Saat Meilin Tan membuka mata, dia bukan lagi mahasiswi seni dari Surabaya.
Dia adalah tokoh jahat dalam novel "Terjerat Pesona Kota" — wanita yang ditakdirkan menghancurkan hidup Kevin Halim, pewaris konglomerat yang jenius tapi miskin.
Meilin tahu akhir cerita ini: dia akan menjual Kevin, dihukum, dan hidup sengsara. Tapi bagaimana jika dia mengubah segalanya?
Dimulai dari kos-kosan tua di pinggiran Jakarta, Meilin memilih jalan berbeda. Dia melindungi Kevin, mendukungnya, dan tanpa sadar... jatuh cinta padanya.
Tapi takdir tidak mudah diubah. Keluarga konglomerat Halim menginginkan mereka terpisah. Tiga kali mencoba menikah, tiga kali gagal. Dan ketika Meilin terpaksa melarikan diri dengan rahasia di perutnya, dia harus memilih: menyerah pada takdir novel, atau berjuang untuk cinta yang dia ciptakan sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Indah Pramana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 20
Bab 020: Rambut Merah Muda
Jessica Ong tidak menghilang setelah DP masuk.
Keesokan paginya, dia mengirim tiga referensi tambahan, satu voice note panjang tentang konsep charity card, lalu tiba-tiba bertanya apakah Meilin sudah sarapan.
Jessica Ong: Jangan-jangan kamu tipe artis yang lupa makan kalau lagi gambar?
Meilin menatap pesan itu, lalu melirik Kevin yang sedang menyiapkan telur kukus di dapur.
Meilin: Ada yang mengawasi.
Jessica Ong: Pacarmu itu?
Meilin: Iya.
Jessica Ong: Bagus. Pertahankan. Cowok yang ingat jadwal makan langka.
Meilin membaca kalimat itu dua kali.
Tidak ada nada tertarik pada Kevin. Tidak ada rasa ingin tahu berlebihan. Jessica bicara seperti teman perempuan yang menilai pacar temannya dari fungsi paling praktis: apakah dia membuatmu makan atau tidak.
Meilin meletakkan ponsel di dada dan tertawa pelan.
"Apa?" tanya Kevin dari dapur.
"Jess bilang kamu langka."
"Karena?"
"Karena ingat jadwal makan."
"Standarnya rendah."
"Tapi kamu lulus."
Kevin menaruh piring di meja. "Kalau begitu makan."
Siang itu, Jessica datang ke apartemen untuk melihat sketsa awal. Meilin sempat gugup menerima tamu pertama di rumah baru mereka, tapi Jessica masuk dengan membawa roti gandum, buah potong, dan teh tawar botolan.
"Untuk pasien bandel," katanya.
"Aku tidak bandel."
"Wajahmu tidak meyakinkan."
Dalam waktu sepuluh menit, Jessica sudah duduk di lantai dekat jendela, menilai komposisi gambar sambil mengunyah roti. Dia memuji garis tangan Meilin, mengusulkan warna latar yang lebih hangat, lalu bercerita tentang acara charity seolah mereka sudah berteman lama.
Kevin pulang sebentar untuk mengambil dokumen yang tertinggal.
Jessica hanya mengangkat tangan. "Hai, pacar galak."
Kevin berhenti di pintu.
Meilin langsung menutup wajah.
"Dia yang bilang?" tanya Kevin.
"Aku menyimpulkan sendiri," jawab Jessica santai. "Tenang, image kamu bagus. Galak tapi berguna."
Kevin menatap Meilin.
Meilin menatap lantai.
Jessica tertawa. "Aku suka kalian. Tidak lebay."
Kevin tidak menanggapi. Dia mengambil dokumen, memastikan Meilin sudah makan siang, lalu pergi lagi setelah berkata, "Jangan duduk di lantai terlalu lama."
Begitu pintu tertutup, Jessica memiringkan kepala.
"Dia sayang banget sama kamu."
Pipi Meilin panas. "Kelihatan?"
"Mei, dia lihat kamu seperti orang lihat gelas kaca di pinggir meja. Siap nangkap kalau jatuh."
Kalimat itu membuat Meilin diam.
Jessica tidak tahu bahwa Kevin memang pernah menangkapnya saat hampir jatuh. Lebih dari sekali.
"Kamu tidak..." Meilin berhenti.
"Tidak apa?"
"Tidak merasa dia... menarik?"
Jessica menatapnya dua detik, lalu tertawa begitu keras sampai hampir tersedak.
"Kevin? Secara objektif, dia ganteng. Tapi aku tidak cari cowok yang kalau bicara rasanya seperti laporan audit."
Meilin terpaku.
"Laporan audit?"
"Iya. Dingin, rapi, bikin takut salah tanda koma." Jessica mengibaskan tangan. "Aku lebih suka orang yang bisa diajak debat sampai lupa waktu."
"Oh."
"Kenapa? Kamu takut aku suka pacarmu?"
Meilin ingin menyangkal. Gagal.
Jessica menunjuknya dengan potongan roti. "Kamu cemburu beneran."
"Aku hanya..."
"Tenang. Aku tidak rebut pacar teman. Apalagi pacarmu sudah jelas rusak kalau jauh dari kamu lima menit."
Meilin menunduk, tapi rasa lega menyebar begitu cepat sampai hampir membuatnya pusing.
Alur lama benar-benar patah.
Jessica tidak memandang Kevin sebagai takdir.
Jessica memandang Kevin sebagai pacar galak milik Meilin.
Sore itu, karena Jessica harus pergi ke daerah Kuningan untuk urusan acara, dia menawarkan tumpangan sampai dekat kantor Kevin. Meilin awalnya menolak, tapi Jessica bersikeras.
"Sekalian kamu antar makan sore buat pacarmu. Aku yakin dia lupa makan kalau lagi kerja."
Meilin melihat kotak makanan yang tadi disiapkan Kevin untuk dirinya, lalu tertawa kecil.
Akhirnya, dia membungkus sebagian telur kukus dan nasi lembek ke kotak kecil. Jessica mengantarnya dengan mobil putih yang wangi kopi dan parfum segar.
Di perjalanan, Jessica bicara tentang Jakarta Art exhibition, komunitas ilustrator, dan beberapa galeri kecil yang menerima karya seniman baru.
"Kamu harus coba submit karya," kata Jessica. "Jangan cuma commission. Style kamu punya cerita."
"Aku belum siap."
"Tidak ada yang siap. Kirim saja. Ditolak juga tidak membuat rambut rontok."
Meilin tertawa.
Mungkin, pikirnya, di dunia ini Jessica memang ditakdirkan muncul. Bukan untuk merebut Kevin, melainkan untuk membuka pintu lain bagi Meilin.
Jessica menurunkannya di dekat gedung kantor Kevin.
"Kabari kalau sudah sampai apartemen," kata Jessica.
"Iya, Jess. Makasih."
"Dan jangan lupa makan. Aku sekarang satu tim sama pacarmu soal itu."
Setelah mobil Jessica pergi, Meilin berjalan ke lobi gedung startup tempat Kevin bekerja. Gedung itu tidak sebesar menara SCBD yang kelak akan sering muncul dalam cerita Halim Group, tapi jauh lebih rapi daripada bayangan Meilin tentang startup kecil. Ada kartu akses, resepsionis, dan beberapa karyawan muda keluar masuk sambil membawa laptop.
Kevin turun lima menit setelah Meilin mengirim pesan.
"Kenapa ke sini?"
"Antar makan."
Kevin melihat kotak di tangannya. "Kamu harusnya istirahat."
"Aku naik mobil Jess. Jalan sedikit. Tidak pingsan."
"Itu bukan standar yang bagus."
"Tapi aku lulus."
Kevin menerima kotak makan itu. Meski mulutnya masih ingin menegur, matanya jelas melembut.
"Terima kasih."
Meilin tersenyum.
Saat Kevin hendak mengantar Meilin mencari taksi online, seseorang di seberang jalan menarik perhatian Meilin.
Seorang pria muda bersandar pada motor sport, memakai jaket hitam dan kacamata hitam meski matahari sudah turun. Rambutnya dicat merah muda terang, terlalu mencolok untuk tidak dilihat. Di tangannya ada ponsel, tapi matanya tidak benar-benar melihat layar.
Dia melihat Kevin.
Bukan sekadar melihat orang lewat.
Dia mengamati.
Satpam di dekat pintu lobi melirik ke arah yang sama dan bergumam pada rekannya, cukup pelan tapi masih tertangkap telinga Meilin.
"Cowok rambut pink itu lagi. Dari kemarin mondar-mandir terus."
Dari kemarin?
Rasa dingin merambat di punggung Meilin.
Meilin berhenti.
"Apa?" tanya Kevin.
"Kamu kenal pria itu?"
Kevin mengikuti arah pandangnya.
Pria berambut merah muda itu tersenyum.
Senyumnya cepat, seperti seseorang yang akhirnya menemukan barang hilang.
Lalu dia mengangkat dua jari ke dekat pelipis, memberi salam santai dari seberang jalan.
Kevin tidak membalas.
Wajahnya berubah begitu halus sampai orang lain mungkin tidak melihatnya. Tapi Meilin melihat.
Rahang Kevin mengeras.
Tangan yang memegang kotak makan juga mengencang. Bukan panik. Bukan takut biasa. Lebih mirip seseorang yang mendengar pintu masa lalu diketuk dari luar, lalu dalam satu detik memutuskan pintu itu tidak boleh terbuka di depan Meilin.
"Masuk ke mobil," katanya pelan.
"Ko, siapa dia?"
Kevin tidak menjawab.
Di seberang jalan, pria berambut merah muda itu menurunkan kacamata hitamnya sedikit.
Bibirnya bergerak tanpa suara, tapi Meilin bisa membaca bentuk katanya.
Koko.