NovelToon NovelToon
Nikah Paksa, Cinta Tak Terduga

Nikah Paksa, Cinta Tak Terduga

Status: tamat
Genre:Nikah Kontrak / Romansa Fantasi / CEO / Tamat
Popularitas:1.5k
Nilai: 5
Nama Author: ayu gerimis

Demi melunasi utang keluarga dan menyelamatkan ayahnya dari kehancuran, Laras terpaksa menerima pernikahan yang dipaksakan—menjadi istri Arga Pratama, pewaris konglomerat yang dingin, angkuh, dan memandang pernikahan ini sekadar kewajiban bisnis semata. Tidak ada restu hati, tidak ada janji manis; hanya kesepakatan: hidup bersama, tapi tak perlu saling mencintai.

Awalnya, rumah tangga mereka bagai dua kutub yang bertabrakan. Arga bersikap dingin bagaikan es, sementara Laras berusaha menjaga harga diri di tengah cemoohan lingkungan dan tekanan keluarga besar. Namun seiring berjalannya waktu, di balik sikap kasarnya, Laras mulai melihat sisi lain Arga—rasa tanggung jawab, perlindungan diam-diam, dan luka masa lalunya yang tersembunyi. Sebaliknya, ketulusan serta ketabahan Laras perlahan mencairkan hati beku Arga.

Apa yang dimulai dari keterpaksaan dan permusuhan, perlahan berubah menjadi getaran rasa yang tak terduga. Ketika ancaman luar dan rahas

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ayu gerimis, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 12: Ujian bagi Generasi Berikutnya

Berita buruk menyebar lebih cepat dari angin. Dalam waktu kurang dari seminggu, isu miring tentang keluarga Pratama sudah beredar luas—mulai dari lingkaran pebisnis, media sosial, hingga masuk ke lingkungan sekolah tempat Alvin menuntut ilmu.

Pihak di balik rencana ini adalah Rendy, mantan mitra bisnis Dimas yang sejak dulu menyimpan dendam mendalam. Ia merasa jatuh miskin dan kehilangan nama baik karena dianggap terlibat dalam kasus penipuan yang melibatkan Dimas bertahun-tahun silam. Tanpa mau mengakui kesalahannya sendiri, ia menyalahkan Arga dan bertekad membalas dendam dengan cara menjatuhkan seluruh keturunan keluarga itu.

“Jika aku tidak bisa memiliki apa yang mereka miliki, maka mereka juga tidak akan merasa tenang memilikinya,” gumam Rendy penuh kebencian sambil melihat laporan yang disusunnya. Ia menyewa orang untuk membuat berita palsu, memanipulasi data transaksi lama, dan menyebarkannya seolah-olah itu bukti nyata.

Di sekolah, suasana berubah drastis bagi Alvin. Teman-teman yang dulu sering mengaguminya kini memandang dengan pandangan curiga atau meremehkan. Saat ia berjalan melewati koridor, bisik-bisik terdengar jelas di telinganya.

“Itu anak Pratama yang katanya bisnis ayahnya penuh tipu daya…”

“Pantes saja dia sombong, ternyata kekayaannya bukan halal…”

“Jangan terlalu dekat, takutnya kita ikut terlibat masalah nanti.”

Kata-kata itu menusuk hati Alvin yang masih remaja. Ia pulang ke rumah dengan langkah gontai, tas dipeluk erat ke dada, dan berusaha menyembunyikan matanya yang sedikit sembab. Saat Laras melihatnya, ia segera menyadari ada yang tidak beres pada putranya.

“Alvin, kemarilah Ibu,” panggilnya lembut sambil duduk di sofa. “Jangan simpan sendirian. Mata Ibu bisa melihat hatimu sedang terasa berat. Ceritakan semuanya pada Ibu.”

Mendengar nada bicara yang penuh pengertian itu, pertahanan Alvin runtuh. Ia duduk di samping ibunya dan menumpahkan segala rasa sakit, kecewa, serta rasa marah yang ia pendam.

“Ibu… kenapa mereka bicara begitu buruk tentang Ayah dan keluarga kita? Padahal aku tahu kita tidak melakukan kesalahan apa pun. Kenapa mereka lebih percaya pada gosip daripada melihat kenyataan?” tanyanya dengan suara tercekik.

Laras memeluk bahu putranya erat, mengusap punggungnya dengan lembut. “Dengar, Nak. Di dunia ini, tidak semua orang akan melihat kebaikan kita dengan mata terbuka. Ada yang mudah percaya pada apa yang terdengar tanpa memeriksa kebenarannya. Tapi ingat satu hal: mulut orang lain tidak bisa mengubah kenyataan, dan fitnah tidak akan bertahan selamanya jika kita tetap berdiri tegak di atas kebenaran.”

Tak lama kemudian Arga pulang dan mendengar keluh kesah putranya. Ia tidak langsung marah atau memanggil pengacara untuk mempermalukan si penyebar isu. Sebaliknya, ia duduk berhadapan dengan Alvin dan menatap matanya dengan pandangan tegas namun menenangkan.

“Ayah mengerti rasa sakitmu. Dulu saat usia Ayah hampir sama sepertimu, Ibu kandung Ayah pergi dan banyak orang berkata buruk tentang Ayah dan keluarga. Saat itu Ayah merasa marah, ingin membuktikan semuanya dengan kekerasan atau kekuasaan. Tapi lama-kelamaan Ayah belajar: kekuasaan bisa membungkam mulut orang, tapi tidak bisa memenangkan hati mereka sepenuhnya. Cara terbaik untuk melawan kebohongan adalah dengan terus hidup jujur dan membuktikan lewat perbuatan nyata.”

Arga meletakkan tangannya di bahu Alvin. “Kamu ingin membuktikan bahwa keluarga kita pantas dihormati? Bukan dengan menyombongkan kekayaan kita, tapi dengan menunjukkan bahwa kita tetap berlaku adil, rendah hati, dan bermanfaat bagi orang lain meski difitnah sekalipun. Apakah kamu punya keberanian untuk mencobanya?”

Mendengar nasihat itu, rasa marah di hati Alvin perlahan berubah menjadi tekad yang membara. Ia mengusap sisa air matanya dan mengangguk mantap. “Aku mengerti, Ayah. Aku tidak akan membalas dengan kata-kata kasar. Aku akan tunjukkan siapa diriku sebenarnya lewat perbuatanku.”

 

Membuktikan Lewat Perbuatan

Keesokan harinya, sikap Alvin tetap tenang dan ramah meski masih banyak yang menjauh. Saat pelajaran kelompok, ia tetap menawarkan bantuan pada teman-temannya yang kesulitan mengerjakan tugas, bahkan pada mereka yang sempat mengejeknya sekalipun.

Ketika sekolah mengumumkan lomba kewirausahaan sosial dengan tujuan membantu warga sekitar yang kesulitan ekonomi, Alvin segera mengajukan diri menjadi ketua tim. Ia tidak mengajukan modal besar secara sembarangan, melainkan mengajak teman-temannya membuat kerajinan dari bahan daur ulang serta mengolah makanan tradisional yang sehat dan terjangkau—sesuatu yang ia pelajari langsung dari ibunya.

Selama berminggu-minggu, sepulang sekolah ia menyempatkan diri bekerja bersama timnya. Ia tidak memerintah, melainkan ikut turun tangan mencampur adonan, mengemas barang, hingga berkeliling mempromosikan hasil karya mereka dengan senyum dan kesabaran. Saat ada yang bertanya tentang isu yang beredar, ia menjawabnya dengan tenang tanpa tersinggung.

“Setiap orang berhak mendengar dan percaya apa yang mereka dengar. Tapi aku hanya ingin menunjukkan bahwa selama aku bisa, aku ingin berbuat baik bagi lingkunganku. Biarkan waktu yang menjawab semuanya,” jawabnya dengan dewasa melebihi usianya.

Ketika hari pameran tiba, hasil karya mereka disambut sangat antusias oleh warga. Harganya terjangkau, kualitasnya bagus, dan seluruh keuntungan dari penjualan itu Alvin serahkan secara terbuka untuk membantu memperbaiki fasilitas balai desa dan memberikan beasiswa bagi anak-anak kurang mampu.

Saat pengumuman hasil lomba, tim Alvin keluar sebagai juara utama. Penghargaan itu bukan hanya karena keuntungan materi, tapi karena dampak nyata yang dirasakan oleh masyarakat. Kepala sekolah memberikan sambutan yang menyentuh hati.

“Nilai tertinggi bukanlah seberapa banyak uang yang didapat, melainkan bagaimana kita menggunakannya untuk kebaikan. Meskipun ada kabar yang beredar belakangan ini, tindakan nyata hari ini membuktikan bahwa kejujuran dan kebaikan hati tidak bisa dibohongi. Terima kasih pada Alvin Pratama dan timnya.”

Tepuk tangan meriah bergema di seluruh ruangan. Teman-teman sekelas yang sempat meragukannya kini menunduk malu sekaligus kagum. Salah satu teman yang paling sering mengejeknya maju mendekat dengan wajah bersalah.

“Alvin… maafkan aku. Aku percaya begitu saja pada gosip tanpa mengenalmu lebih dulu. Ternyata kamu memang berbeda dari apa yang mereka katakan,” ucapnya lirih.

Alvin tersenyum tulus dan menjabat tangannya. “Tidak apa-apa. Aku juga belajar banyak dari kejadian ini. Semoga ke depannya kita bisa saling mendukung dan melihat kebenaran dengan mata sendiri, bukan hanya mendengar dari mulut orang lain.”

 

Terkuaknya Kebenaran dan Pelajaran Berharga

Sementara itu, tim penyelidik Arga juga bekerja diam-diam melacak asal usul penyebaran berita palsu itu. Berkat jejak digital dan kesaksian saksi, akhirnya terbukti bahwa semua tuduhan itu dibuat dan disebarkan atas perintah Rendy. Bukti lengkap disiapkan, namun Arga tidak langsung menyeretnya ke pengadilan secara terang-terangan.

Ia memanggil Rendy bertemu secara pribadi. Di ruangan itu, Arga meletakkan seluruh bukti yang cukup untuk memenjarakan Rendy bertahun-tahun lamanya.

“Aku bisa menghancurkan hidupmu dengan sekali tanda tangan,” kata Arga tenang namun tegas. “Tapi aku tidak ingin meneruskan lingkaran dendam yang tidak pernah berujung. Dulu aku juga pernah hidup hanya dengan rasa benci, dan itu hanya membuat hatiku terasa kosong. Aku memberi pilihan padamu: akui kesalahanmu secara terbuka, minta maaf, dan berjanji tidak akan mengulangi lagi. Jika kau bersungguh-sungguh, aku tidak akan melanjutkan proses hukum ini.”

Rendy tertegun, tidak menyangka akan diperlakukan begitu adil. Ia sudah bersiap menghadapi kemarahan dan hukuman berat. Merasakan kebesaran hati Arga membuatnya sadar betapa piciknya hatinya selama ini. Ia berlutut meminta maaf dengan tulus.

“Aku salah, Tuan Arga. Buta dendam membuatku lupa melihat kebenaran. Terima kasih atas kebaikan yang tidak pantas aku terima. Aku akan memulihkan nama baik keluarga Pratama sebaik mungkin.”

Tidak lama kemudian, pernyataan permintaan maaf dan pengakuan kesalahan Rendy dipublikasikan secara terbuka. Semua tuduhan palsu akhirnya runtuh seketika, digantikan oleh kekaguman dan rasa hormat yang lebih besar dari sebelumnya.

Malam itu, seluruh keluarga berkumpul kembali di ruang tengah. Arga menatap Alvin dengan pandangan penuh kebanggaan yang tak terhingga.

“Lihatlah, Nak. Lihatlah apa yang terjadi. Kebohongan memang bisa terbang tinggi sesaat, tapi ia tidak punya akar. Seiring waktu, ia pasti akan jatuh sendiri. Sedangkan kebenaran dan kebaikan, meski lambat tumbuhnya, ia akan tetap berdiri kokoh selamanya.”

Alvin memandang ayah dan ibunya dengan rasa hormat yang mendalam. “Terima kasih telah mengajarkanku hal terpenting dalam hidup ini. Cinta dan kejujuran lebih kuat daripada kekuasaan dan fitnah apa pun. Aku akan menjaga warisan ini seumur hidupku.”

Laras tersenyum bahagia, merasakan bahwa benih cinta dan kepercayaan yang ditanam sejak awal pernikahan mereka kini telah tumbuh menjadi pohon yang rindang, melindungi dan memberi manfaat bagi seluruh keluarga dan orang-orang di sekitarnya.

Ujian ini bukanlah akhir, melainkan batu loncatan yang membuat generasi penerus Pratama semakin tangguh, bijaksana, dan siap menghadapi segala tantangan hidup di masa depan.

1
Lisa
Ceritanya menarik Kak
ayu ambara: maksih kk😍
total 1 replies
Lisa
Aku mampir Kak
Lisa: oke Kak Ayu 👍
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!