Aroma bedak tabur, semprotan setting spray, dan tumpukan palet warna-warni sudah menjadi dunia Yeza selama lima tahun terakhir. Sejak melepas seragam putih-abu-abunya, gadis berusia 23 tahun itu memilih jalan yang berbeda dari teman-temannya. Di saat yang lain sibuk memburu bangku perkuliahan, Yeza justru mengurung diri di kamar, menatap cermin, dan membiarkan jemarinya menari dengan kuas-kuas murah yang dibelinya dari uang jajan yang disisihkan.
Tanpa kursus formal, tanpa sertifikat mentereng. Modal utamanya hanyalah ketekunan dan ribuan jam menonton tutorial di YouTube. Dua belas bulan pertama adalah masa-masa penuh cemoohan. "Mau jadi apa cuma coret-coret muka?" begitu bisik-bisik tetangga yang sempat mampir di telinganya. Namun, Yeza tidak berhenti.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elwa Zetri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Unggahan Tengah Malam
Begitu pintu apartemen tertutup rapat, Laura langsung melemparkan tas desainer mahalnya ke atas sofa kain milik Yeza dengan kasar. Ia mendengus, melipat tangan di dada sembari terus mencibir Max.
"Benar-benar tidak punya perasaan! Bisa-bisanya dia mengusirku ke tempat sekecil ini," gerutu Laura, matanya menyapu sekeliling ruangan apartemen Yeza yang minimalis namun tertata rapi.
Yeza memilih untuk tidak menanggapi. Ia menarik napas dalam-dalam, menjaga agar ekspresi wajahnya tetap datar dan tenang. Dengan langkah teratur, ia kembali ke meja riasnya, melanjutkan aktivitas yang sempat tertunda: menyusun kembali kuas-kuas dan botol foundation ke dalam koper kerjanya.
Laura yang merasa diabaikan perlahan melangkah mendekat. Sepatu hak tingginya mengetuk lantai dengan ritme yang angkuh. Ia berdiri di samping Yeza, menunduk untuk memperhatikan jajaran kosmetik premium yang tertata di atas meja. Matanya menyipit, mengenali beberapa produk high-end yang hanya bisa didapatkan secara eksklusif.
"Oh, ayolah..." Laura memecah keheningan, suaranya terdermat manja namun sarat akan nada menantang. "Aku benar-benar ingin melihat bakatmu. Kulihat kamu tampaknya sangat profesional sampai Max begitu mempercayaimu."
Yeza menghentikan gerakan tangannya, melirik Laura dari pantulan cermin.
Laura menyunggingkan senyum tipis, lalu menyandarkan pinggulnya di pinggir meja rias. "Aku tidak biasa tidur cepat karena perbedaan waktu antara Paris dan Jakarta. Jet lag-ku parah sekali. Bagaimana kalau kamu merias wajahku sekarang? Anggap saja tes kecil. Setelah itu, kamu bebas istirahat."
Mendengar permintaan mendadak itu, Yeza refleks melirik ke arah jam dinding berbentuk bulat yang tergantung di dekat dapur bersihnya. Jarum jam baru menunjukkan pukul 21.00 WIB. Masih ada cukup waktu sebelum larut malam, dan menolak Laura untuk kedua kalinya di dalam ruang tertutup seperti ini hanya akan memicu drama panjang yang melelahkan.
Yeza membalikkan tubuhnya menghadapi Laura, lalu tersenyum sopan.
"Baiklah, Nona Laura. Jika itu bisa membuat Anda lebih relaks malam ini, saya bersedia," ucap Yeza tenang.
Ia menarik sebuah kursi lipat empuk di dekat meja riasnya dan mempersilakan wanita itu duduk. Yeza mengambil sehelai kain penutup dada, lalu meraih sebotol cairan pembersih wajah. Di bawah pendar lampu meja rias yang terang, Yeza bersiap menghadapi tantangan dari wanita yang pernah mengisi hati Max, siap membuktikan bahwa ia berada di posisi ini bukan karena keberuntungan, melainkan karena bakat yang sesungguhnya.
Yeza meletakkan kuas blending terakhirnya ke atas meja dengan gerakan yang sangat anggun dan tenang. Ia mengambil cermin genggam kecil, lalu menyerahkannya kepada wanita yang sejak tadi tidak berhenti melayangkan komentar-komentar sinis selama proses merias.
"Sudah selesai, Nona Laura. Silakan dilihat," ucap Yeza dengan suara yang terdengar flat namun tetap sopan.
Tanpa menunggu reaksi atau pujian dari Laura, Yeza langsung berbalik. Ia membereskan beberapa helai kapas kotor ke tempat sampah, lalu melangkah menuju pintu kamar tidurnya. Fisiknya sudah terlalu lelah, dan ia tidak memiliki energi lagi untuk meladeni permainan ego wanita di depannya.
"Saya permisi masuk ke kamar dulu untuk beristirahat. Anda bisa menggunakan sofa bed di ruang tengah, selimut dan bantal tambahan sudah saya siapkan di sana. Selamat malam," pamit Yeza tegas.
Cklek.
Pintu kamar tidur Yeza menutup rapat, lalu terdengar bunyi kunci yang diputar dari dalam. Yeza benar-benar menutup diri dari dunia luar. Terserah apa yang ingin dilakukan Laura di ruang tengahnya, terserah jika wanita itu ingin terus terjaga karena jet lag—tugas profesional Yeza malam ini telah selesai.
Sementara itu, di ruang tengah yang mendadak sunyi, Laura tertegun di depan meja rias.
Ia perlahan mengangkat cermin genggam di tangannya, lalu menatap pantulan wajahnya sendiri di bawah pendar lampu yang terang. Detik berikutnya, kedua mata jeli Laura membelalak lebar. Bibirnya sedikit terbuka, kehilangan kata-kata.
Hasil riasan Yeza benar-benar di luar ekspektasinya.
Wajah Laura yang tadinya terlihat sangat lelah dan kusam akibat perjalanan belasan jam dari Paris, kini tampak begitu segar, bercahaya, namun tetap terlihat sangat alami. Yeza berhasil menonjolkan struktur tulang pipinya dengan teknik contouring yang sangat halus, dan riasan matanya dibuat begitu hidup tanpa terkesan berlebihan. Tidak ada riasan yang menggumpal ataupun salah warna; semuanya berpadu dengan sangat sempurna dengan warna kulitnya.
Sebagai wanita yang terbiasa menggunakan jasa penata rias ternama di Paris, Laura tahu persis kualitas sebuah riasan. Dan malam ini, di dalam apartemen kecil yang sempat dicibirnya, ia harus mengakui satu kenyataan pahit yang memukul egonya.
Gadis yang menjadi MUA pribadi Max itu... memiliki bakat yang luar biasa jenius.
Keangkuhan Laura perlahan meleleh saat ia terus memandangi pantulan dirinya dari berbagai sudut. Setiap detail riasan di wajahnya benar-benar presisi. Sentuhan Yeza tidak hanya menyembunyikan gurat lelah di wajahnya, tetapi juga memancarkan aura elegan yang selama ini selalu ia banggakan.
Rasa puas yang membuncah mengalahkan gengsinya. Sebagai seorang influencer dan sosialita yang hidupnya tak pernah lepas dari sorot kamera, Laura tidak bisa melewatkan momen visual sesempurna ini begitu saja.
Ia meraih ponsel pintarnya yang tergeletak di atas meja. Laura membuka aplikasi kamera, mengatur pencahayaan lampu meja rias agar jatuh tepat di wajahnya, lalu mulai mengambil beberapa foto selfie dengan berbagai pose.
Setelah mendapatkan jepretan terbaik yang memperlihatkan detail riasan matanya yang dramatis namun anggun, ia membuka aplikasi Instagram. Tanpa ragu, Laura mengunggah foto tersebut ke dalam Feed dan Story-nya dengan tak lupa menyematkan sebuah keterangan singkat:
"Late night glam in Jakarta. Obsessed with this look 🤍"
Meskipun ia tidak menandai akun milik Yeza secara langsung, unggahan itu menjadi pengakuan tidak tertulis bahwa ia sangat terpukau dengan hasil kerja gadis itu. Dalam hitungan menit, kolom komentarnya langsung dibanjiri oleh ribuan suka dan pertanyaan dari para pengikutnya yang penasaran tentang siapa sosok di balik riasan indahnya malam itu.
Di balik pintu kamar yang terkunci, Yeza sudah terlelap dalam tidurnya, sama sekali tidak menyadari bahwa sentuhan tangannya malam itu kini tengah menjadi pusat perhatian di dunia maya. Sementara di seberang lorong, Max yang juga belum bisa memejamkan mata, hanya menatap layar ponselnya yang menampilkan notifikasi unggahan terbaru Laura dengan helaan napas berat, bersiap menghadapi hari esok yang dipastikan tidak akan berjalan mudah.