NovelToon NovelToon
Ranjang Panas Preman Kampus

Ranjang Panas Preman Kampus

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Cinta Seiring Waktu / Bad Boy
Popularitas:1.5k
Nilai: 5
Nama Author: El khiyori

Bara Adikara, tumbuh dengan kebencian setelah perselingkuhan ayahnya. Ibunya meninggal dan hidupnya hancur. Ia akan terus disiksa jika tak mau menurut pada peraturan sang ayah. Begitu dewasa, Bara pun menjelma menjadi sosok yang keras dan dingin. Ia berpura-pura menjadi pecundang bodoh yang tak peduli pada semuanya. Tanpa seorangpun tahu kalau sebenarnya Bara sedang merencanakan sebuah balas dendam. Ia akan merebut semua milik ibunya, rumah dan perusahaan. Selain itu, ia juga akan menghancurkan wanita yang sudah membuat keluarganya hancur, dengan memanfaatkan anaknya. Andrea Willona, gadis itu akan Bara hancurkan, tapi disaat hati mulai ikut campur, benarkah semua akan tetap pada alurnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon El khiyori, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 16

Bara sudah bersiap untuk menyatukan dirinya dengan Andrea, mengakhiri permainan yang ia buat dengan klaim kepemilikan demi menghancurkan Selina melalui kesucian putrinya.

Namun, tepat saat sesuatu yang suci milik mereka saling bersentuhan, dan saat Andrea memejamkan matanya erat-erat sambil meneteskan air mata kepasrahan, Bara mendadak membeku.

Suara isak tangis lirih Andrea dan getaran ketakutan bercampur sesuatu yang tulus dari tubuh di bawahnya tiba-tiba menghantam kesadaran Bara. Kilasan wajah ibunya, yang menangis sebelum akhir hayatnya mendadak berkelebat di benak Bara.

Bersamaan dengan itu, wajah polos Andrea yang kini dipenuhi air mata tampak jelas di depan matanya. Seketika ada sesuatu yang menahan Bara dengan sangat kuat, sebuah dinding tak kasat mata yang bukan berasal dari niat buruknya, melainkan dari sudut terdalam hatinya yang paling bersih.

Rasa enggan untuk menyakiti gadis di bawahnya tiba-tiba muncul, mengalahkan ego kelam dan dendamnya.

Napas Bara memburu hebat di atas ceruk leher Andrea. Ia mengepalkan tangannya kuat-kuat di sisi kepala Andrea hingga urat-urat di lengannya menonjol. Setelah beberapa detik pergulatan batin yang menyiksa di tengah hawa panas yang kian mendera, Bara perlahan menurunkan tubuhnya.

Ia tidak melanjutkan aksinya. Alih-alih menyatukan diri, Bara justru menjatuhkan kepalanya di ceruk leher Andrea, menyembunyikan wajah frustrasinya di sana.

Efek alkohol yang teramat pekat digabungkan dengan kelelahan fisik setelah baku hantam dan gejolak emosi yang terkuras habis membuat tubuh kekar Bara mendadak kehilangan daya. Perlahan, napasnya yang memburu berubah menjadi teratur dan berat. Pria itu akhirnya terlelap, tertidur pulas dalam pelukan hangat Andrea dengan posisi tubuh yang masih memeluk erat pinggang gadis itu seolah takut kehilangan tempat bersandar.

Andrea membuka matanya perlahan, menyadari bahwa badai telah berlalu. Ia menatap helai-helai rambut hitam Bara yang berantakan di dadanya. Dengan rasa sayang yang teramat tulus, Andrea melingkarkan lengannya di punggung polos Bara, mendekap pria itu erat-erat sepanjang sisa malam, memberikan kehangatan murni yang selama ini tidak pernah Bara dapatkan dari siapa pun.

---

Keesokan harinya, sinar matahari pagi menerobos masuk melalui celah gorden kamar yang mewah. Bara mengerjapkan matanya, mengerang pelan saat rasa pening langsung menyerang kepalanya. Ia membalikkan tubuhnya, secara refleks tangannya meraba sisi ranjang di sebelahnya.

Kosong.

Kasur di sampingnya sudah mendingin. Andrea sudah tidak ada di kamarnya. Bara segera bangkit dan duduk di tepi ranjang, menatap lantai luar yang sudah bersih dari pecahan baskom semalam. Pakaian kotornya pun sudah lenyap, digantikan oleh segelas air putih dan obat sakit kepala yang diletakkan rapi di atas meja nakas. Bara terdiam cukup lama, menatap obat itu dengan tatapan kosong dan rumit. Kejadian semalam berputar samar di otaknya, menyisakan tanda tanya besar tentang perasaan asing yang mulai mengacaukan skenarionya.

Beberapa jam kemudian di kampus, atmosfer tampak kembali normal bagi mahasiswa lain, namun tidak bagi Bara yang berjalan menyusuri koridor fakultas dengan setelan kasual kemeja denim dan kacamata hitam untuk menutupi sisa memar di sudut matanya.

Aura angkuhnya tetap menguar kuat, membuat mahasiswa yang berpapasan dengannya langsung memberi jalan dengan segan.

Saat berjalan menuju area loker dekat studio lukis, langkah Bara melambat ketika melihat siluet Andrea yang sedang berdiri di dekat dispenser koridor.

Andrea yang menyadari kehadiran Bara langsung menoleh. Begitu mata mereka bertemu, tidak ada ketakutan, kecanggungan, atau rasa malu dari kejadian menegangkan semalam di wajah gadis itu. Sebaliknya, wajah polos Andrea langsung dihiasi oleh senyuman yang teramat manis dan tulus.

Andrea melangkah mendekat ke arah Bara tanpa ragu, mengabaikan beberapa pasang mata mahasiswa lain yang mulai memperhatikan mereka.

"Selamat pagi, Kak Bara," sapa Andrea dengan nada suara yang lembut dan ceria, seolah-olah awan mendung kemarin telah sepenuhnya sirna.

Bara menghentikan langkahnya, menatap Andrea dari balik kacamata hitamnya dengan wajah datar tanpa ekspresi. Ia kembali memasang ekspresi dingin yang tak tersentuh. "Hmm," sahutnya pendek.

Namun, sikap dingin Bara tidak membuat Andrea mundur. Gadis itu justru menunjukkan perhatian yang teramat manis. Ia menjinjing sebuah tas kecil kain bermotif lucu dan menyodorkannya ke depan dada Bara.

"Ini ... aku membuatkan bekal makan siang untuk Kakak. Dan di dalamnya juga ada tumisan sayur dan sup hangat yang bagus untuk memulihkan energi setelah ... setelah apa yang Kak Bara alami," ucap Andrea dengan pipi yang sedikit merona merah saat mengingat Bara yang mabuk dan terluka, namun sorot matanya memancarkan ketulusan yang murni. "Aku juga sudah menaruh vitamin di dalamnya. Kakak harus meminumnya setelah makan nanti, ya? Jangan sampai telat makan, wajah Kakak masih sedikit pucat."

Bara menatap tas bekal di tangan Andrea, lalu beralih menatap wajah manis gadis itu yang mendongak penuh harap padanya. Sikap perhatian yang begitu manis dan tanpa pamrih ini kembali mengirimkan desiran aneh yang mengacaukan akal sehat Bara.

Andrea benar-benar bertingkah seperti seorang kekasih yang teramat menyayanginya, sepenuhnya terjebak dalam pusaran pesonanya, tanpa tahu bahwa setiap perhatian manis yang ia berikan justru sedang menguji keteguhan hati sang predator yang kini mulai goyah oleh ketulusannya sendiri.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!