"Aaaaaaa!"
Pekikan Amira membumbung tinggi begitu ia menyibak selimut. Pandangannya bergeser ke samping, dan jeritannya makin melengking melukai udara.
"Aaaaaa!"
"Aaaaaaaa!" Seorang pria di sebelahnya mendadak ikut berteriak panik. "Bajuku... bajuku mana?!"
Keduanya saling menoleh dengan napas memburu.
"Aaaaaaa!" jerit mereka bersamaan.
"Bajingan!" maki Amira seraya menunjuk pria itu.
"Kamu!"
"Kamu yang bajingan! Dasar Tante girang gila!" balik pria itu tak mau kalah.
"Apa katamu?!" Mata Amira membelalak lebar. Tangisnya mendadak pecah tanpa bisa ditahan. "Kamu pria bajingan! Kamu udah merusak aku!"
"Kamu yang mengambil keperjakaanku! Kenapa malah kamu yang menangis?" kata pria itu dengan santai. Tangannya meraba-raba area lantai, sibuk mencari celana tanpa peduli pada Amira yang terisak. Namun, gerakannya terhenti saat jarinya menyentuh cairan pekat berwarna merah. "Apa ini? Darah?"
Detik berikutnya, wajah pria itu pucat pasi. "Mamahah..." Giliran pria itu yang menangis sesenggukan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon santi damayanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 21
Pagi datang begitu saja. Matahari terbit menyapu kesibukan masing-masing orang dengan agendanya sendiri. Angga dan Risma sibuk mengasah rencana kotor mereka, sementara Ratna pusing tujuh keliling—peluang bisnis di depannya begitu besar, tetapi modal perusahaannya terkuras habis demi menutupi gengsi dan kemewahan pesta pernikahan Risma yang membengkak.
Di sisi lain, kehidupan Amira justru terasa makin berwarna sejak menikah dengan Luki. Keasbrudan Luki membuat harinya tak lagi sepi; berdebat kecil sebelum dan sesudah tidur kini perlahan menjadi kebiasaan manis yang selalu ia rindukan.
Di kantornya, Ratna terus memijat pelipisnya yang berdenyut menatap layar monitor.
"Sayang, kamu kenapa?" tanya Angga lembut seraya menyodorkan secangkir teh hangat.
"Terima kasih, Mas," sahut Ratna tanpa mengalihkan pandangan.
"Kamu lelah, ya?"
"Aku sedang pusing ini, Mas. Perusahaan kita benar-benar kekurangan dana segar."
"Karena biaya persiapan pernikahan Risma, ya?" tanyanya pura-pura merasa bersalah.
"Enggak juga. Bagaimanapun, biaya pernikahan Risma itu bukan sekadar pengeluaran, tapi investasi. Asal bisa membangun hubungan baik dengan keluarga Perdana Holding, itu hal yang sangat menguntungkan," tutur Ratna membela diri.
Suasana hening sejenak. Ratna memutar otak mencari cara mendapatkan suntikan modal aman tanpa harus kehilangan wibawanya.
Angga berdeham pelan. "Sayang... aku punya teman di Bank Surya. Namanya Pak Dani. Dia itu orang kepercayaan langsung Pak Surya, owner Bank Surya."
Ratna seketika menghentikan aktivitas scroll mouse-nya. Ia melepas kacamata bacanya dan menatap Angga lekat-lekat.
"Bank Surya? Bank khusus para pengusaha papan atas itu, Mas?"
"Iya, Sayang."
"Tapi bukankah bunganya terkenal tinggi sekali?"
"Masalah bunga bisa dinegosiasikan. Kan aku kenal baik dengan Pak Dani," hibur Angga manis.
"Oh, begitu... Baguslah kalau begitu. Mari kita temui dia sekarang!" ujar Ratna antusias.
Angga pura-pura memasang raut wajah ragu. "Sebenarnya... aku sudah bertemu dengannya kemarin, dan dia bersedia memberikan pinjaman sebesar 1,5 miliar."
Muka Ratna langsung berbinar penuh gairah. "Wah, bagus sekali, Mas! Ya sudah, ayo kita temui dia sekarang, kita siapkan semua berkasnya!"
"Tapi... dia tidak tertarik memberikan pinjaman ke perusahaan pusat yang kamu pegang, Sayang."
Dahi Ratna berkerut seketika. "Loh, kok gitu?"
"Aku sudah menawarkan perusahaan pusat, tapi dia malah membidik perusahaan cabang yang dikelola Amira. Pak Dani bilang, dia sudah mengincar cabang itu sejak lama karena progress keuangannya sangat bagus," jelas Angga dengan intonasi yang begitu tenang.
"Kamu jangan memuji Amira di depan umum, ya!" tegur Ratna kesal. "Perusahaan cabang itu bisa maju juga karena intervensi dan arahan dari aku!"
"Maaf, Sayang..." ucap Angga seraya mengusap bahu Ratna. "Masalahnya, Pak Dani mau bertemu dan bernegosiasi langsung dengan Amira. Kalau aku yang menyuruh Amira... kamu tahu sendiri kan bagaimana sikap anak itu padaku?"
Tanpa membuang waktu, Ratna langsung menyambar ponselnya dan menelepon Amira.
"Amira! Kamu harus ketemu Pak Dani, salah satu petinggi Bank Surya!"bentak Ratna begitu sambungan terhubung.
"Untuk apa, Mah?"sahut Amira dingin dari seberang telepon.
"Kita butuh suntikan dana, Mamah mau pinjam uang!"
"Ya Mamah saja yang ketemu dengannya. Kenapa harus Mira?"
"Dia maunya meminjamkan uang ke perusahaan cabang yang kamu pegang!"
"Perusahaanku aman-aman saja, Mah. Walau kas kemarin berkurang 2,5 miliar karena ditransfer ke Om Angga, operasional kami masih sangat aman untuk bertahan."
"Tapi Mamah yang perlu uangnya, Amira! Kamu tinggal ketemu saja apa susahnya, sih?!"
"Terus uangnya nanti untuk siapa? Untuk Mamah... atau untuk suami baru Mamah itu?"sindir Amira menohok.
"AMIRA!"bentak Ratna murka. "Kamu cukup lakukan perintah Mamah! Nanti kamu pergi didampingi Rini!"
"Iya..."jawab Amira pasrah lalu memutus sambungan secara sepihak.
"Bagaimana, Sayang?" tanya Angga berpura-pura cemas.
"Tenang saja, dia pasti mau," dengus Ratna. "Sama Rini kan perginya?"
"Iya, Rini yang mendampingi."
Ratna bersedekap, tersenyum sinis. "Amira itu memangnya bisa apa kalau tanpa Rini? Sebenarnya kan otak di balik kesuksesan perusahaan cabang itu adalah Rini." Ia menatap Angga penuh rasa terima kasih. "Terima kasih ya, Mas... sudah banyak membantu. Dan terima kasih dulu sudah merekomendasikan Rini jadi sekretaris Amira."
"Rini kan teman SMA Amira, tentu saja aku rekomendasikan," senyum Angga misterius.
"Ya, dari sekian banyak teman Amira, kamu memilih Rini. Kamu memang sangat jeli, Mas. Terima kasih banyak..."
"Kita kan suami istri, tidak usah berterima kasih. Ngomong-ngomong, aku ada urusan sebentar di luar, Sayang. Aku tinggal dulu, ya?"
Ratna tersenyum manis lalu mencium tangan Angga. "Baiklah, Mas. Sampai berjumpa di rumah."
Angga melangkah keluar dari gedung perusahaan Ratna. Begitu sampai di dalam mobilnya dan merasa sudah aman, ia segera menelepon Rini.
"Rini! Kamu harus pastikan semua rencana kali ini berjalan lancar, mengerti?!" tegas Angga tanpa basa-basi.
"Iya... tapi ini parah banget, Sayang. Aku sebenarnya enggak tega..."rengek Rini pelan dari seberang telepon.
"Sudahlah, lakukan saja! Ini semua juga gara-gara keteledoran kamu kemarin! Kenapa bisa si Luki tukang ojek itu yang masuk ke kamar?!"
"Ya mana aku tahu! Padahal aku lihat foto profil di aplikasi ojol itu jelek banget, tapi kenapa aslinya malah tampan dan mengerikan begitu?!"
"Lupakan soal itu! Sekarang fokus pada tugasmu. Jangan sampai Amira curiga sedikit pun!"
"Iya... tapi berapa bayaranku kali ini?"tanya Rini mulai bernegosiasi.
"200 juta."
"Aku enggak mau cuma uang."
"Terus kamu mau apa?"
"200 juta... ditambah servis semalam penuh dengan kamu."
Angga tertawa kecil, matanya berkilat licik. "Oke. Deal."
TUT.Sambungan telepon diputus. Angga menyeringai puas membayangkan kemenangan di depannya.
Waktu terus bergulir hingga sore hari pun tiba di kantor cabang Amira.
"Amira... beneran kamu mau ketemu Pak Dani?" tanya Rini mendekati meja kerja Amira dengan raut cemas buatan.
"Apa aku punya pilihan untuk menolak perintah Mamah?" sahut Amira lelah.
"Jujur, aku agak trauma sih dengar cerita kamu waktu itu..."
Amira menghentikan jemarinya di atas papan ketik, menatap Rini lekat-lekat. 'Sikpanya biasa saja, tapi mulutnya mengaku trauma?' batin Amira teringat ucapan Luki semalam tentang keanehan ekspresi Rini.
"Aku juga sebenarnya trauma, Rin. Bagaimana kalau kamu saja yang pergi mewakiliku bertemu Pak Dani?" uji Amira sengaja.
Rini mendadak gugup. "Waduh! Ya enggak bisa dong, Amira! Aku kan cuma sekretaris, bukan pemegang keputusan tertinggi."
"Apapun yang kamu putuskan itu kan mewakili keputusanku. Lagipula ini perintah Mamahku."
"Ih, enggak bisa, Ah! Aku takut gagal... dan aku enggak percaya diri. Kamu tahu sendiri kan, aku kurang pandai bernegosiasi untuk angka semiliar lebih," elak Rini cepat.
"Tapi aku benar-benar trauma... Bagaimana kalau kita ketemuan di kantor resminya saja?" usul Amira lagi.
"Kalau ketemu di kantor resmi, sepertinya kita tidak bisa mendapatkan potongan bunga khusus, Ra. Pasti bakal berbelit-belit mengikuti prosedur Bank yang ketat," sela Rini meyakinkan.
"Terus bagaimana dong?"
"Sepertinya memang harus ketemu di luar," potong Rini memutuskan sepihak.
"Ya sudah, kita memang harus ketemu..." Amira menarik napas panjang. "Tapi kita harus ekstra hati-hati. Aku akan membawa air minum sendiri dari rumah dan tidak akan menyentuh makanan atau minuman apapun di tempat pertemuan nanti."
Atmosphere di ruangan itu mendadak hening. Rini berputar otak setengah mati, dadanya berdebar panik. 'Celaka! Dia mulai waspada! Kalau dia tidak mau makan dan minum apa-apa, bagaimana caranya aku memasukkan obat bius itu nanti?!'
"Bagaimana, Rin?" tanya Amira memecah lamunan sekretarisnya.
"Y-ya... bagaimana lagi," sahut Rini tersenyum kaku. "Kita memang harus hati-hati. Tapi... sepertinya tidak sopan deh Ra, kalau kita membawa makanan dan minuman sendiri di depan petinggi bank sekelas Pak Dani."
"Ya sudah, nanti kita makan dan minum sedikit saja untuk formalitas," kata Amira tenang.
"Nah, ya udah deh kalau begitu!" jawab Rini lega mendengarnya.
Dengan penuh kepalsuan, Rini dan Amira pun berangkat menuju sebuah restoran mewah yang telah dipesan khusus oleh Dani—petinggi Bank Surya yang menjadi bagian dari perangkap maut Angga