NovelToon NovelToon
Terjebak Dalam Obsesi Putra Mahkota

Terjebak Dalam Obsesi Putra Mahkota

Status: sedang berlangsung
Genre:Transmigrasi / Fantasi
Popularitas:7.8k
Nilai: 5
Nama Author: Saasaa

Elisa tidak pernah menyangka novel yang baru semalam ia baca akan menjadi awal petaka hidupnya. Saat membuka mata, ia sudah berada di tubuh Lady Nandikara, putri bangsawan dari Wilayah Timur yang terkenal cantik, tapi angkuh, bermulut tajam, dan paling dibenci semua orang.

Tapi bagusnya, Lady Nandikara itu hanya karakter pendukung saja, yang Elisa ingat, dia muncul hanya sesekali, tokoh yang tidak penting.

Ketika mengetahui posisinya dalam novel, Elisa mengambil satu keputusan. Dia tidak akan ikut campur dalam alur cerita. Cukup hidup tenang, menjadi gadis pendiam, lalu bertahan sampai akhir.

Namun, rencananya mulai berantakan. Ketika sepasang mata tajam dan sedingin es milik Putra Mahkota mulai terpaku padanya. Sejak saat itu, kedamaian yang selama ini ia rencanakan dengan matang perlahan hancur, Elisa terseret ke dalam obsesi seorang pria yang tak pernah menerima penolakan.

Semakin Elisa berusaha menjauh dari alur cerita, semakin takdir menyeretnya ke pusat konflik.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Saasaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Rencana Lady Anastasia

Pagi itu, Lady Anastasia menghabiskan waktu lebih lama di depan cermin dibanding biasanya. Para pelayan sibuk merapikan setiap detail penampilannya. Rambut panjangnya disanggul dengan anggun, dihiasi jepit rambut bertabur mutiara. Gaun berwarna putih gading dengan sulaman benang emas membalut tubuhnya dengan sempurna, sementara sepasang anting safir semakin mempertegas kecantikannya.

"Apa menurut Nona sudah cukup?" tanya salah seorang pelayan dengan hati-hati.

Anastasia menatap bayangannya beberapa saat. Ia mengangkat dagunya sedikit, memastikan tidak ada satu helai rambut pun yang keluar dari tempatnya."Cukup. Pangeran Erlan menyukai segala sesuatu yang rapi dan elegan."

"Anda benar-benar terlihat sempurna hari ini, Nona."

Anastasia hanya tersenyum tipis. Pujian seperti itu sudah terlalu sering ia dengar hingga tidak lagi membuatnya merasa istimewa.

Hari ini ia memang sengaja berdandan secantik mungkin. Tujuannya hanya satu, mendatangi tempat latihan Pangeran Erlan.

Sejak kabar pertunangan itu menyebar, hatinya memang dipenuhi rasa kesal. Namun, bukan karena takut kehilangan kesempatan. Ia sama sekali tidak menganggap pertunangan tersebut sebagai ancaman. Ia tidak peduli dengan lamaran itu.

Dia juga tidak peduli pada gadis yang katanya memiliki wajah cantik dari timur tersebut. Di matanya, gadis itu hanyalah rakyat jelata yang mengaku sebagai bangsawan. Seseorang yang bahkan asal-usulnya masih dipenuhi tanda tanya. Tidak peduli seberapa cantik wajahnya, bagi Anastasia, darah tetaplah darah. Seorang wanita tanpa garis keturunan yang jelas tidak pantas berdiri sejajar dengan para putri bangsawan, apalagi bersanding dengan calon Raja.

"Bersaing dengannya?" gumam Anastasia pelan sambil tersenyum sinis."Itu justru akan merendahkan diriku sendiri."

Sedari kecil, ayahnya telah mendidiknya dengan disiplin. Cara berjalan, cara berbicara, etika di depan keluarga kerajaan, hingga berbagai pengetahuan tentang pemerintahan dan diplomasi telah ia pelajari. Semua itu bukan tanpa alasan. Ayahnya selalu mengatakan bahwa suatu hari nanti ia akan menjadi pendamping Pangeran Erlan.

Karena itulah, Anastasia tumbuh dengan keyakinan bahwa hanya dirinya yang paling pantas berada di sisi sang putra mahkota. Bagaimana mungkin ia harus menyerah hanya karena kemunculan seorang gadis misterius yang entah datang dari mana?

Dengan langkah anggun, Anastasia meninggalkan kediamannya ditemani dua pelayan. Langkahnya membawanya berhenti tidak jauh dari lapangan latihan para ksatria kerajaan. Dari kejauhan sudah terdengar suara benturan pedang yang saling beradu.

Clang!

Clang!

Suara teriakan para ksatria menggema memenuhi area latihan.

Anastasia menghentikan langkahnya sejenak. Senyumnya perlahan mengembang ketika menemukan sosok yang sejak tadi ia cari.

Di tengah puluhan ksatria, Pangeran Erlan tampak begitu menonjol. Keringat membasahi dahinya, tetapi gerakan pedangnya tetap cepat, kuat, dan penuh ketegasan. Setiap serangan yang ia lepaskan membuat lawannya terus terdesak hingga akhirnya kehilangan keseimbangan.

"Yang Mulia menang lagi!"

"Tidak ada yang mampu mengimbangi beliau." Beberapa ksatria hanya bisa menggeleng kagum.

Melihat pemandangan itu, mata Anastasia dipenuhi kekaguman. Ia sudah sangat hafal dengan jadwal harian Erlan. Setiap pagi pria itu selalu menghabiskan waktu di tempat latihan hingga menjelang siang. Setelah itu, waktunya akan dipenuhi rapat kerajaan, memeriksa laporan wilayah, menemui para menteri, hingga menangani berbagai urusan negara.

Tidak pernah ada hari yang benar-benar santai bagi sang putra mahkota. Pria pekerja keras seperti itulah sosok calon suami yang selama ini diimpikan Anastasia.

Selama ini, ia hanya berani memperhatikan Erlan dari kejauhan. Baginya, cukup melihat sang pangeran sudah membuat hatinya puas. Namun hari ini berbeda. Hari ini ia datang bukan sekadar untuk melihat. Ia berniat menghampiri Erlan secara langsung.

Anastasia ingin membuka mata pria itu, bahwa pilihan yang diambilnya adalah sebuah kesalahan besar.

Anastasia sudah memantapkan tekadnya. Ia akan menceritakan semua aib Nandikara kepada Pangeran Erlan dan dia yakin, setelah mendengar semua itu, sang pangeran pasti akan menyadari bahwa wanita yang dipilihnya sama sekali tidak pantas menjadi calon putri mahkota.

***

Erlan hanya melirik sekilas ketika langkahnya mendadak terhalang oleh seseorang. Di hadapannya, Lady Anastasia berdiri dengan gaun mewah dan riasan yang begitu sempurna. Senyum anggun menghiasi wajah gadis itu, seolah pertemuan tersebut hanyalah kebetulan.

Namun, dari raut wajah Erlan, terlihat jelas bahwa ia sama sekali tidak senang jalannya dihalangi. Tatapannya datar, bahkan sedikit malas.

Anastasia menarik napas pelan. Ia sudah menghabiskan waktu berjam-jam berdandan demi kesempatan ini. Tidak mungkin ia menyerah hanya karena sikap dingin sang pangeran.

"Yang Mulia, aku ingin berbincang sebentar. Tidak akan lama."

"Aku sedang terburu-buru." Jawaban itu begitu datar, seolah percakapan mereka bahkan tidak layak menghabiskan waktunya.

Anastasia mengepalkan jemarinya di balik lipatan gaun. Dadanya dipenuhi rasa kesal. Namun karena dia sudah terbiasa dengan sifat acuh dari Pangeran Erlan, kali ini pun dia harus menelan rasa kekesalan itu bulat-bulat.

Perlahan ia kembali mengembangkan senyum yang begitu manis, bahkan semanis madu."Hanya sebentar saja, Yang Mulia. Ini menyangkut sesuatu yang penting."

Erlan seolah tak mendengar ucapan lemah lembut itu, dia langsung melangkah, berniat meninggalkan Anastasia begitu saja.

Melihat kesempatan itu akan hilang, Anastasia buru-buru bersuara."Yang Mulia... apa Anda benar-benar mengenal Nandikara?"

Langkah Erlan tetap tidak berhenti.

Anastasia menggigit bibir bawahnya sebelum akhirnya mengucapkan kalimat yang sejak tadi ia simpan."Nandikara bukanlah seorang bangsawan."

Kini langkah Erlan terhenti.

Anastasia merasa ucapannya berhasil menarik perhatian sang pangeran. Dengan sedikit keberanian yang kembali muncul, ia melanjutkan."Dia hanyalah anak seorang janda biasa. Rakyat jelata. Dia bukan putri kandung keluarga Winter."

Dia mengangkat dagunya sedikit."Selama ini semua orang tertipu." Tatapan Anastasia mulai dipenuhi rasa puas."Dan lagi, rumor buruk tentang dirinya sangat banyak. Semua bangsawan mengetahuinya."

Dia sengaja memberi jeda, lalu mengucapkan kalimat terakhir dengan nada yang terdengar penuh penekanan."Bahkan Leonardo Snow saja menolak cintanya mentah-mentah. Jadi bagaimana mungkin Yang Mulia justru ingin menjadikannya sebagai Putri Mahkota?"

Keheningan langsung menyelimuti tempat itu.

Tidak ada jawaban.

Tidak ada bantahan.

Hanya punggung Erlan yang masih membelakangi Anastasia.

Namun entah mengapa, udara di sekitar mereka terasa berubah. Menjadi jauh lebih dingin. Lebih berat.

Aura suram perlahan menyelimuti tempat itu hingga para kesatria yang berjaga beberapa langkah dari sana ikut menahan napas.

Anastasia yang semula percaya diri perlahan kehilangan senyumnya.

Tanpa sepatah kata, Erlan berbalik.

Tatapan matanya yang biasanya dingin kini berubah jauh lebih tajam. Sorot mata itu begitu menusuk hingga membuat Anastasia tanpa sadar mundur setengah langkah. Untuk pertama kalinya, rasa takut menyelinap ke dalam hatinya.

Erlan berjalan perlahan menghampirinya.

Setiap langkahnya terdengar pelan, tetapi justru membuat jantung Anastasia berdetak semakin cepat. Ketika jarak mereka hanya tinggal beberapa sentimeter, Erlan sedikit menundukkan kepala.

Dengan suara yang nyaris berupa bisikan, ia berkata,"Kusarankan..."

Anastasia menelan ludah.

"Agar kau menutup mulutmu." Suara Erlan tetap tenang. Tetapi justru ketenangan itulah yang terasa lebih mengerikan daripada bentakan.

"Jika ucapan yang baru saja kau katakan sampai keluar lagi, maka aku sendiri yang akan mencarimu."

Anastasia membeku.

"Untuk kugantung di tiang gantungan. Karena telah lancang menghina calon ratuku." Kalimat terakhir itu terdengar begitu pelan. Namun setiap katanya bagai pisau tajam yang menghujam tanpa ampun.

Wajah Anastasia seketika memucat. Tubuhnya kaku. Bibirnya bergetar, tetapi tak satu pun kata mampu keluar.

Dia hanya bisa menatap punggung Erlan yang perlahan menjauh setelah selesai mengatakan ancamannya. Sang pangeran sama sekali tidak menoleh lagi.

Langkahnya tetap tenang, seolah ancaman barusan hanyalah sebuah peringatan biasa.

Sementara Anastasia masih berdiri mematung di tempatnya. Jantungnya berdetak begitu keras. Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, ia benar-benar percaya bahwa Pangeran Erlan tidak sedang menggertak.

1
Iin Istiana
kak....... lgiii yaaaaaa😄😄😄
Saasaa: siap, ditunggu ya
total 1 replies
Iin Istiana
kak klo bisa panjangin dikit yaaa🤭
Saasaa: sedang diusahakan, terimakasih udah baca 😄
total 1 replies
Riska Yulia
tambah lg ka
Saasaa: siap, udah di up ya.. selamat baca
total 1 replies
Iin Istiana
go go go ..... semangat.....
Saasaa: terimakasih sudah baca
total 1 replies
Iin Istiana
pokoknya harus selesai sampai hapy ending awasss aja klo mandek tengah jln
Riska Yulia
asupan nya kurang ka😭😭😭😭
Saasaa: besok lagi ya 🤭
total 1 replies
Iin Istiana
jangan lama² yaaa cuayannnnkuuu😄
Saasaa: udah di up bab baru, selamat baca
total 1 replies
Riska Yulia
ok cuma satu ka😭😭😭
Saasaa: udah diup ya bab yang baru, selamat baca
total 1 replies
Irmha febyollah
ko lama update nya kk
Saasaa: udah di up ya, bab barunya, selamat baca😍
total 1 replies
Iin Istiana
lagi yukkkkkk
Saasaa: besok 🤣
total 1 replies
Riska Yulia
lanjut ka tanggung🤭🤭
Saasaa: lanjut besok 🤣
total 1 replies
Iin Istiana
bagus ceritanya pokoknya harus hapy ending jangan mandek di jln
Saasaa: terimakasih sudah baca ya 😍
total 1 replies
Iin Istiana
up
Iin Istiana
lanjuuuuujttt pokoknya harus up lagiiii🤭
Riska Yulia: MLM ini juga lanjut nya ka,
total 2 replies
Riska Yulia
update lg ka, seru baca nya
Saasaa: done ya, selamat baca...
total 1 replies
Riska Yulia
semangat 💪,
Saasaa: terimakasih sudah baca 😍
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!