NovelToon NovelToon
Janji Di Atas Kertas

Janji Di Atas Kertas

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / CEO / Dunia Masa Depan
Popularitas:2k
Nilai: 5
Nama Author: Neng Wendah

Di depan kamera, Aura Zhafira adalah presenter TV yang selalu tersorot lampu studio. Namun di balik layar, sebuah krisis memaksa Aura menandatangani perjanjian rahasia dengan Reno Adhyastha CEO dingin yang paling benci sorotan media.

Pernikahan mereka hanyalah transaksi dingin di atas kertas dengan aturan ketat: tanpa perasaan dan harus rahasia dari publik.

Namun, saat dua manusia dari dunia yang bertolak belakang ini dipaksa tinggal satu atap, akankah batas di atas kertas itu tetap bertahan? Atau justru akankah akan tumbuh rasa di antara mereka?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Neng Wendah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

~ Satu Kamar Di Kediaman Menteng

Sabtu pagi yang cerah menyelimuti kawasan elit Menteng. Deru halus mobil Alphard hitam yang dikendarai oleh Reno perlahan memasuki pekarangan luas kediaman besar keluarga Adhyastha. Pepohonan rindang yang hijau asri dan gemericik air mancur di halaman depan memberikan nuansa tenang, megah, dan berkelas pada rumah berarsitektur kolonial tersebut.

Aura merapikan gamis rumahan berwarna pink lembut dan hijab senada yang dikenakannya. Ia mengambil napas dalam-dalam, mencoba menguasai dan menetralisir rasa gugup yang mendadak kembali menyergap dadanya saat mobil mulai berhenti sempurna.

"Sudah siap?" tanya Reno seraya mematikan mesin mobil. Pria itu menoleh, menatap Aura dengan pandangan mata yang jauh lebih lembut dan tenang dari biasanya.

Aura mengangguk pelan seraya mengumbar senyum tipis yang manis. "Siap. Mari kita berikan penampilan dan kerja sama terbaik untuk Nenek hari ini."

Begitu mereka berdua melangkah keluar dari mobil, Nenek Ratna sudah berdiri di teras utama dengan senyuman lebar yang sangat jarang diperlihatkan kepada orang lain. Kehadiran Aura tampaknya benar-benar membawa warna baru, kehangatan, dan keceriaan di rumah tua yang biasanya terkesan sepi dan kaku tersebut.

"Selamat datang, Cucu-cucu Nenek!" sapa Nenek Ratna dengan nada suara yang penuh kerinduan.

Aura menyambut uluran tangan wanita tua itu dengan penuh takzim, membungkuk dan mencium punggung tangannya dengan sangat santun. "Selamat pagi, Nenek. Maafkan kami ya kalau baru sampai jam segini."

"Tidak apa-apa, Aura sayang. Yang penting kalian sudah sampai dengan selamat dan sehat," puji Nenek Ratna tulus, lalu mengusap lembut pipi mulus Aura. "Pelayan sudah selesai menyiapkan kamar utama untuk kalian di lantai dua. Itu kamar masa kecil Reno yang sudah dirapikan total dan dihias ulang."

Dada Aura seketika berdesir hebat. Kamar utama? Itu artinya mereka berdua harus tidur dan menghabiskan malam di dalam satu ruangan yang sama tanpa ada sekat pembatas!

Reno yang sangat peka menyadari perubahan raut wajah dan keterkejutan Aura, dengan cepat merangkul pinggang Aura dari samping. Pria itu menarik tubuh Aura mendekat ke sisinya secara alami dengan gestur seorang suami yang protektif. "Terima kasih banyak, Nenek. Kami akan membawa koper pakaian ke atas terlebih dahulu."

Pintu kamar berukir kayu jati tebal di lantai dua itu terbuka perlahan. Kamar utama tersebut begitu luas, bernuansa klasik modern dengan dominasi warna krem dan pencahayaan bernuansa warm yellow yang hangat. Namun, perhatian utama Aura seketika tertuju pada sebuah tempat tidur berukuran *king size* yang terletak di tengah-tengah ruangan, lengkap dengan kelopak bunga mawar merah yang ditata rapi oleh pelayan di atas seprai putih bersih.

Aura terpaku kaku di tepi tempat tidur, matanya membelalak pelan melihat dekorasi kamar yang terkesan sangat romantis itu.

Klik.

Reno mengunci pintu kamar dari dalam, lalu meletakkan dua koper pakaian mereka di dekat lemari pakaian besar. Pria itu melepas jas mewahnya, melipat lengan kemeja putihnya hingga ke siku, lalu menoleh menatap Aura yang masih membeku.

"Nenek sepertinya sengaja meminta pelayan menata kamar ini seperti kamar pengantin baru," ujar Reno datar, meski ada nada canggung dan salah tingkah yang tipis di balik suaranya.

Aura membalikkan badan, menatap Reno dengan raut bingung. "Lalu... bagaimana dengan nanti malam, Reno? Kasurnya hanya ada satu di kamar ini."

Reno melangkah mendekati tempat tidur, menatap kasur empuk berukuran besar itu. "Kamu bisa tidur di atas tempat tidur. Saya akan tidur di sofa panjang di dekat jendela itu."

Aura melirik sofa kulit berwarna cokelat tua di sudut ruangan. Walaupun terlihat tebal dan mewah, sofa itu tentu tidak akan cukup panjang dan nyaman untuk menopang tubuh Reno yang tinggi tegap sepanjang malam.

"Tidak perlu seperti itu, Reno," cegah Aura lembut. "Ukuran tempat tidur ini sangat luas. Jika kita tidur di sisi yang saling berlawanan dan menggunakan bantal guling pembatas di tengah, rasa-rasanya itu jauh lebih manusiawi daripada kamu harus menekuk kakimu di sofa semalaman."

Reno menatap mata Aura yang jernih dan polos. Ada sorot keraguan di mata sang CEO, namun keikhlasan dan ketulusan di raut wajah Aura membuat Reno akhirnya mengangguk pelan.

"Baiklah... kalau itu memang tidak mengganggumu," jawab Reno pelan.

Malam harinya, setelah acara makan malam keluarga yang penuh dengan gelak tawa dan cecaran pertanyaan memojokkan dari Nenek Ratna soal rencana liburan *honeymoon*, mereka berdua akhirnya kembali ke dalam kamar untuk beristirahat.

Suasana di dalam kamar terasa sangat hening dan hangat. Hujan gerimis di luar jendela makin menambah nuansa syahdu di dalam ruangan luas tersebut. Aura sudah mengganti pakaiannya dengan baju tidur rumahan berlengan panjang berwarna pink pastel, duduk bersandar di sisi kanan tempat tidur seraya membaca sebuah buku novel. Sementara Reno duduk bersandar di sisi kiri, fokus menatap layar tablet kerjanya.

Di antara mereka berdua, terbentang dua buah bantal guling tebal yang sengaja ditata menjadi batas suci kesepakatan mereka.

Aura melirik profil samping wajah Reno yang tegas di balik pendar cahaya tablet. "Reno..." panggil Aura pelan, memecah kesunyian malam.

Reno mematikan layar tabletnya dan meletakkannya di meja nakas. Ia menoleh penuh perhatian menatap Aura. "Ya? Ada apa? Kenapa kamu belum tidur?"

"Nenek tadi cerita banyak soal masa kecilmu saat kita di meja makan," kata Aura lembut, memberanikan diri membuka obrolan dari hati ke hati. "Kata Nenek, kamu dulu adalah anak yang sangat ceria, hangat, dan suka tersenyum. Kenapa... sekarang kamu bersikap begitu dingin, kaku, dan tertutup pada semua orang?"

Reno tertegun sejenak mendengar pertanyaan itu. Pandangan matanya menerawang menatap langit-langit kamar, mengingat kembali kenangan masa lalu yang sudah belasan tahun ia kubur rapat-rapat.

"Setelah kedua orang tuaku meninggal dunia dalam kecelakaan tragis belasan tahun lalu, dunia bisnis yang keras tidak memberi saya ruang sedikit pun untuk menjadi lemah atau bersikap ramah," jawab Reno, suara beratnya mengalun dalam, jujur, dan sarat akan kerinduan. "Banyak pihak yang ingin menjatuhkan Adhyastha Group saat itu. Saya harus membangun benteng yang tinggi, kokoh, dan dingin agar tidak ada satu orang pun yang bisa memanfaatkan kelemahan saya."

Aura menatap Reno dengan sorot empati, rasa haru, dan keprihatinan yang mendalam. Di balik kepopuleran, kekayaan melimpah, dan nama besar Adhyastha Group yang disegani, ternyata pria tegap di sampingnya ini menyimpan luka kesepian yang begitu besar di dalam hatinya.

Tanpa sadar, Aura mengulurkan tangannya menembus batas bantal pembatas di antara mereka. Ia menyentuh dan mengusap pelan jemari tangan Reno yang terbaring kaku di atas seprai.

"Menjadi kuat itu sangat penting, Reno..." bisik Aura lembut dengan tatapan mata jernih yang menyejukkan jiwa. "Tapi kamu tidak harus terus-menerus menanggung seluruh beban berat itu seorang diri di dalam kegelapan. Mulai sekarang, jika kamu merasa lelah, kamu bisa berbagi cerita dan keluh kesah denganku."

Sentuhan halus dan kata-kata tulus dari Aura itu seketika meruntuhkan sisa-sisa benteng pertahanan dingin di dalam hati Reno. Pria berhati es itu menggenggam balik jemari hangat Aura dengan erat, menatap dalam-dalam ke dalam manik mata wanita yang kini resmi menjadi istrinya tersebut.

"Terima kasih banyak, Aura..." bisik Reno pelan, suaranya sarat akan kehangatan yang amat tulus dan mendalam.

Malam itu, di bawah naungan kamar tua kediaman Menteng, dua insan yang berawal dari selembar kertas perjanjian kesepakatan bisnis perlahan mulai menyatukan rasa dan perasaan yang tak lagi bisa dimanipulasi oleh logika semata.

1
Rian Moontero
mampiiirr👍
Neng Wendah: Terima kasih banyak Kak Rian sudah mampir! Selamat menikmati kisahnya ya 😊🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!