pedang besi berkarat? Cih! Jangan salahkan aku kalau pedang jelekmu itu patah dalam tiga jurus!"
"Hiaaah!"
Tanpa membuang waktu, Chen Wu melesat maju. Tenaga dalam tingkat Pendekar Menengah Tahap 4 disalurkan penuh ke bilah pedangnya, menghasilkan desingan angin tajam. Ia melancarkan jurus kebanggaan halaman utama: Pedang Bambu Membelah Karang, sebuah tebasan vertikal berat yang mengincar langsung ke pundak kanan Changqing.
Para murid di pinggir arena menahan napas. Tebasan Chen Wu begitu cepat dan agresif.
Namun bagi Changqing, yang fisik aslinya kini telah mencapai Pendekar Menengah Tahap 5 dan jiwanya berada di ranah Nirwana, serangan Chen Wu penuh dengan celah terbuka di bagian pinggang dan lutut kiri.
Changqing tidak perlu menggunakan kekuatan Tahap 5-nya untuk menang. Ia juga tidak mengaktifkan Mata Pedang Hijau. Ia hanya menggunakan kehalusan jurus dasar sekte yang telah ia sempurnakan: Bambu Menunduk Badai.
Sring!
Saat pedang Chen Wu turun menabrak, Changqing memiringkan pedang hitamnya ke sudut tiga puluh derajat, menyambut ujung pedang Chen Wu bukan dengan benturan keras, melainkan dengan gesekan meluncur.
Trang... sreeek!
Pedang Chen Wu seolah tergelincir di atas lapisan es. Seluruh tenaga tebasan berat yang dilancarkan Chen Wu mendadak dibelokkan ke samping kiri oleh pedang Changqing, membuat tubuh Chen Wu terhuyung ke depan karena kehilangan sasaran.
"A-Apa?!" Chen Wu terkejut. Ia berusaha menarik kembali pedangnya untuk menebas dengan mendatar.
Namun sebelum Chen Wu sempat memutar pergelangan tangannya, Changqing melangkah maju setengah langkah. Gagang pedang hitam Changqing berputar lembut, lalu bagian sisi bilah tumpulnya mengetuk ringan tepat di pergelangan tangan kanan Chen Wu, tepat di titik saraf meridian nya.
Tik!
"Aduh!" Chen Wu menjerit refleks. Pergelangan tangannya mati rasa seketika bagaikan tersengat listrik. Pedang putih bergaris biru miliknya terlepas dari genggaman dan melambung ke udara.
Tanpa menunggu pedang itu jatuh ke lantai, Changqing mengayunkan pedang hitamnya mendatar dengan kecepatan yang yang sangat halus dan bersih.
Wesh.
Angin di arena berhenti berhembus.
Pedang milik Chen Wu jatuh menancap ke lantai batu, sementara ujung pedang besi hitam Changqing kini sudah berhenti tenang tepat dua jari di depan tenggorokan Chen Wu.
Hanya butuh dua tarikan napas. Satu tangkisan meluncur, satu ketukan pergelangan tangan.
Seluruh arena utama Sekte Lembah Bambu Biru tenggelam dalam keheningan total. Sun Meng di barisan belakang menganga lebar dengan wajah pucat pasi. Tidak ada satu pun murid yang berani berbicara.
Chen Wu berdiri mematung menatap ujung pedang hitam kusam di depan lehernya. Ia bahkan tidak bisa memahami bagaimana seluruh tenaganya tadi dibelokkan begitu saja seolah ia sedang menebas air laut.
Changqing perlahan menarik kembali pedangnya, menyarungkannya, lalu membungkuk hormat pada Chen Wu.
"Kakak Senior Chen mengalah pada murid muda," ucap Changqing dengan rendah hati, memberi muka agar Chen Wu tidak terlalu dipermalukan di depan umum.
Dari kursi utama di atas arena, Guru Zhao Wuji tertawa puas dan bertepuk tangan perlahan.
"Bagus! Sangat mengalir dan sempurna!" seru Guru Zhao dengan mata berbinar bangga. "Apakah masih ada di antara kalian yang meragukan pantas atau tidaknya Wei Changqing menjadi perwakilan kedua sekte kita ke Konferensi Lembah Anggrek?!"
Serentak, seluruh murid di lapangan menundukkan kepala mereka dengan rasa hormat yang baru. Chen Wu mengambil pedangnya di lantai, menatap Changqing dengan ekspresi kompleks antara malu dan kagum, lalu membungkuk membalas hormat.
"Aku... aku mengakui kekalahanku," kata Chen Wu jujur. "Ketenangan ilmu pedangmu memang layak mewakili sekte kita."
Di pinggir lapangan, Baii Ling tersenyum bangga sambil mengepal tangan kecilnya, sementara Zhou Hao meloncat-loncat girang merayakan kemenangan sahabatnya.
Pembuktian internal telah selesai tanpa keraguan. Kini, jalan menuju Lembah Anggrek telah terbuka sepenuhnya, siap membawa Changqing menuju panggung dunia persilatan yang sesungguhnya.
lanjutkan Thor.....👍👍🙏