Di desa xixiang, seluruh penduduk tahu bahwa keluarga Zhao baru saja memungut seorang gadis kecil. Gadis itu berusia tiga tahun, berkulit putih dan bertubuh montok menggemaskan. semua orang berkata bahwa anak perempuan hanyalah beban merugikan. namun keluarga Zhao justru memperlakukan nya bagai permata berharga.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Salsabila mbil, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 26
Kawanan serigala itu awalnya membentuk lingkaran mengelilingi Zhang tie. Namun, tiba-tiba anak serigala kecil yang gelap itu mendengar suara dan lari lebih dulu, di ikuti oleh induk serigala. Lingkaran serigala itu pun memiliki celah.
"Xuan'er, apa yang terjadi?" mendengar suara Zhao Xuan, Zhao Heng bertanya.
Zhao Xuan buru-buru menjawab, "ayah, dua serigala itu seperti mendengar sesuatu dan lari. Mungkinkah A Bao sedang meniup peluitnya?"
Zhao Heng meremas tangannya dan berkata, "kamu kejar dan lihat, aku akan berjaga di sini."
Saat itu Zhao Xuan tidak memedulikan kondisi Zhao Heng yang buta. Sambil mengejar anak serigala, ia berteriak lantang, "ayah, aku tahu ayah hebat! Aku pergi menyelamatkan A Bao dulu."
Zhao Heng mendengus pelan mendengar ucapan putranya, "hebat?"
Kalau memang hebat, mengapa ia sampai kehilangan boneka gemuk itu?
" Tolong lepaskan aku, lepaskan aku! Aku akan bicara, aku akan jelaskan dari awal, aku akan tunjukkan jalannya, bagaimana? Tolong selamatkan nyawaku! "di dalam lingkaran serigala, Zhang tie terus bersujud ke arah Zhao Heng hingga kepalanya berdarah.
Zhao Heng masih berdiri kaku seperti pohon pinus. Ia menggerakkan matanya yang kosong, lalu mencibir dingin.
Zhang tie buru-buru menceritakan duduk perkaranya.
" Aku tidak tahu kalau setelah kubuang peluit bambu itu, dia akan ikut berlari mengejar. Aku tidak berniat menangkapnya, aku hanya ingin menangkap anak keluarga Jiang. Anak itu tidak punya ayah dan ibunya sudah meninggal. Aku hanya ingin menangkap dan menjualnya. Wang jinya bilang, tuan Wang di kota kabupaten sedang mencari pekerja anak, jadi.... "
Saat Zhang tie menyebut nama Wang jinya, ucapannya tiba-tiba terhenti.
Wang jinya.... Semua orang mengira Wang jinya sedang sibuk bekerja di luar... Padahal, sudah hampir sebulan Wang jinya menghilang.
Seandainya... Wang jinya tidak pergi bekerja?
Seandainya... Wang jinya juga sudah diurus oleh keluarga Zhao?
Memikirkan kemungkinan itu, keringat dingin di punggung Zhang tie membasahi pakaiannya.
" Kau bilang... Apa? "Zhao Heng berdiri di sana, suaranya semakin menyeramkan," kau bilang kau membuang peluitnya? "
Zhang tie mengangguk gemetar. Setelah mengangguk, ia teringat Zhao Heng tidak bisa melihat, ia pun tergagap, "Aku... Aku tidak tahu dia begitu peduli pada peluit itu. Dia, dia sendiri yang mengejar peluit itu. Dia sendiri yang jatuh... Ahh!"
belum selesai Zhang tie bicara, pria yang tadinya berdiri tidak jauh itu bergerak mendekatinya dengan kecepatan luar biasa. Saat ia berjalan, kawanan serigala bahkan memberi jalan untuknya. Ia berjalan begitu akurat mengikuti suara, berhenti tepat di depan Zhang tie, lalu .... Mengangkat kaki dan menginjak tangan Zhang tie dengan keras.
Zhang tie menjerit mengerikan, membuat kawanan serigala sedikit mundur.
"Hanya karena kau tinggal di desa terpencil ini, di tempat yang jauh dari penguasa, kau pikir kau bisa berbuat seenaknya terhadap putriku?"kaki Zhao Heng menginjak tangan Zhang tie dengan kejam, hingga wajah Zhang tie memutih.
"Tolong... Tolong...." suara Zhang tie semakin melemah.
Zhao Heng tidak menunjukkan belas kasihan.
"K-kalau kamu berani membunuhku, keluarga ku tidak akan melepaskanmu. Mereka pasti akan melapor ke hakim daerah." teriak Zhang tie, mengumpulkan sisa napas terakhirnya ke arah Zhao Heng.
"Keluarga?" Zhao Heng mengangkat alisnya, wajahnya dipenuhi ejekan, "istrimu sendiri sangat berharap kau mati karena kau mencekik putrimu. Orang tuamu punya anak laki-laki lain yang jauh lebih sukses darimu. Hari ini meskipun kau mati disini, itu memang nasibmu. siapa suruh kau menyentuh putriku?"
Setelah mengatakan itu, telinga Zhao Heng tiba-tiba bergerak sedikit. Ia akhirnya mengangkat kakinya. Namun sebelum Zhang tie sempat bernapas lega, ia langsung di seret oleh kawanan serigala yang meraung dan menghilang ke dalam hutan lebat.
sampai keheningan kembali, barulah Zhao Heng berbalik. Ia memegang tongkatnya, melangkah perlahan demi perlahan, mengikuti arah suara.
***
Di bawah lereng curam itu, pergelangan tangan kanan A Bao terkilir. Ia memegang peluit bambu dengan tangan kirinya dan terus meniupnya. Di sampingnya Jiang Ting sudah pingsan. Untungnya, saat mereka berguling ke bawah, lereng curam itu dilapisi dengan rumput tebal. Sehingga mereka tidak sampai berdarah.
Tangan kecil A Bao yang gemuk memegang erat peluit bambu itu. Sambil meniup, air matanya jatuh berderai.
Ini adalah peluit bambu kecil buatan ayahnya. Ia melihat sendiri, melihat jari ayahnya tergores pisau hingga berdarah demi membuat peluit ini.
A Bao meniup peluit bambu itu dengan sekuat tenaga, tetapi tidak ada respon selama beberapa waktu.
Ia takut. Ia hanya bisa merangkak mencari kakak kecil yang pingsan di sampingnya.
A Bao menggunakan tangan kirinya untuk mencubit titik Renzhong (Titik di bawah hidung) Jiang Ting berkali-kali. Ini adalah metode yang diajarkan ibunya. Setelah lama mencubit hingga ia kehabisan tenaga, tiba-tiba Jiang Ting membuka matanya.
Melihat A Bao tidak terluka parah, Jiang Ting memejamkan mata sejenak, lalu berkata dengan suara lemah, "A Bao, sepertinya aku sedang berbaring di atas sesuatu, rasanya sakit dan mengganjal."
Jiang Ting berusaha keras membalikan badannya. Benda yang mengganjal di bawah itu terlalu tebal, rasanya seperti dua batu besar.
Mendengar Jiang Ting mengeluh sakit,A Bao tidak bisa membantu. pergelangan tangan kanannya terkilir dan membengkak. Kedua anak itu hanya bisa bergerak pelan dan canggung dengan cara mereka sendiri.
Meskipun mereka tidak berdarah saat berguling menuruni lereng curam, ada banyak luka lecet yang besar dan kecil di tubuh mereka. Begitu Jiang Ting berhasil membalikkan badan dan bersandar pada batu, barulah ia melihat benda yang tadinya menindihnya.
Dengan pandangan kosong, ia menyingkirkan rumput kering yang menyelimuti mereka, dan melihat jamur Lingzhi seukuran tangan tumbuh di sana. Jiang Ting hanya melihat sekilas, lalu dengan cepat ia menutupi Lingzhi itu kembali dengan rumput. Setelah itu, ia mengangkat tangannya dan memijat pergelangan tangan A Bao dengan lembut. Akhirnya, tangan kiri A Bao pun tidak sanggup lagi memegang. Ia hanya bisa membiarkan Jiang Ting memegang peluit bambu itu di dekat mulutnya, lalu ia menggembungkan pipinya dan meniupnya kuat-kuat.
"Tidak ada orang, tidak ada anak serigala, aku tidak akan bertemu ayah, ibu dan kakak lagi, Huwaaaaaaa...... Aku ingin makan.... ingin makan kue buatan bibi," A Bao sangat sedih. Ia merasa akan mati.
"Jangan menangis," Jiang Ting mengusap air mata si kecil. Ia menarik baju luarnya, bersiap melingkarkan nya dan perlahan menarik A Bao untuk memanjat ke atas.
Tepat, saat ia selesai mengikatkan baju itu, tiba-tiba terdengar gerakan dari semak-semak di atas.
Jiang Ting mendongak dengan waspada, dan melihat dua telinga kecil berbulu bergerak-gerak.
Ia menahan napas dan baru saja ingin memanggil A Bao, ketika Detik berikutnya, sepasang mata hijau tiba-tiba mendekat. Seekor serigala besar yang gagah sedang menggigit seekor anak serigala, muncul di depan kedua anak itu.
Jiang Ting seketika melindungi A Bao. matanya menatap tajam ke arah dua serigala itu.
"Itu anak serigala, itu anak serigala." seru A Bao gembira.
Serigala besar itu melepaskan anak serigala yang di gigitnya. anak serigala kecil yang gelap itu menggerakkan tangan kecilnya,lalu mendekat ke sisi A Bao.
Serigala besar itu membuka mulutnya,bersiap menggigit A Bao. Namun sebelum mulutnya yang besar terbuka, sebuah suara dingin yang sedikit bergetar terdengar dari atas, "A Bao?"
"Ayah?"