Rendra, mantan polisi jujur yang dijebak dan dicap pengkhianat oleh atasannya sendiri, Inspektur Bagas, yang ternyata pemimpin sindikat kriminal. Rendra kehilangan adik perempuannya yang tewas dalam kebakaran pabrik yang disengaja untuk menutup kejahatan mereka.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kamal Fajar001, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 14
Cahaya matahari sore miring menyinari wajah orang yang berdiri di atas tebing itu—Rendra mengenali garis rahang dan senyum yang sering dilihatnya di spanduk kampanye dan berita televisi. Itu adalah Bapak Gubernur sendiri, Drs. H. Ridwan Syah, pemimpin yang selama ini dipuji sebagai pelindung rakyat dan simbol kejujuran.
“Kalian terlihat terkejut,” ucap Ridwan tenang, lalu melangkah turun lewat jalan setapak di samping tebing diiringi dua pengawal berbadan tegap. “Orang-orang suka melihat apa yang ingin mereka lihat. Mereka ingin pemimpin yang baik, jadi aku memberinya wajah yang baik. Di balik itu, ada pekerjaan lain yang harus diselesaikan—pekerjaan yang kotor, tapi menjaga keseimbangan kekuasaan tetap di tangan orang yang tepat.”
“Keseimbangan untuk siapa?” tantang Rendra, suaranya tajam namun tenang. “Untukmu dan kelompokmu saja, sementara rakyat biasa dibuang seperti sampah saat mereka menghalangi jalanmu? Kebakaran pabrik, limbah beracun, penyelundupan—semuanya atas perintahmu?”
“Bagas hanyalah alat, Ardi adalah pelaksana, dan aku adalah kepala perencana,” akui Ridwan tanpa rasa bersalah sedikit pun. “Selama dua puluh tahun aku membangun jaringan ini perlahan. Tidak ada yang curiga karena aku selalu tampil paling depan saat ada bencana, paling dermawan saat ada penggalangan dana. Siapa yang akan menduga gubernur kesayangan rakyat adalah pemimpin kelompok yang kalian sebut ‘Bayangan Utama’?”
Ia memberi isyarat dengan tangan kanannya. Pasukan di sekeliling lembah mulai turun perlahan, mengepung kelima orang itu rapat-rapat.
“Serahkan semua berkas, perangkat data, dan salinan nama dari batu itu. Lalu berlutut. Jika kalian patuh, aku mungkin membiarkan kalian hidup sebagai orang tak dikenal di tempat jauh. Jika tidak… lembah ini akan menjadi kuburan terakhir kalian.”
Surya menggeser posisinya sedikit ke samping, memberi isyarat halus pada Dika. Mereka tidak bisa melawan puluhan orang bersenjata sekaligus di tempat terbuka ini—satu tembakan saja bisa berakibat fatal.
“Kau pikir kami datang sejauh ini untuk menyerah begitu saja?” kata Pak Haris tiba-tiba. Ia melangkah maju, menatap lurus ke mata Ridwan. “Dulu aku pernah mendengar ayahmu berbicara. Dia bilang kekuasaan adalah amanah, bukan hak warisan untuk menindas. Kemana janjimu pada ayahmu?”
Wajah Ridwan berubah merah padam seketika. “Jangan sebut nama ayahku! Dia lemah. Dia membiarkan orang lain mengambil apa yang seharusnya milik keluarga kami. Aku hanya memperbaiki kesalahannya!”
Amarah yang meledak itu adalah celah yang dicari. Rendra memberi kode cepat. Surya dan Dika melempar tabung asap ke arah tengah kepungan. Asap tebal langsung menyelimuti lembah, membuat pandangan pasukan menjadi kabur.
“Pecah! Cari tempat di balik tebing!” teriak Rendra.
Mereka berlari ke segala arah. Peluru berhamburan ke sembarang arah, menabrak batu dan membelah rumput. Rendra menuntun Bapak Harun ke balik batu besar di pinggir sungai, sementara Pak Haris dan Surya berlari ke arah tebing sebelah. Dika menyelinap ke balik semak belukar yang lebat.
“Jangan biarkan mereka kabur!” bentak Ridwan. “Batu itu tidak boleh dilihat siapa pun lagi! Hancurkan buktinya, tapi tangkap mereka hidup-hidup—aku ingin tahu siapa lagi yang mereka beri tahu tentang rahasia ini!”
Rendra melihat ke arah batu bertulis itu. Dua pasukan sudah mendekat dengan palu besar di tangan. Jika batu itu hancur, tidak akan ada bukti fisik yang tersisa selain berkas yang mereka pegang. Ia segera mengambil batu kecil, melemparkannya ke arah pohon lain untuk mengalihkan perhatian, lalu bergerak cepat menyerang kedua orang itu dari belakang. Dalam hitungan detik mereka terjatuh, tapi suara pertarungan itu memancing pasukan lain datang.
“Rendra! Lewat gua samping!” teriak suara Pak Haris dari atas tebing. “Ada lubang tersembunyi di balik air terjun kecil di sebelah kanan!”
Rendra menoleh—benar saja, di balik percikan air sungai yang jatuh dari tebing, terlihat celah gelap. Ia memberi isyarat pada teman-temannya yang masih bersembunyi. Satu per satu mereka berlari menyusup ke sana tepat saat pasukan Ridwan kembali mengepung area batu.
Di dalam gua yang gelap dan sempit itu, mereka terengah-engah. Suara teriakan dan langkah kaki pengejar terdengar samar di luar. Bapak Harun memegang dada, napasnya pendek karena kelelahan, tapi ia tersenyum lega. “Kita selamat untuk saat ini. Tapi bukti di luar sana… mereka pasti akan menghancurkannya.”
“Tidak sepenuhnya,” kata Surya sambil mengeluarkan ponsel kecil yang tadi disembunyikan di saku. “Saat Ridwan berbicara, aku merekam semuanya. Dan sebelum kita lari, aku sempat memotret batu bertulis itu dengan jelas. Sekarang kita punya bukti suara, bukti tulisan, dan kesaksian kita sendiri.”
Rendra menatap ke arah mulut gua yang gelap. Ia baru saja berhadapan langsung dengan musuh terbesar—dan ternyata dia bukan monster yang menyembunyikan wajah, melainkan manusia biasa yang memakai topeng kebaikan dengan sangat sempurna.
“Kita belum menang,” katanya pelan tapi tegas. “Sekarang mereka tahu kita memegang bukti yang paling berbahaya. Mereka tidak akan berhenti sampai kita diam selamanya. Tapi setidaknya sekarang kita tahu: kita tidak lagi berperang melawan bayangan yang tak berwajah. Kita tahu siapa yang harus kita hadapi, dan kita tahu apa yang harus kita buktikan kepada semua orang.”
Di luar sana, Ridwan berdiri di depan batu bertulis yang sudah hancur berkeping-keping. Wajahnya dingin dan penuh kekhawatiran. Ia tahu kehancuran batu itu tidak cukup—karena kini kebenaran sudah tersimpan di tangan orang-orang yang tidak akan takut bicara.