Bima hanyalah satpam bergaji kecil di apartemen mewah Surabaya. Ia diremehkan preman, diinjak atasan, dan dipandang rendah penghuni kaya. Tak ada yang tahu, pria ini dulunya Sang Raja Serigala, pemimpin tentara bayaran legendaris, pewaris Aji Surya Candra, serta pemilik rahasia yang bisa mengguncang kota.
Kembali ke tanah air untuk menepati janji melindungi kerabat rekan seperjuangan yang gugur, Bima bersembunyi sebagai satpam dan menanggung segala hinaan. Musuhnya datang beruntun: korlap satpam, konglomerat pengirim pembunuh, hingga Padepokan Giri Wesi. Ia menumbangkan lawan di ring maut Sayembara Pedang Emas, membongkar konspirasi Kelab Arwah, dan mencapai puncak ilmu silat Manunggal.
Di sisinya berkumpul berbagai wanita: janda anggun, polisi cantik keturunan jenderal, direktur muda, dan pesilat wanita misterius. Cinta, dendam, kuasa dan rahasia saling bertaut.
Mereka memerintahnya berlutut. Bima membuat semua orang mendongak kepadanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vyrkon, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 29
Bab 29: Bagas Wibawa
Sebuah tangan terulur dan mengangkat telepon yang bergetar di atas meja kayu jati gelap.
"Ya?"
Lelaki di ujung sambungan bicara terbata-bata. Bagas Wibawa tidak menyela. Ia bersandar pada kursi kulit, memandang taman Puri Wibawa melalui dinding kaca ruang kerjanya. Lampu-lampu kecil di antara pohon palem membentuk garis emas yang rapi. Tidak ada satu daun pun terlihat berantakan.
Berbeda dengan laporan yang baru saja masuk.
"Sampaikan kepada Darman bahwa saya akan meneleponnya kembali," kata Bagas. "Lima menit. Jika dia menghilang sebelum itu, saya anggap dia memilih menjadi masalah."
Ia memutus sambungan.
Pak Wongso berdiri dua langkah dari meja dengan kedua tangan bertaut di depan perut. Rambutnya sudah memutih, tetapi punggungnya masih lurus. Selama lebih dari dua puluh tahun, kepala rumah tangga itu mengurus Puri Wibawa sekaligus pekerjaan yang tidak pernah dimasukkan ke jadwal resmi keluarga.
"Darman menelepon tujuh kali sejak petang, Tuan Muda," lapornya. "Keterangannya berubah-ubah karena panik. Bagian yang tetap sama hanya satu. Kang Guntur tewas."
Jari Bagas berhenti di atas permukaan meja.
"Siapa yang menyaksikan?"
"Ki Sardu, Ki Broto, dan Ki Lanang. Duel dilakukan berdasarkan Surat Tanding yang telah ditandatangani. Lawannya seorang satpam bernama Bima."
Bagas menatap Pak Wongso cukup lama hingga dengung pendingin ruangan terdengar seperti suara mesin dari tempat jauh.
Guntur bukan pendekar jalanan yang dapat dijatuhkan oleh keberuntungan. Ia menguasai Kebal Karang, memiliki pengalaman puluhan pertarungan, dan menempatkan nama Padepokan Giri Wesi di atas nyawanya sendiri. Dalam urutan masuk perguruan, Bagas lebih senior. Dalam kekuatan, selisih mereka tidak pernah cukup besar untuk membuat salah satu berani meremehkan yang lain.
Jika Bima benar-benar membunuh Guntur dalam duel terbuka, maka kata satpam hanya menjelaskan seragamnya, bukan kemampuannya.
"Apakah ketiga sesepuh mengesahkan hasilnya?"
"Ya. Darman juga menyerang setelah duel dengan pisau keramik. Dia ditahan di tempat, lalu diminta memberi keterangan."
"Bodoh."
Hanya satu kata. Pak Wongso menunduk sedikit.
Bagas membuka berkas digital yang tadi dikirim ke tabletnya. Di layar pertama terdapat laporan tahunan Grup Wibawa: logistik pelabuhan, pergudangan, pengiriman antarpulau, dan omzet resmi ratusan miliar rupiah per tahun. Di balik angka-angka yang dapat dibaca pemegang saham minoritas, ada perusahaan cangkang dan catatan muatan yang hanya dibuka dengan izin khusus. Jalur mobil mewah tanpa dokumen serta pengalihan BBM bersubsidi menghasilkan nilai yang jauh lebih besar daripada bisnis resmi.
Semua itu akan menjadi kekuatan jika dikendalikan dengan tenang. Semua itu juga dapat berubah menjadi tali gantungan jika seorang pengecut bicara di tempat yang salah.
Bagas menyentuh nama Darman di layar telepon.
Panggilan tersambung pada dering pertama.
"Tuan Muda," suara Darman terdengar serak. "Saya sudah menunggu. Saya bisa menjelaskan. Kang Guntur yang memutuskan menerima duel itu. Saya sudah memperingatkan bahwa Bima punya latar belakang aneh, tetapi dia tetap maju."
"Kau membawa nama Giri Wesi untuk menyelesaikan sengketa bisnismu," kata Bagas lembut. "Lalu kau mencoba menikam pemenang setelah putusan dibacakan. Bagian mana yang menurutmu layak disebut peringatan?"
Napas Darman tersendat. "Saya khilaf. Saya akan pergi malam ini. Itu kewajiban saya dalam Surat Tanding. Selvi sudah menyiapkan barang. Setelah keluar Surabaya, saya tidak akan muncul lagi."
"Tidak."
"Tuan Muda?"
"Tetap di Surabaya."
Keheningan jatuh di sambungan.
"Tapi tiga sesepuh sudah mengesahkan putusan. Saya juga sudah menandatangani pelaksanaannya. Kalau saya tetap tinggal, mereka akan menganggap saya melanggar adat. Bima bisa datang kapan saja."
"Itu benar," jawab Bagas. "Kau memiliki dua pilihan. Tinggal, kirim semua informasi tentang Bima, dan mungkin saya masih menganggapmu berguna. Atau pergi, lalu membuat saya bertanya-tanya kepada siapa kau akan menjual cerita tentang Guntur, Grup Wibawa, dan hubunganmu dengan orang-orang pelabuhan."
"Saya tidak akan bicara!"
"Saya tidak meminta janji. Saya memberi pilihan."
Darman menarik napas berat. Di kejauhan terdengar suara koper atau benda keras terjatuh.
"Berapa lama saya harus tinggal?"
"Sampai saya selesai menilai satpam itu. Pindah dari tempatmu sekarang. Gunakan rumah cadangan yang pernah dipakai orangmu di kawasan industri. Jangan menghubungi padepokan. Jangan dekati Larissa Couture. Laporkan gerak Bima setiap enam jam melalui Pak Wongso."
"Kalau Bima menemukan saya?"
Bagas memutar cincin tipis di jari telunjuknya. "Berarti kau berhasil membuatnya keluar. Itu juga berguna."
Darman terdiam. Untuk pertama kalinya malam itu, ia memahami bahwa perintah tersebut bukan perlindungan. Bagas sedang menaruhnya di jalan seperti sepotong daging untuk melihat dari arah mana serigala datang.
"Saya mengerti," katanya akhirnya.
"Bagus. Kesadaran yang terlambat tetap lebih baik daripada tidak sama sekali."
Bagas memutus sambungan tanpa salam.
Pak Wongso tidak mengubah ekspresi. "Perintah itu membuat Darman melanggar Surat Tanding."
"Saya tidak membatalkan surat apa pun. Saya juga tidak punya wewenang untuk membatalkannya," jawab Bagas. "Darman memilih sendiri apakah akan menaati putusan atau menaati saya. Setiap pilihan memiliki harga."
Kalimatnya terdengar adil hanya bagi orang yang tidak melihat pisau di balik kedua pilihan itu.
Bagas bangkit dan berjalan ke lemari rendah. Sebuah panel kayu terbuka setelah sidik jarinya dikenali. Di dalamnya tersimpan empat map hitam tanpa label.
"Hubungi Empat Algojo."
Pak Wongso mengeluarkan ponsel khusus. "Mahesa belum dapat dijangkau. Kontraknya di luar negeri belum selesai dan jalur komunikasinya ditutup."
"Biarkan dia bekerja. Tiga lainnya?"
"Bilal sudah tiba di Surabaya sore tadi. Guruh berada di Gresik dan bisa datang sebelum tengah malam. Rangga tidak menyebut lokasi, tetapi pesannya sudah dibaca."
Bagas membuka map pertama. Foto Bilal memperlihatkan lelaki kurus dengan tatapan hening. Tidak banyak orang tahu bahwa golok pendek di tangannya dapat berubah arah tanpa gerakan bahu yang terbaca. Ia disiplin, tidak suka bicara, dan tidak pernah menyerang sebelum memahami jarak.
Map kedua berisi Guruh. Tubuhnya besar, telapak tangannya penuh kapalan. Tenaga pukulnya pernah meremukkan balok penyangga gudang dalam satu hantaman. Ia tidak sehalus Bilal, tetapi beberapa masalah memang lebih cepat selesai dengan kekuatan.
Map ketiga menampilkan Rangga, wajah biasa yang mudah hilang di kerumunan. Ia ahli mendekat tanpa meninggalkan ingatan jelas pada saksi. Dalam jarak satu lengan, ia lebih berbahaya daripada suara pistol yang masih membutuhkan waktu untuk ditarik.
Map keempat tetap tertutup. Mahesa adalah pemimpin mereka, tetapi malam ini Bagas tidak memerlukan seluruh kekuatan.
Mengirim empat pembunuh sekaligus hanya akan mengakui rasa takut. Lebih buruk lagi, kegaduhan dapat menarik polisi, media, atau mata lain yang selama ini membiarkan bisnis Grup Wibawa berjalan karena tidak melihat alasan untuk menggali terlalu dalam.
"Minta Guruh bersiap dan Rangga tetap tidak terlihat," kata Bagas. "Bilal berangkat sendiri. Tugas pertama hanya mengamati Bima. Cari kebiasaan, batas tenaga, orang-orang yang ia lindungi, dan cara dia bereaksi ketika ditekan."
Pak Wongso berhenti mengetik. "Hanya mengamati?"
"Boleh menguji jika situasinya bersih. Jangan membunuh sebelum saya mengetahui apa yang sebenarnya menewaskan Guntur."
"Lalu Darman?"
Bagas menutup tiga map itu satu per satu. "Biarkan dia menjadi umpan. Jika dia mulai bicara, mencoba kabur, atau membuat keadaan tak terkendali, Bilal boleh membereskannya. Saya tidak ingin saksi yang panik menjual rahasia demi keselamatan yang tidak akan ia dapatkan."
"Baik, Tuan Muda."
Pak Wongso pergi untuk menjalankan perintah. Pintu ruang kerja menutup tanpa suara.
Bagas berdiri sendirian di depan lemari. Dari bagian paling belakang, ia mengambil bingkai foto lama. Dua remaja berbaju latihan abu-abu berdiri di halaman Padepokan Giri Wesi. Guntur yang lebih muda menatap kamera dengan wajah kaku. Bagas di sampingnya tersenyum seolah dunia sudah menjadi milik mereka.
Rasa terkejut yang tadi sempat muncul kini mengeras menjadi sesuatu yang lebih dingin. Bukan duka murni. Bagas tidak cukup sentimental untuk itu. Kematian Guntur adalah luka pada nama perguruan, penghinaan terhadap tingkatannya, dan peringatan bahwa ada kekuatan baru di kota yang selama ini ia anggap halaman rumah sendiri.
Ia meletakkan foto di tengah meja, lalu mematikan layar telepon.
"Utang darah Padepokan Giri Wesi akan kubayar lunas," gumamnya. "Satpam murahan itu akan tahu rasa."