NovelToon NovelToon
Langit Yang Menyimpan Janji

Langit Yang Menyimpan Janji

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Epik Petualangan / Fantasi Timur
Popularitas:2.7k
Nilai: 5
Nama Author: Bang Jigur

Dunia kultivasi terbagi menjadi banyak sekte dan keluarga besar. Orang-orang berlomba mencapai tingkat tertinggi demi keabadian.
Tapi protagonis kita?
Seorang pemuda biasa yang dianggap sampah oleh semua orang.
Dia nggak punya bakat kultivasi yang bagus. Bahkan keluarganya sendiri malu mengakuinya.
Sampai suatu hari, dia bertemu dengan seorang gadis dari sekte besar.
Cantik, dingin, berbakat, dan statusnya jauh di atasnya.
Awalnya mereka saling benci.
Lalu mulai saling peduli.
Lalu muncul masalah...
Si gadis ternyata sudah dijodohkan dengan seorang jenius dari sekte lain.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bang Jigur, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 31

Tiba-tiba...

"Menarik," kekeh pria tua itu seraya melangkah makin mendekat. "Kalau memang begitu keinginan kalian... maka matilah bersama!"

Pria tua itu mengangkat tinggi-tinggi tongkat kayunya. Seketika, pusaran energi spiritual berukuran raksasa berkumpul di puncaknya, menciptakan gelombang tekanan yang membuat tanah di sekitar mereka terbelah.

Yunche memaksa dirinya untuk bangkit, namun persendian tubuhnya yang remuk menolak untuk bekerja. Tiba-tiba, sesosok bayangan melangkah maju dan berdiri tepat di depannya.

Yunche membelalak. "Qingli!"

Gu Qingli menggenggam gagang pedangnya rapat-raptat, pasang kuda-kuda menghadapi gempuran maut.

"Jangan nekad!" seru Yunche parau.

"Apa?"

"Jangan pernah berdiri menghalangi di depanku!"

Gu Qingli meliriknya sekilas seraya menyunggingkan senyum tipis. "Aku tidak suka melihat punggungmu, kau sendiri yang bilang begitu tadi."

Yunche terpaku sejenak, lalu tersenyum pasrah di balik rasa sakitnya. "Dasar..."

Tepat ketika pendar serangan pria tua itu hendak ditembakkan, sebuah gema suara berwibawa mendadak menggelegar dari kedalaman gua.

"CUKUP."

Suara itu menghantam atmosfer seketika. Angin malam yang berembus kencang mendadak berhenti total, dan pusaran energi spiritual raksasa di puncak tongkat pria tua itu melenyap begitu saja tanpa bekas.

Pria tua itu tersentak kaget, wajahnya memucat. "Siapa di sana?!"

Dari kegelapan mulut gua, pendar cahaya hitam pekat perlahan merayap keluar. Shen Mo yang berdiri tak jauh dari sana mengamati fenomena itu dengan sepasang mata dingin. "Sudah waktunya," gumamnya pelan.

Yunche mengerutkan keningnya. "Waktunya apa?"

Shen Mo tak menyahut, pandangannya terkunci lurus pada pendar hitam di mulut gua.

Tiba-tiba, sebuah bisikan suara terdengar begitu jernih memanggil namanya: "Yunche..."

Tubuh Yunche membeku seketika. Suara itu... teramat familiar di telinganya. Suara hangat yang kerap hadir di dalam kilasan memori masa kecilnya.

Suara sang ayah.

"Yunche..."

Dengan sisa tenaganya, Yunche memaksakan diri untuk berdiri tegap. "Ayah...?"

Gu Qingli menahan napasnya, sementara pria tua berambut putih itu refleks melangkah mundur dengan wajah pias.

Sesosok bayangan perlahan melangkah keluar menembus kegelapan gua. Seorang pria berbalut jubah putih bersih, berambut panjang terurai, dengan wajah pucat namun memancarkan kehangatan yang tiada tara.

Yunche mematung sepenuhnya, air matanya menetes tanpa disadari. "Ayah..."

Shen Tianyu. Pria itu kini berdiri nyata di hadapan mereka.

Pria tua di depan gerombolan musuh makin mundur ketakutan. "Tidak mungkin... Ini sungguh tidak mungkin!"

Shen Tianyu mengabaikan sekelilingnya, menatap lurus pada Yunche sebelum akhirnya mengulas senyum paling hangat. "Putraku..."

Yunche mengayunkan kakinya, hendak berlari mendekat. "Ayah!"

Namun Shen Tianyu perlahan menghentikan langkahnya seraya mengangkat tangan. "Jangan mendekat, Yunche."

Yunche menahan pijakannya, bingung. "Kenapa?"

"Karena aku... sebenarnya sudah lama mati."

Yunche tercekat. "Jika Ayah sudah mati... lantas siapa yang ada di hadapanku sekarang?!"

Shen Tianyu tersenyum tipis. "Ini hanyalah sebaris wujud bayangan—sisa-sisa dari benih kesadaranku yang terpatri di dalam segel liontin."

Yunche menunduk, keheningan menyergap jiwanya.

Shen Tianyu memandangi putranya penuh kasih. "Yunche, ada sesuatu yang harus kusampaikan padamu."

"Sesuatu apa, Ayah?"

Shen Tianyu mengalihkan pandangannya. Iris matanya kini berganti menatap lembut ke arah Gu Qingli yang berdiri gemetar di samping Yunche. "Dan... aku juga memiliki sebuah pesan khusus untuknya."

Gu Qingli memucat pasi, tenggorokannya terasa tersumbat. Yunche mengerutkan keningnya, bergantian menatap sang ayah dan Qingli.

"Qingli..." panggil Shen Tianyu lembut.

Gadis itu terisak pelan, menyuarakan panggilan masa kecilnya. "Om Shen..."

"Jangan memanggilku begitu lagi," potong Shen Tianyu seraya tersenyum teduh. "Kau sudah tumbuh menjadi gadis yang begitu dewasa dan pemberani."

Air mata Gu Qingli menembus pipinya kian deras.

Yunche menatap ayahnya kebingungan. "Ayah... Ayah sungguh mengenalnya?"

"Tentu saja aku mengenalnya," kekeh Shen Tianyu pelan. "Sebab dia adalah... anak perempuan yang pernah kau perjuangkan dan kau selamatkan malam itu."

Gu Qingli dan Yunche sama-sama membelalak tak percaya.

"Malam kelam belasan tahun lalu, ketika pertarungan antara diriku dan Gu Tianming pecah..." Shen Tianyu menyambung kalimatnya dengan nada begitu lembut, "...aku tidak hanya bertarung demi menyelamatkan nyawamu, Yunche. Tapi aku juga bertarung demi melindungi nyawa gadis kecil ini."

Gu Qingli terisak histeris. "Om Shen... ma-maafkan aku... Ayahku telah—"

"Qingli, hentikan," potong Shen Tianyu tegas namun hangat. "Jangan pernah sekalipun melimpahkan dosa orang lain ke atas pundakmu sendiri."

"Tapi Ayahku yang telah membantai Anda!" jerit Qingli penuh penyesalan.

"Aku tahu," sahut Shen Tianyu tenang. "Namun dosa seorang ayah tidak akan pernah menjadi beban takdir bagi putrinya. Yunche pun memahami hal itu."

Shen Tianyu lalu beralih menatap Yunche lurus-lurus. "Yunche... jangan pernah membiarkan benih kebencian membutakan dan menguasai seluruh jalan hidupmu."

Yunche mengepalkan tangannya rapat-raptat hingga gemetar. "Bagaimana bisa aku membuang kebencian itu, Ayah?! Dia telah merenggut nyawamu!"

"Sebab pada malam itu... aku sendiri yang memilih untuk mengalah," bisik Shen Tianyu jujur.

Yunche tersentak hebat. "Apa maksud Ayah?!"

"Jika malam itu aku memilih untuk bertarung mati-matian melawan Gu Tianming..." Shen Tianyu menatap sepasang anak manusia di hadapannya bergantian, "...maka ledakan energi pertempuran kami dipastikan akan meremukkan dan membunuh kalian berdua yang saat itu masih teramat kecil."

Keheningan yang amat mencekam seketika melingkupi tempat itu. Yunche dan Gu Qingli terbungkam sepenuhnya, tak sanggup menyela sepatah kata pun.

"Aku memilih untuk membiarkan pedang itu menembus dadaku..." Shen Tianyu menyunggingkan senyum keteguhan hati seorang ayah. "...semata-mata agar ada dua nyawa anak manusia yang bisa terus bertahan hidup menyongsong masa depan."

1
Deutsch
mantap thor
Gia Uw
lanjut lagi
Alia Chans
Datang tiba-tiba, tujuan nya Darah 😭😭
apa gk syok tuh thor
obeng min
luar biasa
obeng min
hurra
obeng min
josss
obeng min
mana nih ketua
DeZigur: besok bang. 5 bab crazy up.
total 1 replies
obeng min
joss
obeng min
mantap
obeng min
lanjut thor
obeng min
gas thor mantap💪💪💪💪👍👍👍👍👍
Semoli Ginon
blom waktunga yunche. sabar 🤭
Semoli Ginon
🤣🤣
Semoli Ginon
duh yunche celamitan pula/Cry/
Semoli Ginon
dasar mc koplak emang 🤣
Semoli Ginon
merepet aja mulutnya yunche. husss diam dulu
Semoli Ginon
sangat tidak sopan 🤣
Semoli Ginon
mc nya rada koplak ini ya? 😄
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!