Damar hanya ingin satu hal dalam hidupnya, pekerjaan kantoran yang tenang, duduk di belakang meja tanpa harus berhubungan dengan banyak orang. Namun, akibat terlilit utang dan tergiur gaji fantastis, si pemuda introvert dan penakut ini malah salah menandatangani kontrak kerja gaib di agen travel misterius bernama Last Trip Express.
Tugas Damar bukanlah membawa turis biasa, melainkan menjadi tour guide untuk rombongan hantu! Dari hantu penari yang histeris, hantu bapak-bapak yang lupa meletakkan kunci brankas, hingga hantu artis yang minta dibuatkan acara fansign terakhir—Damar harus memandu mereka mengunjungi tempat-tempat bersejarah dan TKP kematian demi menyelesaikan urusan terakhir mereka sebelum berpindah ke alam selanjutnya.
Di bawah ancaman bosnya yang cantik, modis, sarkastik, dan super galak—Madam Helga—Damar harus memutar otak mengatasi kehebohan para arwah, teror dari makhluk halus jahat, dan kepanikan dirinya sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AnnaYoung, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 03 - Aturan Madam Helga
Suara Damar yang melengking konyol masih memantul di dinding-dinding bus. Tiga puluh pasang mata gaib menatapnya tanpa kedip. Keheningan yang menyusul terasa begitu mencekam, seolah-olah waktu di dalam kendaraan hitam ini telah berhenti sepenuhnya.
Damar menurunkan mikrofon berkabel hitam yang dipegangnya dengan tangan gemetaran. Otaknya menjerit histeris, menyuruh seluruh sel tubuhnya untuk menerobos keluar melalui kaca jendela.
Bodo amat soal tagihan kos! Bodo amat soal saldo tinggal serebu! Ini sih gila! Gila banget!
Tanpa memikirkan risiko apa pun lagi, Damar berbalik kilat. Dia mengambil langkah seribu, berniat melompati pintu bus dan berlari sekuat tenaga menembus kabut malam.
Namun, baru saja satu kakinya terangkat melayang menuju ambang pintu, sebuah cengkeraman tak kasat mata namun sekeras besi mendadak mencekik leher belakang kemejanya.
"Mau lari ke mana kamu, Damar?"
Suara Madam Helga berbisik tepat di samping telinganya. Begitu dingin, begitu menusuk tulang.
Sebelum Damar sempat menjawab, tubuhnya dihentakkan berputar seratus delapan puluh derajat dan dihempaskan kembali ke lantai bus di dekat kursi pengemudi.
Brak!
"Aduh!" Damar mengaduh sambil memegangi pinggulnya yang terasa hendak patah. Dia menatap Madam Helga dengan mata berkaca-kaca, memohon iba. "Madam ... tolong, Madam! Saya ini introvert! Jangankan memandu rombongan hantu, menyapa tetangga sebelah kosan aja saya suka pura-pura pingsan! Tolong batalkan kontraknya, Madam ... saya janji nggak bakal lapor polisi!"
Madam Helga mendengkus tipis, menyibak gaun hitamnya dengan gerakan anggun sebelum bersedekap di depan dada. Tatapannya yang penuh dominasi menatap Damar seperti sedang melihat seekor serangga yang merayap di atas karpet mewahnya.
"Membatalkan kontrak?" tanya Madam Helga dengan alis terangkat. Dia menarik sebuah gulungan tipis beraroma asap dari balik lengan gaunnya. Gulungan itu mengambang secara ajaib di udara, membentang terbuka di depan wajah Damar yang pucat pasi.
Teks berwarna merah menyala yang terukir dari darah Damar tadi mendadak membesar, berkilat-kilat di tengah kegelapan bus.
"Mari kita bacakan pasal tujuh, ayat tiga," tutur Madam Helga santai, jemari berkuku cantiknya mengetuk-ngetuk udara. " 'Pihak Kedua—dalam hal ini kamu, Damar Prasetya—dilarang keras mengundurkan diri atau melakukan pemogokan kerja sebelum masa kontrak selesai. Jika Pihak Kedua nekat mengajukan resign, Pihak Pertama berhak mengambil seluruh sisa energi kehidupan Pihak Kedua secara instan untuk dijadikan bahan bakar minyak bus.' "
Damar membelalak. "Bahan bakar bus?! Maksudnya nyawa saya dijadiin bensin begitu?!"
"Tepat sekali. Bensin pertamax turbo gaib, lebih tepatnya," jawab Madam Helga tanpa berkedip. "Jadi pilihanmu sekarang sangat simpel, kamu berdiri di sana, pegang mikrofon itu, jalankan tugasmu sebagai tour guide ... atau jiwa penakutmu itu akan dialirkan langsung ke tangki bensin bus ini dalam hitungan tiga detik."
"T-tapi—"
"Satu!" Madam Helga mulai berhitung.
"Ini kan—"
"Dua!" Jemari Madam Helga membentuk huruf V dengan gaya santai namun elegan.
"Ini pelanggaran Hak Asasi Man—!"
"Tig—"
"Oke! Oke, Madam!" potong Damar cepat. Air matanya makin merembes.
Madam Helga menyunggingkan seulas senyum tipis nan dingin.
"Hak Asasi Manusia katamu? Sayangnya, di Last Trip Express, kami tidak melayani hal seperti itu. Kami melayani Hak Asasi Makhluk Halus," balas Madam Helga tajam.
Dengan satu gerakan tangan yang cepat, Madam Helga meraih clipboard kayu tebal berisi lembaran-lembaran itinerary atau daftar rencana rute, tempat yang akan dikunjungi, lalu melemparnya tepat ke pangkuan Damar.
Mikrofon besi tadi juga dilayangkan secara magis, mendarat pas di genggaman tangan Damar yang gemetar.
"Dengar baik-baik, Pemuda Penakut!" Madam Helga memajukan wajahnya, menyebarkan aroma bunga sedap malam yang begitu pekat. "Aturan main di sini sangat sederhana. Pertama, tugasmu adalah memandu tur ini, bacakan jadwal perjalanan, dengarkan keluhan mereka, karena kepuasan pelanggan adalah nomor satu!"
Damar menelan ludah yang terasa seperti pasir kasar.
"K-kalau ... kalau mereka nggak puas gimana?"
"Itu masuk ke aturan kedua," sambung Madam Helga, mata bulatnya berkilat berbahaya. "Jangan sampai ada penumpang yang mengamuk atau mengalami penyesalan mendalam hingga berubah menjadi wujud Arwah Anarki. Kalau sampai mereka mengamuk, mereka bisa mencabik-cabikmu sebelum saya sempat menjentikkan jari. Dan kalau kamu mati diserang penumpang, gajimu otomatis hangus."
"Yang dia khawatirin tetap gajinya?!" batin Damar menangis histeris. Nyawa saya yang melayang, Madam!
"Dan aturan ketiga—aturan paling vital," bisik Madam Helga, kini nadanya berubah agak serius dan kelam. "Jangan pernah berjanji atau memberikan hal-hal yang tidak ada di dalam daftar itinerary. Para arwah sangat sensitif terhadap janji palsu. Sekali kamu ingkar, kutukan mereka akan mengikatmu selamanya."
Damar memeluk clipboard kayu itu erat-erat ke dadanya, seolah benda itu adalah satu-satunya pelampung di tengah samudra teror.
"Terus ... Madam sendiri ngapain?"
"Saya?" Madam Helga menyunggingkan senyum elegan yang dipenuhi keangkuhan murni. "Saya adalah Pemilik Agen. Tugas saya adalah mengawasi kinerjamu, menikmati pemandangan, dan memastikan kamu tidak bertindak konyol yang memalukan nama baik perusahaan. Jika ada ancaman gaib tingkat tinggi yang mengganggu operasional tur, baru saya yang turun tangan. Selebihnya? Itu urusanmu, Tour Guide."
Madam Helga kemudian berbalik, melangkah santai menuju kursi paling depan di barisan kanan yang berukuran lebih besar dan dilapisi kain beludru merah.
Dia duduk di sana dengan anggun, menyilangkan kakinya yang jenjang, lalu mengeluarkan sebuah cermin lipat antik bertakhtakan permata untuk mengoreksi tatanan rambutnya.
Di belakang, rombongan hantu mulai kasak-kusuk kembali. Suara bisikan gaib mereka terdengar seperti desisan angin yang menembus celah jendela tua.
"Duh, mana nih tour guide-nya? Kok malah pacaran sama bosnya?" cerocos hantu pria berbaju batik yang kepalanya masih berada di posisi punggung.
"Iya nih! Jam keberangkatan udah lewat lima menit! Jangan sampai kita telat sampai ke destinasi pertama ya! Nanti energi gaib saya keburu surut!" sahut hantu kakek-kakek yang membawa kepalanya sendiri di atas pangkuan.
"Mas Tour Guide! AC-nya bisa dikecilin nggak?! Rambut saya blow-annya rusak nih kena angin!" jerit hantu wanita bergaun putih dari barisan tengah.
Damar mematung di depan mikrofon. Keringat dingin menyatu dengan air matanya, membasahi kerah kemejanya. Dia melirik ke arah Madam Helga, berharap ada sedikit rasa kasihan dari wanita itu.
Namun, Madam Helga bahkan tidak menoleh; dia hanya mengangkat tangan kirinya, memperlihatkan jam tangan berantai emas sambil mengetuk pergelangan tangannya tiga kali—memberikan sinyal bahwa waktu Damar sudah habis.
Damar memejamkan mata rapat-rapat, menarik napas panjang hingga paru-parunya terasa sesak oleh aroma kemenyan dan melati busuk, lalu menghembuskannya perlahan.
"Gak apa-apa, Damar ...," batinnya mencoba menenangkan diri yang jelas-jelas tidak tenang. "Lu cuma perlu anggap mereka ini peserta tur rombongan ibu-ibu PKK yang agak ... ekstrem. Anggap aja mukanya rusak karena salah pakai skincare. Lu cuma perlu baca kertas ini, baca aja."
Dengan jemari yang bergoyang hebat, Damar membuka lembaran pertama di clipboard-nya. Tulisan di kertas itu bersinar merah redup, menampilkan deretan nama penumpang dan jadwal perjalanan malam ini.
Damar menempelkan mikrofon ke bibirnya. Suaranya terdengar bergetar hebat, namun dia berusaha keras menahannya agar tidak pecah.
"C-cek ... cek satu ... dua ...." Suara Damar bergema melalui pengeras suara bus.
Seluruh hantu di dalam bus mendadak diam, memusatkan perhatian kembali kepada pemuda malang yang berdiri di depan itu.
"S-selamat malam ... Rekan-Rekan Arwah yang ... yang terhormat dan dicintai ...," kata Damar, memaksakan senyum pepsodent paling menyedihkan di muka bumi. "Selamat datang di Bus Nomor 666 ... persembahan dari Last Trip Express."
Madam Helga melirik dari balik cermin kecilnya, sebuah ulasan senyum tipis yang hampir tak terlihat muncul di sudut bibir merahnya.
"Nama saya ... Damar," lanjut Damar, kini pasrah sepenuhnya pada nasib. "Dan malam ini ... saya yang akan menjadi pemandu wisata kalian, menuju perjalanan terakhir sebelum kalian ... pindah alam."
😂
mangkane ndak usah rahasiaan kepada keluarga pak tedjo yg belom mnjdi bejo ..krn penyesalan harta warisan yg tak sampai ke anak nya
tour kemana kita yakk
ngga ngompol di tempat
😂😂
serreemmm bgt