Larasati, wanita pekerja keras yang sudah lelah hidup dalam kesulitan dan pernah terluka oleh orang yang hanya mementingkan harta, jatuh hati pada Agung—pria sederhana yang tampak tidak memiliki apa-apa, namun selalu menyayanginya dengan tulus dan penuh perhatian. Meski diperingatkan kerabat dan teman agar tidak membuang waktu pada pria yang dianggap tidak mampu mensejahterakannya, Larasati tetap teguh memilih Agung. Mereka menikah dengan sangat sederhana, berjanji untuk membangun kehidupan bersama dalam suka maupun duka.
Selama berbulan-bulan mereka berjuang memenuhi kebutuhan sehari-hari dengan gaji yang pas-pasan, namun kasih sayang Agung tak pernah berkurang sedikitpun. Hingga suatu hari, kedatangan seorang pria tua berwibawa dengan mobil mewah mengubah segalanya. Larasati akhirnya mengetahui kenyataan yang disembunyikan Agung selama ini: suaminya bukanlah orang miskin, melainkan pewaris tunggal keluarga konglomerat Wijaya yang sengaja menyamar menjadi orang biasa.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon fareva, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 7: Malam Sebelum Topeng Jatuh
Lima hari menjelang pesta ulang tahun Pak Haryo yang ke-70, seluruh kediaman Wijaya berubah seperti sarang lebah yang terus bergerak. Tukang hias datang pagi-pagi sekali menata ribuan bunga mawar putih dan anggrek impor di seluruh halaman, koki pribadi mencoba menu-menu baru yang akan dihidangkan untuk ratusan tamu undangan—mulai dari mitra bisnis kelas atas hingga pejabat negara yang namanya sering muncul di berita. Para pelayan berlari kesana kemari memastikan tidak ada satu sudut pun yang berdebu, tidak ada satu peralatan makan perak yang kurang berkilau.
Di tengah keramaian itu, Larasati bergerak seperti bayangan. Ia tampak sibuk membantu Ibu Saras memeriksa daftar tamu, menata bunga di meja utama, bahkan ikut mencicipi kue kering buatan koki untuk memastikan rasanya pas—semua orang mengira dia hanya antusias membantu merayakan ulang tahun mertuanya. Tidak ada yang tahu bahwa setiap langkahnya dihitung, setiap tatapannya mengawasi satu orang: Paman Surya Wijaya.
Sejak pagi itu, pria tua itu bergerak lebih sering dari biasanya. Ia berjalan keliling rumah sambil tersenyum ramah menyapa setiap pelayan, berhenti sejenak untuk mengobrol dengan tukang hias, bahkan sempat membantu mengangkat pot bunga besar yang hampir terjatuh. Bagi orang lain, itu adalah bukti betapa rendah hatinya kakak tertua keluarga Wijaya itu. Tapi bagi Larasati, setiap gerakannya penuh perhitungan. Ia melihat jelas bagaimana Paman Surya diam-diam memberi isyarat kecil pada dua pria asing yang berpakaian seperti tukang kebun, bagaimana ia berbisik sebentar dengan Dokter Hartono saat semua orang sibuk melihat dekorasi lampu di aula utama, bagaimana matanya selalu melirik ke arah Pak Haryo dengan tatapan yang tidak bisa diartikan lain selain penghitungan dingin.
Siang itu, saat semua orang berkumpul di aula utama mendengarkan penjelasan penata acara, Larasati diam-diam menyelinap ke sayap timur rumah—kamar yang ditempati Paman Surya dan Dika. Jantungnya berdegup kencang sampai terasa di telinga. Ia tahu ini sangat berbahaya. Kalau ketahuan, tidak ada yang akan percaya alasannya. Paman Surya bisa saja menuduhnya mencuri, dan sekali lagi namanya akan tercemar di depan keluarga. Tapi dia tidak punya pilihan lain. Percakapan di taman malam itu, ancaman di teras, foto tua Dokter Hartono—semua itu hanya teka-teki tanpa bukti nyata. Dan waktu terus berjalan. Tinggal lima hari lagi sampai pesta, hari yang direncanakan Paman Surya untuk mengakhiri segalanya.
Pintu kamar terkunci, tapi Larasati ingat trik yang pernah diajarkan ayahnya dulu saat mereka masih tinggal di kampung—menggunakan seutas kawat tipis yang selalu dia simpan di dompetnya. Hanya butuh tiga detik, bunyi klik kecil terdengar, dan pintu terbuka perlahan.
Kamar itu rapi, sangat rapi, sampai terasa tidak berpenghuni. Larasati bergerak cepat, tidak berani menyentuh barang-barang di meja kerja kecuali dengan ujung jari. Ia memeriksa laci atas, laci bawah, lemari pakaian—semuanya berisi dokumen bisnis biasa, pakaian, obat-obatan umum. Tidak ada yang mencurigakan. Sampai tangannya menyentuh bagian bawah laci paling dalam, ada sesuatu yang terasa berbeda: selembar kertas kecil terlipat rapat, ditempelkan di dasar laci dengan lakben tipis yang hampir tidak terlihat.
Larasati mengambilnya dengan tangan gemetar. Di atas kertas itu hanya ada deretan angka dan singkatan yang tidak masuk akal bagi orang awam: D-H 0,15 mg / 3 jam sebelum A / campur dlm J. Namun bagi Larasati yang sudah bertahun-tahun merawat ibunya yang sakit jantung, kode itu terasa seperti sambaran petir. D-H pasti singkatan dari obat jantung tertentu yang dosisnya hanya 0,15 mg, A adalah acara—pesta ulang tahun, J adalah jus atau minuman. Mereka berencana mencampurkan obat itu ke dalam minuman Pak Haryo tiga jam sebelum acara berlangsung, dalam dosis yang cukup memicu serangan jantung fatal yang akan terlihat seperti kematian wajar karena faktor usia.
Tepat saat ia akan memasukkan kertas itu ke saku bajunya, terdengar langkah kaki berat berjalan mendekat dari ujung koridor. Suara Dika yang mengomel kesal terdengar makin dekat: “Ayah bilang harus cek surat-surat di kamar dulu sebelum tamu datang, ribet sekali sih…”
Larasati panik. Pintu keluar hanya satu, dan Dika sudah tinggal beberapa langkah lagi. Matanya mencari tempat bersembunyi, lalu melihat tirai jendela panjang yang menjuntai sampai ke lantai. Ia segera melompat ke sana, bersembunyi di balik kain tebal itu tepat saat pintu kamar terbuka lebar.
Dika masuk sambil mengutuk pelan, berjalan ke meja kerja lalu membuka laci yang baru saja diperiksa Larasati. Larasati menahan napas sekuat tenaga, sampai dadanya terasa mau meledak. Ia melihat melalui celah tirai bagaimana Dika meraba-raba dasar laci, lalu wajahnya berubah pucat saat menyadari kertas kecil itu sudah hilang.
“Sial!” seru Dika pelan, lalu mengeluarkan ponselnya dengan tangan gemetar. “Yah, kode yang kita simpan di laci hilang. Sepertinya ada yang masuk ke kamar kita tadi. Saya curiga itu wanita kampung itu. Dia sejak kemarin selalu mengawasi kita dari jauh.”
Ada jeda sebentar saat Dika mendengarkan jawaban dari ujung telepon. Wajahnya makin pucat. “Baik, Yah. Saya akan pastikan malam ini dia tidak akan bisa mengganggu rencana kita lagi. Kalau perlu… saya percepat jadwal untuk dia.”
Setelah Dika keluar dari kamar dengan langkah terburu-buru, Larasati baru bisa turun dari tempat persembunyiannya. Kakinya lemas sampai dia harus berpegangan pada tiang jendela agar tidak jatuh. Kertas kecil di tangannya basah oleh keringat. Mereka sudah tahu. Atau setidaknya, mereka sudah curiga. Dan sekarang, Dika berencana menyingkirkannya lebih cepat dari yang direncanakan.
Ia segera keluar dari kamar itu, berjalan cepat melewati koridor samping taman sambil berusaha terlihat tenang. Tapi saat melewati semak melati di sudut rumah, langkahnya terhenti. Di balik semak itu, ada dua orang yang sedang berbisik pelan—dan salah satu suaranya sangat dikenalnya.
“Kamu yakin dosisnya cukup untuk membuat jantungnya berhenti total tanpa meninggalkan jejak?” tanya suara Paman Surya, dingin seperti biasa.
“Tenang saja, Pak Surya,” jawab suara lain yang Larasati langsung kenali sebagai Dokter Hartono. “Obat ini larut sempurna dalam jus apa pun, tidak berasa, tidak berbau. Dalam autopsi nanti hanya akan terlihat kadar enzim jantung yang meningkat wajar karena usia dan kelelahan mengadakan pesta. Tidak ada yang akan curiga. Saya sudah menggunakannya dua puluh lima tahun lalu untuk istri Pak Haryo, ingat? Saat itu juga tidak ada yang menemukan sesuatu yang aneh.”
Larasati menutup mulutnya erat. Ibu Agung. Kematian wanita itu yang selalu disebut sebagai musibah keturunan… ternyata juga ulah mereka. Dua puluh lima tahun. Mereka sudah membunuh sejak saat itu, dan tidak ada yang tahu sama sekali.
Tepat saat ia akan mundur perlahan untuk pergi dari sana, kakinya menginjak kerikil kecil. Bunyi krik yang sangat kecil, tapi cukup membuat kedua pria itu berhenti bicara dan menoleh tajam ke arah semak.
“Siapa di sana?” seru Dokter Hartono suaranya meninggi.
Larasati sudah siap berlari, tapi tiba-tiba sepasang tangan kuat menarik lengannya ke balik dinding besar yang tertutup tanaman rambat. Sebelum ia bisa berteriak, tangan lain menutup mulutnya erat. Ia mendengar bisikan pelan di telinganya, suara yang selama ini sering menghinanya, suara yang dulu ia benci lebih dari apa pun:
“Diam. Kalau mau hidup, ikut saya.”
Larasati membuka mata lebar. Di hadapannya, dengan wajah yang masih tampak dingin dan angkuh seperti biasa, berdiri Ibu Saras. Jari telunjuk wanita itu diletakkan di bibirnya, memberi isyarat agar tetap tenang, lalu ia menarik Larasati berjalan pelan melewati jalan setapak kecil di belakang taman yang hanya diketahui oleh penghuni rumah lama.
Mereka berhenti di gudang kecil di pojok paling belakang rumah, tempat yang sepi dan tidak pernah didatangi siapa pun. Ibu Saras menutup pintu rapat-rapat, lalu menyalakan lampu kecil yang remang. Wajahnya tampak pucat, bibirnya bergetar hebat menahan emosi yang sudah dipendam bertahun-tahun.
“Kamu mendengarnya, kan?” tanya Ibu Saras lirih, suaranya pecah. “Apa yang mereka katakan tentang… tentang almarhumah istri suami saya.”
Larasati mengangguk pelan, tidak berani bersuara. Ia melihat air mata mulai menggenang di kelopak mata wanita yang selama ini terlihat sekeras batu itu.
“Saya selalu curiga,” lanjut Ibu Saras, suaranya makin pelan. “Dua puluh lima tahun lalu, malam sebelum Bu Wulan meninggal, saya melihat Paman Surya keluar dari kamarnya dengan wajah sangat tegang. Dan Dokter Hartono juga ada di sana, padahal saat itu Bu Wulan tidak mengeluh sakit apa-apa. Tapi saya tidak punya bukti. Siapa yang akan percaya pada saya? Saya cuma menantu muda yang waktu itu juga masih dianggap tidak punya apa-apa oleh keluarga besar.”
Ia berhenti sejenak, lalu menatap Larasati dalam-dalam. Untuk pertama kalinya, tidak ada lagi penghinaan, tidak ada lagi tatapan meremehkan di matanya. Yang ada hanya ketakutan yang sama, dan secercah harapan. “Saya melihatmu masuk ke kamar Paman Surya tadi. Saya juga melihatmu selalu mengawasi mereka sejak tiga hari lalu. Apa yang kamu tahu, Nak? Katakan semuanya pada saya. Sekarang… saya di pihakmu.”
Malam itu juga, untuk pertama kalinya, Larasati menceritakan semuanya. Percakapan di bawah pohon beringin, ancaman di teras, kode obat yang ia temukan, rencana mereka untuk membunuh Pak Haryo di hari pesta, bahkan rencana untuk membuatnya terlihat bunuh diri. Ibu Saras mendengarkan semuanya tanpa memotong, wajahnya makin lama makin pucat, sampai di akhir cerita ia harus duduk di kursi kayu tua karena kakinya sudah tidak sanggup menopang tubuhnya.
“Mereka sudah merencanakan ini sejak dua puluh lima tahun lalu,” bisik Ibu Saras penuh ngeri. “Semua jabatan, semua kesetiaan yang dia tunjukkan selama ini… semuanya palsu.”
“Kita harus memberitahu Pak Haryo dan Mas Agung sekarang juga,” kata Larasati cepat. “Sebelum mereka sempat bergerak lebih dulu.”
Tapi Ibu Saras menggeleng cepat. “Tidak. Belum. Kalau kita bicara sekarang tanpa bukti yang cukup kuat, Paman Surya justru akan berbalik menuduh kita membuat cerita bohong untuk merebut kekuasaan. Dia terlalu dihormati di keluarga ini. Semua orang akan percaya dia daripada kita. Dan yang lebih berbahaya… kalau dia tahu kita sudah menyadari semuanya, dia akan segera menjalankan rencananya malam ini juga, sebelum pesta.”
Ibu Saras bangkit berdiri, tatapannya kini berubah menjadi dingin dan tegas—sisi dari wanita itu yang belum pernah dilihat Larasati sebelumnya. “Kita main sesuai aturan mereka. Pura-pura tidak tahu apa-apa sampai hari pesta. Biarkan mereka berpikir mereka menang. Sementara itu, kita kumpulkan bukti yang tidak bisa mereka bantah lagi. Saya tahu di mana mereka biasanya menyimpan barang-barang berbahaya. Saya juga kenal baik asisten Dokter Hartono yang dulu sempat bicara pelan pada saya soal kejanggalan kematian Bu Wulan. Dia mau bicara kalau kita bisa melindunginya.”
Dua hari berlalu dengan ketegangan yang hampir bisa diraba. Larasati dan Ibu Saras bergerak diam-diam, saling memberi isyarat kecil saat bertemu di koridor—sekedip mata, gerakan tangan yang tidak berarti bagi orang lain, tapi berisi pesan penting bagi mereka berdua. Agung sempat bertanya mengapa istrinya tampak lelah belakangan ini, dan Larasati hanya membalutnya dengan alasan sibuk mengurus persiapan pesta. Ia ingin sekali menceritakan semuanya pada suaminya, ingin bersandar di dada pria itu dan melepaskan semua ketakutannya. Tapi Ibu Saras benar. Kalau Agung tahu, dia pasti akan langsung marah besar dan menghadapi Paman Surya tanpa pikir panjang—dan itu justru akan membuat semuanya berakhir lebih buruk.
H-1 sebelum pesta. Malam itu seluruh rumah sudah selesai dihias. Lampu-lampu gantung berkelap-kelip indah di seluruh halaman, bunga-bunga segar baru saja didatangkan dari kebun khusus di Puncak. Larasati baru saja selesai berbicara dengan asisten Dokter Hartono di luar pagar—wanita tua itu setuju untuk memberikan bukti rekaman percakapan antara Dokter Hartono dan Paman Surya, asalkan dia dan keluarganya diamankan keluar kota besok pagi. Saat Larasati berjalan kembali menuju pintu utama, Mbah Sarto tiba-tiba menghampirinya dengan wajah sangat cemas. Di tangannya ada sebuah amplop cokelat tua.
“Nona Larasati,” bisik pelayan tua itu sambil melihat ke kiri dan kanan memastikan tidak ada yang melihat. “Saya menemukan ini di gudang arsip lama tadi saat saya membereskannya. Ini rekaman CCTV luar kamar Bu Wulan, malam sebelum dia meninggal dunia. Pemilik toko CCTV dulu sempat memberi salinan ke Pak Haryo, tapi entah kenapa tidak pernah ditonton. Saya ingat betul karena waktu itu saya yang membantu memasang kamera pertama di rumah ini.”
Larasati mengambil amplop itu dengan tangan gemetar. Ini dia. Bukti yang mereka butuhkan. Bukti yang bisa mengungkap semua kebohongan Paman Surya selama dua puluh lima tahun.
Ia segera berlari menuju kamarnya di lantai dua, jantungnya berdegup kencang karena campuran takut dan lega. Besok pagi, setelah asisten Dokter Hartono aman keluar kota, dia dan Ibu Saras akan menunjukkan semua bukti ini ke Pak Haryo dan Agung. Mereka akan memanggil polisi, menghentikan pesta sebelum sempat terjadi kecelakaan, dan mengakhiri semua teror ini selamanya.
Tapi tepat saat ia memutar gagang pintu kamarnya, langkah kakinya terhenti. Di atas karpet di depan pintu, ada sebuah amplop putih polos yang terselip dari bawah celah pintu. Tidak ada nama, tidak ada cap. Hanya tulisan tangan hitam yang rapi namun dingin di bagian depan:
UNTUK LARASATI. BERHENTI SEKARANG, ATAU KAMU AKAN MENYESAL SEUMUR HIDUP.
Di bawah tulisan itu, ditempelkan sebuah foto kecil. Foto Agung yang sedang keluar dari kantornya tadi siang, dengan lingkaran merah tepat di bagian kepalanya.
Larasati menggigil hebat. Mereka tidak hanya mengawasinya. Mereka juga mengancam nyawa suaminya.
Ia segera masuk ke kamar, mengunci pintu dan semua jendela rapat-rapat, lalu meletakkan amplop rekaman CCTV di bawah bantal bersama kode obat yang ia temukan tiga hari lalu. Ia duduk di tepi tempat tidur sambil memeluk lututnya, mencoba menenangkan napasnya yang memburu. Tinggal satu malam lagi. Satu malam lagi sebelum semuanya berakhir. Entah berakhir bahagia bagi mereka yang memegang kebenaran, atau berakhir tragis di tangan orang-orang yang sudah terlalu lama bersembunyi di balik topeng kesetiaan.
Tepat saat ia akan mengambil ponselnya untuk mengirim pesan pendek pada Ibu Saras soal ancaman itu, tiba-tiba—
PRAK!
Listrik seluruh rumah padam seketika. Kamar yang tadinya terang terang benderang seketika berubah menjadi gelap gulita, hanya diterangi sedikit cahaya rembulan yang masuk lewat celah tirai jendela. Di kejauhan terdengar suara pelayan yang berteriak kaget, suara Ibu Saras yang memanggil para penjaga. Tapi Larasati tidak peduli pada semua itu.
Dari balik pintu kamarnya yang terkunci rapat, ia mendengarnya dengan sangat jelas.
Langkah kaki berat. Berjalan pelan, satu per satu, mendekati tempatnya bersembunyi.
Satu langkah. Dua langkah. Tiga langkah.
Lalu langkah itu berhenti. Tepat di depan pintu kamarnya.
Dan kemudian, terdengar suara ketukan pelan di kayu pintu. Tiga ketukan. Dengan irama yang sama persis dengan irama ketukan yang biasa dilakukan Paman Surya saat memanggil anak buahnya di taman.
Tok. Tok. Tok.
“Larasati… saya tahu kamu ada di dalam. Buka pintunya. Kita perlu bicara sedikit soal… masa depan keluarga Wijaya.”
Suara Paman Surya terdengar begitu tenang, begitu ramah, seperti biasa. Tapi di balik ketenangan itu, Larasati bisa merasakan niat membunuh yang sudah tidak lagi disembunyikan.
Malam yang panjang baru saja dimulai. Dan besok pagi, tidak semua orang yang hadir di pesta ulang tahun itu akan pulang dengan selamat.
Bersambung..
-----
Lanjut ke Bab 8 yang akan menjadi puncak konflik—pesta ulang tahun Pak Haryo di mana semua rahasia akhirnya terbongkar, Larasati dan Ibu Saras harus berjuang bersama menyelamatkan nyawa Pak Haryo sekaligus membuktikan semua kejahatan Paman Surya di depan ratusan tamu?