Xu Natalia, wanita yang diam-diam mengangkat keluarga Li dari rakyat biasa menjadi bangsawan, justru dihina saat suaminya, Li Adrian, pulang dari perang membawa istri lain. Tanpa banyak kata, ia memilih bercerai dan pergi hanya dengan harga dirinya.
Tak ada yang tahu wanita yang mereka remehkan adalah putri kaisar dari negeri seberang sekaligus ahli pengobatan yang mampu mengubah takdir.
Bagaimanakah saat keluarga Li tahu identitas Natalia?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yulianti Azis, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Syok Pagi-pagi
Mereka saling pandang, rasa cemas yang tadi sempat muncul perlahan berubah menjadi rasa penasaran.
”Kenapa pihak istana datang ke sini?” gumam Lusi pelan.
Namun tak butuh waktu lama, ekspresi mereka berubah.
Mata Karina tiba-tiba berbinar. ”Jangan-jangan Kak Andrian akan dinaikkan pangkatnya?”
Li Anna langsung menepuk tangannya pelan, wajahnya kembali berseri-seri. ”Bisa jadi! Mungkin menjadi Jenderal Tingkat Satu!”
”Benar!” sahut Lusi antusias. ”Akhir-akhir ini Andrian sering dipuji, bukan?”
Suasana yang tadinya tegang kini berubah penuh harapan.
Andrian yang mendengar itu langsung membusungkan dadanya, senyum tipis terukir di bibirnya. ”Mungkin saja, Bu,” ucapnya dengan nada percaya diri. ”Akhir-akhir ini aku memang sering menyelesaikan tugas dengan sangat baik.”
Li Anna mengangguk puas, seolah keyakinannya semakin kuat. ”Ibu sudah bilang, cepat atau lambat kamu pasti akan naik pangkat!”
Karina tertawa kecil, matanya penuh kebanggaan. ”Kalau itu benar, kita akan jadi keluarga paling terpandang di antara para bangsawan!”
Lilith yang tadi emosi langsung merasa sejuk, seolah disiram oleh air hujan. Tentu saja, jika suaminya naik pangkat, ia jga tentu semakin dipuji. ”Suamiku, kau memang sangat hebat. Aku benar-benar kagum padamu. Dalam lima tahun ini, kau benar-benar mengukir prestasi yang gemilang.”
Andrian semakin mengangkat dagunya tinggi-tinggi.
Lusi ikut mengangguk bersemangat. ”Benar! Kita tidak boleh membuat kesan buruk!”
Li Anna segera merapikan pakaiannya. ”Ayo, kita temui mereka. Jangan sampai tamu kehormatan kita menunggu terlalu lama.”
Mereka semua langsung bergegas keluar dari Paviliun Mawar, langkah mereka kini penuh percaya diri dan harapan besar.
Saat tiba di aula depan, mereka langsung menunduk hormat dengan rapi. Suasana yang tadinya penuh harapan berubah menjadi tegang dalam sekejap. Andrian mengangkat kepalanya perlahan, dan matanya langsung mengenali para tamu itu.
Mereka adalah prajurit pribadi milik Pangeran Yuhuang Tian, sang Pangeran Tiran. Jantung Andrian berdegup sedikit lebih cepat, firasat buruk menyusup ke dalam benaknya. Namun ia segera menepisnya, mencoba meyakinkan diri bahwa ini mungkin kabar baik.
Ia melangkah maju dengan sikap hormat, kedua tangannya tertangkup di depan dada. ”Tuan Wu Reno, suatu kehormatan Anda datang ke kediaman kami yang sederhana ini. Bolehkah saya tahu maksud kedatangan Anda?”
Wu Reno tidak langsung menjawab. Tatapannya dingin dan tajam, seolah menilai Andrian dari ujung kepala hingga kaki. Udara di sekitarnya terasa berat hanya karena sorot mata pria itu.
Tanpa basa-basi, Wu Reno akhirnya membuka suara. ”Segera kosongkan kediaman ini.” Suaranya datar, tetapi mengandung tekanan yang membuat siapa pun merinding.
”Kediaman ini telah dibeli oleh Pangeran Yuhuang Tian.”
Deg!
Jantung semua orang seakan berhenti sesaat. Li Anna, Karina, Lusi, Lilith, bahkan Li Bao langsung saling pandang dengan wajah tegang.
Andrian memaksakan senyum tipis, meski rahangnya mulai mengeras. ”Sepertinya saya salah dengar,” ucapnya hati-hati. ”Bisakah Anda mengulanginya sekali lagi, Tuan Wu Reno?”
Wu Reno tidak menunjukkan perubahan ekspresi sedikit pun. ”Kau tidak salah dengar. Kediaman ini telah dibeli oleh Pangeran Yuhuang Tian, dan Yang Mulia ingin tempat ini segera dikosongkan.”
Mata keluarga Li langsung membelalak. Namun anehnya, reaksi pertama yang muncul bukanlah ketakutan melainkan kegembiraan.
Li Anna menoleh cepat ke arah putranya dengan wajah berseri-seri. ”Andrian! Jadi kau menjual kediaman ini pada Yang Mulia Pangeran?” katanya penuh semangat. ”Apa kau sudah membeli kediaman baru yang lebih besar untuk kita semua?”
Karina menutup mulutnya dengan tangan, matanya berbinar. ”Pasti lebih megah dari ini! Kak Andrian memang luar biasa!”
Lusi pun mengangguk cepat, tersenyum lebar membayangkan kehidupan baru yang lebih mewah.
Lilith tak kalah gembiranya seolah ingin melompat, baru saja ia menjadi istri Andrian, keberuntungan bertubi-tubi datang kepadanya. Tidak sia-sia ia menggoda Andrian, pikirnya.
Tapi di tengah kegembiraan itu, wajah Andrian justru berubah pucat. Keringat dingin mulai muncul di pelipisnya. ”Tidak … aku tidak pernah menjual kediaman ini,” ucapnya cepat.
Senyum di wajah mereka langsung menghilang.
Li Anna mengerutkan keningnya dalam-dalam. ”Apa maksudmu? Jangan bercanda di saat seperti ini.”
Andrian menggeleng tegas, suaranya kini lebih serius. ”Aku tidak bercanda, Bu. Aku benar-benar tidak pernah menjualnya.” Nada suaranya membuat suasana kembali mencekam.
Wu Reno mendengus pelan, sudut bibirnya terangkat sinis. ”Tentu saja kau tidak pernah menjualnya,” katanya dingin. ”Karena kau memang bukan pemiliknya.”
Semua mata langsung tertuju padanya. Udara terasa semakin berat.
”Pemilik kediaman ini adalah Nona Natalia.”
Deg!
”Apa?!” seru mereka hampir bersamaan, suara mereka bercampur antara kaget dan tidak percaya.
Li Anna melangkah maju dengan wajah merah padam. ”Apa maksudmu?!” bentaknya. ”Kediaman ini milik putraku! Bagaimana mungkin perempuan itu menjualnya tanpa izin pemilik sah?!”
Wu Reno tidak menjawab dengan kata-kata. Ia hanya mengeluarkan sebuah gulungan dokumen dari balik lengan bajunya, lalu membukanya perlahan di depan mereka.
Di sana tertera jelas surat jual beli antara Natalia dan Pangeran Yuhuang Tian, lengkap dengan cap darah sebagai pengesahan.
Lilith segera melangkah maju, mencoba tetap tenang. ”Maaf, Tuan Wu Reno,” katanya dengan suara halus namun tegas. ”Ini adalah kediaman suami saya, Jenderal Andrian. Jika seseorang menjualnya, itu berarti ilegal. Kemungkinan besar Yang Mulia telah ditipu.”
”Benar!” sahut Lusi cepat, nadanya penuh keyakinan. ”Natalia memang licik sejak awal!”
Karina ikut menimpali dengan nada meremehkan. ”Perempuan itu pasti merencanakan semuanya!”
Namun di tengah tuduhan itu, Andrian justru berdiri membeku. Wajahnya pucat pasi, napasnya terasa berat.
Ingatan itu menghantamnya tanpa ampun. Surat kepemilikan memang masih atas nama Natalia. Dan semalam, dalam amarahnya, ia mengusir wanita itu tanpa memikirkan konsekuensinya.
Li Anna mengguncang lengannya dengan panik. ”Andrian! Katakan sesuatu!” desaknya. ”Bilang pada mereka bahwa kau pemiliknya! Natalia menjualnya secara ilegal!”
”Apa kalian meremehkan Yang Mulia Pangeran? Dan menganggapnya bodoh?” balas Reno telak.
Andrian tersentak, seolah baru tersadar dari mimpi buruk. Ia membuka mulut, tetapi tak ada kata yang keluar. Wajahnya berubah panik.
Wu Reno berdecak pelan, jelas tidak sabar. ”Apa Anda tidak ingin menjelaskan, Jenderal Andrian?” tanyanya dingin. ”Siapa pemilik asli kediaman ini?”
Keluarga Li mulai gelisah. Tatapan mereka berpindah antara Andrian dan Wu Reno.
Wu Reno kembali mengeluarkan gulungan lain. ”Jika kalian masih ragu, lihat ini.”
Ia membentangkan dokumen kedua di depan mereka. Di sana tertulis jelas, nama pemilik kediaman itu adalah Natalia dan ia adalah orang yang pertama membeli kediaman itu.
Semua orang membeku.
Li Anna kehilangan kekuatan di tubuhnya dan jatuh terduduk di lantai. Wajahnya pucat, matanya kosong.
Lilith menatap Andrian dengan gemetar. ”Bagaimana bisa?” suaranya nyaris berbisik. ”Bukankah ini milikmu? Kau yang membelinya.”
Wu Reno langsung menyela dengan nada tajam. ”Membelinya?” Ia menatap Lilith dengan dingin. ”Apa Anda tidak bisa membaca, Nyonya?”
Ia menunjuk dokumen itu tanpa ragu. ”Yang membeli kediaman ini sejak awal adalah Nona Natalia. Bukan Andrian.”
Duarr!
Seolah petir menyambar di pagi bolong itu 🤣🤣 syok pagi-pagi yak, wkwkwk
itu siapa punya hak
hadeh dasar ya kko manusia serakah