Saat Azka berbalik untuk menuju kelasnya sendiri, langkahnya mendadak terhenti. Di ujung koridor yang ramai, seorang murid baru berdiri memegang peta denah sekolah. Rambutnya sebahu, matanya bulat jernih—persis seperti mata bocah yang dulu suka duduk di dahan kamboja.
Gadis itu menoleh. Pandangan mereka bertabrakan.
Waktu seolah berhenti. Suara bising siswa-siswi yang lalu-lalang mendadak senyap di telinga Azka.
"Azka...?" bisik gadis itu. Suaranya bergetar, memanggil nama yang selalu ia simpan rapi dalam doanya selama tiga tahun terakhir.
"Anggi?" suara Azka nyaris tak keluar.
Anggi tersenyum lebar, matanya berkaca-kaca. Ia melangkah maju dengan binar kebahagiaan yang tak mampu dibendung. Tiga tahun menunggu, pindah kembali ke kota ini, dan akhirnya takdir membawanya tepat ke hadapan laki-laki yang memegang janjinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elwa Zetri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bisikan Di balik Kaca Jendela
"Ya udah ya, Ka... aku masuk dulu," potong Anggi pelan. Ia menatap Azka sebentar, menahan gejolak emosi di matanya. "Kamu lebih baik pulang. Jangan sampai ada gosip tentang aku merebut pacar orang."
Tanpa menunggu balasan dari Azka, Anggi berbalik cepat dan melangkah masuk ke dalam rumah. Pintu kaca belakang tertutup perlahan, meninggalkan Azka yang terpaku sendirian di halaman. Kata-kata Anggi menusuk begitu dalam, menyadarkan Azka betapa posisi mereka kini telah berada di dua sisi yang berseberangan.
Azka mengepalkan tangannya di samping tubuh. Hatinya berkecamuk antara rasa bersalah, cemas, dan kebingungan yang teramat sangat.
Baru saja Azka hendak membalikkan badan menuju pintu depan, Ibu Anggi muncul dari arah dapur sambil membawa nampan berisi dua cangkir teh hangat dan piring penuh pisang goreng yang masih berasap.
"Lohh... kok udah mau pulang aja, Ka?" tanya Ibu Anggi terkejut melihat Azka berdiri kaku sendirian di dekat pintu. "Ini cemilannya belum dimakan! Katanya tadi mau ngobrol-ngobrol sama Anggi?"
Azka mengusap tengkuknya dengan canggung, berusaha mengukir senyum sesopan mungkin di hadapan wanita paruh baya itu.
"N-nggak apa-apa, Tante. Terima kasih banyak," jawab Azka halus. "Angginya mau istirahat, cape kayaknya hari pertama sekolah. Azka juga ada urusan lain sore ini, jadi pamit pulang dulu ya, Tante."
Ibu Anggi mengamati wajah Azka sejenak dengan tatapan heran, namun tak ingin bertanya lebih lanjut. "Oalah... gitu ya? Ya sudah kalau begitu. Pisang gorengnya dibawa pulang saja ya, Tante bungkusin."
"Nggak usah repot-repot, Tante, nanti Azka main ke sini lagi kok," cegah Azka cepat. Ia menyalami tangan Ibu Anggi dengan takzim. "Azka pamit ya, Tante. Assalamu'alaikum."
"Wa'alaikumsalam... hati-hati di jalan ya, Ka. Sering-sering main ke sini!" panggil ibunya dari balik pintu.
Azka berjalan menuju motornya dengan langkah berat. Di lantai dua, dari balik tirai jendela kamar yang sedikit tersibak, Anggi memperhatikan sosok Azka yang mengenakan helm dan melajukan motornya membelah kesunyian kompleks.
Saat raungan mesin motor itu akhirnya menghilang di kejauhan, Anggi menyandarkan dahinya di kaca jendela yang dingin. Bulir air mata yang sejak tadi ia tahan akhirnya menetes juga, membasahi pipinya yang pucat.
Kamar bertirai merah muda itu mendadak terasa begitu sempit dan dingin. Suara raungan mesin motor Azka telah sepenuhnya lenyap ditelan deru angin sore, meninggalkan keheningan yang makin menghimpit dada Anggi.
Anggi menyapukan telapak tangannya ke kaca jendela yang berembun akibat napasnya sendiri. Di luar sana, langit Karang Suka mulai berubah warna menjadi jingga keunguan—warna yang sama persis seperti langit ketika dua bocah berusia sepuluh tahun menautkan jari kelingking di bawah pohon kamboja.
Ia menatap pantulan dirinya sendiri di kaca jendela. Matanya yang bulat jernih kini sembab, memerah menahan sisa tangis.
"Kamu harus bisa lupain janji palsu cowok itu, Anggi," ucapnya lirih pada diri sendiri.
Suaranya bergetar, tetapi ada tekad bulat yang berusaha ia pancarkan lewat tatapannya.
"Dia udah punya kehidupan baru. Dia udah punya Sheila. Tiga tahun yang kamu jaga sendirian itu... cuma kenangan anak SD yang nggak pernah ada artinya buat dia."
Anggi menarik napas panjang, mengusap kasar air mata di pipinya hingga tak tersisa. Ia berbalik memunggungi jendela, menatap tumpukan buku pelajaran SMA yang belum tersentuh di atas mejanya.
Laki-laki yang ia tunggu selama seribu hari telah menjelma menjadi sosok yang asing—seorang "teman lama" yang kini mengikis hatinya tanpa sadar. Anggi mengepalkan jemarinya kuat-kuat. Ia bersumpah pada dirinya sendiri, mulai besok di sekolah, tak ada lagi Anggi yang menangis di koridor atau menatap penuh harap ke arah bangku di belakangnya.
Ia harus melangkah maju, walau harus berjalan sendirian tanpa janji masa kecil yang telah retak.