NovelToon NovelToon
Mahar 1 Miliar: Menikahi Pria Tuli

Mahar 1 Miliar: Menikahi Pria Tuli

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Perjodohan / Orang Disabilitas
Popularitas:43.5k
Nilai: 5
Nama Author: Santi Suki

Dara Calya Sania, seorang gadis pincang yang hidupnya penuh dengan penderitaan. Dara dijual pamannya untuk menikahi Gavin Mahardika Abyakta, pria tuli cucu dari pemilik perkebunan teh, Juragan Darmawan, dengan mahar satu miliar rupiah.

Dara yang sejak kecil sudah yatim-piatu, tidak bisa menolak. Terlebih lagi uang mahar itu untuk bayar biaya hidupnya selama tinggal bersama Rama dan Tina.

Bagaimana reaksi Dara ketika tahu Gavin adalah orang yang pernah ditolongnya dahulu dan membuat kakinya pincang?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Santi Suki, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 3

Siang itu, sebuah mobil hitam mewah berhenti tepat di depan rumah sederhana milik Rama. Seorang pria berpakaian rapi turun dari kursi pengemudi. Ia membungkukkan badan dengan sopan.

"Permisi. Saya diutus Juragan Darmawan untuk menjemput Pak Rama, Bu Tina, dan Nona Dara."

Mendengar itu, wajah Rama dan Tina langsung berbinar. Keduanya buru-buru saling bertukar pandang, berusaha menyembunyikan kebahagiaan yang nyaris meluap.

"Silakan masuk, Pak. Juragan sudah menunggu," ujar sopir itu sembari membukakan pintu belakang.

Rama dan Tina tersenyum puas. Di dalam benak mereka, bayangan tentang mahar satu miliar rupiah kembali berputar. Keduanya merasa kehidupan mereka tinggal selangkah lagi berubah.

Berbeda dengan paman dan bibinya, Dara naik ke dalam mobil dengan langkah pelan. Ia menggenggam ujung bajunya erat sambil menundukkan kepala.

Mobil pun melaju meninggalkan rumah gubuk itu, membawa tiga orang dengan perasaan yang sangat berbeda. Rama dan Tina dipenuhi harapan akan kekayaan, sementara Dara hanya mampu berdoa dalam hati agar apa pun yang menantinya nanti tidak menjadi awal dari penyesalan seumur hidup.

Mobil yang ditumpangi Rama, Tina, dan Dara perlahan memasuki halaman rumah besar milik Juragan Darmawan.

Jantung Dara terus berdebar sejak mereka berangkat dari rumah. Tangannya saling menggenggam di atas pangkuan, berusaha meredam kegelisahan yang tak kunjung hilang. Hamparan bunga yang tertata rapi, bangunan bergaya kolonial yang berdiri megah, serta para pekerja yang lalu-lalang membuatnya merasa begitu kecil.

"Ayo turun," ujar Rama pelan, meski nada suaranya tak mampu menyembunyikan rasa antusias.

Berbeda dengan Dara yang diliputi kecemasan, wajah Rama dan Tina justru tampak berseri-seri. Sejak menginjakkan kaki di halaman rumah itu, keduanya tak henti-hentinya saling melempar senyum.

Dara menarik napas panjang sebelum membuka pintu mobil. Begitu kakinya yang pincang menginjak halaman, beberapa pelayan langsung mempersilakan mereka masuk dengan ramah.

"Silakan, Juragan sudah menunggu."

Ruang tamu rumah itu jauh lebih megah daripada yang dibayangkan Dara. Langit-langitnya tinggi dengan lampu kristal yang berkilauan. Aroma teh melati yang baru diseduh memenuhi ruangan, memberikan kehangatan yang menenangkan.

Di sofa utama telah duduk seorang pria lanjut usia dengan postur tubuh yang masih tegap, Juragan Darmawan. Tatapannya tajam, tetapi tidak menyeramkan. Wibawanya begitu kuat hingga siapa pun yang berada di hadapannya otomatis menundukkan kepala sebagai bentuk hormat.

Di sampingnya duduk seorang wanita berusia sekitar lima puluh tahun dengan penampilan anggun. Dialah Sherly, ibunya Gavin.

Dara segera menangkupkan kedua tangannya di depan dada. "Assalamu'alaikum."

"Wa'alaikumussalam," jawab Juragan Darmawan.

Dara sedikit membungkukkan badan. "Permisi, Juragan."

"Sini, duduk!" titah Juragan Darmawan.

"Terima kasih." Dara duduk dengan sopan. Kedua lututnya rapat, pandangannya lebih banyak tertuju ke lantai.

Sejak tadi, Juragan Darmawan tidak banyak bicara. Namun, kedua matanya terus mengamati gadis yang berada di depannya. Cara duduknya, cara menjawab pertanyaan, dan cara menundukkan kepala ketika berbicara dengan orang yang lebih tua. Semua diperhatikan tanpa ada yang terlewat.

Sherly pun melakukan hal yang sama. Wanita anggun itu sesekali melirik Dara sambil tersenyum tipis. "Dara."

"Iya, Bu," balas Dara dengan nada lembut.

"Kamu sejak kecil tinggal bersama Paman dan Bibimu?"

"Iya."

"Masih bekerja di kebun teh?"

"Iya, Bu."

"Capek?"

Dara tersenyum kecil. "Kalau untuk mencari rezeki, capek itu sudah biasa."

Jawaban sederhana itu membuat Sherly sedikit terkejut. Ia sempat mengira Dara akan mengeluhkan pekerjaannya. Namun, gadis itu justru menjawab dengan penuh rasa syukur.

"Kamu juga mengurus pekerjaan rumah?"

Dara mengangguk pelan. "Selama masih sanggup, saya kerjakan."

Sherly diam. Dalam hati ia mulai menyukai gadis itu. Tidak dibuat-buat, tidak banyak bicara, dan tatapan matanya juga bersih.

Juragan Darmawan yang sejak tadi mendengarkan percakapan itu akhirnya ikut bersuara. "Kudengar kakimu terluka sejak kecil."

Dara menundukkan kepala. "Iya, Juragan."

"Masih sakit?"

"Kadang-kadang kalau terlalu lama berdiri."

"Kenapa tetap bekerja di kebun?"

Dara tersenyum tipis. "Karena saya masih mampu. Saya tidak ingin menjadi beban siapa pun."

Kalimat itu membuat Juragan Darmawan menganggukkan kepala pelan. Ada rasa lega yang perlahan memenuhi dadanya. Seumur hidup, ia sudah bertemu banyak orang. Ia cukup pandai membaca karakter seseorang hanya dari cara berbicara dan bersikap. Dan sejauh ini Dara meninggalkan kesan yang baik.

Juragan Darmawan melirik Sherly. Sherly membalas tatapan itu dengan anggukan kecil. Mereka seolah sedang berbicara tanpa suara.

Sherly bahkan tersenyum tipis. Usia Gavin sudah tiga puluh tahun. Selama ini putranya selalu ditolak oleh setiap perempuan yang dikenalkan kepadanya. Hal itu membuat Gavin selalu enggan untuk menikah karena kekurangan pada dirinya. Kalau kali ini Gavin bersedia, Sherly merasa itu sudah lebih dari cukup.

"Aku panggil Gavin dulu," ucap Sherly sambil berdiri.

Juragan Darmawan mengangguk. "Tolong suruh dia turun untuk menemui calon istrinya."

Sherly berjalan menuju kamar yang menghadap halaman depan di lantai dua. Lalu, ia mengetuk pintu perlahan.

"Gavin."

Tak lama kemudian pintu terbuka. Seorang pria bertubuh tinggi muncul dengan kaus sederhana berwarna hitam. Rambutnya masih sedikit berantakan, seolah baru saja bangun tidur.

"Iya, Ma?"

Sherly tersenyum lembut. "Kamu masih capek?"

Gavin mengangguk pelan. Sejak pagi ia baru tiba dari kota setelah menghadiri rapat panjang di pabrik pengolahan teh milik keluarganya. Perjalanan berjam-jam melewati jalan pegunungan cukup menguras tenaganya.

"Aku sempat tidur sebentar barusan."

Sherly mengusap lengan putranya. "Calon pengantinmu sudah datang."

Gavin terdiam beberapa detik. Tatapannya berubah datar.

"Harus sekarang?"

"Iya. Kakek sudah menunggu."

Gavin mengembuskan napas panjang. Sebenarnya ia masih enggan. Namun, demi menghormati sang kakek, ia akhirnya mengangguk.

"Baik."

Beberapa menit kemudian, langkah Gavin terdengar menuruni tangga. Suasana ruang tamu mendadak menjadi hening.

Dara yang sejak tadi menundukkan kepala perlahan mengangkat wajah ketika mendengar langkah itu. Jantungnya kembali berdegup lebih cepat.

Di sisi lain, Gavin juga langsung mengarahkan pandangannya ke arah gadis yang duduk di sofa.

Untuk beberapa saat tak ada satu pun yang berbicara. Inilah pertama kalinya keluarga mereka saling bertemu.

Gavin memperhatikan Dara dengan saksama. Wajah gadis itu sederhana, tetapi teduh. Sorot matanya lembut. Sikap duduknya sopan.

Tatapan Gavin tiba-tiba berhenti pada satu titik. Pipi kiri Dara. Ada semburat kemerahan yang belum sepenuhnya hilang dan sedikit bengkak. Hampir tertutup oleh rambut yang sengaja diselipkan ke samping. Kalau orang lain melihat sekilas, mungkin tidak akan menyadarinya. Namun, Gavin terbiasa memperhatikan sesuatu dengan detail. Alisnya langsung mengerut tipis.

"Itu ... bekas benturan atau bekas tamparan?" batin Gavin dipenuhi tanda tanya.

Gavin mengalihkan pandangan kepada Rama dan Tina yang duduk tak jauh dari Dara. Keduanya justru tampak tersenyum lebar, seolah tak terjadi apa pun. Perasaan aneh mulai menyusup ke dalam hati Gavin. Dia merasa ada sesuatu yang terasa tidak beres.

Dara yang menyadari pria itu terus memandang wajahnya langsung menundukkan kepala karena gugup. Ia sama sekali tidak tahu bahwa bekas tamparan yang berusaha disembunyikannya justru telah menumbuhkan kecurigaan pertama di hati calon suaminya.

1
Sribundanya Gifran
lanjut
Risma Hye Chan
sudah aku ksih vote yaa kak aku bacanya sampe nangis
Ummee
Dara dan Gavin poloosss sekaliii, ya Allah lucunya...
Ummee
suruh bulan madu aja Ma...
Aditya hp/ bunda Lia
rasain kau anak lampir berasa jadi korban padahal kamu penjahatnya
Ita rahmawati
mantab dara,, orang seperti Kiara SM ortunya emang harus dikasih faham walaupun GK akan berubah sih tp segknya mereka harus dibantah biar GK makin makin 😏
Ita rahmawati
ucul bgt sih mereka berdua 🤣🤣
Ita rahmawati
payah lah kalo masih sm2 polos mah,,harusnya lgsg tubruk kan 🤣🤣
Mutaharotin Rotin
gitu Dara,balas ucapan Kiara biar tau rasa 👍👍👍
Mutaharotin Rotin
laaannjjuut 🥰🥰🥰🥰🥰🌹🌹🌹
Risma Hye Chan
lucu banget mrka brdua sumpah wkwkwk
Nar Sih
istri kecil mu yg polos pinter kan ,jdi kmu bnr,,beruntung dan pilihan jodoh yg tepat untuk mu gavin👍🥰
Mutaharotin Rotin
🌹🌹🌹🌹🥰🥰🥰🥰
Nar Sih
hahaha😂😂kencan ala internet sedang di mulai
Sugiharti Rusli
semoga cakrawala berpikir kamu semakin bertambah dengan melihat siapa Dara sekarang yah,,,
Sugiharti Rusli
kamu benar Vin, kamu ga salah pilih istri, karena di balik kepolosan dan sifat sederhana Dara, dia pribadi yang kuat dan pantang menyerah oleh keadaan,,,
Nar Sih
psngn yg bnr,,bikin ngakak ,gavin dan dara yg sama,,msih polos
Sugiharti Rusli
jadi sebetulnya sejak kecil Dara sudah struggle sendiri, dan mereka hanya mendampingi kan sebagai orang dewasa
Sugiharti Rusli
dan sejak dulu Dara bahkan tidak pernah menikmati hasil kerjanya sendiri dan diberikan oleh paman dan bibinya kan,,,
Sugiharti Rusli
rumah itu milik kakeknya, jadi dia juga memiliki hak yang sama buat tinggal sebagai pengganti ortunya,,,
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!