Bagi Aris dan ibunya, Tita adalah istri sempurna: kaya, penurut, dan sabar. Saat Tita divonis tak bisa memberi keturunan, mereka berlagak menerima dengan lapang dada. Padahal di belakangnya, Aris diam-diam menikah siri demi mendapatkan anak sambil terus menikmati kemewahan dari uang Tita.
Mereka pikir Tita bodoh. Padahal, Tita sudah tahu segalanya.
Tanpa air mata atau labrakan emosional, Tita tersenyum dingin. Ia mulai memutus aliran dana, merebut asetnya, dan menjebak bisnis Aris ke jurang utang.
"Kalian pikir bisa hidup mewah di atas penderitaanku? Mari kita lihat seberapa lama kalian bertahan tanpa sepeser pun uangku."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon blcak areng, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Skenario
Siang makin terik membakar ibu kota. Suhu udara yang menyengat seolah tak ada apa-apanya dibandingkan dengan kepanasan dan penderitaan yang membakar dada Mama Rahma.
Wanita tua itu berjalan pincang menyusuri trotoar jalanan perumahan kelas menengah di kawasan Jakarta Barat. Langkah kakinya berat, napasnya memburu tersengal-sengal. Kedua tangannya yang mulai gemetaran terpaksa menyeret tiga kantong plastik hitam besar berisikan pakaian-pakaian biasanya satu-satunya harta tersisa yang dilemparkan oleh sekuritas Tita dari rumah mewah tadi pagi.
Wajah Mama Rahma sembab parah. Sisa-sisa air mata dan debu jalanan menempel di pipinya yang keriput. Setelah tersungkur di depan gerbang rumah mewah Tita tanpa membawa sepeser pun uang tunai atau perhiasan, ia harus berutang rasa malu meminjam ponsel seorang pedagang kaki lima untuk memesan taksi online, lalu berjanji akan membayar ongkosnya begitu sampai di rumah Jessica.
Di dalam kepalanya yang kalut, Jessica adalah satu-satunya harapan tersisa.
Jessica adalah anak perempuan bungsu yang paling ia manjakan. Sejak dulu, Mama Rahma selalu mengistimewakan Jessica dibanding siapa pun. Setiap kali Tita mengirimkan uang bulanan atau memberikan bonus dari perusahaan, Mama Rahma selalu memaksa Tita untuk membelikan tas merek terkenal, baju-baju dari desainer terkenal, hingga membiayai gaya hidup mewah Jessica. Bahkan rumah mungil bergaya minimalis yang kini ditempati Jessica di kawasan ini dibeli dari hasil memeras Tita dengan alasan hadiah rumah masa depan adik ipar perempuan.
"Jessica pasti mau menampung Aku..." gumam Mama Rahma membesarkan hatinya sendiri, mengusap keringat di dahinya dengan lengan baju. "Jessica anak penurut. Dia tidak akan membiarkan ibunya terlunta-lunta di jalanan."
Setelah berjalan menyusuri gang kompleks selama sepuluh menit, langkah Mama Rahma akhirnya terhenti di depan sebuah rumah berlantai dua dengan pagar besi berwarna putih.
Mobil kota berwarna merah milik Jessica terparkir rapi di halaman depan.
Rasa lega yang luar biasa seketika membuncah di dada Mama Rahma. Tanpa membuang waktu, ia meletakkan kantong-kantong plastik hitamnya di atas konblok, lalu memukul-mukul pintu pagar besi itu dengan tak sabar.
"Jes! Jessica! Buka pintunya, Nak! Ini Mama!" jerit Mama Rahma dengan suara serak dan parau.
Suara ketukan dan jeritan itu bergema nyaring. Tak berapa lama, pintu utama rumah terdorong terbuka.
Jessica melangkah keluar mengenakan gaun rumah santai dengan kacamata hitam bertengger di atas kepalanya. Namun, tidak ada raut gembira atau kekhawatiran di wajah gadis dua puluh empat tahun itu. Yang tampak di wajah cantiknya hanyalah guratan kekesalan, rasa risih, dan ketakutan yang teramat sangat.
Jessica berjalan cepat menghampiri pagar, lalu melirik ke kanan dan ke kiri jalanan kompleks dengan raut panik.
"Mama?! Mama ngapain berteriak-teriak di depan pagar rumah Jesi kayak orang gila?!" bentak Jessica setengah berbisik, matanya membelalak galak. "Tetangga pada ngelihatin, Ma! Bikin malu aja!"
Mama Rahma tertegun sejenak, namun rasa lelah dan penderitaannya mengalahkan rasa kagetnya. Ia memegang batang besi pagar dengan tangan gemetar.
"Jes... buka pagarnya dulu, Nak," panggil Mama Rahma memohon, air matanya kembali menetes. "Mama capek banget... Mama baru saja diusir dari rumah Tita. Semua barang berharga Mama disita! Mas Aris ditahan di polisi! Mama tidak punya uang sepeser pun..."
Bukannya membukakan pagar, Jessica justru makin mundur dua langkah. Wajahnya seketika berubah sangat dingin dan penuh kecurigaan.
"Di usir?!" cecar Jessica dengan nada suara meninggi. "Jadi berita di portal berita online itu beneran?! Mas Aris ditangkap karena penipuan cek kosong dan penggelapan dana Glowinc Group?!"
"I-iya, Jes... Mas Arismu dijebak sama Tita!" tangis Mama Rahma pecah. "Tita jahat banget, Jes! Dia kirim belasan sekuritas sama orang hukum buat lempar Mama ke jalanan! Makanya sekarang Mama mau tinggal di rumah kamu dulu sampai masalah Mas Aris selesai..."
Mama Rahma mencoba menggeser grendel pagar untuk masuk.
Namun dengan cepat, Jessica memegang tangkai pagar dari dalam dan menahannya kuat-kuat.
"Nggak bisa, Ma! Mama nggak boleh masuk ke rumah Jesi!" potong Jessica tegas dan tanpa ampun.
Deg.
Mama Rahma membeku di tempatnya berdiri. Tangannya tertahan di atas besi pagar yang dingin. Ia menatap anak perempuan kesayangannya dengan mata membelalak tak percaya.
"K-kamu bilang apa, Jes?" tanya Mama Rahma parau, mengira pendengarannya sedang bermasalah.
"Jesi bilang, Mama nggak boleh tinggal di rumah ini!" ulang Jessica dengan nada keras dan tajam, menatap ibunya tanpa ada sedikit pun rasa iba. "Mama tahu nggak?! Dari pagi tadi telepon Jesi nggak berhenti berdering.
Teman-teman arisan Jesi, semuanya pada nanyain soal kasus Mas Aris. Nama keluarga kita sudah tercemar di mana-mana."
"Jesi... ini Mama, Nak..." bisik Mama Rahma terisak, suaranya gemetar hebat. "Mama ini ibu kandungmu! Mama tidak punya tempat tinggal lagi! Kasihanilah Mama..."
"Justru karena Mama itu ibu kandung Jesi dan ibunya Mas Aris, Mama nggak boleh ada di sini!" cecar Jessica tanpa perasaan, menunjuk wajah ibunya dengan jari lentiknya. "Kalau sampai tetangga atau wartawan tahu Mama tinggal di rumah Jesi, nama Jesi bakal ikut hancur! Orang-orang bakal mikir Jesi juga menikmati uang hasil penggelapan Mas Aris!"
Mendengar kalimat "menikmati uang hasil penggelapan", sebuah pukulan tak kasatmata serasa menghantam dada Mama Rahma hingga dadanya sesak.
"Jessica..." suara Mama Rahma mendadak berubah bergetar oleh rasa cemas bercampur kemarahan yang mulai mendidih di balik penderitaannya. "Kamu... kamu bicara apa, Jes?."
"Jesi bicara fakta, Ma!" gertak Jessica tidak mau kalah, melipat kakinya dengan angkuh di balik pagar. "Jesi ini baru saja mau merintis karir jadi selebgram dan mau nikah sama anak pengusaha! Kalau Jesi terseret kasus Mas Aris dan Tita, masa depan Jesi bisa hancur total! Jesi tidak mau terseret masalah apa pun. Kalau sampai Mama tinggal di rumah Jesi, calonn mertua Jesi bisa membatalkan pernikahan Jesi."
BARRR!
Kemarahan yang terendam di dalam jiwa Mama Rahma selama dua puluh empat jam terakhir seketika meledak tanpa kendali.
Topeng ibu yang lemah dan teraniaya runtuh seketika. Wajah Mama Rahma yang tadinya pucat pasi kini berubah memerah padam oleh kombinasi kemurkaan murni dan kekecewaan yang sangat membakar. Ia memukuli pintu pagar besi itu dengan kedua kepalan tangannya hingga menimbulkan suara dentuman nyaring.
"Anak tidak tahu diri kamu, Jessica!" jerit Mama Rahma histeris, suaranya melengking memenuhi seluruh sudut jalanan kompleks. Matanya membelalak lebar menatap anak perempuannya bagaikan ingin menelannya hidup-hidup.
"Kurang ajar kamu! Berani-beraninya kamu bicara begitu sama Mama?."
Jessica terlonjak kaget melihat ibunya yang mendadak mengamuk bagaikan orang kesurupan. "Ma! Jangan teriak-teriak! Malu dilihatin orang."
"Biar! Biar semua orang di kompleks ini tahu betapa anak tidak tahu berbalas budi kamu ini!" amuk Mama Rahma, menunjuk-nunjuk wajah Jessica dengan jari gemetar penuh emosi. "Kamu bilang kamu tidak mau terseret kasus ini?! Kamu bilang kamu tidak mau dianggap menikmati uang penggelapan?! Buka mata dan otakmu lebar-lebar, Jessica."
Mama Rahma melangkah maju menempelkan dadanya ke jeruji pagar, berteriak tepat di depan wajah Jessica.
"Rumah yang kamu tempati sekarang ini... uang muka ratusan jutanya dari mana kalau bukan hasil Mama memeras Tita?! Mobil merah yang terparkir di halamanmu itu... siapa yang bayar cicilannya setiap bulan kalau bukan uang dari Mas Arismu dan Tita?!" murka Mama Rahma dengan napas memburu.
Jessica mengatupkan bibirnya rapat-rapat, wajahnya berubah agak kaku namun tetap menyunggingkan raut bertahan yang dingin.
"Tas-tas bermerek yang berderet di dalam lemarimu, baju-baju mahal yang kamu pakai buat pamer di media sosial, bahkan biaya perawatan wajahmu setiap bulan... semuanya dari mana, hah?!" cecar Mama Rahma tanpa ampun, air matanya menetes deras bukan lagi karena sedih, melainkan karena rasa dihina oleh darah dagingnya sendiri. "Semuanya dari Tita! Dan siapa yang minta semua itu ke Tita selama bertahun-tahun ini?! MAMA! Mama yang pasang badan, Mama yang berpura-pura baik sama Tita demi memenuhi semua gaya hidup mewahmu yang tidak tahu malu itu."
"Ma, sudah, Ma! Jangan bahas itu lagi!" potong Jessica panik melihat beberapa tetangga di seberang rumah mulai keluar ke balkon untuk menonton pertengkaran mereka.
"Kenapa tidak boleh dibahas?!" seru Mama Rahma dengan tawa sumbang yang sangat menyedihkan dan mengerikan. "Sekarang, setelah Mas Arismu ditangkap dan Tita merampas kembali semua hartanya, kamu mau buang Mama begitu saja?! Kamu mau cuci tangan dan berakting seperti anak suci yang tidak tahu apa-apa?."
"Jesi cuma berusaha menyelamatkan hidup Jesi sendiri, Ma!" balas Jessica berteriak histeris, matanya mulai memerah menahan malu dan emosi. "Salah Mama dan Mas Aris sendiri kenapa rakus! Kenapa Mas Aris harus selingkuh sama Larasati dan bikin cek kosong?! Kalau Mas Aris nurut sama Tita dan tidak aneh-aneh, kita semua masih bisa hidup enak sampai sekarang."
"Kurang ajar!" bentak Mama Rahma.
Wanita tua itu merogoh celah pagar, mencoba mencengkeram lengan Jessica. Namun dengan cepat, Jessica melangkah mundur menjauh dari jangkauan ibunya.
"Kamu pikir Mama bela Mas Aris sendirian?! Kamu juga yang selalu menghasut Mama buat minta uang lebih ke Tita!" cecar Mama Rahma dengan suara serak menahan sakit di tenggorokannya. "Setiap bulan kamu mengeluh kurang uang! Setiap minggu kamu minta dibelikan perhiasan baru! Sekarang saat Mama tidak punya apa-apa dan diusir dari rumah, kamu tega mengunci pintu pagar buat ibu kandungmu sendiri?."
"Iya! Karena Jesi nggak mau ikut menderita!" jawab Jessica tanpa rasa bersalah sedikit pun, merapikan gaun rumahnya dengan angkuh. "Jesi masih muda, Ma! Jesi punya masa depan! Jesi nggak mau hidup terlunta-lunta atau dikejar-kejar tim hukumnya Tita cuma karena menampung Mama di sini."
Jessica merogoh tas kecil di atas meja terasnya, mengambil dompetnya, lalu mengeluarkan beberapa lembar uang lima puluh ribuan total tidak lebih dari tiga ratus ribu rupiah.
Ia melangkah mendekati pagar, lalu melemparkan lembaran uang itu melewati sela-sela besi pagar hingga berserakan di atas konblok di dekat kaki Mama Rahma.
"Nih! Jesi kasih uang buat Mama naik taksi atau sewa kamar kontrakan kecil di luar kompleks ini!" ucap Jessica dingin tanpa ada rasa hormat sedikit pun.
"Jangan pernah datang ke rumah Jesi lagi sampai masalah ini benar-benar selesai! Dan jangan pernah bawa-bawa nama Jesi kalau Mama ditanya sama polisi atau wartawan."
Mama Rahma menatap lembaran uang ratusan ribu tersisa yang tergeletak di atas tanah.
Pemandangan ini persis sama dengan apa yang ia lakukan pada Larasati kemarin sore di rumah mewah Tita. Dan kini, roda takdir berputar begitu cepat dan kejam anak kandungnya sendiri melemparkan uang receh ke wajahnya bagaikan memberi makan pengemis di tepi jalan.
"Jessica..." bisik Mama Rahma parau, matanya menatap Jessica dengan pandangan kosong dan hancur total. "Kamu... benar-benar anak durhaka..."
"Jesi bukan durhaka, Jesi cuma realistis!" sahut Jessica tegas.
Tanpa memedulikan ibunya yang menangis terisak di luar, Jessica berbalik badan, berjalan menuju pintu utama rumahnya, lalu menghempaskan pintu kayu itu dengan sangat keras.
BAM!
Suara kunci diputar dari dalam terdengar sangat nyaring.
Pintu rumah itu terkunci rapat.
"Jessica! Buka pintunya, Jes! Jessicaaa!" jerit Mama Rahma memukuli pagar besi itu berkali-kali hingga tangannya memar dan lecet. "Tolong Mama, Jes! Jessica."
Namun, tidak ada jawaban dari dalam rumah. Lampu teras depan bahkan mendadak dimatikan oleh Jessica, menandakan penolakan mutlak dan dingin dari putri kesayangannya.
Beberapa tetangga kompleks menatap Mama Rahma dengan pandangan jijik, bisik-bisik, dan rasa tidak suka. Seorang petugas keamanan kompleks berjalan mendekat dengan sepeda motornya.
"Bu... tolong jangan bikin keributan di kompleks ini ya," tegur petugas keamanan itu dengan nada tegas. "Kalau Ibu tidak ada urusan lagi, silakan tinggalkan area perumahan ini sekarang. Pemilik rumah sudah menelepon pos penjagaan untuk mengusir Ibu."
Kalimat pemilik rumah sudah menelepon untuk mengusir Ibu menjadi paku terakhir yang menancap tepat di jantung Mama Rahma.
Anak perempuannya... putri bungsu yang selalu ia belakan, putri yang selalu ia manjakan dengan hasil keringat dan penderitaan Tita... telah menelepon sekuritas untuk mengusirnya bagaikan seekor anjing kurap.
Mama Rahma terduduk lemas di atas konblok jalanan. Tubuhnya bergetar hebat oleh tangisan histeris yang tak bersuara.
Ia memandangi ketiga kantong plastik hitam berisikan pakaian biasanya. Tidak ada uang, tidak ada tempat tinggal, tidak ada anak yang sudi menampungnya. Aris mendekam di sel tahanan menghadapi hukuman belasan tahun, dan Jessica telah membuangnya ke tong sampah kehidupan.
Di bawah terik matahari Jakarta yang menyengat, Mama Rahma akhirnya menyadari hukuman terberat dalam hidupnya.
Pembalasan dendam Tita ternyata bukan hanya merampas rumah mewah dan perhiasannya. Hukum alam yang sesungguhnya adalah melihat bagaimana anak-anak yang selama ini ia didik dengan keserakahan dan uang haram... akhirnya saling memakan dan membuang ibunya sendiri ketika roda kehidupan mereka berada di paling bawah.
Dengan jemari gemetar dan hati yang hancur berkeping-keping, Mama Rahma memunguti lembaran uang di atas tanah, menyeret kantong plastik hitamnya, lalu melangkah perlahan meninggalkan kompleks perumahan itu tanpa arah dan tujuan.
tp bgus lh...saatnya ngejar cntamu kmbli y felix...
dlunya nabur kjhtan,skrng mnuai akibtnya....slmt jd gembel.....😛😛😛
😂😂😂 jgn sampe deh pindah ke jempol kaki ,, 😁😁😁😁
tu laa akibat dr keserakahan berkedok pengen punya anak ,, 😒😒😒😒
😱😱😱😱😱
pdahl msh byk cara lain supaya punya anak ,, bisa adopsi anak kn ,, emnk dasar pgen selingkuh aj ,, 😒😒😒😒
tp yg pling ngeri,nsibnya aris d pnjra.....scra kknya tita udh blik buat ngsih doa pljran......
udh buka aib sndri,skrng mlah msuk kandang singa......ga ykin kl pad kluar dia msih utuh.....🤣🤣🤣