Dulu, sebelum jalan aspal mencapai Dusun Wanasetra, aku dan adikku harus bangun ketika langit masih gelap. Kami berjalan lebih dari tujuh kilometer menuju sekolah, melewati pematang sempit, kebun, lereng rawan longsor, dan sungai yang tidak memiliki jembatan tetap. Di kaki kami hanya ada sepatu bekas dari pasar loak. Sepatu itu terlalu sempit untukku, terlalu besar untuk Nira, dan selalu basah saat musim hujan.
Kami menjahit telapak yang terbuka dengan benang karung, menambalnya memakai potongan ban, lalu memakainya kembali pada pagi berikutnya. Di sekolah, sepatu lusuh itu menjadi bahan ejekan. Di rumah, sepatu yang sama menjadi bukti bahwa Ayah dan Ibu masih berusaha menjaga kami tetap belajar. Ketika panen gagal, Ibu sakit, dan Ayah menerima pekerjaan berbahaya di tempat pemecahan batu, perjalanan menuju sekolah berubah menjadi perjuangan mempertahankan keluarga.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Heriawan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
JALAN YANG BERUBAH MENJADI SUNGAI
Hujan turun sepanjang malam. Bukan hujan yang datang sebentar lalu pergi, melainkan hujan rapat yang menutup suara jangkrik dan membuat atap seperti dipukul ribuan jari. Tambalan seng menahan sebagian besar air. Hanya dua ember yang perlu diletakkan di dapur.
Sebelum subuh, Ayah keluar membawa lampu minyak untuk memeriksa jalan. Ia kembali dengan celana penuh lumpur.
“Jalan setapak sudah menjadi aliran air,” katanya. “Kalian tinggal di rumah.”
Aku teringat ulangan membaca dan catatan kehadiran. “Kalau sungai masih bisa dilewati, kami berangkat.”
“Langga.”
“Aku akan membawa tongkat. Nira memegang tas.”
Ayah memandang Ibu. Mereka tidak langsung menjawab. Aku tahu mereka ingin melarang, tetapi setiap hari tidak masuk membuat kami tertinggal. Bantuan sekolah baru saja diberikan. Aku merasa harus membuktikan bahwa keputusan itu tidak salah.
Akhirnya Ayah mengizinkan dengan syarat kami berbalik jika batu ketiga tidak terlihat. Ia mengikatkan karung plastik pada tas, lalu memberi kami sepotong tali untuk saling mengikat pergelangan saat menyeberang.
Jalan di depan rumah hampir tidak terlihat. Air mengalir di tengahnya, membawa daun, tanah, dan ranting kecil. Setiap langkah membuat kakiku tenggelam sampai mata kaki. Potongan ban pada telapak sepatu menahan air dari bawah, tetapi membuat sepatu semakin berat. Lumpur menempel pada karet seperti ingin membawa kakiku kembali ke tanah.
Nira berjalan dua langkah di belakang. Sepatu cokelatnya berkali-kali tertinggal di lumpur. Tumitnya terangkat, sedangkan sepatu tetap tertanam. Aku harus menariknya dengan tangan.
“Kak, jalan kita benar-benar jadi sungai,” katanya.
“Jangan bicara banyak. Simpan napas.”
Di Tikungan Burung, air mengalir dari lereng dan memotong jalur. Aku menancapkan tongkat, lalu menyuruh Nira memegang tasku. Kami melangkah menyamping. Sekali kakiku tergelincir dan lututku masuk ke lumpur. Nira mencoba menarikku, tetapi tubuhnya ikut oleng. Kami jatuh berdua. Tas tetap kering karena dibungkus plastik, sedangkan seragam kami penuh tanah merah.
Aku ingin tertawa agar Nira tidak takut, tetapi napasku terlalu berat. Kami bangkit dan melanjutkan perjalanan.
Sungai utama mengalir lebih tinggi daripada hari sebelumnya. Batu ketiga masih terlihat, hanya bagian atasnya. Kami mengikat pergelangan dengan tali. Aku menyeberang lebih dulu, lalu menarik Nira. Air menghantam kaki seperti mendorong kami pulang. Pada batu terakhir, sepatu kiriku terasa hampir terlepas, tetapi tali sepatu menahannya.
Setelah sungai, perjalanan belum menjadi lebih mudah. Jalan naik berubah menjadi lumpur licin. Aku membawa tas Nira di depan dada dan tasku di punggung. Adikku memegang pinggangku. Setiap beberapa langkah kami berhenti untuk menarik napas.
Kami tiba di jalan kabupaten ketika matahari sudah naik, tetapi langit tetap gelap. Kakiku mulai mati rasa karena dingin. Nira berulang kali menarik napas lewat mulut. Kami belum sarapan banyak, hanya singkong rebus yang dibagi dua, dan rasa lapar membuat langkah terakhir terasa lebih panjang. Dari sana sekolah masih berjarak hampir dua kilometer. Anak-anak lain lewat dengan payung dan sepeda. Beberapa menoleh pada pakaian kami yang kotor. Aku tidak lagi peduli.
Bel pertama berbunyi saat kami memasuki halaman. Pintu kelas sudah tertutup. Pak Sasmita berdiri di depan kantor dengan buku kehadiran.
“Kalian terlambat empat puluh menit,” katanya.
Aku mencoba menjelaskan, tetapi suaraku hilang. Dadaku sakit karena berjalan cepat. Lumpur menetes dari ujung rok Nira. Pak Sasmita melihat kami, lalu menulis sesuatu pada buku. Dari jauh aku dapat melihat tanda merah di samping namaku.
Tanda itu terasa lebih menyakitkan daripada luka pada kaki. Aku membayangkan garis merah itu akan dilihat pada akhir semester dan dianggap sebagai bukti bahwa aku tidak disiplin. Tidak ada gambar sungai, lumpur, atau jam keberangkatan di sampingnya. Hanya satu tanda yang membuat perjalanan panjang kami terlihat seperti kesalahan sederhana. Aku tahu sekolah membutuhkan aturan. Namun, anak yang tinggal lima menit dari sekolah dan anak yang berjalan melewati sungai tetap diberi garis merah yang sama.
“Kami berangkat sebelum subuh, Pak,” kata Nira.
Pak Sasmita menghela napas. “Masuk kelas. Bersihkan kaki kalian lebih dahulu.”
Di kamar mandi, kami menyiram lumpur dari betis. Air dingin membuat kulitku menggigil. Aku membuka sepatu dan menemukan potongan ban masih menempel. Tambalan Mbah Wreda berhasil, tetapi berat sepatu membuat jahitan bagian atas kembali longgar.
Pelajaran pertama hampir selesai ketika kami masuk. Semua kepala menoleh. Jalu menggeser tas agar kami dapat lewat. Tidak ada ejekan. Mungkin keadaan kami terlalu buruk untuk dijadikan bahan tertawaan. Gala menyelipkan sepotong kain kering ke bawah mejaku untuk mengusap kaki. Jalu memindahkan bangkunya agar lumpur dari seragamku tidak mengenai buku orang lain. Kebaikan kecil itu tidak menghapus rasa malu, tetapi membuatku mampu duduk sampai pelajaran selesai.
Saat istirahat, Bu Satya melihat tanda merah pada daftar kehadiran. Ia membawa buku itu ke kantor kepala sekolah. Aku tidak berniat menguping, tetapi ruang kelas kami dekat kantor. Suara mereka terdengar melalui jendela yang terbuka.
“Mereka sudah berangkat sebelum pukul lima,” kata Bu Satya. “Saya pernah melewati jalannya. Dalam hujan seperti ini, tiba pukul delapan bukan karena mereka malas.”
Pak Sasmita menjawab dengan suara rendah, “Saya memahami keadaan mereka. Tetapi kalau catatan diubah, orang tua lain dapat menuntut hal yang sama.”
“Biarkan mereka menjelaskan keadaan masing-masing.”
“Sekolah tidak dapat membuat aturan berbeda untuk setiap anak.”
“Bukan aturan berbeda. Pertimbangannya yang berbeda.”
Percakapan berhenti sejenak. Aku menunduk pada buku. Kata keadilan sering dibicarakan guru dalam pelajaran budi pekerti. Selama ini aku mengira adil berarti semua mendapat jumlah yang sama. Hari itu Bu Satya mengatakan sesuatu yang berbeda.
“Memperlakukan semua anak dengan cara yang sama belum tentu adil,” katanya. “Ada anak yang datang melalui jalan datar. Ada yang menyeberangi sungai. Kita tidak dapat menilai usaha mereka hanya dari jarum jam.”
Pak Sasmita keluar dari kantor dan melihatku duduk dekat jendela. Aku segera pura-pura membaca. Ia mendekat dan meminta buku catatan jalan yang diberikan Mbah Wreda.
Aku menyerahkannya. Ia membaca daftar hujan, ketinggian air, waktu berangkat, dan kerusakan sepatu. Pada halaman terakhir ada gambar tiga tetes hujan buatan Nira.
“Catatan ini kau buat sendiri?”
“Ya, Pak.”
“Bisa saja siapa pun menulis apa saja.”
Aku menelan ludah. “Bu Satya pernah melihat jalannya.”
“Waktu itu tidak sedang hujan besar.”
Bu Satya berdiri di belakangnya. “Apa yang Bapak perlukan?”
Pak Sasmita menutup buku. Wajahnya tidak marah, tetapi tampak sedang memikirkan sesuatu yang sulit.
“Saya perlu bukti yang dapat ditunjukkan kepada guru lain dan komite sekolah,” katanya. “Bukti bahwa dalam musim hujan, jalur itu memang tidak mungkin ditempuh tepat waktu tanpa membahayakan anak-anak.”