Miracle. menceritakan Ayyasy dan teman-temannya yang hanya siswa biasa melihat bintang jatuh yang jatuh ke arah gunung belakang komplek mereka. mereka menyentuh batu itu dan mendapatkan kekuatan. setelah mereka mendapatkan kekuatan, ancaman ancaman dari monster monster mulai berdatangan. mereka pun harus menjadi penjaga dunia.
bersamaan dengan itu, mereka juga mulai bertemu dengan pahlawan pahlawan dari kota lain yang memiliki nama tim yang sama yaitu, Miracle
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayyasy Asy-Syaif, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pertandingan Pertama
"Dimas! Arunnaqa! Amankan area sekitar!" teriak Ayyasy penuh komando, suara tegasnya memecah udara yang membeku akibat keheningan di sekitar monumen kaca.
"Siap!" sahut Dimas dan Arunnaqa serempak.
Dengan sigap, Arunnaqa memusatkan sihir teknologinya. Jemarinya menari di atas udara, memroyeksikan perisai barrier digital raksasa berbentuk jaring kebiruan untuk menutupi akses menuju alun-alun. "Sistem barikade aktif! Warga dan tim penyelamat aman di luar radius ledakan kedua!"
"Gua bakal lacak pola fluktuasi kristal itu!" tambah Dimas seraya mematangkan koordinat analisis pemindai Kosmik-nya. "Ayyasy, Night, hati-hati! Kristal di tangannya menyerap sihir di sekitarnya!"
CRACK... BZZZZZT!
Sebelum Dimas selesai berbicara, sosok berselimut jubah hitam di puncak monumen melayangkan tangan kanannya ke bawah. Kristal kelam yang melayang di jemarinya memancarkan gelombang kejut berwarna hitam keperakan. Gelombang itu meluncur deras bagaikan meteor jatuh, siap meremukkan semen dan tanah di bawah kaki Ayyasy.
"Langkah Bayangan: SHADOW DASH!"
Night melesat cepat melebihi batas penglihatan biasa. Dalam satu gerakan kilat, ia menyambar pundak Ayyasy dan melompat mundur sejauh puluhan meter tepat sebelum gelombang kristal itu menghantam bumi.
BOOOOOOOOOOMMMM!
Ledakan kedua meletup hebat. Tanah alun-alun hancur berkeping-keping, melempar puing-puing batu ke segala arah. Hebatnya, debu dan puing-puing itu tidak terbang bebas, melainkan terhisap dan runtuh ke dalam titik hitam kecil yang diciptakan oleh serangan kristal tersebut.
Ayyasy mendarat dengan mulus di atas tanah basah. Kobaran Dragon Flame Aura di sekujur tubuhnya kian membara, mengusir rasa dingin yang dipancarkan oleh musuh di hadapan mereka.
"Makhluk ini... dia bukan pengguna sihir elemen biasa," ujar Ayyasy dengan mata tajam mengunci posisi musuh. "Energinya bertolak belakang dengan sihir dari Empat Kota."
"Bukan sihir... tapi kehampaan murni," bisik sosok di puncak monumen itu. Untuk pertama kalinya, ia melayang turun secara perlahan, menapakkan kakinya di atas puing-puing tanah yang hancur.
Jubah hitamnya berkibar pelan ditiup angin. Wajahnya masih tertutup oleh bayangan pekat penutup kepala, namun aura keangkuhan dan teror yang dipancarkannya begitu membakar atmosfer di sekitar mereka.
"Kalian bangga telah mengalahkan Darking... Kalian pikir dunia kalian sudah aman hanya karena raja kegelapan itu lebur menjadi abu?" sosok itu terkekeh dingin, suara tawanya bergema ganda yang memetikan napas. "Darking hanyalah percikan api kecil di pinggir hutan. Dan aku... adalah badai yang akan memadamkan seluruh cahaya kalian."
"Banyak omong!" geram Night.
Pedang samurai bayangannya ditarik penuh dari sarungnya. Aura hitam spiritual yang sangat pekat menyelimuti bilah baja tersebut. Tanpa ragu, Night menerjang maju dalam kecepatan supersonik.
CLINK! CLASH! CLASH!
Serangan demi serangan tebasan Night dilancarkan dengan presisi mematikan dari berbagai sudut. Namun, sosok berpakaian hitam itu sama sekali tidak memindahkan kakinya. Ia hanya menggerakkan tangan kanannya dengan santai, mengibaskan kristal kelam di jemarinya untuk menangkis setiap sabetan pedang Night. Percikan bunga api hitam dan keperakan meletup-letup di udara setiap kali besi dan kristal itu beradu.
"Night, awas kanan lu!" teriak Dimas dari kejauhan.
Sosok itu mendadak menghentakkan kakinya. Cahaya hitam menyembur dari dalam bayangan Night sendiri, mencoba mematok kaki sang pengintai dari bawah!
"DRAGON FLAME: STRIKE!"
FROOOOOSH!
Ayyasy meluncur dari samping, menembakkan kobaran api emas raksasa yang membakar semburan bayangan jahat tersebut hingga menguap menjadi udara murni. Ayyasy berbalik cepat, mengayunkan tinjunya yang terbungkus api naga murni tepat ke arah wajah sosok misterius itu!
BAM!
Tinjauan api Ayyasy menghantam dinding pelindung transparan yang mencuat tepat di depan muka sang musuh. Benturan dua energi raksasa itu menciptakan gelombang angin bertekanan tinggi yang menghempaskan puing-puing di sekitar alun-alun.
Sosok itu sedikit terdorong mundur dua langkah. Ia melihat ke tangannya yang sedikit ternoda jelaga api emas Ayyasy, lalu kembali mendongak menatap Ayyasy dan Night yang kini berdiri bersisian.
"Api yang hangat... dan bayangan yang pekat," bisik sosok itu, nada bicaranya berubah menjadi sedikit tertarik. "Kombinasi yang cukup menarik untuk murid SMA biasa."
"Siapa sebenarnya lu?!" tuntut Ayyasy dengan napas teratur, api naga di tubuhnya berdiri memuncak. "Apa tujuan lu nyerang pusat Kota Zenith?!"
Sosok itu terdiam sejenak. Ia mengangkat kedua tangannya ke udara, membuat kristal kelam di jemarinya berputar makin kencang hingga memancarkan puluhan jarum hitam beracun di sekeliling tubuhnya.
"Namaku adalah Erebos... Utusan dari Dimensi Kehampaan," jawabnya pelan namun mengintimidasi. "Tujuanku? Sederhana. Menghancurkan pilar perdamaian yang kalian ciptakan di Empat Kota, dan membuktikan bahwa pahlawan terpilih seperti kalian... tidak lebih dari sekadar anak-anak yang bermain api."
"Erebos..." gumam Arunnaqa dari belakang perisai. "Data tentang nama atau energinya sama sekali tidak ada di dalam direktori arsip Empat Kota!"
"Karena dia memang bukan berasal dari dunia kita!" tegas Dimas, matanya membelalak menyadari kebenaran di balik sinyal anomali yang ia lacak sejak kemarin. "Dia berasal dari luar batas dimensi yang terdaftar!"
Erebos menyeringai di balik bayangan penutup kepalanya. "Analisis yang cerdas, Anak Kosmik. Tapi sudah terlambat."
Dengan satu jepretan jari dari Erebos, puluhan jarum hitam beracun di sekelilingnya meluncur deras seperti hujan panah, menargetkan Ayyasy, Night, Dimas, dan Arunnaqa secara bersamaan!
"Dinding Bayangan Spiritual: SHIELD OF VOID!" Night melompat ke depan, memutar pedang samurainya hingga menciptakan pusaran bayangan pelindung yang menangkis sebagian besar hujan jarum tersebut.
"DRAGON FLAME: AURORA SHIELD!" Ayyasy menghantamkan telapak tangannya ke tanah, memicu benteng api emas yang membakar habis jarum-jarum hitam yang lolos dari pertahanan Night.
BOOM! BOOM! BOOM!
Rangkaian ledakan kecil terjadi saat jarum-jarum itu menghantam semen alun-alun, meninggalkan lubang-lubang kecil yang berasap hitam. Pertarungan di pusat Kota Zenith kini resmi memanas.
Ayyasy mengelap sedikit peluh di dahinya, lalu melirik Night yang mengangguk mantap di sebelahnya. Meskipun musuh baru bernama Erebos ini memiliki kekuatan asing yang teramat sangat berbahaya dan berasal dari luar dimensi mereka, tidak ada sedikit pun rasa gentar di mata para pahlawan muda ini.
"Dimas, Arunnaqa! Cari kelemahan jaringan kristalnya!" seru Ayyasy membakar semangat timnya. "Night, kita masuk ke formasi gempuran ganda!"
"Siap!" balas Night dengan mata berkilat tajam.
Di bawah naungan asap ledakan dan kepulan debu di pusat Kota Zenith, empat pahlawan terpilih dari Miracle bersiap melancarkan serangan balasan penuh demi melindungi kedamaian Empat Kota dari ancaman sang Utusan Kehampaan, Erebos.