Rosa Evalina, hanya seorang anak pelayan yang menggantikan Ibunya menjadi pelayan di rumah keluarga Hartanto. Lalu, tiba-tiba anak dari majikannya meminta dia untuk menggantikannya dalam sebuah perjodohan. Tidak bisa menolak, akhirnya dia terjebak dalam permainan sandiwàra ini.
"Seharusnya aku tidak pernah jatuh cinta padamu, karena nyatanya kamu tetap tidak akan di takdirkan untukku"
Sementara Albyan Danuel, seorang pria tampan yang sudah matang. Memiliki pribadi yang hangat, lembut dan sopan. Dia yang tidak pernah mengenal cinta, akhirnya menemukan perempuan yang membuatnya nyaman. Namun, apa yang akan terjadi ketika dia tahu jika perempuan itu hanyalah seseorang yang bersandiwara?
Bisakah mereka bersama dalam kisah yang berliku, tentang cinta yang dimulai dari sandiwara?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nita.P, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bersikap Memalukan
Tangan Eva sudah bergetar di bawah meja, senyuman pria itu begitu ramah dan sopan. Namun ini yang semakin membuatnya akan kesulitan untuk melakukan apa yang di ucapkan Laila tadi.
"Em, ti-tidak kok Mas Byan, saya juga baru sampai"
Byan tersenyum, menatap Eva dengan alis terangkat. Pertama kali ada yang memanggilnya dengan sebutan Mas. Rasanya aneh, namun cukup membuat hatinya berdesir tak menentu.
"Aku sudah pesan makanan, kalau misalkan ada yang tidak kamu suka, bilang saja dan pesan yang lain" ucap Byan saat pelayan masuk membawa makanan pesanannya.
Eva mengangguk dengan tersenyum tipis, dia mulai mengendalikan dirinya sekarang. Kembali mengingat ucapan Laila tadi.
"Kamu harus bersikap memalukan, terus harus terlihat sangat matrealistis juga. Pokoknya harus buat pria itu tidak suka"
Eva menatap Byan yang masih menunjukan senyumannya, saat melangkah masuk ke dalam ruangan ini tadi, Byan sedikit tertegun, melangkah dengan ragu untuk mendekat pada wanita yang sudah duduk menunggunya.
"Em, maaf ya Mas Byan, aku merasa gerah"
Eva sedang memulai aksinya, dia mengipaskan tangannya ke arah wajah dengan mengibaskan rambutnya ke belakang. Mengangkat kaki dengan membuka sepatu hak tingginya, duduk bersila di atas sofa. Hal yang tidak mungkin dilakukan perempuan saat bertemu dengan pria yang di jodohkan.
Baiklah, seperti ini pasti sudah membuatnya jijik padaku.
Terlihat wajah Byan cukup tertegun, satu alisnya sampai terangkat. Namun, akhirnya dia kembali bersikap biasa saja. "Apa AC disini kurang bagus? Sialan Bayu, Restoran macam apa yang pendingin ruangannya rusak"
Eva langsung tersenyum masam, dia lupa jika di ruangan ini menggunakan pendingin ruangan. Tapi dia malah beralasan sedang kepanasan.
Tidak, harus lebih natural lagi, Eva. Ayolah, segera akhiri makan malam ini.
Saat melihat makanan di meja, Eva mulai mempunyai ide lain untuk membuat Byan tidak suka padanya. Sebuah steak tenderloin di atas piring lengkap dengan garpu dan pisau. Eva sedikit memiringkan bibirnya, berpikir apa yang harus dia lakukan lagi. Dan akhirnya dia memilih mengambil potongan steak daging itu dengan tangannya, menggigitnya langsung tanpa memotongnya.
Byan terdiam, tentu wajahnya terkejut. Namun akhirnya dia tertawa. Sebuah tawa yang renyah, manis, dan menambah ketampanannya. Eva yang malah melongo sekarang dengan daging steak yang masih di tangannya dan mulutnya, masih belum selesai dia gigit.
"Kamu tidak bisa memotongnya? SIni biar aku yang bantu memotongnya" ucap Byan dengan lembut. "Simpan lagi dagingnya. Haha"
Eva akhirnya menyimpan kembali daging itu di atas piring yang langsung di ambil alih oleh Byan. Pria itu membantu memotong daging itu untuk lebih kecil dan mudah di makan. Lalu kembali menyimpan piringnya di depan Eva. Byan mengambil beberapa lembar tisu di atas meja, dia meraih tangan Eva dan membersihkannya menggunakan tisu dengan lembut.
Disini, Eva hanya terdiam. Wajahnya memerah tanpa sebab, jantungnya berdebar tanpa henti. Hanya bisa terdiam sambil menatap apa yang sedang dilakukan oleh Byan.
Pria ini benar-benar baik dan bersikap sangat sopan. Tapi, kenapa Nona Muda tidak mau ya?
"Makanlah, sekarang sudah mudah untuk memakannya"
Eva mengangguk, niat hati ingin membuat Byan malu dengan sikapnya, tapi malah Eva sendiri yang malu dengan sikap dia sendiri.
"Oh ya, bagaimana kabar Om Hartanto?"
"Em, Tuan ba- Eh maksudnya, Papa baik"
Byan tersenyum, dia masih santai memakan makanannya. "Kapan-kapan aku akan berkunjung"
Eva tersenyum masam, bagaimana ceritanya Byan malah ingin berkunjung ke rumah Laila. Sementara Eva sudah mencoba mempermalukan diri sendiri agar pria itu tidak mau melanjutkan perjodohan ini.
"Em, Mas Byan apa kita hanya akan makan malam saja hari ini?"
Byan mendongak, menatap Eva dengan alis terangkat bingung. "Memangnya mau kemana? Apa ada tempat yang ingin kau kunjungi?"
Eva memegang garpu dengan erat, tangannya sudah gemetar sebelum dia berani melontarkan apa yang ada di pikirannya saat ini. Tapi, ini hanya untuk membuat Byan membatalkan perjodohan ini.
"Apa kita tidak akan mampir dulu ke Hotel? Bukankah itu akan menyenangkan" ucap Eva sambil tersenyum dengan menggigit bibir bawahnya, menunjukan wajah seksi menggoda. Meski tangannya gemetar tak karuan.
Ya Tuhan, aku benar-benar bisa melakukannya? Sudah seperti wanita bayaran saja.
Byan menatap Eva dengan lekat, lalu suara dentingan dari piring membuat matanya melirik ke arah tangan Eva yang memegang garpu dengan gemetar, sampai menimbulkan suara garpu dan piring yang beradu.
Byan tersenyum, dia menyandarkan tubuhnya di sofa. Menatap Eva dengan bersidekap dada santai. "Boleh juga, mau Hotel mana? Sepertinya memang kita harus lebih mengenal dan langsung ke Hotel saja"
Hah Apa?
*
Langkah kaki Eva gemetar saat dia turun dari mobil, bahkan beberapa kali hampir terjatuh karena pijakan kakinya yang tidak pas saat menggunakan sepatu hak tinggi ini. Ketika masuk ke Lobby Hotel, tangan Eva mengepal dengan gemetar kuat.
Ya Tuhan, kenapa jadi seperti ini? Nona Laila, tolong aku.
Byan berjalan lebih dulu ke meja resepsionis, ekor matanya melihat bagaimana cara Eva berjalan, wajahnya yang pucat. Beberapa kali gadis itu hampir terjatuh karena salah pijakan. Byan tersenyum, merasa lucu dengan ekspresi takut dan cemas dari gadis itu.
"Ayo berpikir Eva, jangan sampai kau beneran masuk ke kamar Hotel bersamanya"
Eva menatap Byan yang melangkah ke arahnya, sebisa mungkin dia menunjukan senyuman dan wajah yang biasa saja. Meski wajahnya yang pucat tidak bisa di tutupi lagi. Dia takut saat ini.
"Aku tiba-tiba ada telepon pekerjaan, sepertinya harus mengundur waktu dulu. Nanti setelah pertemuan ini, aku pasti akan mengajakmu ke Hotel ini lagi"
Napas Eva terasa lega saat mendengarnya. Dia tersenyum pada Byan. "Tidak papa Mas, pergi saja. Aku akan di jemput sopir kok"
"Ah baiklah, maaf karena tidak bisa mengantarmu pulang" ucap Byan, dia mengusap pelan kepala Eva sebelum pergi.
Sementara Eva masih terdiam, tertegun dengan apa yang dilakukan Byan padanya sebelum pergi. Dia memegang kembali puncak kepalanya yang tadi di usap oleh Byan, rasa hangat tangannya masih terasa.
"Kenapa dia harus mengusap kepalaku? Ah, apa aku gagal ya? Tidak!" Eva langsung menggelengkan kepalanya, membantah ucapannya sendiri. "Mana mungkin dia masih mau melanjutkan perjodohan dengan wanita sepertiku. Aku sudah bertingkah memalukan sebisa mungkin"
Eva mengambil ponsel di tasnya, menghubungi Laila untuk menjemputnya di Hotel ini. Saat Laila datang, dia terkejut karena Eva berakhir berada di sebuah Hotel.
"Kenapa bisa disini? Dia tidak melakukan apapun padamu 'kan Ev?"
"Tidak, karena dia keburu ada pekerjaan. Untunglah aku selamat"
"Sudah kamu pastikan kalau dia tidak akan melanjutkan perjodohan ini?"
"Aku yakin dia tidak mungkin mau melanjutkan, aku sudah bersikap sangat memalukan di depannya"
"Bagus"
Mobil melaju meninggalkan kawasan Hotel, keduanya menghela napas panjang. Berharap rencana mereka berdua memang berjalan lancar.
Bersambung