TOXIC AND CONTROL
Karya: Parkha
Bagi Kinara Jose, hidup sebagai siswi penerima beasiswa berpenampilan polos dengan kacamata tebal adalah cara terbaik untuk bertahan hidup dengan tenang di SMA Elite. Namun, seluruh dunianya runtuh saat ia tidak sengaja menarik perhatian Rian Pradifta.Rian—sang Tiran berwajah malaikat namun berhati iblis, cowok terkaya, terdingin, dan paling ditakuti satu sekolah. Sekali Rian mengunci pandangannya pada Kinara, tidak ada jalan keluar. Cowok itu terobsesi mengontrol setiap jengkal hidup Kinara, memutuskan dengan siapa ia bicara, ke mana ia pergi, hingga apa yang harus ia pakai.Kehidupan Kinara yang tenang kini berubah menjadi labirin yang mencekik. Rian adalah racun, namun juga satu-satunya oksigen yang tersisa untuknya. Di tengah kepungan obsesi gila itu, sebuah rahasia besar perlahan terkuak: di balik kacamata tebal dan sikap penurutnya, Kinara menyimpan pesona tersembunyi yang siap menjungkirbalikkan kuasa Rian sang Tiran
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Park ha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Toxic and Control *BAB 29: SUDUT LAIN DARI DUNIAMU* _
---Toxic and Control
*BAB 29: SUDUT LAIN DARI DUNIAMU*
_
Deru halus mesin mobil sport mewah milik Rian Pradifta malam itu terasa membelah jalanan aspal ibu kota dengan kecepatan konstan. Di dalam kabin mobil yang beraroma parfum maskulin pekat, keheningan bergulir begitu kaku.
Kinara Jose duduk bersandar sembari memeluk erat map dokumen biru milik ibunya di dada. Pikirannya masih dipenuhi kejengkelan akibat perintah "tidak gratis" yang dilayangkan Rian di basecamp tadi sore. Namun, saat ekor mata Kinara menangkap pemandangan di luar jendela, dahinya seketika mengernyit dalam. Mobil mewah ini tidak mengarah ke pusat perbelanjaan elit atau restoran piring cantik nan mahal tempat kencan terselubung mereka tempo hari. Rian justru membawa kendaraan mahalnya membelah kawasan pasar kuliner tenda pinggir jalan yang ramai dan merakyat.
CKIT.
Mobil berhenti tepat di area parkir dekat deretan kepulan asap bakaran beraroma sedap. Rian mematikan mesin, lalu memutar tubuh tegapnya menghadap Kinara.
"Turun," perintah Rian singkat dengan suara baritonnya yang rendah dan tenang.
Kinara membuka pintu mobil dengan gerakan kaku. Dia melangkah turun sembari menatap sekeliling dengan sepasang mata jernihnya yang membelalak bingung di balik lensa kacamata hitamnya. "Kak Rian... kita mau makan di sini? Ini kan warung tenda pecel lele pinggir jalan?"
"Memangnya kenapa? Bukankah ini tempat makan kesukaanmu?" sahut Rian santai sembari melangkah lebar memimpin jalan menuju salah satu tenda terbesar yang spanduknya mulai kusam.
Rian sengaja menyuruh orang-orangnya untuk mencari tahu tempat makan favorit gadis ini. Sisi gila kontrolnya kini telah bermodifikasi penuh menjadi taktik berburu hati. Dia rela menanggalkan kemewahan kasta tingginya demi bisa masuk dan memahami sudut dunia sederhana milik gadisnya.
Kinara seketika terpaku membeku di tempatnya berdiri dengan wajah yang mendadak memerah merona akibat terkejut. Jantung di balik rongga dadanya melewatkan satu detakan kaku. Bagaimana bisa seorang Rian Pradifta—tuan muda yang biasa makan dengan pisau dan garpu perak—mengetahui warung tenda pecel lele langganannya sepulang kerja dulu?
"Pesan apa pun yang kamu mau. Malam ini aku yang bayar," ujar Rian datar setelah mereka mendudukkan diri di atas bangku plastik panjang yang sempit.
Postur tubuh jangkung atletis Rian setinggi 188 sentimeter serta jaket denim mewahnya terlihat begitu kontras dan mencolok di antara para pengunjung warung tenda lainnya. Kehadiran sang penguasa tertinggi sekolah itu seketika menjadi pusat perhatian dan memicu bisik-bisik kagum dari beberapa pelanggan wanita di sekitar meja mereka.
Melihat mata-mata wanita lain mulai mencuri pandang ke arah ketampanan Rian yang menawan, dada Kinara mendadak merasakan sebersit denyut asing yang tidak nyaman. Dia buru-buru membuang muka, pura-pura sibuk menuliskan pesanan dua porsi pecel lele dengan sambal ekstra pedas di selembar kertas kecil.
"Kak Rian beneran bisa makan makanan pedas pinggir jalan seperti ini?" tantang Kinara jengah, mencoba mengalihkan debaran aneh di hatinya yang kian tidak keruan. "Nanti kalau perutmu sakit, jangan salahkan aku ya, Kak."
Rian menyunggingkan sebuah senyuman miring yang teramat tipis di wajah tampannya, menatap lekat-lekat ke arah Kinara tanpa topeng esnya. "Jangan meremehkanku, Pelayan. Tidak ada hal di dunia ini yang tidak bisa aku taklukkan, termasuk makanan ini."
Begitu makanan datang hangat di atas meja, kepolosan Kinara kembali mendominasi. Menghadapi aroma lele goreng garing kesukaannya, dia melupakan seluruh ketakutan dan kecanggungannya terhadap cowok di depannya. Kinara makan dengan sangat lahap, sesekali mengipas mulutnya yang kepedasan dengan tangan mungilnya hingga bibir ranumnya memerah alami tanpa riak emosi.
Rian sendiri sebenarnya mulai kewalahan menahan rasa panas sambal ekstra pedas yang membakar lidahnya, namun ego tiraninya menolak keras untuk terlihat lemah di depan Kinara. Sepasang mata elang Rian bergerak lambat, terkunci mati hanya untuk menikmati profil wajah jelita Kinara yang tersenyum puas di bawah temaram lampu neon tenda yang sederhana. Ada letupan kebahagiaan yang teramat pekat memenuhi batin Rian. Skenario kencannya kali ini jauh lebih berhasil menyentuh sisi damai dari permatanya.
Rian perlahan mengulurkan tangan kekarnya, mengambil selembar tisu bersih dari wadah plastik. Lalu, dengan gerakan yang teramat lembut dan hati-hati, dia mengusap sisa noda sambal yang menyangkut di sudut bibir ranum Kinara.
DEG.
Kinara seketika menghentikan kunyahannya. Dia membeku dengan mata yang membelalak sempurna tepat di depan wajah tampan Rian yang jaraknya kini hanya tersisa beberapa jengkal. Sentuhan ibu jari Rian yang hangat di balik kain tisu mengirimkan sengatan listrik yang melumpuhkan seluruh saraf batinnya. Jantung Kinara bertalu gila-gilaan, dan kali ini kepolosannya tidak bisa membohongi diri sendiri lagi bahwa getaran asing yang merayap di ulu hatinya adalah sebuah rasa suka yang perlahan mulai tumbuh mengikis benci.
Selesai makan malam yang penuh debaran itu, Rian kembali melajukan mobil sport-nya membelah aspal kota. Namun kali ini, arah kendaraan tidak menuju rumah Kinara, melainkan langsung berhenti di area parkir utama Rumah Sakit Harapan Bangsa.
Kinara menoleh bingung. "Kak Rian, kenapa kita ke sini?"
"Aku mau jenguk ibumu. Anggap saja ini inspeksi pemilik sangkar untuk memastikan fasilitas VIP-ku bekerja dengan baik," jawab Rian asal dengan suara baritonnya, menyembunyikan batinnya yang sebenarnya seketika berdegup gugup menjelang momen menjengkelkan sekaligus mendebarkan: bertemu dengan calon ibu mertuanya.
Kinara mendengus jengah, namun tak urung rasa hangat menyelinap di hatinya. Mereka berdua melangkah beriringan menyusuri koridor rumah sakit yang sunyi, naik menggunakan lift menuju lantai Suite VIP Vanda, Kamar 901.
CKLEK.
Pintu kayu jati tebal itu terbuka pelan. Di dalam ruangan yang sejuk dan harum lavender, Ibu Lusi Jose yang sedang bersandar di brankar medis tampak menoleh ramah. Wajah pucatnya seketika berbinar cerah saat melihat anak gadisnya masuk, terlebih saat matanya kembali menangkap sosok pemuda jangkung dan tampan yang waktu itu sempat mengaku sebagai pacar Kinara.
"Nak Rian... kamu datang lagi?" sapa Ibu Lusi lembut, suaranya terdengar jauh lebih bertenaga setelah penanganan medis terbaik dari dokter utusan Rian.
Rian melangkah maju dengan gerakan yang tiba-tiba berubah menjadi sangat sopan dan takzim—sebuah pemandangan langka yang sukses membuat Kinara membelalakkan matanya syok. Sang penguasa sekolah yang biasanya arogan dan gila kontrol itu kini sedikit membungkukkan tubuh tegapnya, mengulurkan tangan kekarnya untuk menyalami tangan kurus Ibu Lusi dengan sangat hormat.
"Selamat malam, Tante. Maaf baru bisa menjenguk Tante lagi hari ini," ujar Rian dengan suara baritonnya yang direndah-lembutkan, sengaja memberikan tatapan mata elang yang teduh dan tulus.
Ibu Lusi tersenyum teramat tulus, menggenggam balik tangan Rian lalu melirik putrinya. "Oh, Nak Rian... Dokter spesialis tadi bilang kalau semua fasilitas kamar VIP dan biaya operasi besok pagi dipenuhi oleh donatur muda dari yayasan sekolah. Apa... donatur itu Nak Rian? Pacar anak Tante ini?"
Kinara seketika menahan napasnya panik, menatap Rian dengan kode mata memohon agar cowok itu tidak membongkar rahasia kontrak pelayan mereka, atau justru memanfaatkan situasi ini untuk mempermainkannya lebih jauh di depan ibunya yang sedang sakit.
Rian melirik sekilas ke arah wajah panik Kinara, dan sebersit binar kepuasan jahil melintas di matanya. Dia kembali menatap Ibu Lusi dengan senyuman tipis yang sangat sopan. "Tante tidak perlu memikirkan apa pun. Sebagai pacar Kinara, sudah jadi kewajiban saya untuk memastikan Tante mendapatkan perawatan terbaik sampai sembuh total. Segala kebutuhan Tante di rumah sakit ini, mutlak menjadi tanggung jawab saya."
Mendengar kalimat penuh penegasan dan perlindungan mutlak dari pemuda di hadapannya, Ibu Lusi tampak terharu dan mengangguk-angguk lega. Naluri seorang ibu seketika bisa menangkap ketulusan di balik sorot mata posesif Rian yang tidak pernah lepas dari sosok anak gadisnya. Di dalam hatinya, Ibu Lusi merasa sangat tenang karena tahu ada sosok sekuat dan sepeduli Rian yang menjaga permatanya.
Kinara hanya bisa berdiri mematung di sisi brankar dengan wajah yang sudah memerah padam hingga ke daun telinganya. Kalimat "sebagai pacar Kinara" dan "mutlak tanggung jawab saya" yang diucapkan Rian barusan terdengar begitu posesif dan berani, membuat batinnya bergejolak hebat antara kejengkelan dan debaran manis yang kian tak kendali.
Sementara itu, di seberang jalan rumah sakit yang temaram di bawah bayangan pohon palem, sebuah pergerakan senyap sejak sore tadi ternyata masih terus mengintai interaksi mereka dari jauh.
Randy berdiri mematung di balik kemudi mobilnya dengan rahang mengeras kokoh dan kedua tangan yang mencengkeram setir hingga buku jarinya memutih tegang. Sepasang matanya menatap kaku penuh kepedihan yang teramat mendalam ke arah jendela besar kaca transparan kamar VIP lantai sembilan tersebut. Randy nekat membuntuti mobil sport Rian dari warung tenda pecel lele tadi, murni karena paranoianya yang kian meledak akibat salah paham mengira Kinara sedang dijebak habis-habisan dalam sangkar emas.
Namun, menyaksikan bagaimana Rian melangkah masuk ke dalam kamar ibu Kinara dengan begitu royal, bahkan tampak akrab berbincang dengan sang ibu tanpa ada paksaan fisik apa pun, menghantam telak akal sehat Randy secara brutal.
Rasa cemburu masif bercampur patah hati yang teramat pekat membuat Randy sesak napas di tempatnya berdiri. Kendati demikian, kesalahpahaman di otaknya yang mengira Kinara mengorbankan kebebasan demi beasiswanya sudah terlanjur mengakar terlampau dalam. Randy tetap meyakini bahwa Kinara hanya sedang terpaksa mengikuti semua skenario licik Rian demi melindunginya dari kehancuran finansial keluarga.
"Aku tidak akan membiarkan Rian menjebakmu dan ibumu lebih lama lagi dalam sandiwara gila ini, Kinara," gumam Randy parau dengan binar mata yang menggelap penuh tekad nekat.
Dia memutar kunci kontak mobilnya, melaju pergi membelah kegelapan malam dengan menyeret sisa harga dirinya yang terluka. Di dalam otaknya yang dipenuhi kecemburuan dan salah paham yang kian menyesatkan batin, Randy bersumpah akan merancang sebuah rencana rahasia di sekolah besok pagi untuk merebut kembali Kinara dari cengkeraman poros jerat kendali Rian Pradifta.
---
semoga Kinara terselamatkan dr jebakan Randy
kalian yang awal bab maki2 Rian ..tetap maki2 ya soalnya Rian tobatnya masih lama wkkwkwk