Demi menyelamatkan keluarganya, Alina terpaksa menerima pernikahan kilat dengan pria asing yang bahkan belum sempat ia kenal. Ia mengira pernikahan itu hanya formalitas, hingga hari pertama bekerja di perusahaan impiannya mengubah segalanya.
Pria dingin yang duduk di kursi CEO itu ternyata adalah suaminya sendiri.
Di depan semua orang, pria itu bersikap seolah mereka orang asing. Namun diam-diam, ia selalu melindungi Alina dari setiap fitnah dan bahaya yang mengintainya. Saat identitas mereka akhirnya terbongkar, rahasia besar, perebutan kekuasaan, dan pengkhianatan mulai mengancam rumah tangga mereka.
Mampukah cinta tumbuh di balik pernikahan yang dipenuhi rahasia? Atau justru semuanya akan berakhir sebelum benar-benar dimulai?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anjay22, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Perdamaian masa lalu
Alina melangkah masuk ke dalam galeri yang sangat hening. Dinding-dinding galeri dipenuhi oleh lukisan-lukisan abstrak bermutu tinggi dan patung-patung perunggu yang diterangi lampu sorot terarah. Di tengah ruangan galeri yang luas itu, berdiri sebuah meja makan kecil beratap kaca yang menghadap ke taman dalam yang asri.
Untuk sesaat, langkah Alina terhenti.
Matanya bergerak perlahan mengamati sekeliling. Ia tidak pernah membayangkan tempat seperti ini berada di tengah kawasan kota yang begitu sibuk. Kemewahan galeri itu terasa begitu tenang, elegan, sekaligus mengintimidasi.
Indah sekali...
Alina hampir saja menghela napas kagum, tetapi segera menahannya. Ia tidak ingin menunjukkan keterkejutannya secara berlebihan. Terlebih, kedatangannya kali ini bukan untuk menikmati karya seni.
Ia menarik napas dalam-dalam, lalu memperbaiki posisi blazer yang dikenakannya.
“Fokus, Alina. Kamu datang untuk bekerja,” gumamnya pelan.
Tatapannya kemudian beralih ke tengah ruangan. Sebuah meja makan kecil beratap kaca berdiri menghadap taman dalam yang asri. Cahaya matahari menembus atap kaca, memantul lembut di permukaan meja dan menciptakan suasana yang terasa begitu mewah.
Alina kembali terdiam sesaat.
Bahkan tempat makan pun dibuat seperti ruang pamer pribadi.
Namun, ia segera mengalihkan pandangan dan memasang ekspresi profesional.
Apa pun yang akan terjadi di tempat ini, ia harus tetap menjaga sikap. Ia tidak boleh membiarkan kemewahan tempat ini membuatnya kehilangan fokus, ia kembali berjalan menuju si tuan rumah.
Seorang wanita berdiri di dekat salah satu lukisan besar. Arimbi Rekso.
Ia mengenakan terusan gaun hitam kasual yang simpel tanpa perhiasan mencolok. Rambutnya diikat melambaikan kerapian yang lebih alami, dan wajahnya tampak lebih tenang, jauh dari kesan wanita bangsawan yang haus kekuasaan.
Mendengar langkah kaki Alina, Arimbi membalikkan badannya. Untuk beberapa detik, kedua wanita itu saling berpandangan dalam keheningan yang dalam.
"Selamat malam, Nona Arimbi," panggil Alina lembut, memecah keheningan.
Arimbi mengulas sebuah senyuman tipis—sebuah senyuman tulus yang belum pernah diperlihatkannya sebelumnya. Ia melangkah mendekati meja makan dan mengisyaratkan Alina untuk duduk.
"Selamat malam, Alina. Terima kasih banyak sudah berkenan hadir," suara Arimbi terdengar renyah dan jujur. "Jujur saja, saya sempat berpikir kamu tidak akan mau datang setelah semua kelakuan buruk yang saya tunjukkan di kantormu dulu."
Alina duduk dengan anggun di seberang Arimbi. "Masa lalu adalah bagian dari proses pemandirian kita, Nona. Saya datang ke sini karena saya menghargai surat pribadi yang Anda kirimkan."
Pelayan menyajikan teh herbal hangat dan beberapa kudapan manis, lalu membungkuk dan meninggalkan mereka berdua di dalam ruangan yang syahdu tersebut.
Arimbi menggenggam cangkir tehnya, menatap uap hangat yang membumbung tipis. "Malam itu ... di gedung konvensi ... saya merasa dunia saya hancur sepenuhnya. Harga diri saya sebagai seorang Rekso terkoyak di depan ratusan pasang mata."
Alina mendengarkan dengan tenang tanpa memotong.
"Tapi saat saya terbang ke London seminggu setelahnya," lanjut Arimbi dengan mata berkaca-kaca namun senyumnya tetap bertahan, "saya baru menyadari satu hal yang teramat krusial. Saya marah bukan karena saya mencintai Devan ... saya marah karena ego saya tidak bisa menerima bahwa seorang pria sanggup menolak saya dan memilih wanita lain yang tidak berada di dalam lingkar kekuasaan kami."
Arimbi menatap lurus ke dalam mata Alina. "Dan saat saya melihat bagaimana Devan mengumumkan namamu dengan mata yang begitu penuh cinta dan kebanggaan ... saya sadar bahwa saya tidak akan pernah bisa mendapatkan tatapan seperti itu dari Devan, seberapa banyak pun saham yang keluarga saya tawarkan kepadanya."
Dada Alina berdesir hangat mendengar pengakuan jujur dari wanita di depannya. Rasa simpati dan rasa hormat yang mendalam mendadak tumbuh di dalam hatinya untuk Arimbi. Butuh keberanian luar biasa bagi seorang wanita setinggi Arimbi untuk mengakui kekalahan egonya dengan sangat terbuka.
"Devan adalah pria yang sangat memegang teguh komitmen dan hatinya, Nona Arimbi," kata Alina pelan. "Pernikahan kami memang berawal dari sebuah keadaan yang sangat terdesak, tapi komitmen dialah yang menyelamatkan hidup saya dan ibu saya."
"Saya tahu," Arimbi mengangguk pelan. "Dan melihat bagaimana kamu memimpin Divisi CSR dua bulan terakhir ini ... saya paham kenapa Devan jatuh cinta padamu. Kamu memiliki ketenangan, kebaikan, dan kekuatan karakter yang tidak pernah saya miliki."
Arimbi merogoh sebuah kotak beludru kecil berwarna biru tua dari dalam tasnya dan meletakkannya di atas meja, menggesernya perlahan ke arah Alina.
Alina mengerutkan dahi. "Apa ini, Nona Arimbi?"
"Buka saja," senyum Arimbi.
Alina membuka kotak beludru tersebut. Di dalamnya terbaring sebuah pin perak berbentuk daun zaitun yang dihiasi butiran permata kecil yang sangat indah, sebuah simbol perdamaian dan awal yang baru.
"Itu adalah mahakarya pertama dari pameran seni yang saya kurasi sendiri di London," terang Arimbi. "Anggap saja itu sebagai hadiah pernikahan resmi dan permohonan maaf tulus dari saya atas semua prasangka buruk di masa lalu. Saya ingin menutup lembaran lama keluarga kita dan memulai hubungan profesional yang bersih antara Rekso Foundation dan Divisi CSR Dirgantara Group."
Alina menatap pin perak tersebut, lalu menatap Arimbi dengan rasa haru yang tak membuncah. Ia meraih pin tersebut dan mengangguk pelan.
"Terima kasih banyak, Arimbi. Saya menerima hadiah dan niat baikmu ini dengan hati terbuka," ujar Alina tulus, kini menyapa wanita itu tanpa sebutan formalitas yang kaku.
Arimbi tersenyum lega, seolah sebuah beban berat yang menindih dadanya selama berbulan-bulan akhirnya terangkat sepenuhnya.
Pukul sepuluh malam. Alina melangkah keluar dari Galeri Seni Rekso. Hujan gerimis telah reda, meninggalkan udara malam yang segar dan aroma tanah yang menenangkan.
Di samping mobil sedan yang terparkir, Devan berdiri menyandarkan tubuhnya. Pria itu ternyata tidak tinggal di rumah, ia sendiri yang datang menyusul bersama Pak Bagas, menunggunya di luar dalam diam dengan payung hitam di tangannya.
Melihat Alina keluar, Devan langsung melangkah mendekat, membentangkan payung di atas kepala istrinya meski hujan sudah berhenti. Matanya yang tajam menyapu wajah Alina, mencari tanda-tanda kecemasan atau kesedihan.
"Bagaimana?" tanya Devan singkat namun sarat akan kehangatan cemas.
Alina tersenyum sangat cerah, sebuah senyuman yang memancarkan kedamaian utuh dari dasar jiwanya. Ia melingkarkan tangannya di lengan Devan, menunjukkan pin perak daun zaitun di jemarinya.
"Semuanya berakhir dengan sangat indah, Devan," bisik Alina lembut. "Tidak ada lagi musuh, tidak ada lagi dendam, dan tidak ada lagi bayangan masa lalu yang perlu kita takuti."
Devan menatap pin tersebut, lalu menatap wajah istrinya. Sebuah hembusan napas lega terlepas dari dadanya. Devan merengkuh pinggang Alina, mendekatkan tubuh mereka di bawah naungan malam Menteng.
"Ayo kita pulang, Nyonya Dirgantara," ujar Devan rendah, mengecup kening Alina dengan kelembutan yang memabukkan.
"Ayo pulang, Suamiku," sahut Alina bahagia.
Di dalam kabin mobil yang meluncur mulus membelah malam Jakarta, Alina menyandarkan kepalanya di bahu Devan, menggenggam erat tangan suaminya.
Rahasia yang dahulu menjadi beban yang menyiksa kini telah menjadi fondasi cinta yang tak tertembus. Bersama Devan, Alina tahu bahwa apa pun badai yang akan datang di masa depan, mereka akan selalu melangkah bersama, sebagai dua jiwa yang menyatu dalam keabadian takdir.