Velix Purnama umur 26tahun seorang pekerja kantoran tanpa sengaja kembali ke masa lalu saat dia masih menduduki bangku SMP.
"Dengan sistem aku akan mengejar apa yang menjadi mimpiku", ujar Velix
bagaimana kisah Velix menjadi legenda sepakbola mari kita saksikan bersama sama!!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wawan wan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 20: Tarian Penyihir di Tengah Badai
BAB 20: Tarian Penyihir di Tengah Badai
Dua gelandang bertahan SMP 21 menerjang dari sisi kiri dan kanan bagaikan sepasang jepitan besi. Mereka tidak berniat merebut bola dengan bersih; lengan mereka terentang, siap menjatuhkan Velix demi menghentikan transisi mematikan Tim Merah Marun.
Penonton di tribune menahan napas. Pelatih SMP 21 bahkan sudah berteriak, "Sikat! Jangan kasih lepas!"
Namun, di bawah kendali Cold-Blooded Mentor milik Lampard, detak jantung Velix justru melambat. Otak dewasanya telah memproses situasi ini dalam hitungan milidetik. Alih-alih memaksakan adu fisik yang pasti akan kalah, Velix memanfaatkan momentum kecepatan lawan yang terlalu menggebu-gebu.
Tepat sebelum kedua tubuh kekar itu menghimpitnya, Velix menarik bola mundur menggunakan sol sepatu kanannya, lalu dengan gerakan sehalus sutra, dia mendorong bola ke arah kiri menggunakan bagian dalam kaki yang sama.
La Croqueta!
Sebuah gerakan dribel ikonik yang biasa diperagakan Andrés Iniesta. Tubuh Velix meliuk melewati celah sempit di antara kedua gelandang tersebut.
Bruk!
Kedua pemain SMP 21 justru saling bertubrukan dengan keras karena Velix sudah tidak ada lagi di koordinat semula. Mereka terjatuh bersamaan, sementara Velix melesat maju membawa bola ke area sepertiga akhir lawan.
"Luar biasa! Gerakan yang sangat elegan dari nomor 11!" teriak seorang komentator amatir yang menggunakan pengeras suara di pinggir lapangan. Tribune suporter Merah Marun seketika pecah dalam gemuruh sorakan.
Lini belakang SMP 21 panik. Dua bek tengah mereka terpaksa keluar dari sarangnya untuk menutup ruang tembak Velix.
Sisi serius dan fokus Velix mendikte bahwa inilah saatnya melepas pukulan mematikan. Dia melihat striker utama Merah Marun melakukan lari diagonal ke arah kanan, memancing satu bek ikut bergeser. Namun, mata visioner Velix justru menangkap pergerakan Ryan—yang entah sejak kapan sudah berlari kencang dari lini kedua di sisi kiri yang kosong melompong.
Menggunakan akurasi operan yang telah menembus angka 46.5, Velix melakukan tendangan tipuan mata (no-look pass). Wajahnya menatap ke kanan, namun kaki kanannya mengiris bola ke arah kiri dengan umpan mendatar yang sangat deras.
Sret!
Bola membelah rumput stadion, melewati kolong kaki bek lawan, dan mendarat tepat di jalur lari Ryan.
"Ryan! Tembak!" teriak Danu dari belakang.
Ryan yang biasanya kikuk, kali ini tidak menyia-nyiakan umpan manja dari sang jenderal. Tanpa menghentikan bola, dia melepaskan tembakan first-time kaki kiri yang menyilang tajam.
Breeettt!
Bola menghujam deras ke pojok kanan gawang SMP 21 tanpa bisa dijangkau oleh kiper mereka yang sudah mati langkah.
Gol! Skor berubah menjadi 1-0 untuk keunggulan Tim Merah Marun di menit ke-18!
Stadion Mini Jakarta Timur berguncang hebat. Ryan berteriak histeris, berlari ke pinggir lapangan sambil melakukan selebrasi meluncur dengan lututnya, sebelum akhirnya ditubruk oleh seluruh pemain Merah Marun.
Pak Joko mengepalkan kedua tangannya ke udara, berteriak puas. "Bagus sekali! Persis seperti taktik kita!"
Di tengah lingkaran perayaan, Velix tersenyum hangat, menepuk kepala Ryan dengan bangga. "Eksekusi yang gila, Yan. Lu hebat."
"Umpan lu yang di luar nalar, Vel!" balas Ryan dengan napas terengah-engah dan mata berkaca-kaca karena bangga.
Saat kembali ke lingkaran tengah, Velix berpapasan dengan Reyhan. Striker monster itu menatap Velix dengan wajah yang tidak lagi meremehkan. Ada gurat frustrasi di matanya karena selama hampir dua puluh menit laga berjalan, dia tidak mendapatkan satu pun pasokan bola yang matang akibat lini tengah mereka yang sepenuhnya diisolasi oleh Velix dan Danu.
"Gua akui lu punya otak," desis Reyhan, giginya menggertak. "Tapi pertandingan ini masih panjang, bocah."
Velix menatap Reyhan dengan pandangan sedingin es. Mode monsternya kembali aktif seiring peluit wasit berbunyi untuk memulai kembali pertandingan.
[Notifikasi Sistem: Kontribusi Assist Terdeteksi.]
[Tingkat Konversi Peluang Reyhan saat ini: 0% (Target Bonus Misi berjalan sempurna).]
Cetak biru menuju gelar juara kini telah mengukir goresan pertamanya di papan skor. Velix Purnama tidak akan membiarkan raksasa mana pun merebut trofi yang sudah berada di depan matanya.