Emily, Ratu Jalanan sekaligus ketua geng Sport Queen, dipaksa memilih antara masuk pesantren atau menikah setelah terus membuat orang tuanya khawatir. Tak disangka, pria yang dijodohkan dengannya adalah Reyze, ketua geng rival Black Lion Riders sekaligus musuh bebuyutannya.
Meski saling membenci, mereka terpaksa menikah diam-diam dan merahasiakan status mereka. Di depan publik mereka tetap rival, tetapi di balik pintu rumah harus belajar hidup sebagai suami istri.
Saat Emily masih terikat dengan pacarnya dan persaingan di dunia balap berubah menjadi ancaman mematikan, Emily dan Rey harus memilih: mempertahankan permusuhan atau memperjuangkan cinta yang perlahan tumbuh di antara mereka.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon HyMaira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
25
Masih belum digerakkan karena Emily masih kesakitan, si Jony masih berada di sarangnya.
"Sakit, sayang… maaf ya, ini udah jebol sekarang," ucap Rey pelan sambil mengusap air mata Emily.
"Sakit, Rey… ahh, perih, asli ini pasti robek," lirih Emily.
"Kan si Jony gede, sayang. Aku gerak pelan ya, nanti pasti enak kok," ucap Rey lembut.
"Tapi sakit, Rey…" isak Emily.
"Nanti juga nggak. Ayo pegang tangan gue," desah Rey. "Ahhh… ughhh… Rey mulai gerak…"
"Ahhh, Reyyy… ahh, pelan…"Emily meringis .
"Gimana, masih sakit?" tanya Rey menahan nafas.
"Nggak terlalu… tapi enak, geli… ahhh ughhh Rey… ahhh awssshhh…" jawab Emily lirih.
"Oke, enak kan sayang?" ucap Rey sambil menatapnya.
Emily tidak lagi menjawab, hanya mengangguk sambil mengikuti ritme suaminya. Rasa sakit perlahan berubah jadi rasa nikmat yang sebelumnya belum pernah ia rasakan.
"Aaahhh… ughhh… aaahhh… enak, Ilyyy sayang… ahhh… enak kan… ayo goyang lagi…" desah Rey.
"Ahhh Reyyy… iyaa… ini, ini enak… ahhh… sekarang enak asli ini mahhh… ahhh sayang… ahhh…" jerit Emily.
Keadaan semakin memanas, apalagi Emily yang mulai rileks, perlahan menikmati permainan itu. Suara desahan dan lenguhan keduanya menggema di kamar apartemen itu, bahkan adegan di film tadi sudah entah kemana arahnya.
Pl*k… pl*k… pl*k… suara hentakan terdengar nyaring.
"Ahhh Reyyy… aahhh… ahhh ughhh Reyyy…" desah Emily. Cup… cup… Rey terus menciumi bibir Emily, bahkan tangannya masih liar di d*da, sesekali mengecap hingga membuat Emily semakin terbang.
Cl4p… cl4p… cl4p… "Ahhh sayang… Ilyyy… enak ahhh… ayo terus sayang…" erang Rey.
Pl0kkk… ahhh pl0kkk… "Aaahhh Reyyy… aaahhh haaaahhh… Rey pengen pipisss…" lirih Emily.
"Tahan sayang, jangan dulu dikeluarin. Tahan dulu, bareng ya… ini pelepasan pertama harus bareng supaya enak, sayang," ucap Rey dengan nafas memburu.
"Ahhh Reyyy… gue… ahhh udah nggak kuat, Reyyy… haaahh Reyyy ahhh ahhh uhhh Reyyy…" jerit Emily.
"Buka lebar lagi, sayang… gue kencengin ya…" desah Rey. Emily hanya mengangguk dengan wajah memerah.
"Ahhhh ughhh ahhh ahhh heuuhhh…" terdengar desahan dari keduanya.
Rey terus menekan sambil menghentakkan. "Ahhh… ughhh… ahhh…"
"Reyyy udahhh… ahhh Rey udah… gue nggak tahan Reyyy… ahhh Reyyy…" jerit Emily sambil mencengkram erat.
"Tahan sayang… ayo barengin… ahhh pl0kkk ahhh… ughhh ahhh… Ilyyy sayang… aghhhhhhh!" desah Rey keras.
"Reyyyyyy ahhhhh… Rey haaa4aahhh… ughhh ahhhhhh!" teriak Emily, tubuhnya bergetar.
"Ahhhhh sayang… ini… ini enak… ahhhhhh… Ilyyy sayang… gue nggak kuatt… ahhhhhhh haa4ahhhh ahhhhhhh!" teriak Rey juga, melepaskan nya bersama Emily.
Rey langsung terkulai di atas tubuh Emily. Emily pun sama, tubuhnya masih bergetar apalagi ditindih oleh Rey. Nafas keduanya masih ngos-ngosan, seperti habis lari maraton.
“Gila, Ilyyy… anjir, enak bangettt…” ucap Rey, terengah.
“Tapi gue sakit, begoo… anjir, perih… ahh…” desis Emily meringis.
“Tapi lo juga enak kan?” tanya Rey sambil terkekeh.
“Enak… tapi lebih banyak perihnya, Rey…” lirih Emily.
“Ini yang pertama, Ily. Pasti sakit. Kedua, ketiga, pasti cuma enak doang,” ucap Rey menenangkan.
“Lepasin dong, Rey… berat…” desis Emily.
“Bentar, sayang… tubuh gue masih gemetar. Gue tahan kok, nggak sepenuhnya nindihin t*buh lo,” jawab Rey lembut.
“Si Jony-nya cabut, Rey… geli…” gumam Emily.
“Jangan dulu. Dia masih betah di sarangnya, Ily… masih nyaman dia,” ucap Rey sambil tersenyum nakal.
“Ga enak… ganjel banget, Rey,” keluh Emily.
“Tahan dulu, jangan gerak. Nanti dia bangun. Lo mau lagi emang?” ledek Rey.
“Anjir… tubuh gue aja masih gemeter,” sahut Emily cemberut.
“Yaudah, tahan dulu. Daripada bangun lagi kan, enak gini anget,” Rey terkekeh.
“Ahhh, sialan lu…” sungut Emily.
“Mulutnya, sayang,” Rey mencubit pipinya.
Rey segera menarik selimut dan menyampingkan tubuh mereka. Enaknya, si Jony masih belum lepas karena Rey langsung mendekap Emily.
“Awhhh Reyyy, gila! Ihhh, kaget gue… hahahha,” Emily tertawa kecil.
“Hhaha… bisaan kan gue balikin tubuh lo, tapi si Jony nggak lepas,” Rey nyengir.
“Sialan… kepanjangan itu… hhaa,” cibir Emily.
“Hhaa… udah nyamping aja, buka lebar kakinya biar gue rapetin… 4hhh,” ucap Rey, menempel erat.
“Anjirr… geli… ahh Rey…” keluh Emily.
“Udah, jangan digerakin sayang… takut bangun lagi usi Jony. Ayo tidurin dulu lah…” bujuk Rey.
“Ga ke kamar mandi dulu?” tanya Emily.
“Ntar dulu, Ilyyy… pengen peluk gini, sayang,” lirih Rey.
“Udah sayang, ya, sama gue?” tanya emily pelan.
“Sekali lagi lo tanya gitu, gue iclik sampai pagi,” ledek Rey sambil mencium keningnya.
“Hhahahaha,” Emily tertawa lagi. “Berarti lo udah sayang dan cinta sama gue kan?”
“Iya, Emily Yara Amora. Gue cinta, sayang sama lo. Sekali lagi lo tanya, gue bikin lo nggak bisa jalan,” ucap Rey mantap.
“Hhhhaaaa… iya, iya, Reyze Kenzio Alaric…” Emily tersenyum manis.
“Iya apa? Lo udah sayang, cinta sama gue juga kan?” tanya Rey lagi.
“Hhhaa… kalo nggak, mana mau gue di-iclik sampai jebol perawan gue. Lo yang dapetin, berarti lo yang bener-bener dapat cinta gue. Hahha…” ucap Emily malu-malu.
“Terus si Alek gimana?” tanya Rey serius.
“Udah gue putusin dari kemarin. Tinggal nunggu dia sadar aja,” jawab Emily santai.
“Ya udah, nanti gue buat dia sadar,” ucap Rey singkat.
“Iya, tapi jangan macam-macam…” Emily menatap Rey khawatir.
“Nggak sayang… ayo, mata gue berat… tidur dulu bentar, nanti lanjut lagi…” Rey mengecup lembut.
Akhirnya mereka terlelap dalam pelukan, di bawah selimut yang sama, tanpa sehelai benang pun. Hati mereka pun dipenuhi kebahagiaan karena sama-sama telah mengungkapkan perasaan masing-masing.
Malam panjang itu mereka lewati. Ternyata setelah satu jam tertidur, Rey meminta lagi. Bahkan sampai setelah subuh mereka baru terlelap. Setelah mandi pun masih lanjut, membuat Emily kewalahan dan kelelahan. Karena hari itu hari Minggu, mereka agak sedikit santai.
Rey yang pertama membuka mata. Ia melihat Emily yang tampak cantik di pelukannya, mulutnya sedikit terbuka. Bukannya ilfil, pemandangan itu malah membuat Rey makin gemas. Terlebih rambut Emily yang berantakan jatuh ke wajahnya.
Bayangan wajah Emily ketika mendesah di bawahnya membuat Rey semakin salah tingkah.
“Oh my God… Ily… sayang, gemes banget gue…” lirih Rey, pipinya memanas.
“Ahhh… takdir emang indah, ya. Cewek yang gue crush-in diam-diam sejak dulu ternyata jadi istri gue. Ahh… gue dapet perawannya lagi. Jarang banget kan? Meskipun gadis apalagi dia suka clubbing, tapi masih tetep jaga keper*wanannya buat suaminya…” Rey tersenyum kecil, menatap Emily penuh cinta.
“Ahh… asli… gue kecintaan banget sama lo, Ilyyy…” lirih Rey lagi, semakin memeluk Emily yang masih terlelap manis di pelukannya.