elama dua belas tahun, Nan Shin Sim mengabdikan hidupnya untuk keluarga.
Ia bekerja sebagai perawat, melayani ibu mertua, membesarkan dua anak, sementara suaminya, dr. Cheng An Kho, diam-diam membangun keluarga lain bersama wanita yang dicintainya.
Ketika perselingkuhan itu terbongkar, Nan Shin kehilangan segalanya.
Rumah.
Harta.
Bahkan hak asuh kedua putranya.
Semua orang mengira wanita itu telah benar-benar hancur.
Namun tepat ketika ia meninggalkan keluarga Kho dengan tangan kosong, sebuah telepon misterius dari Singapura mengubah jalan hidupnya.
Sejak hari itu, Nan Shin mulai menyembunyikan sesuatu.
Sesuatu yang cukup besar untuk membalikkan nasibnya.
Dan ketika mantan suami, ibu mertua, serta orang-orang yang pernah menginjaknya mulai menyadari ada yang tidak beres...
sudah terlambat.
Karena wanita yang mereka kenal...
bukan lagi Nan Shin Sim yang dulu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Awan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 4
Bab 4
Meja Perawat yang Kacau
Tiga hari setelah “bicara baik-baik” yang ternyata hanya berisi keputusan bahwa jadwal di kulkas tetap berlaku, tiga orang memanggil Nan Shin hampir bersamaan di meja perawat.
“Suster, infus Mama saya sudah habis!”
“Kak Nan Shin, pasien triase kuning minta diperiksa lagi.”
“Nan, tolong cek obat bed sembilan sebelum diberikan.”
Nan Shin menahan napas selama satu detik.
Di depannya ada tiga lembar catatan, satu telepon berdering, dan layar komputer yang terus memunculkan permintaan baru. Suster Dewi masih tertahan di ruang triase karena pasien datang berturut-turut. Suster Ayu sedang mengganti cairan infus. Bu Ratna berdiri dekat papan pembagian tugas dengan pulpen merah di tangan, mencoret nama perawat yang mendadak izin sakit.
Satu orang hilang dari jadwal, tetapi pekerjaan tidak berkurang satu pun.
“Ayu, selesaikan infus bed tiga lalu cek bed sembilan,” kata Nan Shin. “Dewi, setelah triase ini selesai, pantau pasien kuning. Saya bicara dengan keluarga pasien dulu.”
“Siap,” jawab keduanya hampir bersamaan.
Seorang pria berusia sekitar empat puluh tahun sudah menunggu di depan meja perawat. Ia memegang lembar keluhan yang tadi diberikan petugas administrasi. Kertas itu terlipat di tangannya.
“Ibu saya dari tadi belum dapat kamar,” katanya. “Kami pakai BPJS, tapi bukan berarti boleh dibiarkan di lorong begini.”
Nan Shin berdiri menghadapnya. “Nama pasiennya siapa, Pak?”
Pria itu menyebutkan nama ibunya dengan nada masih tinggi.
Nan Shin memeriksa layar. “Ibu Bapak sudah masuk daftar rawat inap. Saat ini kamar masih penuh. Sambil menunggu, beliau tetap dipantau di area observasi.”
“Jawabannya dari tadi itu terus.”
“Saya paham Bapak kesal.”
“Kalau paham, kasih solusi!”
Beberapa keluarga pasien menoleh. Nan Shin bisa merasakan tatapan mereka berkumpul di punggungnya. Di rumah sakit, kekurangan kamar adalah masalah sistem. Namun orang yang berdiri paling dekat selalu menjadi wajah yang disalahkan.
“Solusi yang bisa kami lakukan sekarang adalah memastikan kondisi Ibu Bapak stabil sambil menunggu kamar tersedia,” kata Nan Shin. “Kalau ada perubahan, kami tangani segera. Saya juga akan cek ulang antreannya.”
Pria itu meletakkan lembar keluhan di meja dengan keras. “Saya mau bicara dengan dokter. Bukan perawat.”
Nan Shin mempertahankan suaranya. “Dokter sedang menangani pasien lain. Saya perawat yang memantau kondisi Ibu Bapak sekarang.”
“Saya bayar rumah sakit, saya berhak dapat penjelasan.”
“Betul. Saya sedang menjelaskan hal yang menjadi kewenangan saya. Untuk keputusan medis, dokter akan menemui Bapak setelah kondisi darurat tertangani.”
“Kalau ibu saya memburuk saat menunggu?”
“Tekan bel atau panggil kami. Kami memeriksa tanda vital berkala dan memprioritaskan perubahan kondisi, bukan jenis pembayaran pasien.”
Pria itu mengencangkan rahang. “Saya catat nama Suster.”
Nan Shin menunjuk kartu identitasnya. “Silakan. Nama saya Nan Shin Sim.”
Belum sempat Nan Shin menjawab, alarm dari area observasi berbunyi panjang.
Suster Dewi muncul dari balik tirai. “Suster Nan Shin, bed enam nggak respons!”
Tubuh Nan Shin langsung berbalik.
“Panggil dokter jaga. Ayu, bawa troli emergensi!”
Ia berlari ke bed enam. Seorang pasien laki-laki terbaring tanpa gerakan. Nan Shin memeriksa respons dan napas, lalu segera mengambil posisi.
“Code blue, bed enam!”
Suara di sekelilingnya berubah. Tirai ditutup. Suster Ayu mendorong troli emergensi sampai rodanya menghantam sisi ranjang. Suster Dewi membantu mengamankan jalur infus. Nan Shin memulai kompresi dada dengan irama mantap.
“Ayu, catat waktu.”
“Pukul sepuluh lewat dua belas.”
Dokter jaga tiba dan mengambil alih instruksi. Nan Shin terus menekan, kedua lengannya lurus, bahunya bergerak mengikuti setiap kompresi. Keringat mengalir dari pelipis ke balik masker. Pinggangnya berteriak, tetapi hitungan di kepalanya tidak boleh putus.
Satu siklus.
Pemeriksaan irama.
Obat diberikan setelah nama dan dosis dibaca ulang.
Kompresi dilanjutkan.
Di balik tirai, suara IGD tetap hidup. Telepon masih berdering. Orang masih mengeluh. Brankar lain masih masuk. Namun di ruang sempit itu, seluruh dunia menyusut menjadi monitor, hitungan, dan dada seorang pasien yang harus kembali bergerak.
“Ada nadi,” kata dokter jaga akhirnya.
“Irama teratur, Dok,” lapor Ayu.
“Tekanan darah?”
Dewi membaca monitor. “Delapan puluh enam per lima puluh, mulai naik.”
“Pertahankan pemantauan. Nan Shin, bagaimana waktunya?”
“Kompresi dimulai pukul sepuluh lewat dua belas. Nadi kembali setelah siklus terakhir.”
“Catat lengkap dan hubungi ruang intensif.”
“Baik, Dok.”
Nan Shin berhenti. Tangannya gemetar saat terangkat dari tubuh pasien.
“Tekanan darah mulai terbaca,” lapor Dewi.
“Siapkan pemindahan ke ruang intensif begitu disetujui,” kata dokter. Ia menoleh kepada Nan Shin. “Kerja bagus.”
Nan Shin mengangguk. Napasnya belum teratur. Bagian depan seragamnya basah oleh keringat. Ia mundur agar tim bisa melanjutkan stabilisasi, lalu membuka tirai.
Pria yang tadi mengajukan keluhan masih berdiri di dekat meja perawat.
Lembar keluhannya kini tidak lagi terlipat di tangannya. Ia melihat Nan Shin keluar dengan wajah pucat dan kedua lengan yang masih sedikit gemetar.
“Suster,” panggilnya, kali ini lebih pelan.
Nan Shin berhenti.
Pria itu mengalihkan pandangan. “Ibu saya di bed tiga. Infusnya memang sudah diganti.”
“Baik, Pak. Saya cek antrean kamarnya setelah ini.”
Tidak ada permintaan maaf. Nan Shin juga tidak menuntutnya. Ia mengambil lembar keluhan dari meja, menuliskan waktu laporan dan tindak lanjut, lalu menyelipkannya ke map.
Bu Ratna berdiri di sampingnya. “Kamu bisa istirahat lima menit?”
“Setelah laporan pasien bed enam selesai.”
“Nan, kalau kamu terus begini, yang masuk bed berikutnya bisa kamu.”
Nan Shin tersenyum tipis. “Kalau saya duduk sekarang, siapa yang selesaikan laporan?”
Bu Ratna tidak menjawab.
Tatapannya berpindah ke meja yang penuh formulir, lalu ke papan jadwal yang kekurangan satu nama. Akhirnya ia mengambil setengah tumpukan catatan dari depan Nan Shin.
“Saya bantu yang ini.”
Namun baru dua lembar dibawa, telepon di saku Bu Ratna bergetar. Ia membaca pesan, wajahnya menegang, lalu bergegas ke ruang kepala unit.
“Rapat mendadak,” katanya. “Tolong pegang meja dulu.”
Nan Shin melihat punggungnya menjauh.
Lagi-lagi, ia yang memegang semuanya.
Pukul dua siang, Nan Shin baru sempat masuk ke kantin rumah sakit. Nasi, sayur, dan lauk sederhana di etalase tinggal sedikit. Suster Ayu dan Dewi sudah duduk di meja pojok, masing-masing memegang piring yang isinya nyaris dingin.
“Kak Nan Shin, di sini,” panggil Ayu.
Nan Shin mengambil piring. Saat ia baru menunjuk potongan ayam terakhir, dua dokter masuk dari pintu samping.
Petugas kantin yang tadi sibuk menghitung uang langsung tersenyum lebar.
“Dok, mau makan apa? Ayamnya masih ada. Nanti saya ambilkan dari belakang.”
Nan Shin menatap potongan ayam di balik kaca, lalu pada pintu dapur yang segera terbuka. Dua porsi baru dibawa keluar untuk para dokter.
“Untuk perawat sudah habis, Bu?” tanya Dewi dari meja, setengah bercanda.
Petugas itu tertawa canggung. “Yang baru ini pesanan dokter.”
Nan Shin memilih tahu goreng tanpa berkata apa-apa.
Salah satu dokter yang lewat menerima salam hormat dari keluarga pasien. Pria yang sama bahkan menarikkan kursi untuknya. Beberapa jam sebelumnya, di IGD, keluarga lain menuntut bicara dengan dokter seolah perawat hanyalah dinding yang menghalangi.
Padahal tangan Nan Shin yang melakukan kompresi sampai nadinya kembali.
Ia duduk di samping Ayu. Nasi di piringnya sudah kering di bagian tepi.
“Kadang aku heran,” bisik Dewi. “Kalau ada yang salah, kita yang dicari. Kalau pasien membaik, yang dipuji dokter.”
Nan Shin menyendok nasi. “Kita tahu apa yang kita kerjakan.”
“Tapi orang lain nggak selalu tahu.”
Ayu menaruh sendok. “Tadi keluarga bed enam tanya siapa yang pertama melakukan kompresi.”
“Kamu jawab apa?” tanya Dewi.
“Aku bilang tim. Tapi aku juga sebut Kak Nan Shin yang memimpin sebelum dokter datang.”
Nan Shin menggeleng. “Tidak perlu membuat satu nama lebih besar dari tim.”
“Ini bukan membesarkan,” kata Ayu. “Mereka berhak tahu siapa yang bekerja di depan mata mereka.”
Dewi mengangkat gelasnya. “Sekali-sekali biarkan orang tahu perawat bukan sekadar orang yang disuruh mengganti infus.”
Nan Shin mengunyah pelan. Di dadanya masih ada rasa hangat ketika mengingat angka nadi yang kembali muncul di monitor. Ia bangga pada pekerjaannya. Bangga pada dua belas tahun yang membuat tangannya tetap stabil saat orang lain panik.
Hanya saja kebanggaan tidak menghapus lelah. Dan tidak mengubah satu kata kecil pada kartu identitasnya.
Kontrak.
Setelah makan, Bu Ratna menunggunya di lorong belakang kantin. Map rapat terselip di bawah lengannya. Wajahnya tampak lebih kaku daripada pagi tadi.
“Nan,” panggilnya pelan.
Nan Shin mendekat. “Ada apa, Bu?”
Bu Ratna melihat ke kanan dan kiri sebelum menurunkan suara.
“Belakangan ini hati-hati, ya.”