NovelToon NovelToon
Jerat Istri Pengganti Sang Mafia

Jerat Istri Pengganti Sang Mafia

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / Pengantin Pengganti
Popularitas:2.8k
Nilai: 5
Nama Author: Liza Navy

Ara Milano tidak pernah menyangka satu malam akan mengubah seluruh hidupnya.

Ketika kakaknya menghilang sebelum pernikahan, keluarga Milano tidak memiliki pilihan lain. Demi menjaga perjanjian antara dua keluarga, Ara dipaksa mengenakan gaun pengantin dan menggantikan posisi kakaknya.

Pria yang menunggunya di altar adalah Dante Theo, pewaris keluarga mafia paling berkuasa, yang terkenal dingin, keras, dan tidak mengenal kata kompromi.

Dante tentu tahu wanita yang berdiri di hadapannya bukanlah pengantin yang seharusnya.

Sementara Ara merasa terjerat dalam pernikahan pengganti ini. Bahkan sejak di malam pernikahan, ia berulang kali mencoba kabur. Meskipun pada akhirnya usahanya seperti usaha menjaring angin.

Lama kelamaan keduanya terbiasa dengan kehadiran lainnya. Bagi Dante, gadis itu telah menjadi bagian dari perjanjian yang tidak boleh dilepaskan. Sekalipun harus ia akui, Ara bukan wanita yang mudah dikendalikan. Sayangnya ia juga tidak pernah sanggup kehilangannya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Liza Navy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 19 Sangkar Emas (1)

Pagi datang dengan cahaya yang terlalu terang.

Sinar matahari menyusup melalui celah tirai kamar Ara, jatuh tepat di wajahnya. Ia terpaksa membuka mata. Beberapa kali ia mengerjapkan mata sebelum menatap langit-langit kamar dengan tatapan kosong.

Ia melihat jam beker sudah dimatikan. Tirai jendela sengaja dibuka. Ac dimatikan dan pintu balkon dibuka. Tanpa ada yang memberitahu, ia tahu Dante lah pelakunya.

Ia mengerutkan alis dan mencari sosok Dante di kamar. Sepertinya pria itu sudah keluar kamar. Mungkin ia sudah berangkat kerja. Tetapi tentu selalu ada kemungkinan ia masih ada di rumah. Entah di belahan sebelah mana di sudut mansion ini. Menantinya bangun dari peraduan.

Ia mengangkat tangan dan menyentuh keningnya sendiri. Meskipun baginya, tetap tidak masuk akal. Tetapi, pria itu benar-benar mencium keningnya kemarin, lalu dengan wajah tanpa dosa menyangkalnya begitu saja.

Ara mendengus. “Pembohong,” ujarnya dongkol. Ia bangkit dari tempat tidur. Tidak ada gunanya memikirkan itu terlalu lama. Ia juga tidak bisa menuntut pengakuan atau tanggungjawab apapun dari Dante. Ia tidak mau menjadi serangga yang dengan bodohnya terbang ke api dan membakar diri sendiri.

Ya, setelah dipikir cukup lama ia memang mirip serangga itu dan Dante api yang bisa mencelakai dan membakarnya. Perumpamaan ini cukup ironis dan pahit.

Ia merenggangkan badan sebentar. Ia masuk ke kamar mandi. Setidaknya pagi ini ia terbangun tanpa melihat wajah menyebalkan Dante--batinnya sedikit senang.

Usai mengeringkan rambut, ia turun ke ruang makan. Di meja makan, sarapan sudah tersaji. Semangkuk sup hangat, telur, roti panggang, buah potong, dan secangkir teh.

Ara duduk tanpa banyak bicara. Ia baru mengambil sendok ketika suara langkah kaki terdengar dari arah koridor. Ia mendongak dan kaget ketika melihat Dante. Pria itu ternyata belum berangkat.

Dante berjalan masuk dengan setelan kerja yang sudah rapi, membawa ponsel di satu tangan. Wajahnya sama dinginnya seperti biasa.

Ara mendadak kehilangan sedikit selera makan. “Belum berangkat?”

Dante duduk di dekatnya. “Belum.”

Ara mengambil satu sendok sup. Ia menuangkan sup itu ke mangkuknya. Ketika ia mau mengembalikan sendok sup itu ke panci. Dante menyodorkan mangkuknya.

"Beri aku dua sendok sup."

Ara tanpa berkata apa-apa menuangkan dua sendok sup ke dalam mangkoknya.

“Kenapa belum berangkat?" Ara bicara sembari menyuapkan sup ke dalam mulutnya.

"Menunggumu bangun," jawab Dante menyahut dengan nada tanpa ekspresi. Ia juga meminum supnya.

"Omong kosong," cerca Ara setengah memaki. Sejak kapan Dante belajar menggombalinya pagi-pagi.

"Aku ada meeting pagi ini dengan pihak investor dari belahan dunia lain. Karena perbedaan waktu, maka supaya efisien, aku menunda keberangkatan ke kantor dan menyelesaikan meeting jarak jauh ini di rumah."

"Ooh." Ara kini sudah mengambil buah potong ke dalam piringnya. Lagi-lagi Dante menyodorkan piring kecil kosong di tangannya.

Bulu mata Ara terangkat. Tetapi ia tidak mengatakan apapun. Ia mengisi piring kosong Dante dengan buah potong yang sama dengannya lalu mengembalikan piring itu ke Dante.

Pagi ini sepertinya suamiku salah minum obat--batin Ara meruntuk. Dari tadi ia minta dilayani saat makan. Padahal biasanya bisa ambil sendiri.

Dante makan buah itu tanpa tersenyum. Di tengah menguyah ia berhenti dan bertanya, "Kau sedang mengutukku?"

"Mana berani," ujar Ara memasang muka polosnya.

Beberapa detik berlalu, mereka sarapan dengan tenang seperti biasa.

Ara melirik Dante saat pria itu sudah selesai makan.

"Kau tidak ingin mengantarku ke depan pintu?" tegur Dante geram, melihat Ara sengaja berlama-lama makan.

"Haruskah?" tanya Ara pura-pura bodoh.

"Menurutmu?" tanya balik Dante dengan suara sedingin es kutub utara.

Ara segera bangkit dan mengikuti langkah Dante sampai di depan pintu mansion. Ia tidak lagi melanjutkan makannya. Suara Dante sudah mengindikasikan pria itu sedang marah. Entah bagaimana selama beberapa hari ini, ia lebih peka terhadap emosi suaminya.

Yang membuat Ara kaget. Dante mendatanginya dan mengecup keningnya sebelum ia naik mobil.

"Aku berangkat," katanya dengan nada suara stabil.

Ara saking shock. Ia hanya menyisakan kedua mata membola tanpa jawaban. Ia bahkan belum sempat berkedip saat mobil sudah meninggalkan halaman.

Para pelayan yang justru tersenyum-senyum sendiri menyaksikan pasangan muda ini.

Kepala pelayan menepuk Ara. "Nyonya," panggilnya hangat.

"Pria itu melakukannya lagi," geram Ara jengkel. Ia tidak berminat kembali ke ruang makan. Ia naik ke lantai atas, masuk ke kamar mandi yang ada di kamarnya. Ia mencuci mukanya berkali-kali. Wajahnya sudah tersentuh oleh pria itu. Tapi lagi-lagi ia hanya bisa diam membisu seribu bahasa. Ia tidak bisa melarang, karena pria itu memang suaminya.

Ia menarik nafas dalam dan menghembuskannya. Ia kemudian masuk ke dalam selimut dan menyembunyikan diri. Ia ingin tidur dan melupakan kejadian barusan. Ia ingin menganggap semua yang baru terjadi hanya terjadi di alam mimpi.

***

Ara melewatkan jam makan siang. Ia kehilangan nafsu makan. Ia menghabiskan waktu di kamar. Baru menjelang sore sekitar jam 3, ia pindah ke perpustakaan. Ia membaca novel.

Setelah bosan membaca, ia berjalan ke taman belakang. Angin pagi bergerak lembut melewati pepohonan. Daun-daun bergoyang pelan, menghasilkan suara gesekan yang jauh lebih menyenangkan daripada suara grinder kopi.

Ara duduk di bangku taman. Ia memandang sekeliling. Mansion milik keluarga Theo memang indah. Ia tidak bisa menyangkalnya. Bahkan udara di tempat itu terasa berbeda, lebih hangat, meskipun pemilik mansion ini berhati dingin.

Tanpa sadar, Ara meruntuk lagi. Ia tidak membenci Dante. Tetapi ia juga belum memiliki perasaan suka pada pria itu. Tetapi sebaliknya. Sepertinya Dante sudah belajar mengembangkan perasaan cinta padanya.

Ara mendadak bergidik sendiri. Apa yang baru ia pikirkan. Itu pasti pengaruh ciuman kening dua kali yang ia terima. Jika ini terus berlanjut, lama-lama ia bakal kehilangan dirinya.

Ia akui meski ia memerankan pengantin pengganti dalam pernikahan dua keluarga besar. Tetapi Dante sejak awal tidak pernah menganggapnya sebagai pengganti. Karena bagi pria itu entah yang ia nikahi yang sulung atau bungsu, hasilnya sama saja, demi aliansi kedua keluarga.

Ara menatap rumput di depannya. Di mansion ini Dante menghormatinya sekalipun sering menghukumnya. Ia juga tidak kekurangan apapun, kecuali kebebasan. Ia cukup makan, pakaian, bahkan ia punya kasur yang nyaman, kecuali kenyataan ia harus berbagi kasur itu dengan Dante.

Ara bangkit dari bangku. Ia berjalan menuju bagian depan mansion. Semakin dekat ke gerbang, semakin banyak pengawal yang terlihat. Mereka berjaga di pos masing-masing.

Ara berhenti beberapa meter dari gerbang. Seorang pengawal langsung menundukkan kepala dan menyapa. “Nyonya.”

Ara memberi anggukan kepala. Ia memandang gerbang besar di depannya. Ia membayangkan jalan di baliknya. Di luar gerbang mansion ini, orang-orang berjalan bebas tanpa perlu meminta izin kepada siapa pun.

Ara memasukkan kedua tangannya ke saku celana. Ia berbalik dan masuk ke dalam mansion kembali.

Ara duduk di sofa yang ada di ruang keluarga. Ia menyalakan televisi dan memutar salah satu channel. Ia lalu mengetik di ponselnya.

“Aku pergi ke toko buku.”

“Minta Luca membelikannya.”

“Aku harus mencari sendiri buku apa yang kuinginkan."

“Tidak boleh.”

Ara mulai kehilangan kesabaran.

“Aku hanya ingin keluar rumah, bukan melarikan diri.”

Dante menjawab datar. “Aku tahu perbedaannya. Kau tidak perlu menjelaskannya.”

Ara menatap kosong ke depan layar.

"Kalau kau memang benar-benar ingin keluar. Tunggu aku pulang. Kita makan di luar dan mencari buku untukmu." Pesan dari Dante masuk.

Ara membaca pesan itu beberapa kali. Ia mencernanya, sebelum ia mengetik lagi. "Tidak perlu. Aku sangat mengantuk sekarang. Aku akan tidur dulu."

Ara menurunkan ponselnya. Ia mematikan ponsel dan kembali ke kamar. Ia sungguh-sungguh melakukan apa yang ia katakan. Ia masuk ke dalam selimut, menyalakan AC dan tidur.

Mansion Dante memang tidak memasang jeruji dan rantai. Bahkan tidak ada pintu besi yang mengurungnya di kamar. Ia bebas berjalan ke mana saja di dalam mansion. Ia bisa makan apa saja, kecuali ia sedang dihukum. Tetapi ia tidak bisa dan tidak boleh keluar gerbang— Mansion ini seperti sangkar emas. Ia mengucapkannya pelan.

Mansion itu memang bukan penjara. Karena mansion ini terlalu mewah untuk disebut penjara.

Ara sudah tertidur.

Sebelum pergi dari ruang keluarga tadi, Ara sempat melirik kamera CCTV yang terpasang di sudut. Matanya menyipit. “Aku cuma belum menemukan pintunya," gumamnya lirih.

Lampu kecil pada kamera tetap menyala.

Dan di suatu tempat yang jauh dari mansion, layar pemantau tetap menampilkan ruang keluarga yang baru saja ditinggalkan Ara.

Dante melihatnya dalam diam. Wajahnya tidak berubah. Namun tatapannya tertahan beberapa detik lebih lama pada jendela yang tadi dipandangi Ara. Ia lalu kembali menunduk pada dokumen di mejanya. Seolah tidak terjadi apa-apa di rumahnya.

***

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!