NovelToon NovelToon
Arkaholic

Arkaholic

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikahmuda / Kehidupan di Sekolah/Kampus / Dijodohkan Orang Tua / Perjodohan
Popularitas:1.6k
Nilai: 5
Nama Author: siyunr

Satu sekolah tahu Lintang Gentariana adalah gadis paling gigih yang setiap hari memanggil nama Arka—atlet pencak silat kebanggaan sekolah yang sedingin es.

Dua tahun cintanya bertepuk sebelah tangan, sebuah wasiat tiba-tiba memaksa mereka menikah secara rahasia di bangku SMA.

Lintang mengira impiannya jadi nyata. Namun, ia keliru. Arka menikahinya tepat ketika dunia cowok itu di ambang runtuh.

Di sekolah Lintang adalah gadis yang selalu terlihat mengejar Arka, tapi di rumah, Lintang harus menghadapi kemarahan dan luka terdalam Arka.

Lantas, bagaimanakah kelanjutan kisah pernikahan rahasia mereka?

Sanggupkah Lintang bertahan, atau perpisahan justru menjadi jalan terbaik bagi keduanya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon siyunr, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Cowok Itu Lagi

Senin Pagi yang Laknat

Senin pagi yang laknat. Lapangan SMA Gelanggang Alam sudah berubah menjadi wajan raksasa yang siap memanggang ratusan murid menjadi matang secara merata.

Di barisan paling depan kelas dua belas, Lintang Gentariana sudah tidak tahan lagi. Gadis mungil bertinggi 150 cm itu menyeka keringat di lehernya yang mulai lengket.

"Pak! Panas banget ini, Pak! Kita udah kayak ikan asin di wajan!" teriak Lintang tiba-tiba. Suaranya yang melengking tajam seketika membelah kekhidmatan pengumuman yang akan diberitakan selesai upacara.

Tawa pecah di seluruh lapangan. Pak Wisma, guru piket, langsung melotot tajam dari pinggir lapangan seolah ingin menelan Lintang hidup-hidup.

"Lintang! Diam atau kamu saya jemur sampai siang!" bentak Pak Wisma.

"Siap, Pak! Lintang kembali ke mode khidmat bin saleha!" balas Lintang cepat sambil memberi hormat sekaku militer, membuat Zahiya, sahabat di sebelahnya, hanya bisa menunduk menahan malu.

Namun, penderitaan fisik itu menguap begitu saja saat pengeras suara podium berbunyi kresek-kresek. Kepala Sekolah maju ke depan mikrofon dengan senyum lebar.

"Hari ini, kita patut bangga. Mari kita beri tepuk tangan untuk Ananda Gifarka Xilessanto dari kelas 12 IPS 2 yang baru saja meraih juara satu lomba silat antarprovinsi!"

Mendengar nama itu, mata Lintang langsung berbinar. Efek kepanasan mendadak hilang, digantikan oleh hormon kebahagiaan yang melonjak drastis.

"Anjay! Crush gue itu!" teriak Lintang heboh sambil melompat kegirangan. "Gas terus, Arka! Nanti traktir es teh jumbo, ya!"

Anak-anak cowok kelas IPS 2 langsung bersorak memanasi suasana, sementara Zahiya buru-buru menarik rok Lintang dengan panik. "Diem, Lintang! Urat malu lu beneran udah putus, ya?!"

Di tengah kegilaan itu, sosok Gifarka Xilessanto berjalan maju membelah barisan. Cowok itu bertubuh tinggi menjulang, tegap, dengan ekspresi sedingin es batu di dalam kulkas yang tidak pernah pindah dari tempatnya.

Tatapannya lurus ke depan, sama sekali tidak peduli pada teriakan memalukan Lintang yang menggema seantero sekolah.

Karena terlalu asyik berteriak sambil melompat-lompat menatap ketampanan Arka, kaki Lintang tidak sengaja tersangkut sepatu Zahiya. Tubuh mungilnya kehilangan keseimbangan. Lintang terjerembap ke depan, tepat ke arah jalur berjalan Arka yang baru saja lewat di samping barisannya.

Bruk!

Lintang memejamkan mata, bersiap merasakan kerasnya tanah lapangan. Namun, rasa sakit itu tidak pernah datang.

Sebuah tangan kekar berseragam putih-abu menahan lingkar pinggangnya dengan sigap, mencegah wajah Lintang mencium bumi secara tragis.

Bau parfum maskulin segar langsung menusuk indra penciuman Lintang.

Deg!

Saat ia membuka mata, wajah datar Arka hanya berjarak beberapa sentimeter dari wajahnya. Seisi lapangan mendadak hening seketika.

Lintang mengerjapkan mata, terpesona. "Aura jodoh gue..." gumam Lintang super pelan, masih sempat-sempatnya kesurupan cinta.

Arka tidak tersenyum. Tatapan matanya yang tajam menatap lurus ke dalam manik mata Lintang. Alih-alih membantu Lintang berdiri dengan romantis seperti di adegan drama Korea, Arka justru mendekatkan wajahnya ke telinga Lintang.

"Gak usah akting," bisik Arka, suaranya terdengar sangat rendah, dingin, dan mengintimidasi. "Berdiri sendiri, atau gue lepas."

Lintang tersentak. Belum sempat Lintang membalas ucapan ketus itu, tangan Arka tiba-tiba melepas pegangannya begitu saja. Tanpa aba-aba. Tanpa rasa kemanusiaan.

Bruk!

"Aduh! Pantat seksi gue!" pekik Lintang spontan saat bokongnya sukses menghantam rumput lapangan yang keras.

Arka langsung berdiri tegap, merapikan lipatan seragamnya yang sedikit kusut tanpa dosa. Ia menatap Lintang dari ketinggian dengan tatapan sedatar garis lurus.

"Gue udah bilang. Berdiri sendiri," ucap Arka dingin, lalu melangkah pergi begitu saja membelah barisan murid, menuju podium untuk menerima pialanya.

Lintang menganga di tanah. "Sialan," umpatnya sambil mengusap pantatnya yang berdenyut. "Ganteng sih ganteng, tapi kelakuannya minus spek dajjal!"

"Lintang Gentariana! Keluar dari barisan sekarang!"

Suara menggelegar Pak Wisma dari jarak dua meter langsung membuat bulu kuduk Lintang meremang. Saat ia menoleh, Pak Wisma sudah berdiri dengan wajah merah padam dan berkacak pinggang. Di belakangnya, Zahiya sudah pasrah sambil menutup wajahnya dengan topi upacara.

"Mampus gue," gumam Lintang pasrah.

"Ikut saya ke depan tiang bendera! Hormat di sana sampai pengumuman selesai!" titah Pak Wisma kejam, menunjuk area panas di tengah lapangan yang jaraknya hanya beberapa meter dari tempat Arka berdiri menerima piala.

Bukannya lemas karena dihukum, mata Lintang justru kembali berbinar. "Siap dilaksanakan dengan penuh cinta, Pak!" seru Lintang bersemangat.

Ia langsung bangkit berdiri, menepuk-nepuk debu di roknya, lalu melangkah centil menuju area tiang bendera. Langkah kaki Lintang sengaja dibuat melewati jalur Arka yang baru saja berbalik setelah menerima piala dari Kepala Sekolah.

Saat posisi mereka sejajar, Lintang sengaja memperlambat langkahnya. Ia mendongak, menatap Arka yang sedang mendekap piala emas besar di dadanya.

"Selamat ya, Kakang Arka sayang," bisik Lintang dengan nada manja yang sengaja dibuat-buat. Ia mengedipkan sebelah matanya genit. "Pialanya berat, ya? Mau tukeran bawa hati aku aja gak? Dijamin enteng dan bikin bahagia lahir batin."

Arka menghentikan langkahnya sejenak. Rahangnya mengeras. Ia menatap Lintang dengan tatapan sedingin kutub utara. "Minggir. Gak usah ganggu."

"Ih, galak banget sih jodoh gue," cerocos Lintang tanpa urat malu. Ia malah sengaja bergeser selangkah, menghalangi jalur jalan Arka. "Lu tega banget tadi ngelepasin gue sampe jatuh betulan. Sebagai gantinya, nanti pas istirahat lu harus temenin gue minum es teh di kantin. Anggap aja itu denda karena udah menelantarkan aset berharga sekolah kayak gue."

Beberapa anak OSIS yang berjaga di sekitar podium langsung menahan tawa mendengar godaan maut Lintang. Mereka tidak habis pikir dengan keberanian gadis mungil ini.

"Lintang! Malah pacaran! Cepat ambil posisi hormat!" teriak Pak Wisma lagi dari kejauhan, membuat suasana makin riuh oleh siulan murid-murid lain.

Lintang refleks memanyunkan bibirnya. Ia menatap Arka lagi dengan tatapan memelas yang dibuat-buat. "Tuh, liat. Gue dijemur demi mendukung prestasi lu, Arka. Lu gak ada niatan buat payungin gue pake piala lu itu?"

Arka tidak membalas. Ia hanya menghela napas pendek yang terdengar sangat jengah, lalu melangkah menyamping menghindari Lintang tanpa memedulikan racauan gadis itu lagi. Ekspresi wajahnya tetap sedatar papan tulis, seolah Lintang hanyalah seonggok angin lalu yang berisik.

"Dih, sombong banget si es batu," gumam Lintang sambil terkekeh pelan.

Dengan santai, Lintang berjalan menuju tiang bendera yang terik. Ia mengambil posisi tegap, lalu mengangkat tangan kanannya untuk menghormat ke arah bendera Merah Putih yang berkibar malas. Meskipun matahari membakar kulitnya, mata Lintang tetap melirik ke arah barisan kelas IPS 2, memperhatikan punggung tegap Arka yang mulai kembali ke barisannya.

Di samping tiang bendera, Lintang mulai bersenandung pelan, mengarang melodi acak dengan lirik yang membuat guru piket di dekatnya geleng-geleng kepala.

"Panas-panas berjemur diri... demi abang Arka yang pujaan hati... walau dilepas sampai jatuh membumi... cintaku padamu takkan pernah mati..." nyanyi Lintang dengan suara merdu yang mendayu-dayu.

"Lintang! Hormat yang benar, jangan malah nyanyi dangdut!" tegur Pak Wisma yang mendengarnya dari jarak beberapa meter.

"Ini bukan dangdut, Pak! Ini lagu cinta beraliran pop-alternatif khusus buat masa depan saya!" sahut Lintang lantang, sama sekali tidak merasa bersalah.

Dari kejauhan di barisan IPS 2, Arka yang baru saja kembali ke tempatnya tanpa sengaja mendengar sahutan melengking Lintang. Ia melirik sekilas ke arah tiang bendera, melihat siluet mungil yang berdiri tegap di bawah terik matahari namun tetap terlihat sangat aktif dan tidak bisa diam.

Leon yang berdiri di belakang Arka menyenggol bahu sang atlet silat jahil. "Gila, fans fanatik nomor satu lu emang gak ada duanya, Ka. Dihukum jemur begitu aja masih sempet-sempetnya konser mini buat lu."

Arka tidak menyahut. Ia hanya menatap lurus ke depan, fokus pada pengumuman yang tersisa.

Setelah melewati satu jam penuh siksaan dijemur di dekat tiang bendera, bel tanda upacara selesai akhirnya berdering. Namun, bagi murid-murid kelas 12 IPS 2, penderitaan hari Senin baru saja dimulai.

1
siyuu nr
🩷
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!