"Arga Pratama menjalani dua tahun sebagai menantu paling dihina di Jakarta. Keluarga istrinya memperlakukannya seperti benalu. Dia menanggung semuanya dalam diam.
Yang tidak ada yang tahu: dia adalah Acrux, investor anonim di balik Cakra Capital — kekayaan ratusan triliun dan masa lalu militer yang dirahasiakan pemerintah.
Sekarang, satu per satu, mereka akan tahu kebenarannya — dan menyesal."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ardana Bayu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 11
Bab 011: Reuni Kampus
Kiara Hartono sebenarnya ingin datang sendiri.
Undangan reuni kampus itu sudah masuk sejak dua minggu lalu, dikirim oleh grup alumni yang jarang ia buka. Restoran yang dipilih terlalu mahal untuk sekadar mengenang masa kuliah. Nama-nama yang muncul di daftar hadir juga terlalu akrab dengan kompetisi lama: siapa menikah dengan siapa, siapa punya jabatan apa, siapa terlihat jatuh, siapa bisa dijadikan bahan tawa halus.
Ia hampir menolak.
Lalu satu pesan dari panitia masuk.
Kiara, kalau datang boleh bawa pasangan. Kita semua penasaran kabar suamimu.
Kata suamimu membuatnya menatap layar lama.
Mereka belum bercerai secara hukum.
Tetapi mengajak Arga berarti menyeretnya kembali ke ruangan penuh mulut tajam. Tidak mengajaknya berarti membiarkan orang-orang itu menulis cerita sendiri.
Sore itu, ia mengirim pesan.
Kamu sibuk malam ini?
Balasan Arga datang dua belas menit kemudian.
Ada apa?
Reuni kampus. Aku butuh pendamping.
Ia menatap kata pendamping. Terlalu formal. Terlalu aman.
Arga menjawab:
Jam berapa?
Kiara tidak sadar ia menghela napas lega.
Restoran itu berada di kawasan Senopati, dengan lampu hangat, meja kayu panjang, dan daftar menu yang lebih cocok untuk difoto daripada dimakan. Ketika Kiara masuk bersama Arga, percakapan di meja utama berhenti setengah detik.
Setengah detik saja.
Cukup.
Seorang perempuan bergaun merah segera berdiri. "Kiara! Akhirnya datang juga."
Namanya Vania, mantan ketua angkatan yang dulu selalu tahu gosip sebelum dosen tahu nilai ujian. Di sebelahnya, dua laki-laki alumni bisnis tertawa pelan sambil menatap Arga dari sepatu sampai jaket.
"Ini..." Vania memiringkan kepala. "Masih Arga, kan?"
"Arga," kata Kiara datar.
Arga mengangguk sopan. "Malam."
"Wah, sederhana sekali," kata salah satu laki-laki, Riko, sambil tersenyum. "Di grup sempat ramai, katanya kalian sudah pisah. Tapi ternyata masih kompak."
Kiara menarik kursi. "Rumor memang biasanya lebih rajin daripada fakta."
Beberapa orang tertawa, sebagian karena sopan, sebagian karena tidak nyaman.
Di ujung meja, seorang perempuan berkerudung warna krem melambai kecil. Wajahnya lebih tenang daripada yang lain, senyumnya tidak dipoles rasa ingin tahu yang berlebihan.
"Kiara," katanya. "Lama sekali."
"Lestari."
Kiara benar-benar tersenyum kali ini.
Lestari Dewi dulu bukan bagian dari kelompok populer. Ia datang dari keluarga biasa di Bogor, sering membawa bekal sendiri, dan bekerja paruh waktu di toko buku kampus. Saat teman-teman lain membicarakan liburan ke luar negeri, Lestari membicarakan bagaimana menyelesaikan tugas tanpa membeli buku impor.
Ia tidak berubah banyak.
Masih sederhana. Masih hangat.
"Duduk dekat sini," kata Lestari pelan.
Kiara dan Arga duduk di sisi meja yang sedikit lebih jauh dari pusat suara. Itu tidak menghentikan orang-orang untuk mulai bermain.
"Jadi, Mas Arga sekarang sibuk apa?" tanya Riko.
Arga menuang air putih untuk Kiara sebelum menjawab. "Ada beberapa urusan."
"Urusan apa?"
"Properti kecil-kecilan."
Riko tertawa. "Broker?"
"Semacam itu."
Vania menutup mulut, berpura-pura tidak ingin menertawakan. "Bagus dong. Yang penting produktif. Zaman sekarang susah, ya, kalau suami tidak punya kegiatan."
Kiara meletakkan gelasnya sedikit lebih keras.
Arga tetap tenang.
Laki-laki lain bernama Dimas ikut masuk. "Tapi hebat juga, Kiara. Kamu CEO, masih mau datang bawa suami yang... low profile sekali."
Low profile.
Di mulut mereka, itu bukan pujian.
Lestari menatap Dimas. "Tidak semua orang perlu memamerkan pekerjaannya di meja makan."
Dimas tersenyum kaku. "Santai, Les. Kami bercanda."
"Bercanda biasanya lucu," jawab Lestari.
Kiara hampir tertawa.
Arga melirik Lestari sebentar, lalu mengangguk kecil. "Terima kasih."
Lestari membalas dengan senyum.
Makanan datang. Percakapan berpindah ke proyek, jabatan, rumah baru, sekolah anak, dan investasi. Semakin malam, semakin jelas bahwa reuni ini bukan tentang kenangan. Ini arena kecil untuk memastikan siapa masih berada di atas siapa.
Vania bercerita tentang suaminya yang baru mendapat posisi direktur di perusahaan logistik.
Riko menyebut apartemen barunya di Singapura tiga kali.
Dimas bicara tentang mobil listrik barunya lebih lama daripada tentang keluarganya.
Ketika giliran Kiara, Vania langsung menyela dengan nada manis.
"Kiara pasti sibuk sekali setelah... ya, setelah isu kemarin. Aku dengar Hartono sempat dekat dengan Kusuma. Untung ya, tidak jadi makin jauh."
Udara di meja berubah.
Kiara tersenyum tipis. "Untung."
"Dan soal perceraian itu benar?" tanya Vania, seolah baru saja bertanya apakah sup terlalu asin.
Arga menatap gelas airnya.
Kiara menjawab, "Urusan pribadi."
"Oh, maaf. Aku cuma khawatir. Soalnya di luar orang bilang kamu sudah pisah, tapi malam ini masih bawa Mas Arga. Takutnya orang bingung."
Riko menambahkan, "Mungkin karena belum dapat pengganti yang lebih cocok?"
Beberapa orang tertawa.
Kiara merasakan tangan kirinya mengepal di pangkuan.
Lalu, tanpa banyak berpikir, ia menggeser tangannya ke atas meja dan menggenggam tangan Arga.
Tawa itu berhenti pelan.
Arga menoleh.
Kiara tidak menatapnya. Ia menatap Vania.
"Jangan hiraukan mereka," katanya pelan, tetapi cukup terdengar.
Kalimat itu ditujukan kepada Arga.
Namun meja panjang itu mendengarnya sebagai tamparan.
Arga melihat tangan Kiara di atas tangannya. Jari-jarinya dingin, tetapi genggamannya tidak ragu.
"Aku tidak," jawabnya.
Lestari menunduk, menyembunyikan senyum.
Vania, yang tidak suka kehilangan panggung, segera bertepuk tangan kecil.
"Baiklah, karena semua sudah sukses, aku punya ide. Kampus kita sedang membangun perpustakaan baru. Bagaimana kalau angkatan kita ikut donasi? Tidak usah besar-besar. Sesuai kemampuan saja."
Riko langsung menyambar. "Bagus. Kita buat daftar. Biar terlihat siapa yang masih ingat almamater."
Dimas tertawa. "Yang penting tulus. Jangan dipaksa. Kalau belum mampu, ya tidak apa-apa."
Matanya jatuh ke Arga ketika mengucapkan kalimat terakhir.
Kiara hendak bicara, tetapi Arga menekan ringan punggung tangannya.
Tidak perlu.
Ia tidak mengatakannya, tetapi Kiara mengerti dari tekanan kecil itu.
Arga mengambil serbet, menyeka ujung jarinya, lalu bertanya dengan suara biasa, "Batas waktunya kapan?"
Vania tampak senang karena mengira ia masuk perangkap. "Besok siang. Kami akan umumkan totalnya di grup. Transparan, dong."
"Bagus."
"Mas Arga mau ikut juga?" tanya Riko. "Atau atas nama Kiara saja?"
Arga menatapnya.
"Nanti lihat."
Dimas tertawa. "Wah, misterius."
Arga tidak membalas.
Ia hanya mengingat nama mereka, wajah mereka, dan cara mereka mengucapkan kata tulus seperti pisau kecil yang dibungkus pita.
Di akhir makan malam, Lestari menarik Kiara sebentar ke dekat pintu.
"Jangan dengarkan mereka," katanya. "Dulu mereka juga begitu. Hanya sekarang jasnya lebih mahal."
Kiara tersenyum lelah. "Kamu tidak berubah."
"Aku berubah. Sekarang aku lebih cepat capek lihat orang sombong."
Kiara tertawa kecil.
Di luar restoran, malam Senopati masih ramai. Arga berdiri tidak jauh, memberi mereka ruang. Vania di belakang masih sibuk membuat grup donasi baru dan memastikan semua orang melihat daftar nama.
Sebelum mereka berpisah, Vania mengangkat ponsel tinggi-tinggi dan berkata dengan suara manis yang terlalu keras.
"Batas waktu donasi besok siang, ya. Kita lihat siapa yang paling tulus."
Arga memasukkan tangan ke saku jaket.
Kiara menatapnya, khawatir ia terluka.
Tetapi wajah Arga tetap tenang.
Terlalu tenang.