NovelToon NovelToon
Jalan Dewa Kehampaan

Jalan Dewa Kehampaan

Status: tamat
Genre:Balas Dendam / Epik Petualangan / Mengubah Takdir / Tamat
Popularitas:17k
Nilai: 5
Nama Author: Bodattt

Di Benua Timur, kekuatan mutlak adalah hukum tertinggi, dan mereka yang tidak bisa berkultivasi hanyalah debu yang pantas diinjak-injak. Lin Tian, Tuan Muda dari Klan Lin, harus menanggung kehinaan selama bertahun-tahun karena cacat bawaan pada meridiannya. Takdirnya mencapai titik terkelam ketika ia dikhianati, disergap oleh pembunuh bayaran suruhan sepupunya, dan dilemparkan ke dasar Jurang Hukuman yang mematikan.
​Namun, jurang itu bukanlah akhir, melainkan awal yang baru.
​Di ambang kematian, darah dan tekad Lin Tian yang pantang menyerah membangkitkan sebuah artefak kosmis yang bersemayam dalam dirinya—Mutiara Kehampaan. Tubuh fananya dihancurkan dan ditempa ulang, meridiannya disucikan, dan ia mewarisi Teknik Kultivasi Kehampaan Sembilan Langit, sebuah kekuatan tabu yang ditakuti oleh alam semesta

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bodattt, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 32: Guntur Kepunahan dan Boneka Surgawi

​Di bawah langit yang retak oleh celah dimensi, waktu seolah berhenti berdetak bagi Lin Tian.

​Petir hitam keemasan—Guntur Kepunahan—menukik turun dengan kecepatan yang jauh melampaui batas reaksi manusia. Aura kehancuran dari petir itu tidak hanya menargetkan tubuh fisik, melainkan berniat menghapus jiwa Lin Tian dari siklus reinkarnasi. Ini adalah kekuatan formasi dewa yang sesungguhnya!

​Jangankan mencabut pedang, Lin Tian bahkan tidak sempat mengedipkan matanya. Kematian absolut berjarak kurang dari satu milimeter dari ubun-ubunnya.

​Namun, tepat di saat kiamat itu menyentuh sehelai rambutnya...

​"LANCANG!"

​Suara raungan purba yang mengandung amarah kosmis meledak, bukan dari mulut Lin Tian, melainkan dari kedalaman jiwanya. Entitas kuno di dalam Mutiara Kehampaan terbangun sepenuhnya.

​WUUUNG!

​Sebuah pusaran lubang hitam berukuran satu meter mendadak tercipta tepat di atas kepala Lin Tian. Lubang hitam itu tidak memancarkan Qi, melainkan ketiadaan absolut—sebuah ruang di mana hukum alam semesta, bahkan petir dewa sekalipun, berhenti berlaku.

​BZZZZZTTT—ZHRAAASH!

​Guntur Kepunahan yang diklaim mampu membunuh dewa itu menghantam pusaran hitam tersebut. Tidak ada ledakan yang memekakkan telinga. Lubang hitam itu menelan petir hitam keemasan tersebut bagaikan monster raksasa yang menelan seekor ular kecil.

​Namun, meski Mutiara Kehampaan berhasil menyerap inti serangan, gelombang kejut dari benturan sisa energi dewa itu bocor dan menghantam tubuh Lin Tian.

​BAM!

​"GAHK!"

​Lin Tian memuntahkan darah dalam jumlah besar. Tubuhnya terhempas seperti daun kering yang diterjang angin topan, terbang melintasi udara sejauh ratusan meter dan menabrak pilar giok putih di tengah reruntuhan hingga pilar itu hancur berantakan.

​Lin Tian terkubur di bawah puing-puing batu giok. Asap mengepul dari tubuhnya. Pakaiannya hangus, dan retakan mengerikan terlihat di sekujur kulitnya yang sekeras baja suci, meneteskan darah berwarna keemasan.

​Untuk pertama kalinya sejak ia bangkit dari kematian, Lin Tian tidak bisa langsung berdiri. Tulang-tulangnya terasa seperti diremukkan menjadi debu.

​"Jangan mati dulu, Bocah," dengus entitas di dalam Mutiara Kehampaan, suaranya terdengar sedikit lelah setelah memblokir petir surgawi itu secara paksa. "Formasi sekte ini sudah rusak parah selama ribuan tahun, petir tadi bahkan tidak memiliki satu persen dari kekuatan aslinya. Jika tidak, jangankan tubuh fana-mu, sisa jiwaku pun akan lenyap!"

​Lin Tian batuk keras, memuntahkan sisa darah kotor dari paru-parunya.

​"Satu persen...? Menggelikan," Lin Tian tertawa serak di balik puing-puing, menahan rasa sakit yang luar biasa. Alih-alih takut, senyum gila terbentuk di wajahnya yang berlumuran darah. "Dunia ini... benar-benar menarik!"

​Ia segera memutar Inti Kehampaan di Dantiannya.

​Mutiara Kehampaan tidak hanya memblokir petir itu, tetapi juga memurnikannya. Seketika, aliran energi petir berwarna hitam keemasan yang telah dijinakkan dialirkan dari Mutiara Kehampaan ke dalam meridian Lin Tian.

​Bzzzt!

​Tubuh Lin Tian tersentak hebat. Energi petir surgawi itu mulai memperbaiki sel-selnya yang hancur, membakar kotoran terakhir di tulangnya, dan menyatukan dirinya dengan Qi Kehampaan. Sisa energi dari Esensi Sumsum Naga Bumi yang masih bersembunyi di sumsumnya ikut terpicu, mempercepat proses regenerasi tubuhnya hingga batas yang tidak masuk akal.

​Dalam waktu kurang dari satu jam, retakan di kulitnya menutup tanpa bekas. Kulitnya kini tidak hanya memancarkan pendaran perunggu gelap, tetapi juga kilatan listrik hitam keemasan yang samar.

​Lin Tian menendang puing-puing giok di atasnya hingga terpental, lalu berdiri tegak.

​Ia mengangkat tangan kanannya. Dengan satu jentikan pikiran, seberkas petir hitam keemasan menari-nari di sela-sela jarinya, memancarkan aura kehancuran yang sangat murni.

​"Guntur Kepunahan... Elemen baru untuk Inti Kehampaanku," Lin Tian menyeringai puas. Hukuman dewa justru memberinya senjata pembunuh yang baru.

​Setelah mengganti pakaiannya dengan jubah hitam cadangan dari cincinnya, Lin Tian mulai menjelajahi pulau melayang yang menjadi puing tersebut. Ia berjalan dengan lebih hati-hati, memastikan Mutiara Kehampaannya terus menyelimuti auranya agar formasi langit tidak lagi mendeteksinya sebagai penyusup.

​Pulau ini sangat luas, dipenuhi oleh tulang-belulang raksasa dan pedang patah. Tujuannya terhenti di depan sebuah bangunan kuno yang masih berdiri relatif utuh di bandingkan yang lain. Bangunan itu berbentuk pagoda segi delapan yang seluruhnya terbuat dari logam perak suci.

​Di atas pintu gerbangnya yang terbuat dari perunggu, terukir aksara dewa: Paviliun Pedang Bintang Jatuh.

​Hanya dengan berdiri di depan pintunya, Lin Tian bisa merasakan Niat Pedang (Sword Intent) yang sangat tajam dan purba memancar dari dalam, beresonansi dengan Logam Hitam Tanpa Nama di punggungnya.

​"Paviliun pusaka sekte dewa... Harta di dalamnya pasti jauh melebihi apapun di Benua Timur," mata Lin Tian berbinar.

​Ia mendorong gerbang perunggu itu dengan kedua tangannya. Pintu yang beratnya mencapai puluhan ton itu berderit terbuka perlahan, mengekspos kegelapan di dalamnya.

​Lin Tian melangkah masuk. Begitu kakinya melewati ambang pintu, obor-obor kristal biru di sepanjang dinding aula tiba-tiba menyala secara otomatis, menerangi ruangan yang luas itu.

​Di tengah aula bundar tersebut, tidak ada rak-rak buku atau deretan senjata seperti Paviliun Kitab Suci sekte biasa. Hanya ada satu pilar kristal di tengah ruangan, dan di atas pilar itu, melayang sebuah benda yang memancarkan cahaya redup.

​Namun, perhatian Lin Tian tidak tertuju pada harta itu, melainkan pada sesosok penjaga yang duduk bersila di depan pilar kristal tersebut.

​Itu bukanlah manusia, bukan pula kerangka. Itu adalah sesosok manusia mekanik—sebuah boneka (Puppet) berwujud ksatria yang seluruh tubuhnya terbuat dari logam biru keperakan. Boneka itu memegang sebilah pedang perak yang patah di bagian tengahnya.

​Begitu Lin Tian masuk, sepasang mata boneka logam itu menyala dengan cahaya biru terang. Ia perlahan bangkit berdiri. Terdengar suara roda gigi kuno bergesekan dari dalam persendiannya.

​"Aura tidak dikenali... Bukan murid Sekte Pedang Bintang Abadi..." Suara mekanis tanpa emosi bergema dari boneka itu, terdengar kuno dan berderit. "Protokol Pertahanan Aktif. Penyusup... Eksekusi."

​WUSSSHH!

​Udara di dalam paviliun mendadak meledak. Boneka logam itu menghilang dari tempatnya.

​Kecepatan yang gila! pupil Lin Tian menyusut. Ia tidak sempat berpikir. Insting bertarungnya langsung bereaksi. Lin Tian mencabut Logam Hitam Tanpa Nama dan menyilangkannya di depan dada.

​TRANGGGG!

​Pedang perak patah milik boneka itu menghantam pedang raksasa Lin Tian. Kekuatan benturannya begitu masif hingga Lin Tian tergelincir mundur melintasi lantai logam, meninggalkan percikan api yang menyilaukan. Lengan Lin Tian terasa kebas; kekuatan fisik boneka ini setara dengan Jiwa Nascent Awal!

​"Pertahanan yang bagus untuk sebuah mainan rongsokan!" raung Lin Tian.

​Ia menghentakkan kakinya untuk menghentikan laju mundurnya, lalu memutar pedang lima puluh ribu katinya dan membalas tebasan boneka tersebut secara horizontal.

​TRANG! TRANG! TRANG!

​Aula itu dipenuhi oleh suara dentingan logam yang memekakkan telinga. Kecepatan tebasan boneka itu seperti badai kilat, murni mengandalkan Niat Pedang yang diprogram ke dalam intinya tanpa menggunakan sedikit pun Qi. Setiap tebasannya merobek ruang, menciptakan celah dimensi kecil di udara.

​Lin Tian tidak mundur satu langkah pun. Ia mengayunkan pedang raksasanya secara brutal, membalas setiap serangan dengan agresi absolut.

​Namun, ia menyadari sesuatu. Logam Hitam Tanpa Nama yang biasanya mampu menyerap segala jenis Qi, kini tidak berguna karena boneka ini murni bergerak dengan mekanisme energi dari intinya. Bahkan tebasan biasa dari pedang hitamnya tidak mampu meninggalkan goresan di tubuh logam biru boneka tersebut.

​"Armornya terbuat dari logam dewa... Kekuatan fisikku saja tidak cukup untuk membelahnya," analisis Lin Tian sambil menangkis tebasan silang mematikan yang hampir menebas lehernya.

​Boneka itu tidak memiliki rasa lelah. Ia terus menyerang dengan presisi mesin pembunuh.

​"Teknik Pedang Bintang Jatuh: Hujan Meteorit!" suara mekanis boneka itu berbunyi.

​Boneka itu melompat ke udara, dan dari pedang patahnya, melesat ratusan proyeksi pedang cahaya yang menukik turun layaknya hujan meteor, menutupi seluruh sudut ruangan.

​Lin Tian mendengus dingin. "Kau memang terbuat dari baja surgawi, tapi di dalamnya, kau tetaplah sebuah mesin!"

​Lin Tian tidak mencoba menangkis hujan pedang itu. Ia menyarungkan kembali pedang raksasanya ke punggung!

​Lautan energi di Dantiannya bergolak liar. Lin Tian mengarahkan telapak tangannya ke atas.

​"Guntur Kepunahan: Jaring Ketiadaan!"

​BZZZZZTTTT!

​Petir hitam keemasan yang baru saja ia peroleh meledak dari telapak tangannya. Aliran listrik suci itu membentuk jaring raksasa di udara. Saat ratusan pedang cahaya itu menyentuh jaring petir tersebut, kekuatan pemusnah dari Guntur Kepunahan langsung menghancurkan Niat Pedang itu menjadi ketiadaan.

​Mata biru boneka itu berkedip-kedip saat melihat petir surgawi miliknya sendiri digunakan untuk melawannya.

​"Anomali terdeteksi... Menghitung ulang..."

​"Terlalu lambat menghitung!"

​Tiga Langkah Hantu Kehampaan!

​Lin Tian menghilang. Ia berteleportasi dan muncul tepat di udara, berhadapan wajah dengan boneka logam tersebut. Sebelum boneka itu bisa mengangkat pedangnya, Lin Tian meninju dada boneka itu dengan tangan kanannya yang dibalut penuh oleh Guntur Kepunahan dan Qi Kehampaan.

​BOOOOOOM! BZZZZT!

​Pukulan Lin Tian menghantam lempengan dada logam dewa tersebut. Ia memang tidak bisa menghancurkan logam eksteriornya, tetapi Guntur Kepunahan yang dialirkan melalui tinjunya langsung menembus masuk ke dalam sirkuit internal sang boneka!

​Petir hitam keemasan itu mengamuk di dalam tubuh mesin tersebut, merusak formasi inti kuno yang sudah tidak stabil karena usia.

​Tubuh boneka logam itu menegang kaku di udara. Mata birunya berkedip liar, sebelum akhirnya padam sepenuhnya dengan suara mendesis. Tubuh mekanis itu jatuh berdebum ke lantai, tak bergerak lagi seperti seonggok besi mati.

​Lin Tian mendarat dengan anggun di sampingnya, menghembuskan napas panjang.

​"Kuat sekali. Jika boneka rongsokan penjaga pintu saja sekuat ini, apa yang dihadapi para kultivator di masa kejayaan sekte ini?" gumamnya takjub.

​Lin Tian berjongkok dan membongkar pelat dada boneka tersebut. Di dalamnya, ia menemukan sebuah kristal berbentuk segi enam yang memancarkan cahaya biru murni—sumber energi dari boneka tersebut.

​"Batu Roh Surgawi," mata Lin Tian berbinar. Kepadatan energinya setara dengan seratus Inti Emas Puncak. Ia menyimpannya dengan senyum lebar. Benda ini akan menjadi kuncinya untuk menembus tahap Inti Emas Akhir.

​Setelah memastikan tidak ada lagi ancaman di aula tersebut, Lin Tian berjalan mendekati pilar kristal di tengah ruangan.

​Benda yang melayang di atas pilar itu bukanlah pil atau buku kuno. Melainkan sebuah Embrio Pedang—sepotong logam seukuran lengan bayi yang masih cair, memancarkan cahaya perak bintang dan aura ketajaman yang membuat jiwa Lin Tian bergetar.

​"Bahan material penempa pedang surgawi," bisik Lin Tian, matanya terpaku pada embrio itu. "Jika aku melebur ini dan menyatukannya dengan Logam Hitam Tanpa Nama..."

​Pedang raksasa di punggungnya berdengung hebat, memancarkan rasa lapar yang belum pernah terjadi sebelumnya.

1
Sang M
stop cerita. dancokkk
Sang M
tahi dancokkkkk
budiman
satu mawar 🌹
Raju
isi otak si mc... seperti penjahat beneran....🤣🤣🤣
Raju
habislah para pencari budak...
Raju
lin tian... adalah hantu yg sebenar benarnya...
Raju
badai akan segra tiba !!
Raju
kuat kuat kuaaaat....
perjlalnan aang mc tuk menuju kuat
Raju
waduh... bakal jadi bubur ni si mc kena petir dewa...🤣🤣
Raju
koid dah tuan muda arogan ..
Raju
master sekte kultivasinyabaja yg tinggi. tpi serakah. sama kea tetua lu... g tau benar dan salah.
sama sama sinting...!!
Raju
luar biasa...
inti emas awal melawan inti emas ahir....
Raju
dari bumi awal meroket ke inti emas pertama....
mantaaaab
Raju
joooooozzzz
Raju
kurang habis lin tian..
Raju
horeeeee.... naik tingkat lgi....
Raju
dua jenius beradu nasib....
Raju
perampok yg drampok..,
Raju
bente lgi lu cangkong jadi almarhum ..
Raju
bakal jadi murid inti no one ni...
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!