NovelToon NovelToon
Menikah Dengan Dosen Duda Kaku

Menikah Dengan Dosen Duda Kaku

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikahmuda / Dosen / Duda
Popularitas:8.5k
Nilai: 5
Nama Author: Fega Meilyana

"Saya tidak melihat."
"Ya liat yang bener dong!"
"Kamu terlalu kecil."
"Hah?!"
"Jadi kamu minta saya untuk tanggung jawab?"
"Iya."
"Baik. Buka baju kamu."
"Hah! Jangan ngomong sembarang ya!"
Gara-gara terciprat air lumpur, Azel nekat menghadang mobil seorang pria asing.
Siapa sangka pria itu adalah dosen yang paling ditakuti di kampusnya. Belum selesai rasa kesalnya, ternyata dosen kaku itu adalah ayah dari Arjun, anak kecil yang begitu dekat dengannya.
Di balik sikap dosennya, Ibrahim Rabbani Mahendra, ia menyimpan luka di masa lalu.
Pertemuan demi pertemuan membuat hidup mereka perlahan berubah. Saat seorang anak kecil menjadi penghubung, takdir membawa Azel pada pilihan yang tak pernah ia bayangkan sebelumnya. Mampukah Azel menerima takdirnya?
Sementara Ibra mulai menyadari bahwa gadis bernama Arzelia Nayesha Mahina Ghazi bukanlah orang asing dalam hidupnya. Sebuah nama keluarga membawa kembali kenangan masa kecil yang telah lama ia tinggali.
Spin Off novel 'Dari Ribut Jadi Jodoh'

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fega Meilyana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 22

"Arjun...mau Kak Azel jadi Mama Arjun."

Ruangan seketika hening.

Potongan apel yang baru saja hendak disuapkan Azel berhenti di udara. Matanya membulat.

"Hah...?" Wajahnya perlahan memerah. "Arjun, kamu ngomong apa, sih?"

Di sisi lain, Ibra memejamkan mata sesaat sambil mengembuskan napas panjang.

"Arjun." Nada suaranya terdengar tegas.

Bocah itu langsung menoleh. "Iya, Yah?"

"Jangan meminta hal seperti itu."

"Kenapa?"

"Karena..." Ibra berhenti sejenak, memilih kata-katanya. "...itu bukan sesuatu yang bisa dijadikan hadiah."

Arjun terlihat bingung. "Tapi... Arjun cuma pengen punya mama."

Kalimat sederhana itu membuat senyum di wajah Azel perlahan memudar. Tatapannya melembut. Ia tau permintaan itu bukan karena iseng. Melainkan keinginan tulus seorang anak kecil yang merindukan kasih sayang seorang ibu.

Ibra menatap putranya penuh iba. "Arjun, Ayah sudah pernah bilang. Kita tidak boleh memaksa orang lain. Kalau Kak Azel sayang sama Arjun itu karena kebaikan hati Kak Azel. Bukan karena Kakak punya kewajiban."

Arjun menundukkan kepala. "Tapi Arjun pengen punya mama kaya kak Azel, ayah. Kakak mau kan jadi mamanya Arjun?"

"Tapi..."

Ia lalu kembali menatap Azel dengan mata yang masih sembap. "Kakak... Mau kan jadi mamanya Arjun?"

Deg!

Azel benar-benar dibuat kehilangan kata-kata. Tangannya yang masih memegang garpu kecil perlahan turun. Ia menggaruk pelan kepalanya yang sebenarnya tidak gatal.

"Ya Allah... Jawab apa ini?"

Kalau ia menjawab tidak, ia takut melukai perasaan Arjun yang sedang rapuh.

Namun kalau ia menjawab iya. Ia khawatir bocah itu akan benar-benar menganggap ucapannya sebagai janji.

Ibra yang berdiri di samping ranjang memahami kebingungan di wajah Azel. Ia pun segera membuka suara.

"Arjun."

Bocah itu menoleh.

"Jangan mempersulit Kak Azel."

"Tapi..."

Ibra mengusap lembut kepala putranya. "Keinginan itu tidak bisa diputuskan sekarang."

Arjun masih tampak murung. Melihat itu, Azel akhirnya tersenyum lembut. Ia kembali menggenggam tangan mungil Arjun.

"Arjun, dengerin Kakak, ya."

Bocah itu mengangguk pelan.

"Sekarang jangan pikirin itu dulu. Yang paling penting itu Arjun harus cepat sehat. Nanti kalau lukanya sembuh bisa main lagi. Bisa ketemu Kakak lagi. Yang penting kan kakak sekarang ada di sini."

Arjun menatap wajah Azel beberapa saat. Seolah mempertimbangkan ucapan itu. "Kakak nggak pergi?"

Azel menggeleng sambil tersenyum. "Nggak. Kakak di sini sampai Arjun tenang."

Wajah Arjun perlahan kembali cerah. "Kakak jangan bohong ya."

"Insya Allah nggak." Azel mengusap pipi bocah itu dengan penuh kasih sayang.

"Kalau Arjun sudah sehat, Kakak temenin main lagi."

"Janji?"

"Janji."

Mereka kembali mengaitkan jari kelingking. Arjun akhirnya tersenyum puas.

Melihat putranya kembali tersenyum, Ibra mengembuskan napas pelan. Tatapannya beralih kepada Azel. Ada rasa terima kasih yang begitu besar di dalam hatinya.

Ia tau, Azel baru saja menyelamatkan perasaan seorang anak kecil tanpa memberikan harapan yang keliru. Cara gadis itu menjawab begitu lembut.

Tidak menolak. Namun juga tidak menjanjikan sesuatu yang belum tentu bisa terjadi. Dan untuk itu Ibra semakin menghormatinya.

***

Waktu menunjukkan pukul lima sore. Pintu ruang perawatan kembali terbuka. Dokter yang sejak siang menangani Arjun masuk bersama seorang perawat sambil membawa lembar hasil observasi.

"Assalamu'alaikum."

"Wa'alaikumussalam."

Dokter tersenyum kepada Arjun. "Gimana? Pahlawan kecil kita masih pusing?"

Arjun menggeleng. "Nggak, Dok."

"Mual?"

"Nggak."

"Muntah?"

"Nggak juga."

Dokter kemudian memeriksa kondisi Arjun dengan teliti. Ia membuka perban kecil di kepala bocah itu untuk memastikan area jahitan tetap kering dan tidak ada perdarahan lanjutan. "Bagus."

Dokter kembali memeriksa pupil mata Arjun menggunakan senter kecil. "Ikutin jari Om, ya."

Arjun menurut. Gerakan bola matanya normal. Tekanan darah, denyut nadi, dan suhu tubuhnya pun kembali diperiksa. Setelah semuanya selesai, dokter tersenyum lega.

"Alhamdulillah. Kondisi Arjun stabil. Tidak ada muntah, tidak ada penurunan kesadaran, dan hasil pemeriksaan neurologisnya juga baik."

Ibra yang sejak tadi berdiri di samping ranjang akhirnya mengembuskan napas lega. "Jadi... Arjun boleh pulang, Dok?"

"Boleh. Tapi dengan beberapa catatan."

Dokter menyerahkan lembar instruksi kepada Ibra. "Selama dua puluh empat sampai empat puluh delapan jam ke depan, mohon tetap diawasi. Kalau muncul muntah berulang, mengantuk berlebihan sampai sulit dibangunkan, kejang, sakit kepala yang semakin berat, atau keluar cairan maupun darah dari hidung atau telinga, segera bawa kembali ke rumah sakit."

"Iya, Dok."

"Untuk luka jahitannya, usahakan tetap bersih dan kering. Jangan digaruk. Nanti beberapa hari lagi kontrol sesuai jadwal untuk melihat perkembangan luka dan menentukan waktu pelepasan jahitan."

"Baik, Dok."

Dokter lalu berjongkok di depan Arjun. "Gimana? Udah berani lagi main nanti?"

Arjun mengangguk semangat. "Berani."

"Tapi pelan-pelan ya, ngak lari-lari dulu. Nanti jahitannya bisa sakit lagi."

"Iyax Dokter."

Dokter tersenyum. "Anak pintar."

Setelah dokter dan perawat keluar, suasana ruangan terasa jauh lebih ringan.

Arjun langsung menoleh kepada Azel. "Kak, aku boleh pulang."

"Iya. Alhamdulillah." Azel tersenyum sambil merapikan rambut Arjun yang sedikit berantakan.

"Tapi nanti harus nurut sama Ayah. Nggak boleh loncat-loncat dulu."

"Iya. Aku janji."

Arjun mengacungkan jari kelingkingnya.

Azel terkekeh lalu mengaitkan jari mereka sekali lagi. "Janji."

Ibra mengambil tas kecil milik Arjun dan membereskan barang-barang yang dibawa Arjun tadi ke sekolah. Setelah semuanya siap, ia menoleh kepada Azel.

"Azel."

"Iya, Pak?"

"Terima kasih. Kali ini saya benar-benar berutang budi."

Kalimat itu diucapkan dengan tulus. Tanpa nada datar seperti biasanya.

Azel tersenyum kecil sambil menggeleng. "Jangan bilang begitu, Pak. Saya juga sayang sama Arjun. Kalau Arjun kenapa-kenapa, saya juga pasti khawatir."

Jawaban sederhana itu membuat Ibra terdiam sesaat. Ia kembali menatap Azel, lalu menganggukkan kepala pelan.

Arjun langsung memeluk lengan Azel. "Kakak ikut aku pulang, kan?"

Azel tersenyum lembut. "Enggak, sayang. Kakak bawa motor sendiri. Terus ini juga udah sore."

Wajah Arjun langsung berubah lesu. "Yaaah..." Bibirnya sampai mengerucut.

Melihat itu, Azel berpikir sejenak. "Hmm... Gini aja deh."

Arjun langsung mendongak penuh harap. "Gimana?"

"Kakak pulang dulu. Nanti malam Kakak sama Opa ke rumah Arjun. Soalnya hari ini Kakak nginep di rumah Opa."

Mata Arjun langsung berbinar. "Boleh?!"

"Iya."

"Beneran?"

"Iya, insya Allah."

"Horeee!" Arjun langsung bertepuk tangan kegirangan.

"Aku juga kangen Opa Kakak."

"Ah masaaa?"

"Iya. Opa Kakak baik. Aku suka."

Azel tersenyum melihat tingkah bocah itu. "Berarti nanti kalau Opa datang, Arjun harus salim dulu."

"Iya!"

"Lalu..." Azel mengangkat telunjuknya. "Arjun juga harus minum obat."

Harapan di wajah Arjun langsung sedikit memudar. "Harus ya?"

"Harus. Kalau nggak minum obat, nanti lukanya sembuhnya lama."

Arjun menghela napas panjang. "Yaudah deh aku minum."

"Nah, gitu dong." Azel mengusap pelan kepala Arjun, berhati-hati agar tidak mengenai bagian yang dijahit.

Ibra yang sejak tadi memperhatikan percakapan mereka hanya bisa menggeleng pelan.

Ternyata... Membujuk Arjun minum obat jauh lebih mudah dilakukan Azel daripada dirinya.

"Pak." Azel menoleh kepada Ibra. "Nanti saya benar-benar ke rumah Bapak ya. Soalnya saya udah janji sama Arjun."

Ibra mengangguk. "Tidak usah dipaksakan kalau kamu lelah."

"Nggak kok, Pak."

"Kebetulan rumah Opa memang tidak jauh dari rumah Bapak. Insya Allah saya datang."

"Baik." Ibra mengucapkannya singkat.

Namun dalam hati, ia merasa lega. Setidaknya, malam ini Arjun pasti akan lebih tenang.

***

Menjelang waktu Magrib Ibra akhirnya membawa Arjun pulang. Meski langkahnya masih pelan dan di kepalanya kini terpasang perban kecil, wajah bocah itu sudah jauh lebih cerah dibanding beberapa jam sebelumnya. Sepanjang perjalanan, Arjun tak berhenti bercerita.

"Ayah."

"Hm?"

"Nanti Kak Azel sama Opa beneran datang, kan?"

Ibra melirik putranya sekilas. "Kalau Kak Azel sudah janji, insya Allah datang."

"Hehe..." Arjun tersenyum puas lalu memeluk boneka kecil yang selalu dibawanya.

Sementara itu, di rumah Opa Athar. Motor Azel baru saja berhenti di halaman. Ia melepas helmnya lalu masuk ke dalam rumah.

"Assalamu'alaikum."

"Wa'alaikumussalam." Athar yang sedang duduk di ruang keluarga menoleh.

"Udah pulang, Zel?"

"Iya, Opa."

Athar langsung menyadari raut wajah cucunya tampak lelah. "Kamu kenapa? Capek?"

Azel mengembuskan napas panjang. "Capek sih... Tapi hari ini juga bikin deg-degan."

Athar menurunkan mushaf yang sedang dibacanya. "Memangnya ada apa?"

Azel duduk di samping sang opa. "Opa, tadi Arjun masuk rumah sakit."

Athar langsung mengernyit. "Loh. Kenapa?"

"Katanya jatuh di sekolah. Kepalanya sampai robek dan harus dijahit."

"Innalillahi... Terus sekarang gimana?"

"Alhamdulillah udah boleh pulang. Dokternya bilang nggak apa-apa."

Athar mengangguk lega. "Syukurlah."

Azel kembali bercerita. "Tadi Pak Ibra nelepon aku, katanya Arjun nggak mau ditangani. Dia nangis terus sambil nyari aku. Jadi aku langsung ke rumah sakit."

Athar tersenyum kecil. "Berarti Arjun sudah nyaman sekali sama kamu."

"Iya,asihan banget tadi, Opa. Dia nangis terus."

Athar mengusap pelan kepala cucunya. "Anak kecil memang begitu. Kalau sudah merasa aman sama seseorang, dia akan mencari orang itu saat sedang takut."

Azel mengangguk pelan. "Iya. Lalu..."

Azel tiba-tiba menutup wajahnya dengan kedua tangan. "Aduh..."

Athar tertawa kecil. "Kenapa lagi?"

"Opa jangan ketawa ya."

"Iya Opa gak ketawa."

Azel menurunkan kedua tangannya. "Tadi... Arjun bilang mau aku jadi mamanya."

Athar terdiam beberapa detik. Lalu... "Hahaha..." Tawanya pecah.

"Opa! Katanya gak ketawa!"

"Maaf... maaf." Athar masih menahan senyumnya. "Itu kan anak kecil. Dia cuma polos."

"Iya sih. "Tapi maluuu banget apalagi di depan Pak Ibra."

Athar menggeleng geli. "Terus kamu jawab apa?"

"Aku bilang sekarang Arjun harus sembuh dulu, yang penting aku ada di samping dia."

Athar mengangguk bangga. "Itu jawaban yang benar. Kamu tidak memberi harapan yang salah tapi juga tidak melukai perasaan anak kecil."

Azel tersenyum tipis. "Tadi aku juga janji."

"Janji apa?"

"Nanti malam aku sama Opa ke rumah Arjun."

Athar mengangguk tanpa berpikir lama. "Ya sudah. Habis Isya kita berangkat."

Wajah Azel langsung berbinar. "Serius, Opa?"

"Iya. Kasihan Arjun. Lagipula Opa juga ingin melihat keadaan anak itu."

Azel langsung memeluk lengan sang opa. "Makasih, Opa."

Athar tersenyum sambil mengusap kepala cucunya. "Kalau begitu sekarang kamu istirahat dulu. Nanti habis salat Isya kita berangkat ke rumah Ibra."

"Siap, Opa."

***

Malam itu, Athar dan Azel tiba di rumah Ibra. Begitu bel rumah berbunyi, pintu langsung dibuka.

"Assalamu'alaikum."

"Wa'alaikumussalam."

Ibra sedikit terkejut. Ia tidak menyangka Athar benar-benar datang bersama Azel.

"Silakan masuk, Pak."

"Terima kasih." Athar mengangguk ramah sambil menepuk pelan bahu Ibra.

"Bagaimana kondisi Arjun?"

"Alhamdulillah lebih tenang. Sejak pulang, dia terus menanyakan Azel."

Belum selesai Ibra berbicara, suara langkah kaki kecil terdengar dari dalam rumah.

"Kak Azeeel!"

Arjun berlari kecil menghampiri mereka. Namun sebelum sempat memeluk Azel, Ibra lebih dulu menahannya.

"Pelan. Lukamu belum sembuh."

"Hehe..."

Arjun langsung memeluk pinggang Azel dengan hati-hati. "Kakak beneran datang."

"Kan Kakak udah janji."

Azel tersenyum lalu mengusap rambut Arjun. "Tuh kan, sekarang semangat lagi."

Tak lama kemudian Ibra membawa obat dan segelas air.

"Sudah waktunya minum obat."

Arjun langsung menggeleng kuat. "Enggak mau."

"Arjun."

"Nggak enak obatnya."

Ibra mengembuskan napas pelan. Sejak tadi sore beginilah tingkah putranya.

Belum sempat ia membujuk lagi, Azel sudah berjongkok di depan Arjun.

"Arjun, kalau minum obat itu cepat sembuh tau dan nanti kita bisa main lagi."

Arjun masih cemberut. "Nggak mau..."

Azel tersenyum usil. "Kalau Arjun minum obat, Kakak kasih peluk."

Mata Arjun langsung berbinar. "Bener?"

"Iya."

"Janji?"

"Janji."

Tanpa berpikir panjang, Arjun langsung mengambil obat itu. "Hap."

Obat pun ditelan. Dilanjutkan segelas air hingga habis.

"Nah... Pinter."

Azel langsung memeluk Arjun singkat.

"Tuh kan. Nggak susah."

Athar yang melihat itu sampai terkekeh kecil. "Luar biasa. Kalau sama Azel memang beda."

Ibra hanya tersenyum tipis. Ia pun harus mengakui kedekatan mereka benar-benar di luar dugaan.

Setelah beberapa saat mengobrol, Arjun tiba-tiba berjalan menghampiri Athar. "Opa."

Athar menoleh sambil tersenyum. "Iya, Nak?"

Arjun menatap Athar dengan wajah polos. "Apa boleh Kak Azel jadi Mama Arjun?"

Ruangan kembali hening.

Azel spontan menepuk dahinya. "Ya Allah...Arjun lagi."

Ibra langsung berdeham pelan. "Arjun."

Namun sebelum Ibra melanjutkan ucapannya, Athar justru tersenyum lembut kepada bocah itu. Ia mengusap kepala Arjun dengan penuh kasih sayang.

"Arjun, Opa senang sekali karena Arjun sayang sama Kak Azel."

Arjun mengangguk cepat. "Iya, Opa, aku emang sayang."

"Tapi, Nak... Menjadi mama seseorang itu bukan sesuatu yang bisa langsung diputuskan. Itu urusan orang dewasa."

Arjun mendengarkan dengan serius.

"Kalau begitu, Arjun cukup sayang sama Kak Azel dulu. Doakan yang baik-baik. Kalau Allah memang menghendaki sesuatu nanti Allah akan memberikan jalan terbaik."

Arjun memiringkan kepala. "Jadi Arjun boleh doa?"

Athar tersenyum hangat. "Tentu. Berdoalah. Tapi jangan memaksa. Karena Allah lebih tahu apa yang terbaik untuk Arjun. Dan juga untuk Kak Azel."

Arjun tersenyum kecil. "Iya, Opa."

Mendengar jawaban itu, Azel mengembuskan napas lega. Ia sempat khawatir Opa akan ikut menggoda dirinya. Namun ternyata, Opa Athar menjawab dengan sangat bijaksana, menjaga perasaan cucunya sekaligus hati seorang anak kecil yang hanya sedang merindukan sosok ibu.

Sementara di sisi lain, Ibra menatap Athar penuh hormat. Dalam hati, ia bersyukur. Tidak ada seorang pun di ruangan itu yang menjadikan kepolosan Arjun sebagai bahan candaan.

Sebaliknya... Mereka memilih menjaganya dengan kasih sayang dan penjelasan yang sederhana, agar hati kecil bocah itu tetap merasa dicintai.

Jam di ruang tamu menunjukkan pukul sembilan malam. Seperti biasanya, itu adalah jam tidur Arjun. Sejak kecil, Ibra memang membiasakan putranya tidur tepat waktu agar memiliki pola istirahat yang baik.

Namun malam itu, Arjun justru memeluk lengan Azel.

"Kak..."

"Hm?"

"Temenin Arjun tidur, ya."

Azel tersenyum kikuk. "Hah? Temenin?"

"Iya..Sambil bacain cerita."

Azel langsung menggeleng pelan. "Enggak deh, Jun. Nanti aja."

"Kenapa?"

"Soalnya..." Azel melirik sekilas ke arah Ibra. "...nggak enak. Masa Kakak masuk kamar kamu."

Arjun langsung memasang wajah memelas. "Please... Kak..."

Sebelum Azel sempat menjawab, Athar lebih dulu angkat bicara.

"Gak apa-apa, Zel."

Azel menoleh. "Tapi, Opa..."

"Kamu cuma menemani Arjun sampai dia tidur. Opa sama Ayahnya nunggu di ruang tamu. Insya Allah tidak masalah."

Ibra pun mengangguk pelan. "Kalau kamu keberatan tidak usah dipaksakan."

Melihat wajah Arjun yang sudah hampir menangis lagi, Azel akhirnya menghela napas.

"Yaudah. Tapi cuma sebentar ya."

"Horeee!" Arjun langsung menggandeng tangan Azel menuju kamarnya. "Ayo Kak!"

"Iya... iya."

Keduanya pun menghilang di balik lorong menuju kamar Arjun..Suasana ruang tamu mendadak menjadi jauh lebih tenang. Hanya tersisa Athar dan Ibra.

Beberapa detik, tak ada yang berbicara.

Ibra akhirnya memecah keheningan. "Maaf, Pak, Kalau ucapan Arjun tadi membuat Bapak tersinggung."

Athar menoleh, lalu tersenyum tipis. "Gapapa. Saya paham perasaan Arjun. Dan saya mengerti dia sangat menginginkan seorang ibu."

Ibra menundukkan pandangannya. "Iya. Dia memang tidak pernah benar-benar merasakan kasih sayang ibu kandungnya."

Athar tidak bertanya lebih jauh. Sebaliknya, ia menepuk pelan bahu Ibra.

"Saya tidak ingin mengetahui masa lalu kamu. Setiap orang punya ujian masing-masing. Yang ingin saya lihat adalah bagaimana kamu menjalani hidup setelah ujian itu."

Ibra mengangguk pelan.

Athar kembali berkata dengan suara tenang. "Kalau memang suatu hari nanti kamu memiliki niat yang baik, datanglah kepada orang tua Azel. Pastikan niat itu benar-benar berasal dari hatimu. Bukan semata-mata karena Arjun membutuhkan seorang ibu."

Ibra mengernyit. "Maksud Bapak?"

Athar terkekeh pelan. "Laki-laki yang menikah hanya karena ingin mencarikan ibu untuk anaknya belum tentu bisa menjadi suami yang baik. Tapi laki-laki yang menikah karena menghormati, menyayangi, dan ingin membimbing perempuan yang dipilihnya karena Allah biasanya juga akan menjadi ayah yang baik."

Tatapan Ibra mulai berubah.

Athar melanjutkan. "Jangan jadikan Arjun alasan. Karena kalau hanya demi Arjun kamu akan mencari siapa pun yang bersedia. Tapi kalau karena hatimu memilih Azel, itu cerita yang berbeda."

Ibra terdiam cukup lama. Entah mengapa ucapan Athar terasa menembus jauh ke dalam hatinya.

Selama ini ia selalu berpikir bahwa kebahagiaan Arjun adalah prioritas utama.

Namun malam itu, ia bertanya pada dirinya sendiri.

"Kalau bukan karena Arju apakah aku tetap ingin mengenal Azel lebih jauh?"

Pertanyaan sederhana itu belum mampu ia jawab.

1
Aidil Kenzie Zie
hm hm si Kutub Utara mulai mencair 🤣🤣🤣🤣🤣
Syti Sarah
cie cie yg mulai pdkt nih,kyak nya gak lma lgi nih.cahayo pak dosen,kejar trus smpai dpat 🤭🤭
Fegajon: Besok lebih gong lagi 😋
total 1 replies
Anak manis
aku prnh kya Azel, emang gak enak bgt klo bocor tuh. Rsanya malu bgt🥲
cutegirl
ibra mulai terang-terangan🤣
syora
ya allah semoga slain takdir sbgai penentu mohon bersamai dan ridho jln mnuju halal buat mereka
biarkan apa yg oma arsyila ucapkan mnjadi kenyataan amiin
jjr slalu ada /Sob/kadang luka yg berujung trauma blm tentu bisa stiap org hadapi apalagi smpai berujung ke hal yg merugikan dan negatif
Syti Sarah
Ibra mmang laki laki yg baik .klau mmang brjodoh,smoga Allah mudhkn sgla jlan nya .
syora
andai iya utk kli ini biarkan hati klian menuntun bertemu,dgn melalui takdir dan ridhoNzya
amiiiin
Syti Sarah
haaa kyak nya mreka ber2 blum mnydari prasaan nya masing2 deh.kok jdi aku yg snyum2 sndiri ya PGI ini 😅😅😅
kembangperawan
zel itu udah kode loh🤣
Naya En-lish
/Heart//Heart//Heart/
Syti Sarah
ayoo mai jawab ape zel,yg sprti bang iba kaaah 🤭kok jdi aku yg deg degan ya,huuuh 😅😅
Ayu Oktaviana
aduh abang ibra mulai pdkt ne.. trs semangat bang😍😍
Fegajon: yuhuuu😋
total 1 replies
Nifatul Masruro Hikari Masaru
Cie cie cie yang lagi pdkt
anakkeren
ibra mulai maju🤣
syora
ibra jgn menghindar ckp jlni takdir
Syti Sarah
smoga di prmudah sgla nya,Daan klau mmang brjodoh smoga Allah mudhkn smpai halal.
Aidil Kenzie Zie
Ibra langsung deg degan di tantang langsung kerumah sama Opa kalo ada niat baik🥰🥰🥰🥰
Syti Sarah
semoga smua di prmudah oleh Allah,kok jdi Mellow ya stiap BCA crita Arjun ini 🥺
Syti Sarah: iya btul bnget Thor .suka bnget sama crita Thor ,smoga azel bisa mnerima prmintaaan Arjun dgn ikhlas .amiiiin
total 2 replies
syora
mkasih thor slalu mnyajikan crita yg keseimbangan antra dunia dan akhirat brjln beriringan
bnyak hikmah dlm stiap critamu
Fegajon: Sama-sama Kak. Dukungan kamu juga membuat aku mau terus nulis🙏
total 1 replies
syora
ya allah thor kyknya kbnyakan bawang bombay ceritanya
sejak kemunculan arjun bawaan stiap bc pasti sedih,menangis
ya allah
syora: wah hbr dong laper aja bs ngabisin karya yg bagus
andai puasa pasti double tuh bagusnya hehee
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!