"Arya Suryanegara — menantu miskin yang diusir dari rumah mertua tanpa sepeser pun. Dicaci, dihinakan, diperlakukan bagai sampah selama tiga tahun.
Tapi semua orang salah besar.
Arya adalah pewaris tunggal Keluarga Suryanegara, konglomerat terkuat di Indonesia dengan aset ratusan triliun. Perusahaan terbesar di kota itu? Miliknya. Mantan Kapten Kopassus dengan kemampuan bela diri mematikan? Itu dia. Otak bisnis jenius yang bisa menghancurkan perusahaan saingan dengan satu telepon? Juga dia.
Sekarang penyamarannya berakhir. Yang pernah menghinanya akan berlutut. Yang berani menyentuh orang-orangnya akan hancur — secara bisnis, secara hukum, secara total.
Menantu miskin? Tidak. Pewaris triliunan yang kembali untuk mengambil tahtanya."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ardana Bayu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 19
Bab 19: Lelang Batu Mulia
Balai lelang batu mulia Kota Awan penuh sebelum acara dimulai.
Di ruangan besar itu, meja-meja kaca menampilkan berbagai batu mentah: zamrud, safir, ruby, opal, dan batu giok impor yang belum dipoles. Lampu putih diarahkan dari berbagai sudut, membuat beberapa batu tampak lebih indah daripada nilai aslinya, dan beberapa batu lain terlihat biasa padahal menyimpan rahasia di dalam.
Acara itu bukan sekadar jual beli. Di Kota Awan, lelang batu mulia adalah panggung kecil bagi orang kaya baru, kolektor tua, pemilik toko perhiasan, dan para penipu yang hidup dari mata pemula. Satu batu bisa membuat toko kecil naik kelas. Satu kesalahan bisa membuat pengusaha kehilangan modal setahun.
Karena itu, nama Arya yang hadir tanpa pengumuman langsung mengubah suhu ruangan.
Arya datang tanpa rombongan besar.
Hanya Pak Satria dan Eko yang berjalan beberapa langkah di belakang. Setelah berita tentang dirinya meledak, setiap langkah Arya membuat bisik-bisik bergerak seperti angin.
"Itu Arya Suryanegara."
"Yang bikin Permata hancur?"
"Katanya pewaris Suryanegara."
Arya mengabaikan semuanya.
Ia datang untuk batu.
Di dekat meja nomor tujuh, seorang perempuan sedang berjongkok menenangkan anak kecil. Perempuan itu mengenakan blazer sederhana, rambutnya disanggul rapi, dan matanya menunjukkan kelelahan orang yang terlalu sering kuat sendirian.
"Bunga, jangan sentuh kacanya, ya," katanya lembut.
Anak perempuan berusia sekitar lima tahun itu menarik tangannya cepat-cepat. "Iya, Mama."
Arya berhenti sebentar.
Pak Satria berbisik, "Ratna Kusumawardhani. Pemilik Ratna Permata Jewelry. Perusahaannya kecil, tapi reputasinya bersih. Mantan suaminya bermasalah."
Ratna mendongak saat menyadari ada orang berhenti. Ia langsung berdiri. "Maaf, Pak. Anak saya..."
"Tidak apa-apa," kata Arya.
Bunga menatap Arya dengan mata besar. "Om mau beli batu juga?"
Ratna tampak malu. "Bunga."
Arya berjongkok sedikit agar sejajar dengan anak itu. "Mungkin. Kamu suka yang mana?"
Bunga menunjuk batu hijau kecil yang terlihat kusam. "Yang itu. Warnanya seperti daun habis hujan."
Arya melirik batu itu, lalu tersenyum tipis. Anak ini punya mata yang tidak buruk.
"Pilihan bagus."
Seorang pria tua mendekat sambil tertawa hangat. "Anak kecil kadang lebih jujur dari ahli."
Pak Darmawan, Ketua Asosiasi Batu Mulia Kota Awan, dikenal sebagai orang tua yang benar-benar paham batu, bukan sekadar menjual nama. Ia mengenali Arya dan menunduk sopan.
"Pak Arya. Tidak menyangka Anda tertarik pada lelang kecil kami."
"Saya sedang belajar."
Di belakang mereka, seorang pria berkemeja mencolok mendengus keras. "Belajar dari anak kecil, mungkin."
Pak Gadungan.
Nama aslinya jarang dipakai karena semua orang tahu ia lebih banyak menjual gaya daripada keahlian. Ia sering tampil di video pendek, mengaku bisa membaca batu hanya dengan mengetuk permukaan. Banyak pemula tertipu olehnya.
Pak Gadungan menatap batu yang ditunjuk Bunga. "Itu batu mati. Kulitnya terlalu kusam, seratnya tidak hidup. Kalau ada yang beli mahal, berarti uangnya kebanyakan."
Beberapa orang tertawa.
Ratna menarik Bunga mendekat. Wajahnya menahan tidak nyaman.
Arya menatap batu itu lagi. Dalam katalog digital yang ia pelajari semalam, batu kusam itu sesuai dengan sampel dari jalur mineral tua yang ditandai Bagaskara. Lapisan luarnya memang jelek, tetapi pola retakan kecil di sisi bawah menunjukkan tekanan geologi yang berbeda.
Jika laporan itu benar, di dalamnya ada zamrud besar.
"Berapa nomor lot?" tanya Arya.
Pak Darmawan menjawab, "Lot 27."
Pak Gadungan tertawa. "Pak Arya, kalau Anda mau buang uang, buang ke saya saja. Saya kasih batu yang lebih cantik."
Arya menoleh. "Anda yakin batu itu tidak bernilai?"
"Sangat yakin."
"Mau bertaruh?"
Ruangan langsung lebih sunyi.
Mata Pak Gadungan menyala. Ia merasa mendapatkan panggung. "Berapa?"
"Sepuluh miliar rupiah."
Tawa orang-orang terhenti.
Ratna menatap Arya tidak percaya.
Pak Gadungan sempat ragu, tetapi gengsi di depan banyak orang menahannya mundur. "Baik. Kalau batu itu menghasilkan zamrud kualitas tinggi, saya bayar sepuluh miliar. Kalau tidak, Anda bayar saya."
"Disaksikan Pak Darmawan."
Pak Darmawan menghela napas, tetapi matanya justru tertarik. "Saya menjadi saksi."
Lelang dimulai.
Beberapa lot awal berjalan biasa. Arya tidak menawar. Ia hanya menunggu. Saat lot 27 muncul, batu kusam sebesar bola basket kecil itu diletakkan di panggung. Harga awalnya rendah dibanding batu lain.
Pak Gadungan sengaja menguap keras.
"Lima ratus juta," kata Arya.
Beberapa orang menoleh.
Ada dua penawar lain yang ikut karena nama Arya, bukan karena batu. Harga naik menjadi dua miliar. Lalu tiga. Pak Gadungan tertawa, mengira Arya sudah terpancing.
"Lima miliar," kata Arya.
Ruangan berhenti.
Tidak ada yang menaikkan lagi.
Palu diketuk.
Lot 27 menjadi milik Arya.
Pak Gadungan menggeleng dramatis. "Lima miliar untuk batu kusam. Pak Arya, uang memang bisa membuat orang percaya diri."
Arya menandatangani slip pembayaran tanpa melihatnya. "Uang juga bisa membuat orang bicara sebelum berpikir."
Beberapa orang tertawa kecil. Wajah Pak Gadungan menegang.
Pak Gadungan langsung berdiri. "Buka di sini. Biar semua orang lihat."
Arya menatap Pak Darmawan. "Bisa?"
"Bisa."
Batu itu dibawa ke area pemotongan. Operator mesin memeriksa posisi. Pak Darmawan sendiri memberi tanda titik potong. Semua orang mendekat. Ratna berdiri di belakang Bunga, tangannya menggenggam bahu kecil putrinya.
Mesin menyala.
Suara potong bergema.
Lapisan luar yang kusam perlahan terbuka. Pada awalnya hanya abu-abu. Pak Gadungan sudah tersenyum.
Lalu garis hijau muncul.
Tipis.
Kemudian semakin lebar.
Ketika belahan pertama terbuka, ruangan seperti kehilangan suara.
Di dalam batu itu, zamrud hijau tua menyala di bawah lampu. Warnanya dalam, bersih, dengan bidang besar yang jarang terlihat pada batu mentah ukuran itu.
Pak Darmawan mendekat, kacamatanya hampir melorot. "Ya Tuhan..."
Operator memotong sisi kedua. Hijau itu bukan serpihan kecil. Ia memenuhi inti batu seperti jantung yang lama disembunyikan.
"Kualitas tinggi," bisik Pak Darmawan. "Sangat tinggi. Nilainya... bisa lebih dari lima ratus miliar jika diproses benar."
Seluruh ruangan meledak.
Pak Gadungan mundur sampai menabrak kursi. Wajahnya pucat seperti kertas.
Bunga bertepuk tangan kecil. "Mama, batu daun hujannya cantik!"
Ratna tidak bisa berkata apa-apa.
Arya menatap Pak Gadungan. "Sepuluh miliar."
Pria itu membuka mulut, tetapi tidak ada alasan yang keluar. Di depan seluruh balai lelang, reputasinya hancur lebih cepat daripada batu itu terbuka.
Pak Darmawan berkata tegas, "Saya saksi. Taruhan harus dibayar."
Arya tidak terlihat gembira berlebihan. Ia justru berbalik pada Ratna yang masih terpaku.
"Mbak Ratna."
Ratna tersentak. "Ya, Pak?"
Arya menunjuk zamrud besar itu. "Perusahaan Anda membutuhkan investasi?"
"Investasi?"
"Saya ingin masuk tiga puluh lima persen. Dengan batu ini sebagai penyertaan modal."
Mulut Ratna terbuka, tetapi tidak ada suara keluar.
Bunga menarik ujung blazer ibunya. "Mama, Om Arya mau kasih batu daun hujan?"
Arya tersenyum.
"Kalau mamamu setuju."
Pak Gadungan masih berdiri terpaku ketika staf lelang menyerahkan formulir taruhan. Tanda tangannya di atas kertas kini terasa seperti borgol. Beberapa kamera ponsel mengarah padanya. Ia yang biasanya paling senang direkam tiba-tiba menunduk, berusaha menyembunyikan wajah.
Arya tidak mengejek lebih jauh. Ia sudah mendapatkan yang ia butuhkan: batu, reputasi publik, dan bukti pertama bahwa laporan Bagaskara bisa dipakai sebagai senjata bisnis.