Pernikahan mewah Rowan Vale-Knight dan Cathez hampa tanpa kehadiran buah hati.
Terobsesi pada kebebasan, Cathez terus menolak hamil hingga melontarkan tantangan gila: mengizinkan Rowan mencari wanita lain untuk melahirkan keturunannya.
Dikuasai rasa dikhianati, Rowan menerima tantangan tersebut.
Di malam yang sama, takdir mempertemukannya dengan Rossi Widmer—gadis terbuang yang nekat melompati mobil Rowan demi melarikan diri dari jebakan penjualan diri oleh ayahnya sendiri.
Terdesak ancaman bahaya dan pengaruh obat perangsang, penyatuan tak terduga terjadi di antara mereka.
Rowan yang terkesan oleh kemurnian Rossi memboyong gadis itu dalam pernikahan sah demi mendapatkan anak, tanpa menyadari rahasia besar bahwa Rossi sebenarnya adalah adik kandung Istrinya yang diasingkan sejak kecil.
Di antara keputusasaan, perlindungan tulus, dan intrik masa lalu yang membayangi, akankah benih cinta sejati tumbuh di tengah hubungan transaksi mereka?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
#33
Udara dingin khas Chicago menyambar wajah Reagen Evander Vale-Knight begitu ia melangkah keluar dari area kedatangan O'Hare International Airport.
Malam yang berangin menyelimuti Kota Angin tersebut, membelai garis rahang tegas pemuda berusia 18 tahun itu.
Dengan jaket kulit hitam yang membalut tubuh jangkungnya, Reagen menghela napas panjang, menatap gemerlap lampu kota yang jauh berbeda dari kehangatan Los Angeles.
Namun, baru saja Reagen hendak menyesuaikan mantelnya dan menghirup dalam-dalam udara Chicago, sebuah benturan keras menghantam bahunya dari arah samping!
Brak!
Seorang gadis bertubuh ramping yang mengenakan seragam olahraga high school berlari kencang tanpa melihat jalan dan menabraknya hingga bahu mereka beradu tajam.
Ponsel di tangan gadis itu terlempar ke atas semen yang dingin, menimbulkan suara retakan halus yang memilu hati.
Gadis itu mendongak dengan napas memburu, matanya membelalak tajam menatap Reagen. Tanpa rasa bersalah, ia menyemprotkan amarahnya, "Kau tidak punya mata?!"
Reagen yang masih terkejut sekaligus kesal lantaran baru saja menginjakkan kaki di kota ini menyilangkan tangannya di dada.
Ditatapnya gadis itu dengan pandangan dingin dan menyebalkan, persis seperti tatapan sang ayah, Rowan.
"Aku tidak perlu memakai mata untuk berjalan karena aku memiliki kaki," jawab Reagen dengan nada santai namun sangat menusuk.
Mata gadis itu membelalak makin lebar, tak percaya dengan jawaban yang baru saja didengarnya. "Wah, sialan kau!" umpat perempuan itu kasar sembari memungut ponselnya yang sudah retak seribu.
Tanpa membuang waktu lagi untuk berdebat, gadis itu membalikkan badan dan berlari tergesa-gesa menuju sebuah bus berukuran sedang yang sudah terparkir di area penjemputan depan bandara.
Reagen berdiri mematung di tempatnya, menatap punggung gadis berseragam olahraga itu yang makin menjauh melangkah masuk ke dalam bus.
Pemuda itu menyunggingkan senyum sinis yang tipis.
"Dasar bodoh," gumam Reagen pelan, lalu berbalik arah menuju jajaran mobil hitam milik keluarga Stone yang telah menunggunya di sudut lain area penjemputan.
Sementara itu, di dalam bus yang hangat...
Langkah kaki yang menggebu-gebu memecah keheningan di bagian dalam bus. Gadis tadi—yang ternyata bernama Chelsea Lambert—naik ke atas bus dengan wajah bertekuk masam. Tanpa basa-basi, ia melempar tas olahraganya secara kasar hingga mendarat dengan dentuman keras di atas kursi kosong.
Seorang gadis cantik berkulit bersih yang duduk di samping kursi tersebut, Olivia Ronald, menoleh kaget. Melihat raut wajah sahabatnya yang ditekuk, Olivia mengerutkan kening.
"Kau kenapa, Chels? Apa ada yang mengusikmu?" tanya Olivia heran.
Chelsea mendengus kesal sembari menghempaskan tubuhnya ke kursi.
"Seseorang yang menyebalkan! Reese tidak menungguku di depan toilet, aku takut aku akan ketinggalan bus. Di mana Reese?" tanyanya celingukan menatap jajaran kursi di depannya.
"Reese? Reese belum naik bus," jawab Olivia jujur.
Tepat saat kalimat itu terucap, pintu bus terbuka kembali. Dari tangga bus, muncul seorang gadis berwajah sangat anggun dengan aura lembut yang memikat. Langkah kakinya begitu tenang dan tertata saat memasuki bus.
"Kau mencariku, Chelsea?" panggil gadis itu halus.
Chelsea langsung menoleh. "Ya! Kau tidak menungguku di depan toilet. Aku sampai menabrak seseorang dan ponselku rusak!" omset Chelsea meluapkan kekesalannya sembari menunjukkan layar ponselnya yang retak.
Gadis yang dipanggil Reese itu terkekeh pelan, menatap Chelsea dengan tatapan tenang yang menyejukkan. "Maafkan aku, tadi aku harus mengurus beberapa dokumen tim di sekretariat luar." Reese lalu menatap ke sekeliling bus, memastikan seluruh anggotanya. "Apa semuanya sudah lengkap?"
Olivia, Chelsea, serta delapan orang teman mereka yang lain—yang duduk tersebar di dalam bus—mengangguk mantap dan menjawab serentak, "LENGKAP!"
Mereka adalah kontingen gabungan tim olahraga, ballerina, dan tim debat tingkat high school yang baru saja kembali dari kejuaraan antarkota.
Sebagai perwakilan terbaik sekolah, kemenangan baru saja mereka genggam, dan kini bus membawa mereka kembali menyusuri jalanan malam Chicago.
Seiring roda bus yang berputar membelah keheningan malam, atmosfer di dalam bus berubah menjadi hangat dan riuh.
Percakapan anak-anak muda di penghujung masa sekolah menengah itu mulai mengalir secara alami.
Di semester terakhir yang tersisa enam bulan ini, topik yang paling hangat dan mendebarkan tentu saja adalah masa depan: kampus impian.
"Aku tidak mau tahu, aku harus masuk ke jurusan hukum universitas terbaik di kota ini!" seru Chelsea dengan penuh percaya diri.
Gadis itu berdiri sedikit dari kursinya, memegang sandaran jok di depannya sembari berbicara dengan gestur tangan yang begitu dominan.
Chelsea menceritakan cita-citanya menjadi seorang pengacara tangguh, menjelaskan bagaimana ia telah menyusun strategi belajar untuk enam bulan ke depan, dan bagaimana ia akan menaklukkan setiap ujian masuk.
Melihat betapa menggebu-gebunya Chelsea bercerita, Olivia dan Reese hanya tersenyum ramah.
Mereka mengangguk-angguk kecil, sesekali tertawa dan mengiyakan setiap argumen dominan yang dilontarkan sahabat mereka yang berapi-api itu.
Tiba-tiba, Chelsea menghentikan ceritanya tentang jurusan hukum, lalu menoleh menatap Reese yang duduk tenang di depannya.
"Ngomong-ngomong... apa kau jadi bersekolah kedokteran di Los Angeles, Ree?" tanya Chelsea penasaran, menatap Reese dengan mata memicing cerdas.
Reese yang ditanya seperti itu menyunggingkan senyuman manisnya yang khas. Pipi gadis anggun itu merona halus sebelum ia menganggukkan kepalanya pelan.
"Iya," jawab Reese halus namun mantap.
Olivia yang duduk di samping Chelsea langsung tertawa terkikik, menyenggol bahu Chelsea dengan genit. "Kau tidak tahu saja, Chels... Dia tentu akan memilih Los Angeles untuk universitas impiannya, karena crush-nya berada di sana!"
Sontak seluruh teman-teman di dalam bus yang mendengar godaan Olivia bersorak kecil menggoda Reese.
Chelsea menyandarkan punggungnya di kursi, menggeleng-gelengkan kepalanya dengan senyum tertahan. "Kau masih menjadi pengagum pria Los Angeles itu rupanya, Reese?"
Reese hanya bisa tertawa malu, merapatkan jaketnya sembari menatap ke luar jendela bus yang basah oleh embun malam.
Di dalam hatinya, nama pemuda dari Los Angeles itu selalu tersimpan rapi.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Iring-iringan mobil hitam mewah itu akhirnya berbelok memasuki sebuah gerbang besi tempa menjulang tinggi yang mengapit jalan setapak berbatu.
Di ujung jalan tersebut, berdiri megah sebuah mansion bergaya klasik-modern yang dikelilingi oleh pepohonan pinus yang rimbun dan taman yang tertata teramat rapi.
Mansion keluarga Stone.
Kediaman ini tampak begitu indah dan terawat dengan sempurna, sebuah bukti ketelitian dan sentuhan dingin dari Oma Alceena.
Meskipun kini wanita paruh baya itu telah memasuki usia senjanya, pesona dan ketegasannya dalam mengelola seluruh aset serta kediaman keluarga Stone tidak pernah memudar sedikit pun.
Reagen melangkah keluar dari mobil. Pemuda 18 tahun itu mengedarkan pandangannya ke sekeliling halaman yang sunyi. Suasana di sini terasa sangat tenang, jauh dari hiruk-pikuk kediaman utama di Los Angeles.
"Silakan masuk, Tuan Muda Reagen," sapa pelayan senior berpakaian rapi yang menyambutnya di depan pintu kayu jati setinggi empat meter.
"Nyonya Besar Alceena dan Tuan Besar Xander sedang beristirahat di kediaman peristirahatan luar kota. Beliau menyuruh kami memastikan kenyamanan Anda selama di sini."
Mendengar hal itu, sebuah ukiran senyum tipis mengembang di bibir tegas Reagen. Alisnya terangkat puas.
Rupanya, sang ayah tidak benar-benar membuangnya ke kastil tua tempat perkumpulan seluruh keluarga besar Stone dan sepupu-sepupunya yang terkenal gila aturan.
Daddy Rowan rupanya masih memberi sedikit ruang bernapas bagi putra tunggalnya. Dengan ketidakhadiran kakek dan neneknya di mansion utama ini, Reagen sadar bahwa ia memegang kebebasan penuh di tanah Chicago.
"Bawa tas-tas saya ke kamar," perintah Reagen santai, melemparkan kunci koper pada pelayan tersebut sebelum melangkah masuk menyusuri lorong berlantai marmer yang dingin.
...oOo ...
Malam makin larut, menembus angka dua dini hari.
Mansion megah itu hening bagaikan makam, namun lampu di kamar mandi utama di dalam kamar luas milik Reagen masih menyala terang. Uap air hangat membumbung tipis di udara, bercampur dengan aroma antiseptik dan salep khusus.
Di depan cermin berbingkai ukiran emas, Reagen berdiri tanpa mengenakan baju. Tubuhnya yang atletis dan tegap tampak terpapar pendar lampu yang tajam.
Tepat di pergelangan tangan kirinya, kulitnya yang sedikit memerah kini berhias sebuah guratan tato baru bertinta hitam pekat yang melingkar sempurna.
Tak berhenti di sana, jika mata menelusuri naik ke pangkal leher kirinya—tepat di bawah garis rahangnya yang tegas—terukir sebuah tulisan tato berukuran sedang dengan font latin yang tajam dan elegan:
"Unbroken"
Reagen mengusap lembut area lehernya yang masih terasa sedikit perih menyengat. Sebuah senyuman miring yang penuh kepuasan terpancar dari wajah tampannya.
Jiwa liar seorang remaja berusia 18 tahun memang tidak bisa ditahan begitu saja. Di saat ia teringat akan janjinya pada sang ibu—Nyonya Rossi—untuk tidak lagi membuat kekacauan atau menjadi anak nakal selama di Chicago, gilanya Reagen justru melampiaskan kebebasan pertamanya dengan mendatangi studio tato rahasia langganan koneksinya di pusat kota Chicago begitu ia keluar dari bandara tadi.
"Maafkan aku, Mom..." gumam Reagen pelan sembari menatap pantulan dirinya di cermin. "Aku berjanji tidak akan membuat masalah di sekolah, tapi tidak ada janji untuk tidak mengukir kulitku sendiri."
Ia mengambil kemeja hitam berkerah tinggi dari lemari pakaian, membalut tubuhnya hingga tato di leher dan pergelangan tangannya tersembunyi dengan sempurna di balik kain mahal tersebut.
Besok adalah hari pertamanya di sekolah baru—sekolah kesekian kalinya yang harus ia tempuh dalam kurun waktu satu tahun ini.
Reagen mematikan lampu kamar mandi, berjalan menuju ranjang empuknya, dan membaringkan tubuhnya.
Sembari menatap langit-langit kamar yang tinggi, bayangan wajah gadis berseragam olahraga yang menabraknya di bandara tadi mendadak melintas sekilas di pikirannya.
Gadis galak dengan kata-kata tajam yang tak punya rasa takut sedikit pun padanya.
Reagen tertawa terkikik pelan, menggelengkan kepalanya sebelum memejamkan mata.
"Mari kita lihat seberapa membosankannya kota ini besok," bisiknya pada keheningan malam Chicago, perlahan terbawa masuk ke dalam lelap tidur.
bikin semua kejahatan catzhes terbongkar
aku pasti baca thor mpe abis🥰🥰🥰