" Aku menyukai dia sejak pandang pertama, jadi dia harus menjadi pacarku " ucap Arasya menatap penuh damba pria dewasa yang duduk bersandar di sofa restoran masih dengan stelan jas kerjanya .
......
Sean Brisbane menjadi terheran-heran memikirkan gadis yang sudah beberapa hari ini selalu mengejar nya bahkan berusaha mendekati nya tanpa ragu .
" Sangat centil " ucap Sean mengambil lipstik di tangan Ara lalu membuangnya ke lantai agar bodyguard yang lain tidak melihat dia memakai lipstik lagi .
" Kenapa? apa aku terlalu cantik hingga Kakak tidak kuat menatapku memakai lipstik?" tanya Ara memungut lipstik nya yang di jatuhkan Sean .
" Cantik?" ulang Sean dengan tatapan geli nya pada gadis kepedean itu.
" Ayolah Kak jadi pacar Ara aja , Ara suka sama Kak Sean, ganteng !" gemas Ara dengan tampang cegil nya mencuri kesempatan untuk memeluk sebelah lengan Sean yang masih melek mendengar apa yang barusan dia katakan.
next
yuk baca cerita Ara , sicegil Bang Sean
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon mul, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 18 Mencintai Ara
Sean mengelus kepala pacar kecilnya dan mengecup kening Ara cukup lama.
"Aku mencintaimu, Baby," pernyataan Sean menyelipkan rambut Ara ke telinganya dan mengusap sisa air mata yang masih tertinggal di pipi Ara.
Muachhh.
"Biarkan aku memelukmu lebih lama," ucap Sean mendekap erat Ara yang masih duduk di pangkuannya.
Awalnya Sean berpikir dengan menunjukkan popularitas dan kekuasaannya serta bersikap cuek, Ara akan membuat gadis itu sadar kalau Sean lebih berharga daripada dosen itu.
Ternyata justru semua itu membuat Sean sadar betapa berharganya Ara dalam hidupnya di atas segala hal yang Sean punya.
"Ketika kita berjauhan, hatiku tersiksa, Baby, dan ketika putus komunikasi, aku seperti orang gila yang kadang-kadang begitu emosional," ucap Sean yang menyadari hal itu.
"Aku mau kamu berhenti jadi asisten dosen itu. Aku ingin jika kamu ada waktu luang selalu menemui aku seperti sebelumnya," pernyataan Sean yang dua hari ini hanya berkomunikasi dengan Ara lewat pesan singkat.
"Emang udah selesai upload nilainya, kok," ucap Ara.
"Dan Ara menemui Ayang selama ini memang meluangkan waktu, bukan jika ada waktu luang," kata Ara mengatakan yang sebenarnya.
"Terima kasih, Baby," ucap Sean mengecup pipi Ara yang sejak awal sangat effort untuk hubungan ini.
"Dengar, mulai sekarang kamu tidak boleh mendengar perkataan orang-orang. Jika ada keraguan, tanyakan padaku langsung," ucap Sean memegang dagu Ara agar menatapnya.
"Terus berita-berita tentang Ayang itu?" kata Ara yang jadi kepikiran.
"Itu hanyalah sebuah skandal untuk menjatuhkan image dan juga rencana beberapa orang untuk menjatuhkan aku," ucap Sean.
"Jadi, mulai sekarang pacar kecilku ini tidak boleh termakan isu, apalagi terprovokasi oleh orang lain," senyum lebar Sean mencubit hidung Ara yang tidak terlalu mancung.
"Ara mau lihat ponsel Sayang," ucap Ara.
"Ini," kata Sean tanpa ragu memberikan ponselnya. Benar-benar tidak ada yang ingin disembunyikannya.
"Ara percaya sama Sayang," kata Ara tidak jadi memeriksa, malah melingkarkan kedua tangannya di leher Sean dan mengecup pipinya beberapa kali.
"Ara cinta sama Ayang," kata Ara dekat telinga Sean yang tersenyum lebar itu.
"Kecup lagi," kata Sean mendekatkan pipi kirinya yang dikecup Ara dengan patuh.
"Baby, kamu terlihat lelah. Istirahatlah sebentar, ya," ucap Sean mengelus-elus kepala Ara yang bersandar manja padanya.
"Mau bobok di pangku Ayang, boleh?" tanya Ara dengan manjanya.
"Tentu saja boleh," kata Sean, lalu langsung menutup mulutnya yang spontan bicara boleh.
"Astaga, Sean, bagaimana Ara bisa belajar jadi Nyonya yang baik jika kau terus memanjakannya?" ucap Sean menutup mulutnya yang main setuju-setuju saja.
Selang beberapa menit, Ara sudah tertidur.
"Dosen sialan itu benar-benar membuat Ara bekerja seharian sampai dia kelelahan begini," kesal Sean menjangkau jasnya dan menyelimuti Ara.
"Bimo," panggil Sean beberapa kali.
"Iya, Tuan Muda, ehhhh, Boss," tawa tertahan Bimo melihat Ara yang tadinya tantrum kini sudah tidur anteng di pangkuan Sean.
"Jangan terlalu dimanjakan, Boss. Kan mau dididik jadi Nyonya Brisbane," tawa cekikikan Bimo melihat Sean yang selalu luluh lantah jika sudah menyangkut Ara.
"Aku akan mengajarinya mulai besok. Sekarang biarkan dia istirahat," ucap Sean mengelus-elus kepala Ara dan mengecupnya.
"Hmmm," Bimo langsung batuk ketika Sean mengecup Ara di hadapannya.
"Ehhhh, maaf, Bim, aku lupa," senyum malu Sean yang selalu melupakan segalanya jika sudah bersama Ara.
"Ada apa, Boss?" tanya Bimo yang ingin tahu alasan dia dipanggil masuk ke dalam ruangan jika Sean masih merasa dunia hanya miliknya bersama Ara.
"Duduklah," kata Sean.
"Aku ingin kau menghancurkan bisnis keluarga Shania, tapi dengan cara yang bersih dan jangan terlihat campur tangan kita di dalamnya," ucap Sean.
"Bagaimana caranya, Boss?" pertanyaan Bimo.
"Sebarkan isu, kapan perlu cari sisi gelap perusahaannya dan buat investor menjadi terusik, hingga menarik saham mereka di perusahaannya," ucap Sean tersenyum kecut.
"Tapi rasanya baik Ayah maupun Nona Shania tidak melakukan kecurangan di perusahaan kita, Boss. Mengapa harus melakukan hal itu?" pertanyaan Bimo.
"Dia memang tidak melakukan apa-apa di perusahaanku, tapi dia sudah melakukan kesalahan besar dengan memprovokasi, bahkan mencoba mempermalukan pacar kecilku," ucap Sean yang merasa sakit hati.
"Shania tahu kalau Ara masih labil, mudah tersakiti, dan dia malah memprovokasi Ara sampai dia tantrum di hadapan banyak orang," ucap Sean yang kasihan sekali melihat Ara menangis cukup lama.
"Aku juga akan mempermalukan dia seperti apa yang dia lakukan pada Ara. Aku ingin dia memohon padaku," ucap Sean memeluk Ara semakin erat.
"Baik, Boss," senyum lebar Bimo yang melihat Sean sayang sekali pada pacar kecilnya.
"Tapi, Boss, nggak marahin Non Ara, kan?" pertanyaan Bimo kepo.
"Marah untuk apa?" pertanyaan Sean.
"Karena sudah tantrum di lantai dasar?" pertanyaan Bimo yang bukan tidak tahu betapa ketatnya aturan bagi perempuan dalam keluarga Sean. Bahkan menangis di muka umum saja tidak boleh apa pun keadaannya.
Ara tak hanya menangis, tetapi tantrum sampai duduk di lantai dan menendang orang.
"Aku kalau jadi Ara, mendengar pacarku akan bertunangan dengan orang lain, bukan hanya tantrum, tapi sudah menghancurkan dunia dan seisinya," pernyataan Sean yang tidak marah sama sekali pada respons Ara.
Itu adalah sikap yang wajar, apalagi untuk gadis labil seperti Ara. Dia mana tahu menjaga image yang Ara tampilkan adalah apa yang ada dalam hatinya.
"Loh, bukannya melihat Nona Irene menikah, Boss hanya santai saja?" ucap Bimo yang sudah menjadi asisten dari 7 tahun yang lalu sehingga tahu cukup banyak tentang kisah percintaan Sean.
"Kali ini berbeda, Bim. Tanpa aku sadari, aku mencintai pacar kecilku ini dari lubuk hatiku yang paling dalam," jujur Sean.
"Gadis pengganggu," senyum geli Bimo terbayang betapa resahnya Sean dulu setiap kali Ara mendekatinya.
"Ahhhhh, kadang aku seperti orang munafik," ucap Sean yang menjilat ludah sendiri.
Dulu dia sangat risih dan tidak suka Ara, tapi sekarang kecintaan setengah mati.
"Bim, tolong bukakan kotak bekal yang Ara bawakan," ucap Sean menatap paper bag di atas meja di sebelah tas Ara.
"Tapi, Boss, kotak makanan ini sudah beberapa kali jatuh, ditendang, bahkan akan dibuang oleh Non Ara," ucap Bimo membuka kotak itu dengan ragu.
"Tidak apa-apa, aku tahu Ara berniat membawakan aku makanan," ucap Sean yang menghargainya.
Bimo langsung tergelak menatap nasi goreng dengan banyak topping yang dibawakan Ara, kini sudah seperti nasi campur.
"Terima kasih, Bim. Ohhh, iya, soal pistol tadi, apakah ini pistol mainan atau asli?" pertanyaan Sean yang tidak menyangka Ara membawa pistol.
"Asli, Boss. Itu adalah seri terbaik kedua dari salah satu brand senjata internasional," ucap Bimo yang sudah memeriksanya.
"Uhuk!"
"Uhuk!"
Sean yang baru makan sesuap langsung tersedak mendengar ucapan Bimo.
"Dari mana Ara mendapatkannya?" heran Sean menatap Ara yang masih tertidur pulas.