Dipaksa menjadi pengantin pengganti demi melunasi utang lima miliar keluarga angkatnya, Kiyora Aleena pasrah dibawa oleh penguasa mafia Italia yang paling ditakuti—Salvatore.
Namun, alih-alih dijadikan tawanan atau simpanan, pria dingin nan kejam itu justru memperlakukannya bagai seorang ratu. Puncaknya terjadi saat sebuah bisikan misterual membakar ingatan masa lalunya.
"Aku tidak pernah salah mengenali milikku," bisik Salvatore rendah, menatap gelang perak berbandul merah di pergelangan tangan Kiyora.
"Kamu adalah Istriku. Ratu dari seluruh kerajaanku ... Alaura."
"N-Nama aku Kiyora, Om Tuan Mafia! Salah orang kali!" pekik Kiyora panik dengan mata bulatnya yang berbinar kaget.
Siapa sebenarnya Alaura? Dan mengapa takdir mempertemukannya kembali dengan Salvatore di tengah ancaman perang berdarah antar-klan mafia yang siap membongkar rahasia besar tentang identitas aslinya?
Terlebih, ada bocil cadel menggemaskan yang merecoki kisah percintaan mereka.
"Ini Mama Milooo!"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kenz....567, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Mencoba Percaya
Irama deru mesin mobil lapis baja perlahan mereda begitu rombongan tiba di halaman depan mansion Salvatore. Salvatore keluar dari mobil, tetap mendekap erat Kiyora yang terbungkus jas hitam tebal miliknya. Tanpa membiarkan kaki mungil gadis itu menyentuh lantai dingin, sang Don Mafia melangkah lebar menaiki tangga utama menuju kamar megahnya di lantai dua.
Ia mendorong pintu kamar dengan siku, lalu melangkah menuju ranjang king size yang empuk. Dengan sangat hati-hati, seolah memegang barang pecah belah paling berharga di dunia, Salvatore mendudukkan Kiyora di tepi ranjang.
Lalu, Salvatore berlutut di hadapan Kiyora. Jemari besarnya yang hangat perlahan menyingkap jas yang menutupi wajah gadis itu. Tatapan matanya yang tadi sarat amarah kini melunak sepenuhnya, berganti menjadi sorot kedalaman yang begitu pekat dan intens.
"Biar aku lihat lukamu, Mia Cara," bisik Salvatore, suaranya serak namun terdengar amat lembut di telinga Kiyora.
Jemari Salvatore yang sedikit kasar membelai lembut pipi kiri Kiyora yang membengkak, lalu bergerak pelan mengusap sudut bibirnya yang pecah. Setiap sentuhannya begitu berhati-hati, takut menambah rasa sakit pada gadis kecilnya.
"Sakit, Om ...," lirih Kiyora, matanya kembali berkaca-kaca menatap lurus ke dalam manik mata Salvatore.
Salvatore mendekatkan wajahnya, mendaratkan kecupan lembut dan lama tepat di sudut bibir Kiyora yang terluka. Sensasi hangat dari bibir pria itu membuat dada Kiyora berdesir hebat, menghantarkan rasa aman yang seketika meluruhkan sisa-sisa trauma dan ketakutannya malam ini.
"Maafkan aku ...," bisik Salvatore tepat di depan bibir Kiyora, menatapnya dengan penuh penyesalan. "Aku terlambat memelukmu. Akj biarkan tangan kotor mereka menyentuh dan melukaimu. Jangan pernah lari lagi dariku, Kiyora ... dunia di luar sana terlalu kejam untuk kepolosanmu, dan hanya di dalam pelukanku kamu akan selalu aman."
Kiyora menggigit bibir bawahnya pelan, menatap Salvatore yang berlutut di hadapannya bagaikan seorang pengawal setia. Rasa tenang dan haru menyusup halus ke dalam sanubarinya. Ia sadar, betapa pun berbahayanya pria ini bagi dunia luar, bagi dirinya, Salvatore adalah benteng pelindung terkuat yang ia miliki.
"Jangan galak-galak lagi kalau begitu ...," cicit Kiyora pelan, menyembunyikan rona merah di pipinya.
Salvatore terkekeh rendah, suara bass-nya bergetar menyenangkan. Ia berdiri lalu menekan bel pemanggil di samping ranjang. Tak lama, dua orang pelayan wanita paruh baya masuk membungkuk khidmat.
"Bantu dia mandi dan bersihkan badannya. Siapkan pakaian yang paling nyaman untuknya," perintah Salvatore tegas namun tenang. Ia lalu menatap Kiyora hangat. "Mandi air hangat dulu, ya? Setelah ini kita istirahat."
Kiyora mengangguk menurut. Di kamar mandi, para pelayan membantunya membilas seluruh sisa debu, trauma, dan wewangian kelab malam yang menempel di kulitnya. Setelah tubuhnya segar kembali, Kiyora mengenakan piyama katun berkapas warna merah muda dengan motif beruang lucu favoritnya, pakaian yang membuatnya merasa kembali menjadi dirinya sendiri, bukan gadis bergaun terbuka yang dipajang di panggung lelang.
Saat Kiyora keluar dari kamar mandi, ia mendapati Salvatore sudah berganti pakaian santai, duduk di tepi ranjang seraya menunggunya dengan sabar. Lampu kamar sudah diredupkan, menyisakan pencahayaan hangat dari lampu tidur di sudut ruangan.
Dengan langkah pelan dan canggung, Kiyora menghampiri pria itu. Salvatore mengulurkan tangannya, dan Kiyora tanpa ragu menyambut genggaman hangat tersebut. Salvatore menariknya lembut hingga Kiyora naik ke atas ranjang dan berbaring di sampingnya.
Tanpa diminta dua kali, Kiyora langsung menyusupkan tubuh kecilnya ke dalam dekapan hangat Salvatore. Kedua tangannya melingkar erat mengunci pinggang pria itu, menyandarkan kepalanya tepat di dada bidang Salvatore yang berdetak teratur. Ia memeluknya begitu erat, seolah-olah jika ia melepaskannya sedikit saja, ia akan kembali terlempar ke dalam kegelapan dunia luar yang menakutkan.
"Kangen Om," ucap Kiyora manja.
Salvatore tersenyum tipis di dalam kegelapan remang. Ia melingkarkan lengan kokohnya di sekeliling tubuh Kiyora, menariknya makin rapat tanpa menyisakan celah di antara mereka. Dagu Salvatore bertumpu nyaman di puncak kepala Kiyora, sementara tangannya yang lain mengusap punggung gadis itu secara teratur.
"Om ...," panggil Kiyora halus di balik dadanya.
"Hmm?"
"Terima kasih sudah datang menyelamatkanku ...,"
Salvatore menghentikan usapan tangannya sejenak, lalu mengecup puncak kepala Kiyora dengan dalam.
"Aku akan selalu datang, Kiyora. Ke mana pun kamu lari, ke ujung dunia mana pun kamu bersembunyi, Aku akan selalu menemukanmu," bisik Salvatore dengan nada rendah yang sarat akan dominasi dan peringatan posesif.
Ia memiringkan fisiknya sedikit, menatap wajah Kiyora yang kini menatapnya dalam remang.
"Tapi ingat peringatanku malam ini, Mia Cara ...," sambung Salvatore, jarinya merapikan helai rambut di wajah Kiyora. "Ini adalah kali pertama dan terakhir kamu mencoba kabur dariku. Jika kamu mencobanya lagi ... aku tidak akan memenjarakanmu di dalam mansion ini, tapi aku akan mengikatmu tepat di atas ranjang ini, di sampingku, selamanya. Merekam setiap helai napasmu agar kamu sadar bahwa kamu adalah milik seorang Salvatore."
Peringatan itu terdengar mengerikan namun terasa begitu manis di saat yang bersamaan. Kiyora tidak merasa terancam, justru rasa memiliki yang begitu besar dari Salvatore membuatnya merasa sangat berharga.
Kiyora makin menyusupkan wajahnya di leher Salvatore, menghirup aroma maskulin yang menenangkan. "Aku tidak akan kabur lagi ... enakan disini bisa makan enak," bisiknya pasrah sekaligus hangat.
Salvatore tersenyum puas, mengecup kening gadisnya sekali lagi sebelum akhirnya memejamkan mata, memeluk erat takdir kecilnya hingga mereka berdua tenggelam dalam tidur yang lelap di tengah keheningan malam.
Namun, Kiyora membuka matanya kembali. Ia menatap dalam Salvatore yang tertidur lelap. Menatapnya sampai tak berkedip. Ia tak pernah mengira Salvatore akan membawanya kembali, dan tak ada amarah dari pria itu.
"Mungkin kamu memang tidak akan menyakitiku, aku coba percaya padamu. Salvatore," batin Kiyora dan kembali memejamkan matanya.
.
.
.
.
Sementara di ruangan lain, seorang bocah menggemaskan sedang duduk di hadapan layar besar yang menampilkan kesalahannya. Ia menunduk, jari jemarinya saling bertaut. Telinganya mendengarkan ocehan Thomas padanya.
"Besok, habis burungmu kena potong sama si Don, berulah aja terus," ucap Thomas yang membuat tangisan Milo akhirnya pecah.
"EKHEEEE HUAAAAA! NDA MAUUUUU!"
kiyora 😭