NovelToon NovelToon
The Lone Traveler

The Lone Traveler

Status: sedang berlangsung
Genre:Dunia Lain / Fantasi Isekai / Action / Fantasi
Popularitas:313
Nilai: 5
Nama Author: Shodiq Daryanto

Terbunuh tepat saat ingin mengubah hidupnya, seorang pemuda reinkarnasi ke Dunia "Astral" dunia raksasa berisi 10 benua. Berbekal kekuatan, ingatan, dan wujud Uchiha Sasuke, ia diberi satu misi suci oleh Dewa Agung: memburu 'Eternity', satu-satunya pemilik 'System' yang mengancam tatanan dunia.

Namun, perburuannya berubah rumit saat menembus lantai 100 sebuah dungeon. Bukannya monster, ia justru bertemu Saviera, seorang Demigod, dan Elaina, anak malaikat kecil yang tiba-tiba memanggilnya "Papa".

Di antara misi memburu sasaran misterius dan ikatan keluarga baru yang mengisi kehampaan jiwanya, jalan mana yang akan ia pilih?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Shodiq Daryanto, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 18 : Keputusan untuk Pergi

Pagi berikutnya, Saviera menemukan Sasuke duduk sendirian di beranda kecil penginapan, menatap ke arah istana yang masih diselimuti kabut tipis pagi hari. Ada sesuatu yang berbeda dari raut wajahnya—bukan kelelahan, melainkan semacam ketenangan yang tidak ada di sana kemarin.

"Kau tidur di sofa semalam?" Saviera bertanya, duduk di sampingnya sambil menyerahkan secangkir teh hangat.

Sasuke menerima cangkir itu, namun tidak segera menjawab, mempertimbangkan apakah akan menyembunyikan kepergiannya semalam atau bersikap jujur sepenuhnya. Setelah beberapa detik, ia memilih yang terakhir.

"Aku pergi tengah malam," ia akhirnya mengakui. "Kembali ke istana. Sendirian."

Saviera membeku, cangkirnya sendiri berhenti di udara sebelum sempat menyentuh bibirnya. "Kau—apa? Sendirian? Ke tempat itu?"

"Aku tinggalkan catatan," Sasuke menjelaskan cepat, mencoba meredakan kepanikan yang mulai muncul di wajah Saviera. "Aku tahu ini terdengar gegabah, tapi aku sudah mempertimbangkannya matang-matang. Aku tidak berniat menyerangnya, hanya bicara."

"Kau bicara dengannya?" Saviera bertanya, suaranya campuran antara tidak percaya dan khawatir. "Sasuke, itu bisa saja membunuhmu tanpa peringatan!"

"Aku tahu risikonya," Sasuke menjawab tenang. "Tapi aku juga tahu, dari pengamatan siang sebelumnya, bahwa dia tidak menunjukkan niat menyerang tanpa alasan. Aku mempertaruhkan penilaian itu, dan untungnya, penilaianku benar."

Saviera menghela napas panjang, menyeka wajahnya dengan satu tangan, campuran lega dan kesal yang jelas terlihat di ekspresinya. "Lain kali—dan kuharap tidak akan ada 'lain kali' semacam ini—tolong ajak aku. Atau setidaknya beri tahu aku sebelumnya, bukan sesudahnya."

"Aku tidak ingin menempatkanmu dalam bahaya jika sesuatu berjalan salah," Sasuke menjelaskan jujur.

"Dan aku tidak ingin kau menghadapi bahaya sendirian, sementara aku tertidur nyenyak tanpa tahu apa-apa," Saviera membalas, tatapannya tajam namun tidak sepenuhnya marah—lebih ke arah kekhawatiran yang tulus. "Kita sepakat untuk tidak memikul semuanya sendirian, ingat? Itu berlaku dua arah, Sasuke."

Sasuke menatapnya lama, menyadari kebenaran dalam kata-kata itu. "Kau benar," ia akhirnya mengakui. "Maaf."

---

Setelah suasana sedikit mereda, Sasuke menceritakan seluruh percakapannya dengan sosok berjubah hitam itu—tentang orang-orang yang hanya "tertidur", bukan mati; tentang sesuatu yang dicarinya yang hilang sudah lama; dan tentang pengakuan sosok itu bahwa ia, seperti Sasuke, bukan berasal dari dunia Astral.

Saviera mendengarkan dengan saksama, sesekali mengajukan pertanyaan, wajahnya berubah dari khawatir menjadi penuh pikir. "Jadi dia berjanji akan pergi dalam beberapa hari."

"Begitu katanya," Sasuke mengonfirmasi. "Dan aku cenderung mempercayainya. Tidak ada alasan baginya untuk berbohong pada seseorang yang bahkan tidak ia anggap ancaman."

"Kalau begitu," Saviera berkata perlahan, "mungkin yang terbaik yang bisa kita lakukan sekarang adalah menunggu. Membiarkan dia menyelesaikan urusannya, lalu memastikan kota ini benar-benar aman setelah dia pergi."

Sasuke mengangguk setuju. "Aku juga berpikir begitu. Tidak ada gunanya memaksa lebih jauh sekarang, terutama dengan risiko yang begitu besar."

---

Mereka menghabiskan tiga hari berikutnya di Aldric, membantu Aldous dan beberapa penduduk yang masih bertahan dengan pekerjaan-pekerjaan kecil—memperbaiki atap yang bocor, membantu mengangkut air dari sumur yang jauh, sesekali menemani anak-anak kecil yang tersisa bermain di alun-alun kosong bersama Elaina, yang dengan cepat menjadi teman bermain favorit mereka berkat keceriaannya yang menular.

Pada hari ketiga, sebuah perubahan terjadi.

Sasuke, yang sedang membantu Aldous memperbaiki pagar penginapan, tiba-tiba berhenti, matanya menerawang ke arah istana di kejauhan.

"Dia pergi," Sasuke berkata pelan, lebih pada dirinya sendiri.

"Apa maksudmu?" Aldous bertanya, mengikuti pandangannya.

"Tekanan yang selama ini kurasakan dari arah istana," Sasuke menjelaskan, "menghilang. Baru saja."

Berita itu menyebar cepat ke seluruh kota yang tersisa, dan dalam hitungan jam, beberapa penduduk yang paling berani mulai berjalan mendekati istana untuk memastikan sendiri. Ketika mereka kembali, wajah-wajah yang tadinya dipenuhi ketakutan kini menampakkan kelegaan yang hampir tidak bisa dipercaya.

"Mereka semua ada di sana," salah satu penduduk melaporkan, suaranya bergetar antara tangis dan tawa. "Prajurit, pelayan, tamu-tamu istana—semuanya, tertidur di aula utama, seperti baru saja terbangun dari tidur panjang! Tabib istana bilang mereka semua sehat, hanya kelelahan luar biasa!"

Kota yang tadinya seperti kuburan hidup mendadak dipenuhi suara tangis haru dan tawa lega, penduduk yang sempat mengungsi mulai berbondong-bondong kembali begitu kabar itu menyebar lebih jauh ke kota-kota tetangga.

---

Malam sebelum kepergian mereka dari Aldric, Aldous mengadakan perayaan kecil di penginapannya, mengundang beberapa penduduk yang sudah kembali untuk merayakan berakhirnya mimpi buruk yang menyelimuti kota mereka.

"Kalian tidak akan pernah tahu betapa berartinya kalian bagi kota ini," Aldous berkata, mengangkat gelasnya dalam toast sederhana. "Meski aku tidak sepenuhnya tahu apa yang terjadi, aku tahu kalian berperan besar dalam menenangkan situasi ini."

"Kami hanya kebetulan berada di tempat dan waktu yang tepat," Sasuke menjawab rendah hati, meski senyum kecil tersungging di wajahnya.

"Elaina bantu juga!" Elaina menyela dari pangkuan Saviera, membuat semua orang di ruangan itu tertawa.

"Tentu saja," Saviera menjawab, mencium puncak kepala anaknya dengan sayang. "Kau yang paling berjasa, sebenarnya. Kau yang membuat semua orang tetap tersenyum di tengah situasi seburuk itu."

Malam itu berlangsung hangat, dipenuhi tawa dan cerita, jauh berbeda dari suasana mencekam yang menyambut kedatangan mereka beberapa hari lalu.

Keesokan paginya, mereka bertiga meninggalkan Aldric dengan hati yang lebih ringan, meski Sasuke tahu pertanyaan-pertanyaan besar—tentang sosok misterius itu, tentang apa yang sebenarnya ia cari, tentang siapa lagi di dunia ini yang mungkin, seperti dirinya, bukan benar-benar berasal dari Astral—masih menunggu jawaban di suatu tempat di depan.

Namun untuk sekarang, ia memilih untuk menikmati kehangatan sederhana di sampingnya: Elaina yang bernyanyi riang di punggungnya, dan Saviera yang berjalan di sisinya, keduanya menjadi alasan yang semakin jelas kenapa perjalanan panjang ini terasa berarti.

---

*Bersambung ke Bab 19: Arah Baru*

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!