Dulu, sebelum jalan aspal mencapai Dusun Wanasetra, aku dan adikku harus bangun ketika langit masih gelap. Kami berjalan lebih dari tujuh kilometer menuju sekolah, melewati pematang sempit, kebun, lereng rawan longsor, dan sungai yang tidak memiliki jembatan tetap. Di kaki kami hanya ada sepatu bekas dari pasar loak. Sepatu itu terlalu sempit untukku, terlalu besar untuk Nira, dan selalu basah saat musim hujan.
Kami menjahit telapak yang terbuka dengan benang karung, menambalnya memakai potongan ban, lalu memakainya kembali pada pagi berikutnya. Di sekolah, sepatu lusuh itu menjadi bahan ejekan. Di rumah, sepatu yang sama menjadi bukti bahwa Ayah dan Ibu masih berusaha menjaga kami tetap belajar. Ketika panen gagal, Ibu sakit, dan Ayah menerima pekerjaan berbahaya di tempat pemecahan batu, perjalanan menuju sekolah berubah menjadi perjuangan mempertahankan keluarga.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Heriawan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
TAWA DI DEPAN KANTIN
Pertanyaan Jalu membuat suara di sekitar kantin seolah berhenti sesaat. Aku tahu anak-anak masih berbicara, daun masih bergerak, dan sendok Bu Minah masih beradu dengan gelas. Namun, yang kudengar hanya kata tempat sampah berulang-ulang di kepala.
Aku menatap Jalu. Ia sedikit lebih pendek dariku, tetapi berdiri dengan dagu terangkat. Sepatu putihnya tidak memiliki satu noda pun. Bahkan talinya masih kaku seperti baru keluar dari kotak.
"Jawab," katanya.
Gala berdiri di sampingku. "Sepatu tidak bisa menjawab. Kau mau bicara dengan benda atau dengan Langga?"
Beberapa anak tertawa, kali ini bukan kepadaku. Wajah Jalu berubah. Ia tidak suka ketika lelucon kembali mengarah kepadanya.
"Aku hanya bertanya," katanya. "Kalau memang bukan dari tempat sampah, kenapa jelek sekali?"
Tanganku mengepal. Aku membayangkan mendorong bahunya sampai ia jatuh ke tanah. Aku membayangkan sepatu putih itu masuk ke genangan di dekat pompa air. Hanya satu gerakan kecil, dan tawa akan berhenti.
Namun, pesan Ibu muncul lebih cepat daripada tanganku. Ia selalu berkata bahwa kemiskinan sudah cukup membuat orang merendahkan kami; jangan memberi mereka alasan tambahan dengan perkelahian.
Aku berdiri dan menyelipkan daun bekal ke dalam tas. Nasi jagungku belum habis, tetapi tenggorokanku terasa terlalu sempit untuk menelan satu suap nasi lagi. "Ayo, Gala."
"Kau takut?" Jalu mengejek.
Aku terus berjalan. Setiap langkah mengeluarkan bunyi tek yang semakin jelas karena getah pada telapak mulai lepas. Anak-anak menirukan bunyinya. Tek. Plak. Tek. Plak. Tawa mereka mengikuti sampai dekat koridor.
Gala berjalan di sampingku. "Kalau kau mau, aku bisa menginjak sepatunya saat pulang. Seolah tidak sengaja."
"Jangan."
"Aku sangat pandai tidak sengaja."
Aku hampir tersenyum, tetapi rasa panas di wajah belum hilang. Aku masuk ke kelas dan duduk dekat jendela. Dari sana, aku melihat Jalu kembali membeli es lilin. Ia tertawa bersama teman-temannya seperti tidak terjadi apa-apa.
Sepanjang pelajaran berikutnya, aku berusaha menyembunyikan kaki di bawah meja. Ketika Bu Satya meminta kami maju menuliskan jawaban, aku berharap tidak dipanggil. Aku takut bunyi sepatu terdengar di seluruh ruangan. Untuk pertama kalinya sejak sekolah dimulai, aku tidak ingin berdiri di depan kelas. Bahkan ketika mengetahui jawaban soal di papan, tanganku tetap berada di bawah meja. Nilai dan pujian yang biasanya kuinginkan mendadak terasa tidak penting. Aku hanya berharap bel segera berbunyi dan semua orang lupa pada kakiku.
Bertahun-tahun kemudian, aku mengerti bahwa ejekan paling tajam tidak selalu berasal dari kata-kata baru. Jalu hanya menyebut sesuatu yang sudah kutakuti sendiri. Aku tahu sepatu itu berasal dari pasar loak. Aku tahu bagian dalamnya pernah menyimpan bentuk kaki orang lain. Aku tahu kami memolesnya dengan minyak kelapa agar terlihat lebih baik. Pertanyaannya membuat semua usaha Ibu terasa terbuka di depan orang banyak.
Ketika bel pulang berbunyi, aku menunggu sampai sebagian besar anak meninggalkan kelas. Aku berharap Jalu sudah bersepeda pulang. Gala berdiri di pintu sambil mengintip halaman.
"Aman," katanya. "Pasukan sepatu putih sudah pergi."
Aku mengambil tas. Kami berjalan menuju kelas dua untuk menjemput Nira, tetapi bangkunya kosong. Aku baru ingat ia tidak masuk hari itu. Kebiasaan mencarinya membuat dadaku terasa aneh.
"Nira di rumah?" tanya Gala.
"Kakinya luka."
"Karena sungai?"
Aku mengangguk.
Gala tidak bercanda lagi. Ia menawarkan berjalan bersamaku sampai percabangan jalan. Rumahnya tidak searah, tetapi ia berkata ingin mencari buah jambu di dekat kebun kopi. Aku tahu itu alasan, sama seperti telur yang katanya terlalu besar.
Kami baru sampai depan kantin ketika suara sepeda berderit dari belakang. Jalu ternyata belum pulang. Ia sedang memamerkan cara mengangkat roda depan kepada dua anak kelas enam. Ketika melihatku, ia menghentikan sepeda tepat di jalur kami.
"Lihat," katanya kepada teman-temannya. "Sepatu berbunyi datang lagi."
Aku memilih melewati sisi lain. Jalu memutar sepedanya dan menghalangi jalan.
"Minggir," kata Gala.
"Halaman sekolah bukan milikmu."
"Bukan milik ayahmu juga."
Jalu turun dari sepeda. Teman-temannya mendekat. Aku melihat Bu Minah di kantin, tetapi ia sedang membungkuk mencuci gelas. Pak Wiraga, penjaga sekolah, membawa sapu di ujung halaman dan tidak memandang ke arah kami.
"Kau tidak menjawab pertanyaanku tadi," kata Jalu.
"Aku tidak wajib menjawab."
"Berarti benar dari tempat sampah."
"Sepatu ini dibeli Ayah dari pasar," kataku. "Kami membayarnya."
Jalu menatapku, mungkin tidak menyangka aku akhirnya menjawab. "Pasar loak sama saja. Barang yang orang lain tidak mau."
Gala maju satu langkah. Aku menahan lengannya. Jika terjadi perkelahian, Pak Sasmita pasti memanggil orang tua. Ayah sedang mencari bambu dan bekerja di kebun. Aku tidak ingin ia meninggalkan pekerjaan hanya karena aku tidak mampu menahan marah.
Saat itulah suara kecil terdengar dari gerbang.
"Kak Langga!"
Nira datang bersama Ibu. Kakinya memakai sandal tipis milik Ibu karena sepatu cokelatnya masih dijemur. Ia berjalan pincang, tetapi wajahnya gembira. Di tangan Ibu ada bungkusan keripik singkong untuk dititipkan kepada Bu Minah.
Kegembiraan Nira hilang ketika melihat kami dikelilingi anak-anak.
"Kenapa?" tanyanya.
"Tidak apa-apa," jawabku cepat.
Jalu melirik sandal kebesaran di kakinya. "Adikmu juga tidak punya sepatu?"
Nira memandangku, lalu memandang Jalu. Aku berharap ia tetap dekat Ibu. Namun, ia berjalan pelan dan berdiri di depanku.
"Kami punya," katanya.
"Yang jelek itu?"
"Sepatu kami memang tua."
Suara Nira gemetar, tetapi ia tidak mundur. Tubuhnya hanya setinggi bahuku, dan satu kakinya masih dibalut kain. Meski begitu, ia berdiri seperti ingin menutupiku dari pandangan semua orang.
"Tapi kami datang ke sekolah dengan kaki sendiri," lanjutnya. "Kami berjalan jauh. Sepatumu bersih karena kau naik sepeda."
Beberapa anak saling pandang. Gala menahan senyum. Aku melihat wajah Jalu memerah.
"Apa hebatnya berjalan?" katanya.
"Tidak hebat," jawab Nira. "Capek. Tapi kami tetap datang."
Ibu memanggil namanya pelan, memberi tanda agar ia berhenti. Nira menoleh, tetapi tetap berdiri di tempat.
Jalu mungkin merasa semua orang mulai melihatnya sebagai pihak yang salah. Ia menendang debu dengan ujung sepatu. "Aku cuma bercanda."
"Tidak lucu," kata Gala.
"Diam."
Jalu mendorong sepedanya melewati kami. Saat berada tepat di depanku, ia berhenti. Matanya turun ke sepatu lusuhku. Kemudian, dengan gerakan cepat, ia menendang ujung sepatu kiri.
Tendangannya tidak terlalu keras, tetapi tepat mengenai jahitan yang sudah rapuh. Terdengar bunyi kecil seperti kain disobek. Bagian depan sepatu terbuka lebih lebar, memperlihatkan kaus kakiku yang kusam.
Semua orang diam.
Aku menatap lubang itu. Lalu aku mengangkat wajah kepada Jalu, sementara kepalan tanganku terasa lebih berat daripada seluruh perjalanan tujuh kilometer.