NovelToon NovelToon
Sang Dewa Cangkul Sakti

Sang Dewa Cangkul Sakti

Status: sedang berlangsung
Genre:Budidaya dan Peningkatan / Reinkarnasi / Sistem
Popularitas:4.9k
Nilai: 5
Nama Author: UrLeonard

Bereinkarnasi di Era Kultivasi Modern, Yang Chan awalnya hanyalah remaja tanpa bakat yang mendambakan kehidupan damai. Memilih untuk tidak masuk dalam kebrutalan dunia kultivasi.

​Tanpa disangka, rutinitas mencangkulnya justru membangkitkan Sistem Taman Kehidupan. Bukan misi berdarah yang didapat, melainkan keajaiban agrikultur penakluk lahan mati yang kelak melahirkan legenda suci, juga bakat terpendam yang seharusnya tidak ia miliki.

​Saat para penguasa dunia sibuk mencari jejak keilahian, mampukah ia menjaga kedamaian hidupnya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon UrLeonard, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 20: Jeruji Kata dan Kebijaksanaan

Tepukan terakhir mendarat di lutut celana abu-abunya yang lusuh. Yang Wei, petani yang sedetik lalu gemetar seolah nyawanya hampir terbang, kini menegakkan punggungnya secara perlahan.

Hilang sudah. Postur bungkuk yang tampak menyedihkan itu lenyap dalam sekejap mata.

Sebagai gantinya, bahunya melebar. Menyisakan ketenangan sedingin es yang tidak biasa di wajah keriputnya.

Aura Inti Emas milik Li Hao masih menekan hebat. Membuat tanah di sekitarnya retak-retak bagai cermin pecah.

Namun, Yang Wei sama sekali tidak mundur. Ia bahkan tidak bergeser satu senti pun dari tempatnya berdiri.

Tangannya merogoh saku celana. Dengan santai, seolah-olah sedang mencari uang receh, ia mengeluarkan sebuah buku catatan kecil dari sana.

Pembukuan itu tampak kusam. Sudut-sudut kertasnya mulai melengkung dan menguning karena usia.

Sambil berdiri tepat di hadapan kultivator hebat itu, ia membalik halamannya satu per satu. Ia bersikap biasa saja.

Ia bersikap seakan tekanan spiritual yang sanggup meremukkan dada manusia biasa di sekelilingnya hanyalah embusan angin sepoi-sepoi yang lewat di sore hari.

"Sita tanah ini? Tentu, Tuan Besar bisa melakukannya dengan satu jentikan jari," ucap Yang Wei.

Sebuah senyuman sopan terkembang di bibirnya yang kering. Suaranya terdengar sangat stabil dan tajam.

"Tapi mari kita lihat... apakah Klan Li siap membayar denda ganti rugi kepada tiga Serikat Dagang Pusat yang meneken kontrak panen eksklusif di tanah ini?" lanjut Yang Wei. Nadanya datar namun menusuk.

Mata Li Hao menyipit seketika. Pusaran energi emas di sekitar tubuhnya beriak pelan, sedikit goyah oleh kata-kata yang baru saja keluar dari mulut seorang petani tua.

"Kau tiba-tiba berani melolong dengan nama serikat rendahan?" desis Li Hao. Suaranya berat menahan rasa tersinggung yang luar biasa.

Ia tidak terbiasa dibantah. Apalagi oleh orang yang dianggapnya tidak lebih dari cacing tanah.

Namun, ada sesuatu dalam ketenangan Yang Wei yang membuat amarahnya tertahan di tenggorokan.

Rahang tebal Li Hao mengeras. Sudut matanya berkedut, memperlihatkan keraguan kecil yang mulai merayap masuk ke dalam keangkuhannya yang semula tak tergoyahkan.

Keangkuhan itu mendadak retak. Persis seperti tanah di bawah kaki mereka.

Yang Wei menyodorkan buku catatan kusam itu ke depan dada Li Hao. Di halaman yang terbuka lebar, terpampang beberapa lembar dokumen resmi yang ditempeli stempel-stempel merah melingkar.

Stempel lilin merah menyala dari serikat elit kota. Kekuasaan mereka bahkan bisa membuat klan kultivasi berpikir puluhan kali sebelum bertindak gegabah.

Urat-urat biru di leher tebal Li Hao mendadak menonjol keluar. Berdenyut-denyut dengan cepat seiring dengan helaan napasnya yang mulai terasa berat.

Frustrasi fisik mulai menggerogoti sang tetua klan. Otot-ototnya menegang karena menahan luapan emosi yang dipaksa tunduk pada aturan duniawi yang membosankan.

Mencoba memulihkan dominasinya, Li Hao melangkah maju satu tapak. Ia mengerahkan sisa tekanan spiritualnya, mengirimkan gelombang aura yang lebih pekat untuk meremukkan lawan bicaranya.

Namun, Yang Wei hanya menggeser tumpuan tumit kanannya sekian milimeter ke samping. Gerakan itu sangat sutil, hampir tidak terlihat oleh mata biasa.

Itu adalah sebuah postur bela diri tingkat tinggi yang tersamar dengan sangat sempurna.

Gelombang aura emas yang dikirim Li Hao terbelah tepat di depan tubuh Yang Wei. Aliran energi itu melewatinya begitu saja tanpa menyentuh selembar benang pun di pakaiannya.

Seperti aliran air sungai yang deras menabrak batu karang raksasa di tengah samudra.

Melihat reaksinya yang gagal, Yang Wei tidak membuang waktu. Ia langsung memaparkan argumennya dengan artikulasi yang cepat, jelas, dan sangat logis.

Ia menjelaskan bagaimana monopoli paksa atas lahan ini akan memicu boikot besar-besaran dari berbagai faksi saingan, termasuk Keluarga Xian yang terkenal kejam dalam urusan bisnis.

"Jika Anda membantai kami sekarang," kata Yang Wei, menutup buku catatannya dengan bunyi plak yang renyah.

Bunyi itu bergema kuat di halaman yang sepi.

"Keluarga Xian akan menggunakan dalih pelanggaran kontrak dagang untuk memblokir jalur perdagangan klan Anda selanjutnya. Apakah sepetak tanah berlumpur ini sepadan dengan keruntuhan ekonomi klan Anda?"

Suasana mendadak hening.

Yang Chan, yang masih bertumpu pada satu lututnya di tanah kering, menatap punggung ayahnya dengan mata bulat yang melebar sempurna.

Ia terperangah.

'Sejak kapan Ayah tahu cara mengintimidasi kultivator Inti Emas hanya dengan omongan?' batin Yang Chan, bingung setengah mati.

Ia baru menyadari bahwa ayahnya sedang menguliti seorang kultivator tingkat Inti Emas murni hanya dengan menggunakan untaian kata-kata yang tenang.

Ini gila. Ini benar-benar di luar nalarnya.

Li Hao berdiri mematung. Arogansi mutlak yang ia bawa dari keretanya kini berubah menjadi rasa frustrasi yang menyiksa.

Logikanya terpojok. Dijepit oleh kenyataan pahit bahwa kekuasaan ototnya tidak bisa menyelesaikan segalanya di dunia yang digerakkan oleh uang dan koneksi.

Yang Wei hanya mempertahankan senyuman sopannya. Wajahnya tetap ramah namun tidak menyisakan ruang sedikit pun untuk tawar-menawar.

Dari sudut pandang yang lebih luas, kontras di antara keduanya terlihat sangat mencolok di bawah sengatan matahari siang.

Li Hao, kini dikelilingi oleh pusaran energi spiritual emas yang mulai kacau balau dan tidak beraturan.

Di seberangnya, berdiri Yang Wei yang bertubuh biasa saja. Tanpa riak energi sedikit pun di sekelilingnya, namun tampak sekokoh gunung. Aura rendahan yang ia rasakan sepenuhnya telah hilang.

Ketegangan di halaman itu semakin memuncak. Seperti seutas tali yang ditarik kencang hingga batas maksimalnya, siap putus kapan saja.

Harga dirinya yang setinggi langit sebagai tetua klan kuno telah dikoyak habis. Dipermalukan di depan umum oleh seseorang yang ia sebut sebagai petani miskin berbau lumpur.

Wajah Li Hao berubah memerah padam. Sangat merah seperti kepiting rebus.

Ia menggeram rendah. Suara yang keluar dari tenggorokannya terdengar seperti binatang buas yang sedang terluka.

Rasa malu mengalahkan akal sehatnya. Ia tidak peduli lagi dengan kalkulasi bisnis, persetujuan serikat dagang, ataupun ancaman dari Keluarga Xian.

Ia mengepalkan tangan kanannya dengan sangat kuat.

Energi emas murni berkumpul di sana, begitu padat hingga udara di sekeliling kepalan tangannya meledak-ledak. Menghasilkan suara dentuman sonik yang memekakkan telinga siapa pun yang mendengarnya.

"Persetan dengan kontrakmu!" raung Li Hao, matanya merah menyala penuh amarah.

"Aku akan meremukkan kepalamu dan mengambil apa yang kumau dari mayatmu!"

Dengan satu sentakan kaki yang menghancurkan tanah di bawahnya, ia mengangkat tinju emasnya yang menyala terang ke udara.

Yang Wei tidak berkedip sama sekali.

Tepat sedetik sebelum benturan keras itu terjadi, sorot mata ramah sang petani tua mendadak berubah menjadi sangat dingin. Dingin, tajam, dan mematikan.

"Bodoh..." bisik Yang Wei. Suaranya teramat pelan di tengah raungan badai energi di depannya.

Kepalan tinju raksasa milik Li Hao meluncur deras membelah udara. Membawa tekanan masif yang siap menghancurkan apa saja yang menghalanginya.

Sasaran tinju itu sangat jelas: wajah tenang Yang Wei yang berdiri tanpa pelindung.

Gerakan itu terjadi sangat cepat. Semua terasa sangat lambat bagi mereka yang menyaksikannya.

Namun, tepat beberapa sentimeter sebelum tinju emas yang membara itu menyentuh ujung hidung Yang Wei, kepalan tangan raksasa itu mendadak berhenti total di udara.

Tinju itu membeku.

Benar-benar membeku, tidak mampu maju satu milimeter pun. Seakan-akan membentur dinding tak kasat mata yang terbuat dari baja paling keras di dunia.

Cahaya emas di tangan Li Hao bergetar hebat. Mencoba menembus pertahanan misterius itu, namun sia-sia.

Semua mata terbelalak menatap kepalan tangan yang tertahan itu. Mengunci ketegangan di halaman depan rumah keluarga Yang sebelum badai sesungguhnya pecah.

1
ಠ⁠ω⁠ಠ
oke, kalau jurusnya pakai bahasa inggris keren juga ya /Sweat/, tapi aku kembalikan ke kalian. Apakah perlu aku revisi agar jadi bahasa indo saja, atau aku pertahankan perubahannya? /Slight/
ಠ⁠ω⁠ಠ: /Scare//Scare//Scare/
total 2 replies
Sulaeman Effendi
bagaimana selanjutnya ?
Sulaeman Effendi
kapan peningkatan kultifasi nya?
ಠ⁠ω⁠ಠ: Sebenarnya aku lupa perhatiin aspek Kultivasinya /Sweat/
total 1 replies
Sulaeman Effendi
seorang pendekar yang bijak 👍
Sulaeman Effendi
tehnik yang tepat 👍😄
Sulaeman Effendi
Asyik tanpa risiko berhasil memuaskan 👍
Sulaeman Effendi
era baru menjelajahi hutan
Sulaeman Effendi
mulai terasa ada perkembangan pertemanan yg menggetarkan
Sulaeman Effendi
iya boy, hidup tenang, menyenangkan dan berhasil gemilang 👍💪😀
Sulaeman Effendi
awal untuk maju dengan sekolah boy
Sulaeman Effendi
sekolah apa kuliah boy
ಠ⁠ω⁠ಠ: Agak beda ini, nggak mirip sekolah, kuliah juga gak mirip /Sweat/
total 1 replies
Sulaeman Effendi
sekolah Boy ?
ಠ⁠ω⁠ಠ: Iya, sekolah. Tapi enggak fokus ke sekolahnya, lebih ke hal lain di sekolah/akademi /Slight/
total 1 replies
Sulaeman Effendi
sekolah Boy agar pintar dan sakti
Sulaeman Effendi
Tingkatkan terus Boy
M Mugni
ceritanya mantap 💪💪💪
Sulaeman Effendi
terus semangat Boy 💪
Sulaeman Effendi
tak disangka ternyata hebat
ಠ⁠ω⁠ಠ: Udah ada tanda-tandanya /Slight/
total 1 replies
Sulaeman Effendi
waduh bagaimana selanjutnya???
Sulaeman Effendi
bangkitlah petani miskin tunjukkan taring mu
Sulaeman Effendi
mulai seru nih
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!