Terbuang saat bayi dan nyaris tewas di Hutan Terlarang, Hu Jin tumbuh tanpa mengetahui identitas aslinya sebagai Putra Mahkota Kerajaan Timur.
Ditolak oleh dunia dan diasuh oleh Dewi Es dari Sekte Teratai, Hu Jin bangkit membuktikan dirinya melalui Tulang Kaisar Langit—bakat mitologi yang mengguncang semesta. Namun, alih-alih menjadi alat politik sekte, ia memilih pergi menantang alam liar demi membebaskan gurunya dan merebut kembali takdir yang dirampas!
Mampukah pangeran yang terbuang ini menaklukkan benua dan kembali sebagai Dewa Pedang Es Kuno?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Danzo28, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Deklarasi Sang Pangeran
Hu Jin menatap lurus ke cakrawala utara, tempat istana megah Kerajaan Timur berdiri. Suaranya, yang diperkuat oleh sisa energi Qi dari kemenangannya, bergetar menyapu seluruh arena, menghantam sanubari setiap orang yang hadir.
"Permintaanku sederhana..." Hu Jin menjeda sejenak, matanya menatap tajam ke arah jajaran pejabat Kerajaan Timur yang duduk di tribun kehormatan, yang secara tidak langsung adalah antek-antek Zhao Feng.
"Aku meminta agar Tiga Sekte Besar, dengan otoritas yang kalian miliki sebagai pilar stabilitas Benua Timur, mengirimkan tim investigasi independen untuk memeriksa kondisi istana Kerajaan Timur saat ini. Selidiki keberadaan Raja Hu Yan yang sesungguhnya, dan audit setiap aliran pajak yang selama ini diperas oleh faksi Zhao Feng dari rakyat kecil!"
DUARR
Pernyataan itu bagaikan petir yang menyambar di siang bolong!
Seluruh aula mendadak gempar. Bisik-bisik ketakutan dan keterkejutan meledak dari tribun penonton. Para pejabat Kerajaan Timur yang hadir di arena mendadak pucat pasi. Mereka tidak menyangka bahwa juara turnamen ini akan membawa isu politik yang begitu panas ke hadapan para tetua sekte.
"Lancang!" teriak seorang utusan istana yang mengenakan seragam pejabat tinggi Kerajaan Timur, berdiri dengan wajah merah padam. "Kau hanyalah seorang kultivator rendah! Berani-beraninya kau mencampuri urusan internal kerajaan?! Itu adalah fitnah keji!"
Hu Jin tidak gentar. Ia justru melangkah maju, aura Tulang Kaisar yang dingin dan agung meledak dari tubuhnya, menekan sang pejabat hingga jatuh terduduk.
"Fitnah?" tanya Hu Jin dingin. "Jika itu fitnah, kenapa kalian begitu takut dengan investigasi terbuka? Jika Zhao Feng adalah pemimpin yang adil, mengapa rakyat Kerajaan Timur hidup dalam kelaparan sementara pajaknya mengalir ke kantong-kantong pribadi kalian?"
Tekanan aura Hu Jin begitu menekan, membuat sang pejabat tak mampu mengeluarkan sepatah kata pun.
Pemimpin Kota Teratai Hitam terdiam, menimbang situasi. Ia melirik ke arah para pemimpin Tiga Sekte Besar. Qian Renxue berdiri dari kursinya, menatap Hu Jin dengan pandangan bangga yang tak bisa disembunyikan.
"Sekte Teratai mendukung permintaan Sang Juara," ucap Qian Renxue dingin, suaranya yang anggun memecah keraguan di tribun VIP. "Jika Kerajaan Timur memang tidak memiliki dosa, investigasi ini seharusnya menjadi kabar baik bagi mereka."
Tetua Agung Sekte Pedang Langit dan Sekte Awan saling berpandangan. Mereka memang tidak peduli pada rakyat, namun mereka peduli pada stabilitas perdagangan dan pengaruh sekte mereka. Zhao Feng yang korup memang sudah mulai mengganggu jalur perdagangan para sekte.
"Sekte Pedang Langit setuju," sahut Tetua Agung Sekte Pedang Langit dengan nada dingin. "Kami juga telah mendengar banyak keluhan dari para pedagang kami mengenai kesewenang-wenangan di istana."
"Sekte Awan setuju," tambah perwakilan Sekte Awan singkat.
Wajah para pejabat Kerajaan Timur berubah kelabu. Keringat dingin mengucur deras di pelipis mereka. Mereka tahu, begitu investigasi ini dimulai, cengkeraman Zhao Feng di istana akan mulai retak.
Hu Jin menyarungkan pedangnya dengan mantap. Ia telah meletakkan benih pemberontakan di tengah arena paling suci di Benua Timur.
Malam harinya, setelah perayaan usai, Hu Jin berdiri di balkon penginapan, menatap bulan yang bersinar redup. Ia tahu, langkahnya hari ini telah menyatakan perang terbuka.
Pintu kamarnya terbuka perlahan. Qian Renxue melangkah masuk, menutup pintu dengan gerakan anggun.
"Itu langkah yang sangat berbahaya, Hu Jin," ucap Qian Renxue pelan. "Kau telah menaruh target besar di punggungmu. Zhao Feng tidak akan tinggal diam setelah dipermalukan di depan seluruh benua."
Hu Jin berbalik, menatap gurunya dengan senyuman yang tenang. "Aku tahu, Guru. Tapi tanpa memicu gejolak, tidak akan ada perubahan. Zhao Feng perlu tahu bahwa kekuasaannya di istana tidak akan aman lagi."
Qian Renxue mendekat, merapikan jubah Hu Jin dengan penuh perhatian. "Mulai besok, kau tidak akan lagi berjalan sendiri. Segala gerak-gerikmu akan diawasi oleh ribuan mata—baik kawan maupun lawan."
Hu Jin mengangguk. "Itulah yang kuharapkan. Biarkan mereka melihatku."
"Apa rencanamu selanjutnya?"
"Ujung Utara," jawab Hu Jin mantap. "Aku akan pergi ke wilayah Terlarang di Ujung Utara. Sisa-sisa Tulang Kaisar dan rahasia kekuatan naga yang sebenarnya ada di sana. Sebelum aku kembali ke istana untuk menantang Zhao Feng secara langsung, aku harus menjadi sosok yang tidak bisa disentuh oleh siapa pun."
Qian Renxue menghela napas, menyadari bahwa perjalanan muridnya kini benar-benar telah melampaui bimbingannya. Ia mengambil sesuatu dari balik lengan jubahnya—sebuah keping giok transparan yang memancarkan aura es yang sangat murni.
"Ini adalah Segel Es Puncak," ucap Qian Renxue sambil menyerahkannya pada Hu Jin. "Jika suatu saat kau berada dalam bahaya yang benar-benar tak terelakkan di Ujung Utara, hancurkan segel ini. Aku akan tahu di mana kau berada."
Hu Jin menggenggam giok itu, merasakan hangatnya perhatian sang guru. "Terima kasih, Guru."
Saat fajar pertama menyentuh bumi keesokan harinya, Hu Jin telah melangkah jauh meninggalkan Kota Teratai Hitam.
Di belakangnya, sebuah badai politik baru saja dimulai. Di depannya, bentangan wilayah misterius Ujung Utara menunggu untuk mengungkap takdir sang Pangeran Es.
Perjalanan Hu Jin menuju puncak kekuatannya—dan menuju takhta yang menjadi hak miliknya—baru saja memasuki babak yang paling menentukan!