"Tandatangani kontrak ini, maka seluruh utang keluargamu lunas dan ibumu akan mendapatkan perawatan terbaik malam ini juga."
Bagi Viona (23 tahun), dunia ini tidak pernah ramah. Demi menyelamatkan nyawa ibunya dari ancaman rentenir kejam, dia terpaksa membuang harga dirinya sedalam mungkin. Di bawah guyuran hujan badai, dia menjual kebebasannya kepada seorang pria asing yang ternyata adalah penguasa bisnis paling ditakuti di ibu kota—Arkan Mahendra (29 tahun).
Arkan adalah pria berwajah dewa yang berhati es. Baginya, Viona hanyalah mainan eksklusif yang dia beli untuk memuaskan obsesi dan gairahnya. Hubungan mereka adalah rahasia mutlak. Di siang hari, Viona hanyalah staf administrasi biasa yang tak terlihat. Namun di malam hari, dia adalah wanita yang terkurung dalam pesona membara sang CEO dingin.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Initial Be, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 20: Batas Keputusasaan
Malam di Marina Bay terasa begitu dingin bagi Viona. Di balik dinding kaca Penthouse Suite yang megah, kerlap-kerlip lampu kota Singapura yang memukau sama sekali tidak mampu menghangatkan hatinya yang kian membeku. Setelah badai amarah yang meledak sore tadi, Arkan mengurungnya di dalam kamar tidur utama, sementara pria itu pergi entah kemana bersama Baskara untuk mengurus kekacauan yang dipicu oleh panggilan telepon Rendy.
Viona duduk meringkuk di atas lantai marmer yang dingin, menyandarkan punggungnya pada kaki ranjang king size. Air matanya sudah mengering, meninggalkan rasa perih yang menjalar hingga ke dada. Ancaman Arkan tentang nyawa Rendy terus berdengung di kepalanya bagai lonceng kematian. Dia tahu Arkan Mahendra tidak pernah bermain-main dengan ucapannya. Pria itu memiliki kekuasaan, uang, dan jaringan yang cukup luas untuk melenyapkan seseorang tanpa meninggalkan jejak di negara asing ini.
"Kenapa takdir begitu kejam padaku?" bisik Viona lirih pada keheningan malam.
Dia hanya ingin menyembuhkan ibunya. Dia hanya ingin menjalani hidup sederhana sebagai karyawan biasa. Namun sekarang, dia justru terjebak di tengah lingkaran setan keluarga konglomerat, menjadi rebutan antara obsesi gelap seorang tiran dan intrik licik seorang nyonya besar yang membencinya.
Suara klik pelan dari arah pintu utama mengejutkan Viona. Tubuhnya otomatis menegang, sebuah reaksi naluriah yang selalu muncul setiap kali sang penjerat kembali. Pintu jati besar itu terbuka, menampilkan sosok Arkan yang melangkah masuk dengan langkah lambat namun sarat akan ketegasan yang mengintimidasi.
Jas abu-abunya sudah tidak ada, kemeja putihnya tampak kusut dengan dua kancing teratas yang terbuka, mengekspos leher kokoh dan sebagian dada bidangnya yang naik turun teratur. Wajah tampannya terlihat lelah, namun sepasang mata elangnya tetap berkilat tajam begitu menemukan figur Viona yang terduduk di lantai.
Arkan berjalan mendekat, setiap ketukan pantofelnya di atas lantai kayu jati terasa seperti detak jarum jam yang menghitung sisa kebebasan Viona. Pria itu berhenti tepat di hadapan Viona, lalu berlutut dengan satu kaki untuk menyamakan tinggi mereka.
"Kenapa duduk di lantai yang dingin ini, Viona?" suara bariton Arkan terdengar rendah, serak oleh kelelahan namun tetap menyimpan nada dominasi yang mutlak.
Viona tidak bergerak, dia bahkan menolak untuk menatap mata pria itu. "Apakah Kak Rendy aman, Tuan?" tanya Viona langsung, mengabaikan pertanyaan Arkan.
Mendengar nama Rendy kembali keluar dari bibir ranum Viona, rahang Arkan seketika mengatup rapat. Kilat kecemburuan yang ekstrem kembali menyambar manik mata hitamnya, membuat atmosfer di dalam suite mewah itu mendadak drop menjadi sangat mencekam. Pria itu mencengkeram dagu Viona dengan jemarinya yang kuat, memaksa gadis itu untuk menatap langsung ke dalam matanya yang menggelap.
"Kau masih berani menanyakan pria lain saat kau berada di bawah kungkunganku, Viona?!" desis Arkan berbahaya, napasnya yang hangat dan beraroma alkohol tipis menerpa wajah Viona. "Apakah ciumanku tadi siang belum cukup untuk menegaskan siapa pemilikmu yang sebenarnya?!"
"Dia tidak bersalah, Tuan Arkan!" jerit Viona dengan sisa kekuatannya, air mata kembali menggenang di pelupuk matanya. "Dia hanya dimanfaatkan oleh Ibu Anda! Kumohon... jangan hancurkan hidupnya. Aku berjanji akan menuruti semua kemauan Anda, aku berjanji tidak akan pernah melarikan diri lagi, asalkan Anda membiarkannya pergi!"
Mendengar Viona yang rela memohon dan merendahkan dirinya demi keselamatan pria lain justru semakin menyulut api cemburu di dalam dada Arkan. Pria posesif itu mengepalkan tangan kirinya hingga urat-uratnya menegang. Baginya, kepedulian Viona pada Rendy adalah sebuah tamparan keras bagi egonya yang selalu menuntut kepatuhan dan kepemilikan total atas diri gadis itu.
"Kau menawar denganku demi dia, Viona?" Arkan tersenyum sinis, sebuah tawa meremehkan yang sangat kejam. "Kau pikir kau memiliki posisi untuk bernegosiasi? Kontrakmu ada di tanganku, seluruh biaya hidup ibumu ada di bawah kuasaku! Kau tidak perlu berjanji untuk tidak pergi, karena kau memang tidak akan pernah bisa pergi dariku!"
Sebelum Viona sempat mengeluarkan bantahan, Arkan sudah berdiri, menyentak tubuh ramping Viona dari lantai dan mengempaskannya ke atas ranjang king size yang empuk. Viona terpekik kecil saat tubuh tegap Arkan langsung mengungkungnya dari atas, mengunci kedua pergelangan tangannya di atas kepala dengan satu tangan kekarnya.
"Tuan Arkan, jangan... saya mohon..." rintih Viona, kekosongan dan ketakutan yang luar biasa kini bersatu, menghancurkan seluruh sisa keberaniannya.
"Kau harus diberi pelajaran agar tahu siapa penguasa hidupmu, Viona," bisik Arkan serak, matanya berkilat oleh gairah dan obsesi yang kian menggelap.
Pria itu menundukkan kepalanya, membungkam bibir Viona dengan ciuman yang kasar, menuntut, dan penuh amarah yang membara. Tidak ada kelembutan kali ini. Arkan memagut bibir Viona seolah ingin menghapus setiap jejak suara Rendy dari ingatan gadis itu. Viona meronta, memutar kepalanya ke kiri dan ke kanan untuk melepaskan diri, namun kekuatan fisik Arkan terlalu dominan, mengunci setiap ruang geraknya hingga dia kian tenggelam dalam pusaran dominasi sang CEO.
Tangan bebas Arkan bergerak turun, merobek sweter rajut abu-abu milik Viona dengan sekali sentakan kasar, mengekspos kulit putih mulus gadis itu di bawah pendar lampu kamar yang temaram. Viona menangis histeris, namun Arkan seolah telah kehilangan seluruh kewarasannya akibat cemburu buta. Pria itu terus melancarkan serangan gairahnya, menandai setiap jengkal tubuh Viona dengan gigitan dan kecupan yang dalam, menegaskan klaim kepemilikan mutlaknya yang ekstrem.
Di dalam keheningan malam Singapura, suite mewah itu kembali menjadi saksi bisu dari pergulatan batin dan fisik yang menghancurkan harga diri Viona, mengikatnya kian dalam pada takdir gelap bersama sang tiran posesif yang tidak akan pernah melepaskannya.
Keesokan paginya, badai telah berlalu, meninggalkan kehancuran yang nyata di atas ranjang. Viona terbangun saat sinar matahari pagi mulai menembus sela-sela gorden suite. Tubuhnya terasa sangat remuk dan dipenuhi oleh bekas kemerahan akibat intensitas gairah Arkan semalam.
Di sampingnya, sisi ranjang sudah kosong dan mendingin. Arkan tampaknya sudah pergi sejak subuh untuk menghadiri pertemuan bisnis internalnya. Viona perlahan duduk, menarik selimut putih untuk menutupi tubuhnya yang polos. Pandangannya terjatuh pada pecahan ponsel pintarnya yang masih tergeletak di sudut lantai, mengingatkannya pada janji Rendy nanti malam jam sembilan di Merlion Park.
Viona memejamkan matanya, sebuah keputusan nekat tiba-tiba terlintas di dalam benaknya. Dia tahu ini sangat berbahaya, dia tahu Arkan bisa menghancurkannya, namun dia tidak bisa membiarkan Rendy berjalan masuk ke dalam jebakan maut pria itu. Dia harus menemui Rendy terlebih dahulu, bukan untuk lari bersama, melainkan untuk menyuruh pria itu pergi sejauh mungkin dari hidupnya demi keselamatannya sendiri.
Sepanjang siang itu, Viona berpura-pura patuh. Ketika Baskara datang mengantarkan gaun kerja baru dan makan siang, Viona menerimanya dengan senyuman tipis yang dipaksakan. Dia bahkan menyelesaikan beberapa tugas pemeriksaan dokumen anak perusahaan yang ditinggalkan Arkan di meja suite dengan sangat rapi, membuat para pengawal di depan pintu luar mengira bahwa asisten pribadi sang CEO sudah sepenuhnya dijinakkan.
Waktu terus bergulir hingga malam kembali menyapa. Tepat pukul delapan malam, Arkan mengirimkan pesan melalui ponsel suite bahwa pertemuannya di kawasan Sentosa tertunda dan dia kemungkinan baru akan kembali tengah malam.
Ini adalah kesempatan emas bagi Viona.
Dengan mengenakan gaun hitam polos panjang dan sebuah mantel tebal untuk menyembunyikan bekas luka di tubuhnya, Viona melangkah mendekati pintu utama suite. Dia menarik napas dalam-dalam, mencoba menenangkan debaran jantungnya yang berpacu gila.
Begitu pintu dibuka, dua pengawal berbadan tegap langsung membungkuk hormat. "Ada yang bisa kami bantu, Nona Viona?"
"Saya... saya ingin turun ke lobi untuk membeli beberapa keperluan wanita di apotek hotel," ucap Viona dengan nada suara yang diatur sedatar mungkin, mencoba menyembunyikan kegugupannya. "Saya tidak akan lama."
Kedua pengawal itu saling melirik ragu. "Tuan Arkan memerintahkan kami untuk memastikan Anda tetap berada di dalam ruangan, Nona."
"Apotek itu berada di dalam gedung hotel ini, di lantai dasar. Apakah Anda pikir saya bisa melarikan diri dari penjagaan ketat hotel bintang lima ini?" tantang Viona, kilat ketegasan sengaja dia tunjukkan untuk menggertak mereka. "Atau Anda ingin saya menghubungi Tuan Arkan sekarang juga dan memberi tahu bahwa Anda berdua menolak membiarkan saya membeli obat?"
Mendengar nama Arkan disebut, kedua pengawal itu langsung gentar. Mereka tahu betapa mengerikannya amukan sang bos jika urusan pribadi wanita ini terganggu. "Baiklah, Nona. Salah satu dari kami akan mengawal Anda ke bawah."
"Tidak perlu," potong Viona cepat. "Saya tidak suka diikuti saat mengurus urusan pribadi saya. Cukup tunggu aku di depan lift lantai ini."
Setelah perdebatan singkat, kedua pengawal itu akhirnya mengalah. Viona melangkah masuk ke dalam lift privat dengan perasaan lega yang bercampur aduk dengan ketakutan yang luar biasa. Begitu tiba di lobi lantai dasar, dia tidak berjalan menuju apotek, melainkan menyelinap keluar melalui pintu samping restoran hotel yang terhubung langsung dengan area pejalan kaki di luar.
Viona mempercepat langkahnya, setengah berlari membelah trotoar kawasan Marina Bay yang dipenuhi oleh turis malam itu. Tujuannya hanya satu: Merlion Park.
Pukul sembilan kurang lima menit, Viona tiba di area pelataran ikonik Merlion Park. Napasnya terengah-engah, keringat dingin membasahi punggungnya di balik mantel tebal. Matanya menyapu kerumunan orang, mencari sosok yang sangat dia kenal.
"Viona!" sebuah panggilan akrab terdengar dari arah belakang sebuah pilar besar.
Viona menoleh dan mendapati Rendy sedang berdiri di sana dengan mengenakan jaket denim dan membawa sebuah tas ransel hitam. Wajah pria itu tampak dipenuhi oleh rasa cemas sekaligus binar harapan yang besar begitu melihat figur Viona.
"Kak Rendy!" Viona buru-buru berlari mendekat, langsung mencengkeram lengan jaket Rendy dengan panik. "Kakak harus pergi sekarang juga! Tempat ini tidak aman! Tuan Arkan sudah tahu tentang rencana ini!"
Rendy terkejut, namun dia mencoba menenangkan Viona dengan menggenggam kedua tangan gadis itu. "Tenang, Vio. Orang-orang Nyonya Sofia sudah mengawasi area ini. Mobil yang akan membawa kita ke bandara ada di seberang jalan. Paspor dan tiketmu sudah siap, kita bisa pergi ke Eropa malam ini juga!"
"Tidak, Kak! Aku tidak bisa pergi!" tangis Viona pecah, dia menggelengkan kepalanya dengan kuat. "Jika aku pergi, Arkan akan menghancurkan hidupmu dan ibuku! Pria itu adalah monster, Kak! Dia tahu semuanya! Aku datang ke sini hanya untuk memohon agar Kakak segera kembali ke Indonesia dan melupakan aku!"
"Aku tidak akan meninggalkanmu menjadi wanita simpanannya, Viona!" seru Rendy frustrasi, tidak mau menyerah begitu saja setelah melangkah sejauh ini.
"Sayang sekali... peringatannya datang terlambat, Karyawan Rendy."
Sebuah suara bariton yang sangat dingin, rendah, namun menggelegar bagai petir di siang bolong mendadak terdengar dari arah belakang mereka, memotong kalimat Rendy dengan kejam.
Viona dan Rendy seketika membeku. Perlahan, mereka memutar tubuh mereka.
Di bawah pendar lampu taman yang terang, Arkan Mahendra berdiri tegak dengan setelan jas hitamnya, dikelilingi oleh belasan pengawal pribadi berbadan tegap yang langsung memblokade seluruh area pelataran tersebut, mengusir para turis menjauh dalam hitungan detik. Di samping Arkan, Baskara berdiri dengan wajah formal tanpa ekspresi.
Sepasang mata elang Arkan berkilat oleh amarah, cemburu, dan kegelapan gairah posesif yang telah mencapai batas puncaknya. Pria tiran itu melangkah maju dengan sangat lambat, menatap lurus ke arah tangan Rendy yang masih menggenggam jemari Viona, sebuah pemandangan yang seketika menghancurkan seluruh sisa belas kasihan di dalam hatinya.
"Berani-beraninya kau menyentuh milikku di depan mataku sendiri," desis Arkan dengan nada suara yang sangat rendah namun sarat akan ancaman maut yang mengerikan. Pria posesif itu menatap Viona dengan senyuman sinis yang mematikan. "Dan kau, Viona... bersiaplah menerima konsekuensi terbesar karena telah mencoba melangkah keluar dari sangkar emas yang sudah kubuat untukmu."
bener sih kecewa sama perbuatan anak,tapi semua itu buat nyambung hidup mu.