Karena kedua orang tuanya penyuntik dana terbesar di kampusnya, Lexa pun menjalani masa pendidikannya dengan sesuka hatinya. Gadis yang memiliki nama lengkap Clara Lexa Viviana ini kerap sekali membuat ulah dan membuat kedua orang tuanya pusing menghadapinya. Karena tak tahan mendapatkan laporan terus menerus dari pihak kampus dan Orang-orang, kedua orang tua Lexa pun memilih menjodohkan Lexa dengan Elvin Zayyan Bagaskara yang tak lain ialah anak dari sahabatnya sekaligus dosen terkiller di kampus Lexa.
Elvin yang terlahir sebagai anak pertama memiliki watak yang keras dan tegas. Bahkan para adik dan keluarganya segan terhadapnya disebabkan dirinya yang sangat berwibawa dan dewasa. Selain berprofesi sebagai dosen, Elvin juga berprofesi sebagai direktur utama di perusahaan keluarganya. Apakah Elvin mampu menghadapi Lexa yang terlahir sebagai anak bungsu dan anak perempuan satu-satunya yang selalu di manja oleh keluarganya?
Cerita ini 100% Munir fiksi📌
Ig: Jannah Sakinah
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon jannah sakinah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 20
"Sayang," ucap Elvin dengan sedikit penekanan sebab merasa tidak nyaman dengan mulutnya yang dingin karena es krim.
"Hehe, jangan marah. Mas kan yang mau mencicipi es krimnya," ucap Lexa memasang wajah lucunya seperti anak kecil membuat Elvin gemas hingga menarik pipinya.
"Sakit tau Mas," ucap Lexa mengelus pipinya sembari menatap Elvin dengan tajam.
"Rasain, makanya jangan nakal," ucap Elvin membuat Lexa memanyunkan bibirnya.
"Cepat habiskan es krim-nya, siap ini kita pulang." Lexa menganggukkan kepalanya pertanda setuju dengan ajakan Elvin sembari terus menikmati es krim miliknya.
Saat ini di tamat kota cuaca terlihat mendung, pertanda jika hujan akan segera turun dan akan membasahi semua yang ada di bawahnya. Karena angin semakin kencang dan dingin, taman kota pun perlahan kosong. Para pedagang satu persatu pergi meninggalkan tamat kota. Lexa dan Elvin segera pergi dari taman kota itu dan memasuki mobilnya.
"Pasang sabuk pengamannya sayang," ucap Elvin dengan lembut sembari membantu Lexa memasang sabuk pengaman. Lexa yang berada di posisi yang sangat dekat itu merasakan jantungnya berdetak. Ia merasa ada yang menjalar ke relung hatinya.
"Sudah," ucap Elvin lalu kembali ke posisinya.
"Makasih Mas," ucap Lexa dengan wajah yang tak judes seperti biasanya.
"Sama-sama sayang," ucap Elvin mengelus kepala Lexa dengan lembut membuat jantung Lexa yang sempat normal kembali berdetak kencan.
Ada apa dengan hatiku? Kenapa aku merasa nyaman dan sangat suka di perhatikan Mas Elvin seperti ini? Apa aku masih waras? Batin Lexa dengan mata yang fokus melihat satu objek sehingga Elvin yang meliriknya seakan merasa jika Lexa tengah melamun.
"Sayang," panggil Elvin melirik Lexa sesekali sembari membawa mobilnya dengan kecepatan sedang. Saat ini mobil yang mereka tumpangi mulai di guyur hujan yang perlahan semakin lebat. Karena Lexa tidak tahan dengan cuaca dingin, Lexa pun memeluk dirinya sendiri dengan tangan yang mengelus kedua bahunya.
Elvin yang tidak tega melihat istri manja dan nakalnya itu kedinginan, langsung menepikan mobilnya dan berhenti di sisi jalan yang aman dari kendaraan lain. Dengan cepat, Elvin membuka jas hitamnya lalu memberikannya pada Lexa. Karena Lexa tak menyambut pemberiannya, Elvin pun berinisiatif sendiri memasangkan jas miliknya di tubuh Lexa. Ia membuka sabuk pengaman Lexa lalu membantu Lexa mengenakan jas miliknya. Lexa yang sangat kedinginan pun tak menolak mengenakan jas itu.
"Makasih Mas," ucap Lexa dengan wajah keduanya yang hampir tak berjarak. Lexa seperti orang yang tengah kesurupan karena terlihat sangat berbeda tak seperti biasanya yang di mana selalu bawel dan judes.
Elvin terlihat belum mau menggeser posisinya seperti semula sebab dia sibuk memperhatikan bentuk wajah Lexa. Elvin mengakui, istrinya itu sangat cantik dengan kulit putih mulus, bibir ranum dan hidung mancung. Alis Lexa yang tebal dan mata yang sedikit tajam membuat Elvin terpesona.
"Mas!" Lexa kembali ke mode aslinya membuat Elvin terkejut dan kembali ke posisinya semula. Elvin memasang wajah dingin datarnya sebab kesal Lexa berteriak padanya. Lexa yang paham dengan raut wajah Elvin pun merasa bersalah.
"Maaf Mas," ucapnya dengan lirih namun masih dapat di dengar oleh Elvin.
"Hm," Elvin menyahuti ucapan Lexa dengan sangat dingin membuat Lexa merasa berada di posisi yang sangat menegangkan.
Di sepanjang jalan tidak ada yang berbicara. Keduanya sibuk dengan pikirannya sendiri hingga membiarkan suara hujan saja yang masuk ke pendengarnya. Lexa memperhatikan jalan di luar sana melalui kaca yang berada di sampingnya. Ia terlihat enggan menatap Elvin yang membuatnya merinding karena aurat dingin arogannya.
Cukup lama membela hujan, kini mobil yang di kendarai Elvin pun masuk ke pekarangan kediaman Hendrik yang sangat besar dan mewah. Elvin memarkirkan mobilnya tepat di depan pintu masuk rumah itu yang dimana terdapat atap di atasnya. Elvin pun segera keluar tanpa mengajak Lexa. Ia membuka bagasi mobil lalu membawa semua barang belanjaan milik Lexa. Lexa yang melihat Elvin sangat dingin padanya memanyunkan bibirnya lalu keluar dan menyusul Elvin.
Lexa mengejar Elvin dengan tangan yang memegang balon-balonnya yang lumayan banyak itu. Hendrik dan semua orang yang sedangkan meminum teh hangat menoleh ke arah pintu. Mereka semua melihat dua pengantin baru yang sudah kembali dari acara bersenang-senangnya.
"Wah, anak kesayangan Papa sudah pulang. Bawa apa itu?" ucap Hendrik tersenyum hangat pada Lexa.
"Ini balon Pa, Mas Elvin yang membelinya," ucap Lexa dengan senyum bahagianya membuat hati semua orang menghangat kecuali Monica. Wanita itu terlihat iri melihat semua yang di dapatkan Lexa.
"Bagus banget balonnya, beli di mana Lexa?" Tanya Monica basa-basi sembari memperlihatkan senyum palsunya.
"Di taman kota kak," jawab Lexa dengan senyum kebahagiaannya yang tak pudar. Ia ingin memperlihatkan pada calon pelakor seperti Monica bahwa ia sangat senang karena di perlakukan dengan sangat baik dan romantis oleh Elvin suaminya.
"Sayang, jangan bilang kamu meminta banyak hal pada Nak Elvin?" ucap Sandra sedikit curiga dengan Lexa sebab ia sangat tau jika anak gadisnya itu sangat nakal dan tidak tau malu dalam melakukan segala hal yang diinginkannya.
Aduh,,, Mama kenapa sih berbicara seperti ini. Aku kan jadi nggak tau mau menjawab apa. Batin Lexa merasa tidak nyaman dengan pertanyaan Sandra.
Hhhh, sekarang aku tau kelemahannya. Dia sangat takut pada Tante Sandra. Batin Monica tersenyum tipis memperhatikan wajah gugup Lexa.
"Maaf Ma, semua ini Elvin sendiri yang ingin memberikannya pada Lexa. Elvin ingin berbuat baik dan membahagiakan istri Elvin," jawab Elvin tiba-tiba membuat Lexa dan semua orang terharu kecuali Monica. Calon pelakor itu mati kutu di tempatnya sebab tak percaya pada apa yang barusan saja ia dengar.
Ih, kenapa Elvin pakai acara belain Lexa segala sih! Batin Monica sangat kesal sebab apa yang terjadi di depannya tak sesuai dengan ekspektasinya.
Rasain tuh kak Monica! Kakak ingin aku dimarahikan? Oh, nggak segampang itu. Sekarang aku sudah mempunyai perisai untuk melindungi ku dari segala hal yang tak menyenangkan. Untunglah aku menikah dengan Mas Elvin. Ternyata menikah nggak buruk-buruk amat, hihi. Batin Lexa tersenyum tipis namun sejatinya hatinya tertawa keras sekarang.
"Syukurlah Nak, Mama kira Lexa menyusahkan mu. Soalnya istrimu ini sering sekali membuat ulah," ucap Sandra secara terang-terangan membuat Lexa kesal sekaligus malu aibnya di bocorkan di depan semua orang termasuk Elvin.
"Mama!" Tegur Lexa membuat semua orang langsung tertawa. Elvin tersenyum kecil mencoba menahan tawanya agar Lexa tidak tersinggung atau pun marah padanya.
Good Job thor🖤