NovelToon NovelToon
Suami Super Cool Berseragam Loreng

Suami Super Cool Berseragam Loreng

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Perjodohan / Menikahi tentara
Popularitas:2.8k
Nilai: 5
Nama Author: Fitria Susanti Harahap

Sarif adalah lelaki yang diajukan sebagai calon suami Ratna dalam perjodohan keluarga, tetapi karena ia menolak, akhirnya dialihkan pada sepupunya Tara.

Gadis yang baru satu tahun lulus SMA itu menerima dengan suka cita sebab ia menghindari dikirim keluar kota untuk kuliah.

Tara: Jodoh itu misterius, dia yang tenang untuk aku yang darderdor

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fitria Susanti Harahap, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

9

Akhirnya, Nina memilih tetap tinggal di kampung. Ia mengubur kesempatan mendapatkan pekerjaan yang lebih baik, lalu memulai semuanya dari nol. Apa pun yang bisa menghasilkan uang, ia kerjakan. Menerima pesanan katering, membuat kue untuk dititipkan di warung, memasak untuk acara hajatan, hingga lembur sampai larut malam jika pesanan sedang banyak.

Penghasilannya memang tidak besar. Namun, setiap malam ia masih bisa pulang, memeluk ketiga anaknya, memastikan mereka makan, belajar, dan tidur dengan tenang. Bagi Nina, kebersamaan dengan anak-anaknya jauh lebih berharga daripada gaji besar yang harus dibayar dengan perpisahan.

Berikut versi yang lebih emosional dan konsisten dengan karakter Tara yang ceria tetapi dewasa.

Tara sebenarnya bukan anak yang selalu diam. Dulu, ia pernah beberapa kali mencoba membela ibunya. Menurutnya, Nenek Bani terlalu keras kepala. Jika sudah membuat keputusan, hampir tidak ada ruang untuk mendengarkan pendapat orang lain.

Tara yang terkenal blak-blakan sempat berani menyampaikan protes. Sayangnya, setiap kali ia melawan, bukan dirinya yang menerima akibat paling besar. Melainkan ibunya.

Nina akan didiamkan, ditegur lebih keras, atau diberi pekerjaan lebih banyak. Tidak ada bentakan yang berlebihan, tetapi cukup membuat Tara mengerti bahwa setiap keberaniannya selalu dibayar oleh orang yang paling ia sayangi.

Sejak saat itu, Tara memilih mengubah caranya. Bukan karena ia setuju. Bukan pula karena ia takut. Ia hanya tidak ingin ibunya kembali berada di posisi yang sulit. Kalau harus ada yang mengalah, biarlah dirinya. Asal ibunya bisa hidup sedikit lebih tenang. Karena itulah, Tara tumbuh menjadi gadis yang pandai menyembunyikan rasa lelah di balik tawa. Saat kesal, ia tidak lagi melawan dengan emosi. Ia memilih melontarkan candaan, menyindir dengan cara yang lucu, atau menertawakan keadaan.

Bagi orang lain, Tara terlihat seperti gadis yang selalu ceria dan tidak pernah punya beban. Padahal, di balik senyum itu, ada begitu banyak hal yang ia telan sendirian. Bercanda telah menjadi caranya bertahan..Bukan karena hidupnya selalu menyenangkan, tetapi karena ia percaya, jika kesedihan tidak bisa dihilangkan, setidaknya bisa dibuat sedikit lebih ringan dengan sebuah senyuman.

Ratna mendecak pelan. Entah mengapa, jawaban santai Tara barusan justru membuatnya semakin kesal. "Kamu itu ya," katanya sambil menyilangkan tangan di dada. "Dikasih tahu demi kebaikan kamu, malah nyindir."

Tara hanya berkedip polos.

"Kalau memang nggak suka sama aturan di rumah ini, sana protes sama Nenek!"

Tara mengembuskan napas panjang. "Fiuh..." Ia menggaruk pelipisnya pelan, benar-benar bingung dengan perubahan sikap sepupunya. "Kak Ratna itu kenapa, sih?"

Ratna semakin cemberut.

"Serius deh," lanjut Tara dengan nada santai. "Bukannya selama ini kita sama-sama nggak terlalu ikut campur urusan masing-masing?"

Kalimat itu membuat Ratna terdiam sesaat.

"Ya udah, sih." Tara mengangkat kedua bahunya. "Aku anggap Kak Ratna lagi perhatian sama aku." Ia lalu tersenyum lebar. "Makasih, ya.".Setelah mengatakan itu, Tara langsung melangkah masuk ke dalam rumah sambil membawa tas kateringnya.

Ratna tetap berdiri di tempat. Mulutnya sedikit terbuka, tetapi tidak ada kata yang keluar. Ia ingin marah..Namun, ucapan Tara barusan justru membuatnya merasa canggung..Memang benar..Selama bertahun-tahun mereka tidak pernah benar-benar dekat. Tidak bermusuhan, tetapi juga tidak akrab. Karena itu, ketika tiba-tiba dirinya begitu sibuk mengurusi keputusan Tara, bahkan Ratna sendiri mulai bertanya-tanya... Sebenarnya aku sedang mengkhawatirkannya... atau sedang mengkhawatirkan diriku sendiri?

Ratna akhirnya berlari menuju kamarnya. Begitu pintu tertutup, ia menjatuhkan tubuhnya ke atas kasur sambil memeluk bantal. Air matanya kembali mengalir. Semakin ia berusaha melupakan Sarif, semakin jelas wajah pria itu terbayang di pelupuk matanya.

Ia benar-benar belum bisa mengikhlaskan kenyataan bahwa pria itu kini telah menjadi calon suami Tara. Padahal, selama ini hubungan Ratna dan Tara sebenarnya biasa saja. Mereka memang sepupu, tetapi perbedaan usia empat tahun membuat keduanya tumbuh dalam lingkungan pergaulan yang berbeda. Mereka tidak pernah bertengkar hebat, namun juga tidak pernah benar-benar dekat.

Di dalam hati Ratna, ada perasaan yang sudah lama ia simpan. Iri. Entah sejak kapan, ia selalu merasa hidup Tara jauh lebih menyenangkan daripada hidupnya.

Tara selalu tertawa. Selalu bercanda. Seolah tidak pernah memikirkan apa pun. Ke mana pun pergi, selalu ada saja orang yang menyukainya. Wajahnya cantik dengan senyum yang mudah membuat orang merasa nyaman. Sifatnya juga ramah, mudah bergaul, dan tidak canggung berbicara dengan siapa pun.

Sementara Ratna... Ia cenderung pendiam, kaku saat bertemu orang baru, dan lebih nyaman menyimpan pikirannya sendiri. Sering kali ia merasa harus berusaha lebih keras agar diterima dalam sebuah lingkungan. Yang tidak pernah Ratna sadari adalah satu hal. Senyum Tara bukan berarti hidupnya tanpa luka. Di balik tawanya, ada begitu banyak perjuangan yang tidak terlihat.

Tara kehilangan ayah di usia muda. Ia menyaksikan ibunya bekerja tanpa mengenal lelah demi menghidupi tiga anak. Ia juga memaksakan dirinya untuk membantu ibunya. Ia menunda kuliah, membantu usaha katering, mengajar les bahasa Inggris, bahkan terbiasa mengalah demi menjaga ketenangan ibunya.

Namun semua itu hampir tidak pernah diceritakannya kepada siapa pun. Tara memilih menyimpan kesedihannya sendiri dan menggantinya dengan rasa syukur. Mungkin itulah sebabnya banyak orang merasa nyaman berada di dekatnya. Bukan karena hidupnya lebih mudah. Melainkan karena ia memilih menghadapi hidup dengan senyum, meski kenyataannya tidak selalu mudah.

***

Malam itu suasana rumah besar keluarga Bani terasa berbeda. Sejak sore, aroma masakan memenuhi setiap sudut rumah. Di meja makan utama telah tersaji berbagai hidangan, dengan menu utama berupa iga sapi yang masih mengepulkan uap panas. Bahkan Nenek Bani sampai menyewa beberapa pelayan harian untuk membantu menyiapkan makanan dan melayani keluarga.

Pemandangan seperti itu sangat jarang terjadi. Biasanya, setiap keluarga makan di tempatnya masing-masing.

Keluarga Paman Aji makan di ruang makan depan..Sedangkan Nina bersama Tara, Taufan, dan Akmal lebih sering makan di dapur belakang setelah pekerjaan mereka selesai.

Karena itulah, ketika Nenek meminta seluruh anak, menantu, dan cucunya duduk di satu meja makan yang sama, semua orang merasa heran.

Akmal yang paling tidak bisa menyimpan rasa penasaran langsung bertanya sambil memandangi meja penuh makanan. "Wah... tumben, Nek." Ia menunjuk panci besar berisi iga. "Ada acara apa?"

Nenek Bani tersenyum tipis. "Nggak ada acara apa-apa."

"Lho?"

"Nenek cuma ingin makan bersama kalian semua." Beliau memandang cucu-cucunya satu per satu, hingga tatapannya berhenti pada Tara. "Soalnya... sebentar lagi Tara menikah." Suasana yang semula ramai perlahan menjadi hening. "Kalau sudah menikah, dia tidak akan sering berkumpul dengan kita lagi."

1
Inde Hara
Inde Hara
InshaAllah ✓
Inde Hara
🤣🤣🤣🤭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!