NovelToon NovelToon
Terjebak Dalam Obsesi Putra Mahkota

Terjebak Dalam Obsesi Putra Mahkota

Status: sedang berlangsung
Genre:Transmigrasi / Fantasi
Popularitas:33.8k
Nilai: 5
Nama Author: Saasaa

Elisa tidak pernah menyangka novel yang baru semalam ia baca akan menjadi awal petaka hidupnya. Saat membuka mata, ia sudah berada di tubuh Lady Nandikara, putri bangsawan dari Wilayah Timur yang terkenal cantik, tapi angkuh, bermulut tajam, dan paling dibenci semua orang.

Tapi bagusnya, Lady Nandikara itu hanya karakter pendukung saja, yang Elisa ingat, dia muncul hanya sesekali, tokoh yang tidak penting.

Ketika mengetahui posisinya dalam novel, Elisa mengambil satu keputusan. Dia tidak akan ikut campur dalam alur cerita. Cukup hidup tenang, menjadi gadis pendiam, lalu bertahan sampai akhir.

Namun, rencananya mulai berantakan. Ketika sepasang mata tajam dan sedingin es milik Putra Mahkota mulai terpaku padanya. Sejak saat itu, kedamaian yang selama ini ia rencanakan dengan matang perlahan hancur, Elisa terseret ke dalam obsesi seorang pria yang tak pernah menerima penolakan.

Semakin Elisa berusaha menjauh dari alur cerita, semakin takdir menyeretnya ke pusat konflik.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Saasaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Surat Tanpa Nama

Pesta perpisahan yang diselenggarakan Raja Simon menjadi pesta termegah yang pernah digelar selama musim berburu tahun ini. Aula kerajaan dipenuhi cahaya ribuan lilin kristal yang menggantung di langit-langit tinggi. Alunan musik orkestra terdengar lembut, mengiringi para bangsawan yang saling bercengkerama sambil menikmati hidangan mewah.

Seluruh tamu mengenakan pakaian terbaik mereka.

Namun, malam itu hanya ada satu orang yang paling mencuri perhatian.

Nandikara Winter.

Gaun merah muda yang dikenakannya berkilau diterpa cahaya lampu. Rambut hitam panjangnya dibiarkan tergerai dengan jepit rambut berhias mutiara pemberian sang ratu. Riasan tipis membuat wajah mungilnya terlihat semakin anggun.

"Lady Winter benar-benar berubah?" bisik seorang lady.

"Aku bahkan hampir tidak mengenalinya."

"Bukan hanya cantik, auranya juga berbeda."

Bisik-bisik itu terus terdengar di berbagai sudut aula.

Suri yang berdiri di samping Elisa mengulas senyum bangga. Kedua matanya memandangi adiknya dari ujung kepala hingga kaki, seolah sedang mengagumi hasil kerja kerasnya sendiri.

"Aku sudah bilang, kau hanya perlu berhenti berdandan seperti burung merak," katanya sambil terkekeh pelan."Lihat saja tatapan mereka. Tidak ada satu pun yang bisa mengalihkan pandangan darimu."

Elisa mengembuskan napas pelan. Sejak memasuki aula, ia bisa merasakan puluhan pasang mata terus mengikuti setiap langkahnya. Sebagian penuh kekaguman, sebagian lagi dipenuhi rasa iri yang bahkan tidak berusaha mereka sembunyikan.

"Tetapi tatapan mereka membuatku risih, Suri," gumam Elisa pelan."Aku tidak nyaman. Akan lebih baik kalau aku tidak terlihat sama sekali."

Suri justru kembali tertawa."Dulu kau berusaha mati-matian agar semua orang memperhatikanmu. Apa kau sudah lupa?" godanya."Bahkan pernah memakai gaun yang sangat terbuka hanya untuk menjadi pusat perhatian."

Elisa langsung memijat pelipisnya. Astaga apa separah itu?

"Itu kan dulu." Elisa menyilangkan kedua tangan di dada."Aku yang sekarang sudah tidak menginginkan semua itu."

Suri memandang wajah Elisa beberapa saat.

Entah sudah berapa kali ia merasa takjub melihat perubahan adiknya. Dulu Nandikara selalu haus pujian. Setiap pesta menjadi ajang baginya untuk membuktikan bahwa dialah wanita tercantik di ruangan itu. Sedikit saja ada perempuan lain yang lebih menonjol, Nandikara pasti akan kesal sepanjang malam.

Namun sekarang, adiknya justru berharap tidak ada seorang pun yang memperhatikannya. Perubahan itu terasa begitu nyata hingga terkadang Suri masih sulit mempercayainya.

Bahkan perubahan itu tidak hanya terjadi pada Nandikara. Tanpa disadari, dirinya sendiri ikut berubah.

Suri yang dahulu selalu memilih gaun berwarna gelap agar tampak anggun dan berwibawa, kini mengenakan gaun berwarna biru muda dengan hiasan renda putih di bagian lengan. Warna cerah yang dulu selalu ia hindari justru terasa menyenangkan hari ini.

Mungkin, keceriaan Nandikara sedikit demi sedikit ikut menular kepadanya. Suri tersenyum kecil tanpa sadar.

Sementara itu, di sisi lain aula, bisik-bisik para tamu masih terdengar malah semakin ramai. Tak jauh dari mereka, beberapa lady hanya mampu menggertakkan gigi. Senyum yang mereka tampilkan tampak manis, tetapi mata mereka menyimpan rasa iri yang sulit disembunyikan.

Lady Agnes termasuk salah satunya. Dia memandang Nandikara dengan senyum ramah yang tampak sempurna di mata orang lain. Namun jemarinya menggenggam kipas begitu erat hingga buku-buku jarinya memutih.

Di sisi lain aula, Putra Mahkota Erlan sedang berbincang singkat dengan Raja Simon serta beberapa duke dari berbagai wilayah.

Posturnya tegap. Wajahnya tetap datar seperti biasa. Sesekali ia menganggukkan kepala menanggapi pembicaraan para duke. Namun, di sela-sela percakapan itu, tatapannya yang tenang beberapa kali mengarah kepada Nandikara.

Hanya sesaat. Sangat singkat, lalu ia kembali memusatkan perhatian pada pembicaraan seolah tidak terjadi apa-apa. Tidak seorang pun menyadarinya. Kecuali Elisa.

Saat mata mereka nyaris bertemu, Elisa buru-buru memalingkan wajah."Lihatlah..." gumamnya pelan."Sikap acuhnya. Dia pikir keren seperti itu."

Suri menoleh heran."Siapa?"

Elisa memiringkan kepalanya sedikit ke arah Putra Mahkota."Si bintang utama kita," bisiknya.

Suri mengikuti arah pandangan Elisa."Oh." Sudut bibirnya langsung terangkat jahil."Pangeran tampanmu."

Elisa langsung memasang wajah tidak suka."Lebih tepatnya sok tampan."

Suri menahan tawa."Dilihat dari sisi mana pun, dia memang sangat tampan, Kara." Suri diam-diam kembali mencuri pandang ke arah Erlan. Harus diakui, sang putra mahkota memang memiliki wajah yang nyaris sempurna.

Rahang tegas.

Tatapan tajam.

Pembawaan tenang yang membuat banyak wanita sulit mengalihkan pandangan.

"Kau belum tahu saja sifat aslinya," gerutu Elisa."Dia itu pria tidak sopan, menjengkelkan, pemaksa, keras kepala, dan..." Elisa berhenti sejenak sambil menghela napas."Sok tampan."

Suri akhirnya tidak mampu lagi menahan tawanya."Kalau didengar pangeran, kau pasti langsung dibawa pulang malam ini."

Elisa langsung merinding."Itu terdengar sangat menakutkan."

Suri kembali tertawa melihat ekspresi Elisa yang benar-benar ketakutan. Belum sempat percakapan mereka berlanjut, seorang pria muda dengan pakaian bangsawan berjalan mendekati mereka.

Wajahnya sedikit memerah.

Tangannya tampak gugup ketika memberi hormat.

"Lady Suri," sapanya sopan."Bolehkah saya mendapat kehormatan untuk mengajak Anda berdansa?"

Suri tampak terkejut."Maaf... aku tidak pandai menari."

"Itu bukan alasan," sahut Elisa cepat sambil menyenggol pelan lengan kakaknya.

Suri melotot."Kara."

"Ayo. Kasihan dia sudah mengumpulkan keberanian."

"Tapi..."

Elisa mendorong pelan punggung Suri."Pergilah."

Pria muda itu ikut mengulurkan tangan dengan penuh harap. Setelah beberapa detik ragu, akhirnya Suri mengembuskan napas pasrah.

"Baiklah."

Wajah pria itu langsung berbinar."Terima kasih, Lady."

Elisa melambaikan tangan kecil ketika keduanya berjalan menuju lantai dansa.

Suri sempat menoleh sambil memasang tatapan kesal yang membuat Elisa justru semakin geli.

Di tengah alunan musik yang lembut, Suri mulai mengikuti langkah dansa bersama pria itu, meski raut wajahnya masih tampak canggung. Melihat kakaknya yang terus memasang wajah datar selama berdansa membuat Elisa hampir tertawa.

Namun tiba-tiba, seorang pelayan perempuan menghampiri sambil menundukkan kepala.

"Lady Nandikara."

Elisa menoleh."Ya?"

"Ada seseorang yang menitipkan surat ini." Pelayan itu mengulurkan sebuah gulungan surat kecil yang diikat menggunakan pita tipis berwarna hitam.

Elisa mengernyit."Untukku?"

Pelayan itu mengangguk."Dia meminta saya menyerahkannya secara langsung kepada Lady."

"Siapa orangnya?"

"Maaf. Saya tidak mengenalnya." Pelayan itu kembali membungkuk singkat sebelum segera meninggalkan tempat tersebut.

Elisa memandangi gulungan surat itu beberapa saat. Perasaan aneh mulai memenuhi dadanya. Dengan perlahan ia membuka pita hitam itu, lalu membuka lipatan kertasnya.

Isi surat tersebut sangat singkat.

Aku mengetahui sebuah rahasia yang berkaitan denganmu. Jika kau ingin mengetahui kebenarannya, datanglah sendiri ke rumah kaca di taman belakang. Jangan membawa siapa pun.

Elisa membaca kalimat itu sekali. Lalu sekali lagi. Keningnya semakin berkerut."Rahasia?"

Jantungnya mulai berdetak sedikit lebih cepat.

Jangan-jangan, orang itu mengetahui bahwa dirinya bukanlah Nandikara yang asli?

Telapak tangannya perlahan mulai terasa dingin. Siapa sebenarnya yang mengirim surat itu? Dan rahasia apa yang ingin ia ungkapkan?

1
aku
jangan maafin. anggap aja kentut tuh human suri. 😁
🌻🇲🇾Lili Suriani Shahari
itu deep!!!!!
Yuliana Hakim
jangan terlalu lama up ya Thor...
selalu ditunggu episode selanjutnya
Saasaa: Siap, udah di up
terimakasih ya udah nunggu, selamat baca
total 1 replies
Lauren Florin Lesusien
maaf thur jngan tersinggung bisa ga kreakter elisa ini dibuat tegas dan jngan terlalu naif dia kan jiwa moderen tau intrik istana gimna
kok ini elisanya terlalu lembek dan tetpaku pengen jadi orang baik terlalu naif
padahal udh diperingatkan sama pemilik tubuh aslinya
Saasaa: Wah terimakasih masukannya 😄
Karakter Elisa memang dibuat berbeda dengan Nandikara. dan Elisa bukan cewe lembek, tapi cewe moderen yang mageran🤭 males debat, males ribut, males cari perkara, tapi karena Erlan itu sulit dihindari jadilah kalo sama Erlan ribut Mulu terpaksa dia 🤣 makasih udah baca ya
total 1 replies
Yuliana Hakim
up donk
Saasaa: sudah di up, maafkan baru up ya lagi sibuk 🤭 selamat baca
total 1 replies
Natasya
👌
Saasaa: Terimakasih sudah baca 😍
total 1 replies
Yuliana Hakim
up lagi
Saasaa: siap, selamat baca
total 1 replies
Yuliana Hakim
up donk Thor
Saasaa: Sudah di up, selamat baca
total 1 replies
aku
bisalah kak elisanya ganti Kara aja gt? biar lbh enak bacanya 🙏😁
Saasaa: terimakasih sudah baca ya
total 1 replies
aku
dih!! jangan mau digosipkan sm singa!
kok aq yg masih dendam sm singa. jengkel gt.
usir dah usir 😁
🌻🇲🇾Lili Suriani Shahari
mekasih Thor 🧁
Saasaa: sama-sama
total 1 replies
Lauren Florin Lesusien
ya thur ini kreakter elisa jngan dibuat terlalu naif thur klw bisa 🤣🤣🤣
Saasaa: terimakasih sudah baca ya
total 1 replies
Yuliana Hakim
d tunggui episode selanjutnya,semakin seru
Saasaa: siap, udah di up ya 🤭
total 1 replies
🌻🇲🇾Lili Suriani Shahari
jangan lama-lama update nya Thor..aku tidak sabar orangnya
🌻🇲🇾Lili Suriani Shahari: 🍬🍭 mekasih Thor
total 2 replies
🌻🇲🇾Lili Suriani Shahari
bagus!!!! itu barulah raja sebenarnya
🌻🇲🇾Lili Suriani Shahari
woww, kejam aku suka!!!
🌻🇲🇾Lili Suriani Shahari
bergitu yakin kamu erlan.
🌻🇲🇾Lili Suriani Shahari
aku rasa ingin menjerit! aahhhhhhhhhhhhh
Yuliana Hakim
up..up
Saasaa: besok lagi ya 🤭
total 1 replies
Amiera Syaqilla
hey author
Saasaa: Hallo
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!