Rangga Hidayat, anak tunggal konglomerat properti, kehilangan kedua orang tuanya dalam pembunuhan berencana yang dikamuflase sebagai kecelakaan. Ia sendiri hampir tewas, lalu dibuang di tepi hutan dekat Desa Sumbermulyo. Seorang nenek miskin, Saroh, menemukannya dan merawatnya dengan penuh kasih. Di desa terpencil itu, Rangga belajar hidup sederhana: bertani, beternak, bermain, dan berteman. Ia mengalami ejekan, candaan, persahabatan, dan cinta pertama. Perlahan ia tumbuh menjadi pemuda tang gigih. Ketika dewasa, ia merantau ke kota untuk bekerja, menyelidiki kematian orang tuanya, dan menghadapi konflik batin antara balas dendam dan pengampunan. Novel ini mengikuti perjalanan emosionalnya dari anak manja menjadi lelaki dewasa yang bijaksana, dengan latar pedesaan yang hangat dan intrik kota yang kelam.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Thomaz3235, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 26: TAWURAN SEKOLAH DAN REFLEKSI DIRI
Hari itu berjalan seperti biasa bagi Rangga. Ia bangun pagi, membantu membersihkan asrama, sarapan sederhana, lalu berangkat ke sekolah dengan langkah mantap. Matahari bersinar cerah di atas kepalanya, dan burung-burung berkicau riang di pepohonan. Ia merasa hari ini akan menjadi hari yang baik—nilai ujian matematikanya kemarin keluar bagus, dan dagangannya di pasar malam akhir pekan lalu laris manis. Semua tampak berjalan sesuai rencana.
Namun suasana damai itu buyar ketika bel pulang sekolah berbunyi. Rangga sedang berjalan keluar dari gerbang sekolah bersama Anisa, berbincang tentang rencana belajar malam nanti, ketika tiba-tiba keributan terdengar dari kejauhan. Suara teriakan, bentakan, dan derap langkah kaki yang tergesa-gesa memecah ketenangan sore itu.
"Ada tawuran! Tawuran di depan sekolah!" teriak seorang siswa sambil berlari.
Rangga dan Anisa saling pandang. Dari kejauhan, mereka melihat sekelompok siswa dari sekolah lain sudah berkumpul di depan gerbang, membawa kayu dan batu. Di sisi lain, sekelompok siswa dari sekolah mereka bersiap menghadapi mereka dengan ekspresi marah dan penuh tantangan. Suasana berubah menjadi tegang dalam sekejap.
"Rangga, ayo kita pergi lewat jalan belakang," kata Anisa dengan cemas, menarik lengan Rangga. "Aku tidak mau kau terluka."
Rangga mengangguk. Mereka segera berbalik dan mengambil jalan memutar, menjauhi kerumunan yang mulai memanas. Namun sebelum mereka benar-benar pergi, Rangga berhenti sejenak dan menatap kerumunan itu dari kejauhan. Ia melihat dua kelompok siswa yang saling berhadapan dengan mata menyala-nyala, siap saling serang kapan saja. Beberapa di antara mereka bahkan sudah saling dorong dan adu mulut.
Untuk apa semua ini? batin Rangga. Kenapa mereka harus bertengkar seperti ini? Apa yang mereka cari dari tawuran ini?
Ia mengamati wajah-wajah mereka—penuh amarah, penuh kebencian, tetapi di balik itu semua, ia melihat sesuatu yang lain. Ia melihat kepolosan yang hilang, masa depan yang terancam, dan energi muda yang terbuang sia-sia. Mereka semua adalah anak-anak muda yang seharusnya belajar dan bermimpi, bukan bertarung di jalanan seperti binatang.
"Apa yang mereka cari?" gumam Rangga pelan, nyaris tak terdengar. "Apakah mereka ingin terlihat hebat? Ingin dianggap jagoan? Ingin dihormati karena bisa memukul orang lain?"
Anisa yang mendengarnya menjawab dengan lembut, "Mungkin mereka merasa tidak punya tujuan lain, Rangga. Mungkin mereka mencari pengakuan dengan cara yang salah."
Rangga menggelengkan kepala. "Aku tidak mengerti. Bukankah lebih hebat jika mereka menggunakan energi itu untuk belajar, untuk meraih mimpi, untuk menjadi seseorang yang berguna? Bukankah itu yang membuat seseorang benar-benar hebat, bukan karena bisa memukul orang lain?"
Ia teringat pada Nenek Saroh yang selalu mengajarinya bahwa kekuatan sejati bukanlah tentang bisa mengalahkan orang lain, tetapi tentang bisa mengendalikan diri sendiri. Ia teringat pada Pak Heru yang mengajarinya bahwa hidup ini seperti naik sepeda—untuk tetap seimbang, kau harus terus bergerak maju, bukan ke samping untuk bertabrakan dengan orang lain.
"Rangga, ayo cepat," kata Anisa menarik tangannya. "Aku tidak mau kau terlibat."
Namun sebelum mereka bisa melangkah lebih jauh, tawuran itu akhirnya pecah. Teriakan dan benturan kayu terdengar memekakkan telinga. Beberapa siswa mulai berlari tunggang langgang, ada yang berteriak kesakitan, ada yang berteriak penuh amarah. Suasana menjadi sangat kacau.
Tiba-tiba, suara sirine polisi terdengar dari kejauhan. Beberapa mobil polisi melaju kencang menuju lokasi tawuran. Para polisi turun dengan cepat, membubarkan kerumunan dengan tegas. "Bubar! Bubar! Semua diam di tempat!" teriak seorang polisi dengan suara lantang.
Beberapa siswa yang ketahuan terlibat langsung digelandang ke mobil polisi. Siswa lainnya berhamburan ke segala arah, berusaha melarikan diri. Suasana menjadi semakin riuh dengan teriakan para polisi dan tangisan siswa yang ketakutan. Dalam hitungan menit, tawuran itu berhasil dibubarkan.
Rangga dan Anisa berdiri di kejauhan, menyaksikan semua itu dengan mata yang penuh refleksi. Rangga merasakan dadanya sesak—bukan karena takut, tetapi karena sayang. Ia melihat anak-anak muda sebaya dengannya yang seharusnya memiliki masa depan cerah, kini justru menghadapi masalah dengan polisi karena kekerasan yang tidak berguna.
"Apa gunanya semua itu?" bisik Rangga lagi, kali ini lebih keras. "Mereka menghancurkan masa depan mereka sendiri hanya untuk hal yang tidak berarti. Mereka mencari pengakuan dengan cara yang salah, dan pada akhirnya mereka hanya akan rugi."
Anisa menggenggam tangannya erat. "Kau benar, Rangga. Tapi tidak semua orang sebijak kau. Tidak semua orang punya tujuan yang jelas seperti kau. Mungkin mereka hanya bingung dan tidak tahu harus ke mana."
Rangga mengangguk, tetapi hatinya masih berat. Ia berjanji pada dirinya sendiri untuk tidak pernah terlibat dalam hal-hal seperti itu. Ia memiliki tujuan yang jelas—ia ingin menyelesaikan sekolah, melanjutkan kuliah, mencari kebenaran tentang orang tuanya, dan membahagiakan Nenek. Tidak ada ruang untuk kekerasan yang tidak berguna dalam hidupnya.
Malam harinya, setelah kejadian tawuran yang menggoncang pikirannya, Rangga tetap melanjutkan rutinitasnya. Ia pergi ke pasar malam untuk berjualan, seperti biasa. Namun kali ini, ada tekad baru yang membara di dalam dadanya. Ia ingin membuktikan bahwa ada cara lain untuk menjadi "hebat"—bukan dengan kekerasan, tetapi dengan kerja keras, kejujuran, dan ketekunan.
"Malam ini, aku akan menjual lebih banyak dari biasanya," kata Rangga pada dirinya sendiri sambil menyiapkan dagangan. "Aku akan membuktikan bahwa kerja keras lebih berarti daripada kekerasan."
Ia datang ke pasar malam lebih awal, menata dagangannya dengan rapi. Kali ini, ia membawa lebih banyak variasi—nasi goreng, mie goreng, dan beberapa kue tradisional yang ia pelajari dari Nenek Saroh. Aroma masakannya menggugah selera dan menarik perhatian banyak pengunjung.
"Rangga! Aku mau nasi goreng dua bungkus!" teriak seorang pelanggan tetap.
"Siap, Bu! Tunggu sebentar!" jawab Rangga dengan semangat.
Malam itu, dagangan Rangga laris manis. Dalam waktu tiga jam, semua nasi bungkusnya habis terjual. Ia bahkan mendapat pesanan untuk akhir pekan depan dari beberapa pelanggan yang puas dengan masakannya.
"Rangga, kau hebat!" kata Ucok yang datang membantu. "Daganganmu laku keras! Kau pasti bisa kaya raya suatu hari nanti!"
Rangga tersenyum, tetapi di dalam hatinya ia merasa ada yang lebih berharga dari sekedar uang. Ia merasa bangga karena ia telah menggunakan waktunya untuk hal yang berguna, bukan untuk kekerasan seperti yang ia saksikan tadi. Ia telah membuktikan bahwa kerja keras dan kejujuran adalah jalan yang lebih mulia daripada kekerasan dan tawuran.
Di sela-sela kesibukannya, Rangga melihat beberapa siswa dari sekolahnya yang tadi terlibat tawuran. Mereka tampak lusuh dan kusut, beberapa di antaranya bahkan terlihat berdarah dan lebam. Mereka berjalan dengan wajah menunduk, mungkin karena malu atau karena mereka sadar bahwa semua yang mereka lakukan sia-sia.
Rangga tidak mengejek mereka. Ia hanya diam dan melanjutkan pekerjaannya. Dalam hatinya, ia berdoa agar mereka bisa menemukan jalan yang lebih baik. Ia juga berdoa agar ia sendiri tidak pernah kehilangan arah seperti mereka.
Malam itu, Rangga menulis surat untuk Nenek Saroh, menceritakan semua yang terjadi.
"Nenek, hari ini aku menyaksikan sesuatu yang membuatku berpikir panjang. Aku melihat tawuran di sekolah—anak-anak muda yang saling memukul hanya untuk merasa hebat. Aku bingung, Nek. Apa gunanya semua itu? Apa yang mereka cari? Apakah mereka ingin dihormati karena bisa memukul orang? Aku tidak mengerti. Tapi malam ini, aku kembali berjualan di pasar malam. Daganganku laris, dan aku merasa bangga bukan karena uangnya, tetapi karena aku menggunakan waktuku untuk hal yang berguna. Aku tidak ingin menjadi seperti mereka, Nek. Aku ingin menjadi seseorang yang berguna, seperti yang Nenek ajarkan. Doakan aku terus, Nek. Aku mencintaimu."
Ia menutup surat itu, lalu memejamkan mata. Ia berdoa untuk Nenek, untuk Anisa, untuk teman-temannya, dan untuk dirinya sendiri. Ia juga berdoa untuk siswa-siswa yang terlibat tawuran, agar mereka sadar dan menemukan jalan yang lebih baik. Dalam hatinya, ia berjanji untuk terus menjadi contoh bahwa ada cara lain untuk menjadi hebat—bukan dengan kekerasan, tetapi dengan kerja keras dan kebaikan.
---
[Bersambung...]
---
---